
Tom yang sedang di dalam air tidak bisa bernapas dengan baik, ingin menghela napas untuk sekedar mengeluhpun tidak bisa membuatnya semakin kesal saja. Terpaksa mereka semua harus mundur karena persiapan gagal. Tapi tidak semudah itu, hanya karena ingin mundur pun butuh perjuangan lagi. Hanya untuk kembali ke permukaan saja butuh keberanian, kerja keras dan pertaruhan nyawa.
Beruntungnya mereka bisa naik kembali berkat tiga orang yang tidak masuk kedalam air. Sehingga bisa menolong satu per satu yang ada di dalam air dan saat berhasil menyelamatkan satu orang, yang diselamatkan itu tidak beristirahat dan langsung membantu lagi yang lainnya untuk naik. Berkat kerjasama itu, mereka berhasil kembali ke permukaan.
Rencana mereka gagal total, bahkan untuk rencana sederhana pun tidak bisa dilakukan. Padahal mereka pikir itu akan berhasil, karena hanya rencana sederhana itu yang menurut mereka bisa berhasil dengan peralatan yang mereka miliki saat ini.
"Arus air terlalu kuat, kita tidak bisa melakukan ini hanya dengan jumlah kita saat ini." kata Teo merasa banyak air yang masuk ke dalam hidungnya dan terasa sakit.
"Kau mau berapa orang lagi?! kita sudah sebanyak ini!" kata Demelza.
"Sepertinya kita butuh bantuan lebih banyak lagi!" kata Tan dengan mata merah.
Semuanya kini gemetaran kedinginan, bahkan yang membantu dari pinggir pun ikut basah terkena ombak air yang besar secara tiba-tiba datang dalam jumlah yang besar.
"Hampir aku pikir kalau ini bukan sungai tapi pantai." kata Teo mengundang tawa disaat bibir mereka terlihat kebiruan semua.
"Kayu yang kita bawa langsung terseret turun terbawa arus ... kita tidak bisa menahannya." kata Dallas.
"Sepertinya kita juga harus mengikat kayu yang akan kita pakai sebagai penghalang." kata Parish.
"Apa maksudmu?! kita tidak punya tali lebih lagi, itupun dua diantara kita harus berbagi satu tali. Kita hampir celaka kalau tidak ada tali ini." kata Dallas memegang tali yang terikat diperutnya.
"Hanya itu satu-satunya cara!" kata Tan setuju dengan Parish.
"Tentu saja kau berpihak dengannya ...." keluh Teo dalam hati.
"Aaaaaaaaa!" Teo mulai lagi berteriak secara tiba-tiba, "PENGUMUMAN UNTUK SELURUH ANGKATAN 89 GALLAGHER AGAR KESINI SEMUANYA MEMBANTU!!!!"
"Kau sudah gila ya?! kita yang 29 orang saja sudah sangat banyak!" kata Demelza tidak ingin menambah orang lagi.
"Lagipula mereka tidak dengar juga ...." kata Mertie.
Teo rasanya ingin berlari kembali ke perkemahan untuk meminta bantuan tapi tidak mampu karena terlalu dingin. Terpaksa mereka harus menghangatkan diri dulu, agar bisa kembali mencoba.
Osvald dengan cepat bisa menyalakan api dengan ranting dan dahan yang telah dikumpukan tadi.
"Wah, kau hebat sekali Osvald ...." kata Anak-anak lainnya memuji kecepatan dan keahlian Osvald.
"Bahkan di cuaca bersalju saja dia bisa bertahan ...." kata Tan dalam hati sangat mengagumi Osvald.
29 orang kini mengelilingi api unggun yang telah dibuat oleh Osvald. Api itu sangat membantu mereka melawan dingin yang menusuk.
"Lagi ... lagi! api ini hangat sekali ... sepertinya memang ada sesuatu dengan disini." kata Teo lewat Jaringan Alvauden merasakan kalau memang ada sesuatu yang mistis di lokasi perkemahan.
"Atau ... kita sebenarnya hanya terlalu membutuhkan kehangatan makanya api ini terasa seperti sangat membantu." kata Tom tidak lagi mau mengait-ngaitkan dengan Mundebris dan hanya berpikir secara logis.
Jumlah air semakin terlihat bertambah semakin lama mereka tinggal beristirahat.
"Sepertinya sudah hujan diatas sana." kata Dallas.
"Bukan sepertinya lagi tapi memang begitulah sepertinya ...." kata Tom.
"Kalau saja kita sudah dewasa, pasti kita bisa melakukan ini sedikit lebih mudah." kata Tan menyalahkan usianya.
"Bahkan orang dewasa pun mungkin tidak bisa bertahan ...." kata Osvald tidak ingin semangat mereka patah.
"Ayo kita coba lagi!" Teo berteriak seperti menggunakan seluruh tenaganya.
"Bikin kaget saja!" kata Osvald.
"Ck!" Teo berdecak kesal karena sempat-sempatnya Demelza mengomentari dirinya lagi.
Meski menyebalkan tapi teriakan tiba-tiba dari Teo itu membangkitkan semangat mereka lagi. Kembali mereka mengumpulkan kayu untuk digunakan lagi sebagai penghalang. Kali ini mereka memgorbankan tali yang mereka pakai sebagai tali keselamatan untuk mencegah agar kayu kembali terseret turun lagi. Tapi karena itu beberapa dari mereka harus berbagi satu tali berdua.
"Nyawaku bersamamu." kata Parish tertawa pada Tan yang berbagi satu tali dengannya.
Tan hanya bisa ikut tertawa juga dengan ucapan yang penuh sentimental dari Parish itu.
"Kita harus saling bekerja sama dengan pasangan yang berbagi tali dengan kita. Kalau terjadi apa-apa kita harus saling membantu." kata Dallas mulai lagi membuat suasana semakin aneh.
"Auh, aku jadi merinding mendengarnya! cepat keseberang sana!" kata Teo.
"Kami berangkat!" kata Tan yang disusul Parish, Dallas dan yang lainnya untuk berjalan kebagian atas sungai lagi untuk menyebrang dengan jembatan kayu yang ada disana.
Untung saja ada jembatan kayu itu sehingga mereka bisa menyebrang tanpa harus bersusah payah berenang lagi. Itulah sebabnya juga mereka tidak merasa kalau misi perburuan harta karun itu tidaklah semustahil itu.
Tapi ekspresi mereka semua berubah setelah sampai ke tempat jembatan kayu berada, "Rusak!" Dallas tidak mempercayai apa yang sedang dilihatnya.
"Apa perlu kita kembali dan mengabari mereka?!" tanya Parish.
"Tidak, kita harus menjalankan misi masing-masing dengan baik dan salah satu misi kelompok kita adalah harus menyebrang!" kata Dallas.
"Tidak, lebih baik kita turun ke bawah sungai untuk menyebrang di aliran yang tenang." kata Tan lebih memilih keselamatan yang penting.
"Tapi itu akan membutuhkan waktu lama, kita harus turun dan kemudian menyebrang di sungai yang ada dibawah yang tidak diketahui apa arusnya akan berbeda dengan disini juga atau malah lebih parah. Kalaupun berhasil menyebrang, kita harus mendaki lagi untuk naik kesini." kata Parish lebih memilih mengambil resiko untuk menggunakan jembatan yang sudah setengah rusak terombang-ambing derasnya air itu daripada mengulur waktu.
"Nyawa kita lebih penting sobat! aku tidak peduli seberapa banyak waktu yang kita lewatkan, kalau itu bisa membuat kita selamat tidak masalah." kata Tan menepuk bahu Parish.
"Kalau begitu, kita perlu ke bagian sungai paling bawah ...." kata Dallas.
"Tidak masalah, ayo kita berlari! olahraga sekalian bisa menghemat waktu! ditambah lagi bisa menghangatkan tubuh kita." kata Tan dengan senyuman.
"Hahh ... kau dan pemikiran positifmu ...." kata Parish tertawa.
Kelompok bagian kanan sungai terpaksa harus berlari turun ke bawah agar bisa menyebrang dengan aman.
"Kalian mau kemana?!" teriak Tom.
"Jembatan di atas rusak." sahut Tan tetap berlari tidak singgah untuk menjelaskan lebih detail.
"Wah, mereka profesional sekali. Tanpa meminta bantuan kita, malah memilih untuk mencari alternatif lain agar misinya berhasil tanpa mengganggu kita." kata Kelompok Bagian Kiri Sungai.
"Itu sudah menjadi salah satu tugas mereka untuk menyebrang, jadi mereka harus menyelesaikannya sendiri apapun yang terjadi." kata Demelza menganggap itu hal yang memang sudah seharusnya dilakukan.
"Walau begitu 4 dari kita harus membantu mereka! bagaimanapun juga mereka membawa kayu yang berat dan ini bukan masalah soal misi siapa. Tapi kita bekerja bersama-sama semuanya." kata Teo.
4 orang dari merekapun mengajukan diri dan mulai mengejar kelompok Tan itu. Awalnya mereka membagi rata 13-13 dan dua bantuan untuk kelompok Tan sementara Demelza membantu dikelompok Teo dan Tom.
"Sekarang, jumlah kita tinggal sedikit." kata Demelza mengeluh.
Teo yang cekatan dan Tom yang punya tenaga lebih dari kebanyakan anak-anak lainnya dipilih untuk menarik kotak harta karun. Tapi dengan jumlah mereka yang berkurang, semuanya terlihat kurang bersemangat lagi.
"Jangan khawatir, kita pasti bisa. Selama kita bekerjasama, gunung sekalipun bisa kita pindahkan." kata Teo tidak berniat membuat lelucon tapi tetap ditertawakan.
...-BERSAMBUNG-...