UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.138 - Si Keras Kepala



"Uuuuwwwaaaah!" teriak Teo dan Tom heboh karena melihat kemunculan tiba-tiba dari Cain dan Goldwin di hadapannya.


Goldwin semakin lihai saja melakukan teleportasi dan batasannya mulai meningkat. Bahkan Goldwin sudah tidak menyebutnya sebagai batasan lagi selama bersama dengan Cain. Berkat Cain, Goldwin tahu jika batasan itu dibuat oleh diri sendiri dan sebenarnya tidak ada jika kita berusaha keras. Daripda batasan, Cain memilihkan kata untuk Goldwin yakni berkembang. Menjadi lebih kuat berkat latihan terus menerus. Batasan hanya berlaku bagi mereka yang berhenti untuk mengembangkan diri, begitulah menurut Cain.


"Unimaris Leaure?" tanya pohon bunga tulip besar yang menjulang tinggi mulai menunduk, "Apa yang dilakukan Unimaris Leaure berkeliaran tanpa Leaurenya?!"


Memang mencurigakan di masa sekarang bagi Unimaris Leaure jika berkeliaran keluar Istana Leaure. Tidak ada alasan sama sekali karena Viviandem belum dibangkitkan jadi tidak mungkin juga melakukan misi.


"Ini Leaureku!" tunjuk Goldwin pada Cain.


"Dia tidak memiliki bau Leaure sama sekali! kalau Alvauden ya kentara karena tanda didahinya itu!" kata pohon bunga tulip itu.


"Dia memang aneh ... tapi aku mengatakan yang sebenarnya ... apa kau tidak mendengar rumor ada Leaure yang datang melindungi tanaman yang hampir kebakaran?" kata Goldwin.


"Mana mungkin ada Viviandem Leaure yang hidup sekarang? walau dia Alvauden itu tetaplah mustahil!" kata pohon bunga tulip.


"Dia setengah Leaure!" kata Goldwin.


"Itu membuatnya lebih mustahil lagi!" pohon bunga tulip itu tertawa keras.


"Aku mengerti bagaimana perasaanmu! karena aku juga begitu sejak pertama dipanggil olehnya ...." kata Goldwin.


"Wah ... semakin banyak saja hal mustahil yang mulai terjadi! bagaimana bisa setengah Leaure memiliki Unimaris dan melakukan misi?!" pohon bunga tulip itu terlihat terheran-heran.


Teo dan Tom lebih heran lagi mendengar perkataannya yang katanya banyak hal mustahil terjadi padahal bagi Teo dan Tom yang mengatakan sudah lebih dari mustahil lagi. Sebuah tanaman berbicara adalah hal yang mustahil terjadi bagi Teo dan Tom. Mendengar hal mustahil membicarakan hal mustahil tampak lucu dimata mereka berdua.


"Tan dimana?" tanya Cain.


"Ah, dia berjalan jauh kesana!" jawab Tom menunjuk arah hutan.


"Sudah kubilang kalian jangan berpisah-pisah kan!" teriak Cain mulai berjalan ke tempat Tan berada.


"Mulai lagi dia!" kata Teo menghela napas panjang, sudah mulai terbiasa dengan sosok baru Cain yang pemarah itu.


"Lihat juga kepribadiannya! tidak mencerminkan Leaure sama sekali!" kata pohon bunga tulip.


"Aku tidak menyalahkanmu ... tiap hari aku selalu dikejutkan dengan keprbiadiannya yang tiba-tiba berubah!" kata Goldwin.


"Tapi tidak mungkin undangan misi bisa muncul jika memang bukan Leaure ... hem, membingunkan sekali!" kata pohon bunga tulip.


"Jadi, apa kau tidak akan melakukan kontrak dengan mereka? bagaimanapun itu?" tanya Goldwin blak-blakan.


"Jadi mereka ya yang meminta pertolongan?" tanya pohon bunga tulip itu menyeringai.


"Ck! padahal dia yang meminta pertolongan!" Goldwin menyindir pohon bunga tulip dalam hati karena tidak mengetahui, sebenarnya yang meminta pertolongan tidak menyadari dirinya sendiri meminta pertolongan.


"Bahkan, keturunan murni kerajaan Ruleorum sendiri aku tolak! apalagi kalian yang bukan dari kaum Ruleourum, bahkan setengah Ruleorum pun bukan haha ... jangan berharap!" kata pohon bunga tulip dengan sombongnya.


"Kalau begitu akan aku adukan dengan Felix!" kata Tom mengancam.


"Adukan saja! aku tidak peduli!" kata pohon bunga tulip tidak merasa terancam dan terintimidasi sama sekali.


"Biasanya jika mengatakan hal itu langsung berhasil!" sambung Tom.


Sementara itu Cain sibuk mencari keberadaan Tan di dalam hutan lebat itu. Belum lama mencari tapi Cain sudah kehilangan kesabaran dan mulai berteriak, "Tan! Tan! Tan!" suara Cain menggelegar di dalam hutan lebat itu.


Bersamaan para pohon ikut berteriak, "Jangan berisik! kami sedang tidur!"


Tapi Cain tidak menghiraukan keluhan para pohon dan mulai berteriak lebih keras lagi, "Aku disini!" teriak Tan, "Berhenti berteriak!" sambungnya lagi.


"Apa yang kau lakukan disini sendiri?!" Cain dengan emosi.


"Hahh! kalian mau bertengkar?!" tanya para pohon terlihat kesal sehingga mengangkat Cain dan Tan untuk keluar dari dalam hutan, "Kalau mau bertengkar disini, silahkan!" kata pohon yang membawa mereka keluar dan mulai masuk ke dalam hutan lagi.


"Tidak ada bahaya sama sekali disini Cain! lagipula kami harus berpencar ... dengan begitu bisa cepat melakukan kontrak yang banyak ...." kata Tan membela diri.


"Tahu dari mana tidak ada bahaya disini? kau baru setengah tahun tahu apa itu Mundebris ... kau tidak ingat! kejadian saat Felix diserang waktu itu? huh? bahkan di Mundclariss, dunia yang kita anggap aman itu ... apalagi Mundebris yang memang adalah dunia bagi makhluk yang memiliki kekuatan berbahaya ...." kata Cain.


"Cain! aku mohon ... berhenti terlalu mengkhawatirkan kami begini!" kata Tan yang sudah lelah dengan kekhawatiran berlebihan Cain sejak pertama melakukan kontrak disekitar rumah Verlin waktu itu. Sejak saat itu Cain berubah menjadi sangat menyebalkan dan tidak berhenti marah-marah jika salah satu dari Tiga Kembar jauh-jauh dari pandangan Cain.


Felix yang khawatir lebih baik daripada Cain. Felix mungkin terus menyembunyikan perasaan khawatirnya sebisa mungkin tapi melindungi diam-diam tapi Cain tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya dan berlebihan dalam melindungi Tan, Teo dan Tom. Sudah sangat mengganggu, tidak normal lagi cara Cain menurut Tiga Kembar.


Karena kelakuan Cain itu, Felix harus mulai belajar menggunakan kekuatan pendeteksi keberadaan Alvauden yang seharusnya dimiliki oleh Caelvita resmi. Tapi dengan begitu Cain bisa mulai tenang melepas Tiga Kembar untuk berkeliaran tanpa dirinya atau Cain menemani. Latihannya juga bisa dilanjutkan lagi, tidak seperti dulu saat baru-baru melihat masa depan itu. Cain bahkan tidak meninggalkan mereka bertiga sedetik pun dari pengawasannya. Bahkan latihannya tidak dilaksanakan membuat Felix mau tidak mau harus menggunakan kekuatan yang menguras banyak energi itu. Mungkin saat menjadi Caelvita resmi tidak akan sesulit sekarang tapi saat ini Felix masih kesusahan menggunakan kekuatan itu.


"Jika maumu begitu? lebih baik aku mengurung kalian bertiga di penjara Leaure daripada membiarkan kalian berkeliaran seenaknya begini!" kata Cain masih dengan emosi.


"Leaure tidak punya penjara!" kata rumput ikut campur.


"Diam!" teriak Cain.


Tapi Tan malah tertawa karena ternyata ancaman Cain itu hanya pura-pura. Mengancam akan memenjaranya tapi Leaure sendiri tidak punya penjara. Menandakan Cain hanya menggertak saja.


"Aku sedang tidak bercanda Tan!" kata Cain.


"Kau itu seharusnya orang yang seperti itu ... suka bercanda! sebenarnya ada apa denganmu? bahkan Felix sendiri sudah biasa-biasa saja tapi malah kau yang berlebihan begini ...." kata Tan.


"Apa gunanya bercanda jika aku kehilangan kalian!" kata Cain dalam hati.


Tan melihat Cain yang hanya diam akhirnya mengalah, "Aku sudah menanyakan ini berulang-ulang tapi akan aku tanyakan lagi ... pasti ada alasan dibalik sikapmu yang begini, begitupun Felix yang awalnya begitu. Jika kau memberitahu, bukankah akan lebih mudah bagi kami mengerti dan bisa ikut membantu ... tapi kalau kau hanya terus marah-marah begini, mana kami tahu?!"


"Cain!" teriak Goldwin, "Kita kembali saja! tidak ada gunanya kita disini ... dia tidak bisa dibujuk!"


Padahal memang tujuan awalnya bukan datang membantu membujuk untuk melakukan kontrak dengan Tiga Kembar tapi hanya untuk mendapatkan poin kerajinan.


"Lebih baik kalian pulang juga dulu!" kata Cain.


"Enak saja! kami belum selesai ...." kata Teo dan Tom membuat pohon bunga tulip itu kaget karena masih belum menyerah juga.


...-BERSAMBUNG-...