
"Apa sistem Setengah Sanguiber berlaku bagi Caelvita?" Cain masih kaget tapi tanpa sadar menanyakan hal paling penting terlebih dahulu untuk mengetahui apa Felix yang sebagai Caelvita juga sebagai Vampir.
"Hal seperti itu tidak berlaku bagi Caelvita, Tuan Muda tidaklah terikat oleh keturunan Viviandem manapun ...." sahut Duarte mengerti kekhawatiran Cain.
"Dimana dia sekarang?" Felix jadi menangkap Duarte dan tanpa sadar menggenggamnya begitu erat, "Seseorang yang kau sembunyikan itu adalah ibuku kan? jadi orang yang mengutusmu itu adalah ibuku? iya kan?"
"Kalau begi ... ni, Tuan Muda bisa membunuhku ...." Duarte dengan sesak napas.
"Aku bilang DIMANA DIA SEKARANG?!" kesabaran Felix mulai habis.
"Yang Mulia Ratu sejak perang mulia 10 tahun lalu jarang ke istana ...." Duarte mencoba menjawab secepat mungkin.
"Kalau begitu dimana agar Felix bisa bertemu dengannya?" tanya Cain mengerti suasana hati Felix saat itu.
"Saya kurang tau, Tuan Muda!" jawab Duarte merasa bersalah.
"Bukankah kau adalah Unimaris terhebat di Kerajaan Sanguiber? itu menandakan kau adalah Unimaris Pemilik Kekuasaan Terbesar di Kerajaan Sanguiber kan? dan itu adalah Ratu Sanguiber, ibu Felix?" Cain punya asumsi bahwa Duarte adalah Unimaris Ibu Felix, Ratu Sanguiber. Jadi pasti mereka sering bertemu, seperti dirinya dan Goldwin.
Duarte kini diam tanpa kata dan ekspresinya bisa disebut kelelawar yang sangat jelek dan bodoh saat ditanyai hal itu oleh Cain, karena hanya terlihat melongo tanpa bisa menjawab.
Felix yang merasa perasaannya campur aduk berlari ke arah gerbang istana dan tiba-tiba pintu gerbang terbuka lebar tanpa ia melakukan apa-apa. Felix terlihat berlari ke luar istana tanpa arah yang jelas.
"Kau mau kemana?" teriak Cain mencoba mengikuti tapi terhenti saat melihat sisi luar istana yang banyak gedung yang katanya menjual aneka hidangan Buah Telinga dan Bank Darah. Cain merasa mual dan akan muntah.
"Hah? kau ada disini?" Goldwin datang langsung menghadiahi Cain sapu tangan yang tiba-tiba muncul di dekat wajah Cain tapi kaget melihat Cain berada di Mundebris, terlebih lagi di Istana Sanguiber.
"Ceritanya panjang ...." Cain malas menjelaskan.
Duarte buru-buru mengejar Felix begitupun Cain serta Goldwin yang tanpa tahu apa-apa hanya mengikut saja.
Goldwin memandang ke arah sebuah toko dan mengedipkan matanya, tak lama ada sebuah buah berbentuk telinga muncul dihadapan Cain.
Cain yang melihat itu langsung kaget dan terjatuh karena hampir menabrak buah yang tepat berada di hadapan wajahnya itu.
"Apa-apaan kau?!" Cain ingin menendang kesal Goldwin tapi Goldwin dengan santainya menghindar seperti terbang mengambang di udara.
"Itu Buah Telinga! sama seperti Buah Darah yang khusus untuk Leaure, Buah Telinga khusus untuk Sanguiber. Tapi kau bisa memakannya ... lagipula memiliki vitamin yang sama walau manfaat utama tidak didapat karena hanya berlaku bagi tubuh Sanguiber ...." kata Goldwin berusaha membuat Cain mendapat sebanyak mungkin nutrisi.
"Kau ini mau aku sehat bagaimana lagi sih?!" Cain kesal dan mulai berdiri membersihkan pakaiannya. Tapi datanglah peri kecil membantunya membersihkan kotoran yang menempel di pakaiannya, "Tidak usah ... terimakasih!" Cain yang tadinya kesal karena Goldwin jadi tenang karena merasa tidak enak dengan para peri kecil itu.
"Kau tidak perlu merasa tidak enak, mereka ini suka sekali dengan Leaure. Aura baik yang dipancarkan Leaure yang berwarna emas secara naluriah menarik peri untuk mendekat. Walau anehnya tidak bisa dilihat auramu tapi nyatanya tidak bisa membuat peri buta akan itu ...." kata Goldwin.
"Kalau begitu, apa kita tidak bisa minta tolong untuk mencari Felix?!" kata Cain berbisik tapi bisa didengar para peri itu.
Salah satu seorang peri tiba-tiba mengeluarkan teropong kecil yang muat ditangannya tapi saat dipanjangkan ujung teropong itu bahkan lebih besar dari kepala Cain.
"Tuan Muda sekarang berada di jembatan!" kata peri yang menggunakan teropong.
"Jembatan Sungai Amarilis!" kata Goldwin.
"Seperti nama bunga kalau aku tidak salah ingat ...." Cain mulai tenang karena tahu Felix berada dimana dan kini berjalan santai.
"Iya memang! airnya berasal dari Bunga Amarilis Merah yang tumbuh disetiap pinggir sungai seperti air mancur terus menerus memenuhi sungai ...." kata Goldwin.
"Berarti kalau mau air minum tinggal minta sama bunga itu dong?" tanya Cain.
"Tentu saja! sama di dunia manusia yang memiliki kran air di taman untuk minum ... hanya saja air Bunga Amarilis Merah terus menerus mengalir tanpa ada pengatur untuk mematikan air ..." kata Goldwin senyum-senyum sendiri.
"Jujur deh ... kau ini sering sekali kan ke Mundclariss jalan-jalan?" Cain menebak dari ekspresi wajah Goldwin.
"Mundclariss sangatlah terang dengan matahari yang begitu hangat menembus kulit ... sedangkan di Mundebris hanya terus malam seakan dunia yang sangat cocok untuk para Viviandem yang tidak normal karena memiliki kekuatan khusus harus disembunyikan di dunia kegelapan ..." kata Goldwin sambil memandang langit malam dengan bulan purnama.
"Teganya kau mengatakan hal seperti itu padahal kau ini Unimaris Alvauden!" Duarte datang menyela pembicaraan mereka.
"Apa maksudnya?" tanya Cain.
"Apa karena dia Leaure? sepertinya dia akan menjadi Alvauden satu-satunya yang berbeda dari Alvauden sebelumnya ...." jawab Duarte.
"Kau belum kenal dia saja!" Goldwin berdecak kesal sambil menatap sinis Cain.
"Caelvita sendiri adalah matahari bagi Mundebris ... perkataan Goldwin tadi seperti membanding-bandingkan Tuan Muda dengan Matahari Mundclariss ... atau lebih tepatnya pengkhianatan!" kata Duarte.
"Kau ini berlebihan sekali! aku cuma iri saja ...." Goldwin merubah ukuran menjadi besar mencoba meraih Duarte yang terbang.
Sementara Goldwin dan Duarte bertengkar dan saling mengejar, Cain mencoba mendekati Felix yang sedang duduk di atas jembatan.
"Wah ... batu yang ada disungai adalah permata ruby? boleh nih diambil untuk dijual!" kata Cain mencoba bercanda untuk duduk disamping Felix .
"Itu hanya batu biasa! tidak bernilai uang sama sekali ... kalau dibawa ke Mundclariss akan berubah menjadi batu biasa yang bukan lagi berwarna merah terang seperti ini. Memang semua batu di Sanguiber seperti ini ...." kata Felix.
"Jadi sekarang kau ini ahli Sanguiber nih? tahu semua hal tentang Sanguiber?" tanya Cain mulai membaringkan dirinya.
Felix hanya diam tidak berniat menjawab pertanyaan Cain itu, "Aku tidak tahu apa ini bisa menghiburmu ... tapi, menurutku ... bukan karena ibumu yang hebat bisa memiliki anak yang hebat sepertimu melainkan ibumu yang beruntung bisa mendapatkan anak hebat sepertimu ... eh! apa yang akan kau la ... ku ...." Cain belum selesai berbicara tiba-tiba didorong Felix dan terjatuh ke sungai.
Cain muncul kepermukaan dan mulai mengomel pada Felix tapi berhenti ketika melihat Felix tersenyum.
"Aku bisa melakukan hal ini lagi kalau kau mau tersenyum lagi begitu? mau mendorongku lagi?" lelucon dari Cain yang membuat Felix tertawa dari atas jembatan.
Cain malah tinggal bermain air dan melihat batu sungai yang bersinar itu. Para peri yang sudah siap menunggu untuk mengeringkan Cain di pinggir sungai terlihat bosan karena Cain sepertinya akan lama di dalam air.
"Aku tahu sekarang! bagaimana mengatasi masalah Setengah Sanguiber tanpa harus terjadi perang ...." kata Felix membuat Cain terpeleset dan tercebur ke dalam air karena saking kagetnya mendengar itu.
...-BERSAMBUNG-...