
Goldwin tahu betul soal itu tapi ia hanya senang saja mengerjai Cain, "Baiklah ... kita latihan fisik! kali ini akan sangat berat. Tapi, biarpun kau merengek untuk istirahat tidak akan aku pedulikan jadi ...." perkataan Goldwin belum selesai, "Tenang saja, aku tidak akan mengeluh sedikitpun!" kata Cain begitu yakin.
Goldwin hanya bisa tersenyum kecut saat baru disuruh lari keliling istana satu kali saja sudah mengeluh capek dan langsung berbaring diatas rumput. Bahkan rumput terus menggoyang-goyangkan Cain agar kembali berdiri dan mulai berlari lagi, "Bangun! Tuan Muda!" teriak rumput kompak mulai mengangkat Cain.
Cain tidak bisa disalahkan juga karena berlari di halaman istana untuk mengelilingi istana secara keseluruhan memang sangatlah sulit, mengingat luas istana bukan main-main.
"Apa karena tubuhmu bukan Viviandem ya? biasanya anak seusiamu bisa lari pulang balik Istana Emerald dan Istana Leaure!" kata Goldwin menggunakan mulut dan hidungngya untuk mendorong Cain bangun.
"Apa?! tunggu dulu ... kau memang tidak bisa membandingkanku dengan Viviandem murni yang pasti punya fisiologi tubuh berbeda denganku yang hanya Setengah Viviandem ...." Cain terlihat langsung segar karena sedang marah.
"Tapi kau itu istimewa!" kata Goldwin.
"Istimewa darimananya? karena ibuku yang pahlawan? atau karena aku memiliki jam ...." Cain dibungkam oleh Goldwin, "Jangan berbicara seenaknya! hal lain yang harus kau ketahui adalah ... satu-satunya yang boleh kau percayai adalah aku, Unimaris mu dan jangan lupa di Mundebris semua tanaman dan hewan memiliki akal pikiran dan mulut yang bisa berbicara. Semua yang memiliki pikiran bisa saja memikirkan hal buruk dan memiliki mulut bisa membuat pikiran buruk itu terlaksana ...." Goldwin memperingatkan dan menepuk bahu Cain.
"Kalian tidak merasa tersinggung dengan perkataan Goldwin tadi?" tanya Cain pada rumput.
"Tidak! sama sekali tidak! Tuan Muda harus mendengarkan dengan baik ajaran Goldwin!" kata Rumput yang malah memihak Goldwin membuat Cain tidak berhenti mengedipkan matanya karena tidak habis pikir.
"Walau dia juga hanya Setengah Viviandem tapi dia juga melakukan misi ... menandakan dia memiliki Unimaris juga kan?" tanya Cain.
"Tentu saja, tapi saudarinya tidak punya Unimaris." jawab Godlwin.
"Unimaris ibuku apa?" tanya Cain mulai bersandar pada Goldwin.
"Sama denganku ...." jawab Goldwin.
"Eh, singa juga? dari buku yang kubaca tidak mengatakan bahwa Unimaris Leaure semuanya adalah singa ... hanya saja kalau terlahir sebagai singa memiliki kekuatan yang lebih istimewa karena sesuai dengan simbol Leaure yang bergambarkan singa ...."
"Kau jadi cerewet begini setelah membaca beberapa buku saja ... Unimaris ibumu adalah Harimau!" kata Goldwin.
"Berarti dia sudah meninggal juga kan?" tanya Cain.
"Tentu saja! Unimaris Leaure dan Viviandem Leaure adalah satu tubuh ... makanya cepat berdiri dan latihan! aku tidak mau mati muda karenamu!" kata Goldwin pergi dan membuat Cain terjatuh karena tidak ada sandaran lagi.
"Mati muda katamu? kau pasti sudah berusia ratusan tahun, dasar!" Cain menarik surai Goldwin.
"Unimaris Leaure baru bisa dikatakan hidup jika sudah memiliki partner dan sudah menolong banyak!" kata Goldwin.
Cain berhenti menarik surai Goldwin dan mulai berdiri, "Baiklah ... selanjutnya apa?"
"Bagaimana caranya? Eeh!" Cain baru bertanya, pedang sudah hadir ditangannya.
"Sekarang serang aku dengan seluruh kekuatanmu sampai bisa mengenaiku!" kata Goldwin mulai mengaum mengambil posisi untuk berlari menyerang Cain.
Cain ketakutan melihat taring Goldwin dan kecepatan berlarinya yang tidak bisa dilihat jelas karena saking cepatnya berlari ke arahnya. Cain hanya berdiri mematung dengan pedang besar ditangannya. Goldwin membuat pedang Cain terlempar dan mendorong Cain hingga terjatuh. Sekarang Goldwin berada diatas Cain dan mengaum besar dengan taring panjang dan tajam membuat Cain ketakutan.
"Kau memiliki pedang terkuat seluruh dunia tapi tidak bisa melakukan apa-apa ... sama saja kau tidak memiliki pedang sama sekali!" Goldwin mulai marah-marah.
"Pedang itu kan pedang Alvauden ... bisa jadi nantinya Alvauden lain akan memilikinya. Sekarang kan hanya aku jadi ...." Cain mulai mencari-cari alasan.
"Jadi apa? kau tidak percaya diri memiliki pedang Orogla?!" tanya Goldwin dengan suara sangat memekakkan telinga, "Pedang Orogla sudah menjadi milikmu! Alvauden pertama Caelvita ke-119 dan kau tahu apa maksud dari itu? kaulah yang akan mengatur dunia Mundebris dan Panglima Perang tertinggi untuk melindungi Caelvita ... jangan lupakan kau juga adalah seorang Leaure! kau punya banyak tanggung jawab! kalau kau hanya ingin mengeluh terus seperti ini ... lebih baik kita bunuh diri bersama saja sekarang! daripada harus menanggung malu dan tidak bisa berbuat apa-apa ...." kata Goldwin dengan begitu tegas membuat semua tanaman yang ada disana langsung menutup mata.
"Jadi pedang ini hanya akan pergi jika ada Caelvita baru dengan Alvauden barunya?" Cain mulai memungut pedangnya dengan bantuan akar pohon yang muncul dari tanah dan mengangkatnya agar mudah diraih Cain.
"Masing-masing Alvauden dianugerahi dengan senjata masing-masing ... Alvauden pertama berhak memiliki pedang terkuat ini!" kata pohon yang akarnya tadi membantu, "Goldwin biasanya tidak seperti itu ... itu karena beban dan tanggung jawab yang kau tanggung, dia hanya takut kau tidak bisa menanggung tanggung jawab itu. Leaure yang mati tanpa melakukan apa-apa akan dicap sebagai Leaure tidak terhormat."
Cain hanya menghela napas dan mulai kembali mendekat dengan Goldwin yang masih memasang ekspresi seperti akan memakannya hidup-hidup.
"Aku tidak cepat belajar sesuatu ... tapi asalkan kau sabar mengajariku, sekali aku menguasai sesuatu ... aku tidak akan pernah melupakannya!" kata Cain.
"Angkat pedangmu, Leaure!" Goldwin mulai mengambil posisi kembali.
Cain kini sudah tidak ketakutan dan tanpa mengedipkan matanya saat Goldwin berlari ke arahnya. Tanpa pengetahuan apapun tentang bela diri pedang, Cain hanya mengayunkan pedangnya asal-asalan menyerang Goldwin.
"Terlalu lambat! terlalu lemah!" Goldwin memukul tangan Cain dan pedang Orogla terlempar lagi.
Cain berlari memungut lagi pedangnya dengan bantuan bunga. Selama latihan itu, semua tumbuhan yang ada dihalaman istana membantu Cain dalam latihan. Cain yang sudah bermandikan keringat tapi tidak berhasil melukai bahkan menyentuh Goldwin sedikitpun tidak.
"Sepertinya bagaimanapun juga, aku harus belajar dasar bela diri pedang baik-baik terlebih dahulu!" kata Cain yang hampir terjatuh tapi ditahan oleh cabang pohon yang memanjang menjadi sandarannya.
"Saat ini kau harus belajar dengan instingmu terlebih dahulu! mengetahui kelemahan dan kelebihanmu sebelum mulai belajar bela diri adalah cara paling dasar. Akan mudah nantinya kau memilih tehnik untuk menghilangkan kelemahanmu dan menjadikan kelebihanmu menjadi senjata terkuat. Saat bertarung dengan jangka waktu yang lama, lelah dan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Insting yang kuat, spontanitas yang cepat terkadang bisa mengalahkan tehnik yang hanya dipelajari seperti di buku pelajaran ..." belum selesai perkataan Goldwin, Cain sudah menyerangnya.
"Satu hal yang perlu kau ingat! jangan terlalu mempercayai lawan yang terlihat sedang mendengarkan dengan baik ...." Cain dengan tertawa saat memperlihatkan surai Goldwin yang terpotong kini digenggaman ditangannya.
Goldwin menumbuhkan kembali surainya yang terpotong tadi dan mulai tersenyum.
...-BERSAMBUNG-...