
Felix membenturkan tongkatnya membuat gerbangnya, gerbang Caelvita muncul diikuti empat gerbang Alvaduen juga muncul saling berjejeran.
"Ada apa ini? Felix ... jangan mengabaikanku begini!" kata Cain.
"Apa kita akan ke Mundebris?" tanya Teo.
Semua pintu gerbang semuanya terbuka lebar bahkan sebelum mereka semua mendekat, "Bukan kita ... tapi dari Mundebris yang akan kemari!" kata Tom.
"Felix ... bisa tidak kau beri tahu kami sesuatu!" kata Tan.
"Aaaaaaaaaa!" teriak Cain, Tan, Teo dan Tom melihat apa yang baru saja keluar dan mulai mundur menjauh.
"Sudah dimulai ya Tuan Muda!" kata pemimpin kelabang raksasa diikuti pasukannya dibelakang yang berbaris dengan cara berdiri menyeramkan karena kaki-kakinya jadi sangat terlihat jelas sedang bergerak-gerak.
"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kan?!" kata Felix.
"Siap, Tuan Muda!" kata pemimpin kelabang langsung memimpin jalan menuju panti.
"Bus sudah datang, ayo kita berangkat!" kata Felix santai disaat yang lainnya masih syok dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya.
***
"Ada apa ini sebenarnya Felix?!" tanya Tan.
"Mereka adalah penggali handal yang ada di Mundebris bisa dengan cepat langsung menggali dan caranya juga sangat teliti ... sangat bisa diandalkan!" jawab Felix.
"Kau pikir itu jawaban?!" kata Teo protes karena bukan itu jawaban yang ingin didengar.
"Jangan berisik!" kata Felix yang melihat semua orang yang ada di bus jadi berbalik ke arah mereka karena Teo meninggikan suaranya.
"Apa ada hubungannya dengan kolam ikan yang sedang dibuat itu? bukankah sudah ada yang bertugas akan menggali?!" tanya Tom.
Disaat Tiga Kembar sibuk bertanya, Cain hanya diam saja dan tak lama langsung menghilang masuk Bemfapirav. Setelah masuk ke Bemfapirav. Cain langsung mendarat dengan aman, sudah mempersiapkan jika akan terjatuh karena tadinya berada di dalam bus tidak sesuai dengan Bemfapirav yang tidak mungkin ada bus juga, "Biar aku yang cari tahu sendiri!" kata Cain mulai berlari kembali menuju panti.
"Biarkan saja!" kata Felix tidak ada niat untuk menghentikan rasa penasaran Cain.
"Bukannya begitu ...." kata Teo melirik kamera cctv yang ada di bus.
Felix membuka tasnya dan sedang mencari sesuatu, tak lama ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya.
"Sleepy?!" kata Tiga Kembar bersamaan.
"Eng, eh ... eh!" kata Sleepy terbangun karena kaget namanya disebut.
Felix memberikan cemilan untuk Sleepy, seekor hewan yang berasal dari Mundebris disebut Eminusculus mempunyai pistol dan peluru sebagai bagian dari tubuhnya. Dikenal sebagai penembak jitu di Mundebris dan terkadang juga bekerja sebagai pembunuh bayaran. Tubuhnya bundar dan warna bulunya bisa berubah-ubah sesuai yang diinginkan. Senjata Eminusculus berbeda-beda, tidak semuanya sama. Tapi yang Felix bawa saat ini adalah Eminusculus bernama Sleepy yang mempunyai senjata tidak terlihat tapi pelurunya sangatlah mematikan. Satu tembakan peluru akan masuk ke dalam tubuh sasaran dan meledakkannya dari dalam. Kebetulan Tan, Teo dan Tom sudah melakukan kontrak dengannya. Sangat mudah melakukan kontrak dengannya karena tidak suka diganggu saat tidur maka Tan hanya mengatakan bahwa akan pergi dan tidak mengganggu lagi jika Sleepy bersedia melakukan kontrak. Dengan mudahnya Sleepy setuju padahal ia membuat satu kaumnya, Eminusculus kini terikat kontrak dengan Tiga Kembar. Tanpa beban sama sekali karena hanya ingin cepat-cepat tidur.
"Kau lihat yang disana itu, ada cahaya merah berkedip-kedip ...." kata Felix menaruh Sleepy di pundaknya setelah diberi cemilan.
Belum selesai kalimat Felix, Sleepy langsung menutup matanya sebelah dan terdengar ada suara tembakan walau senjata Sleepy tidak kelihatan. Sleepy melompat masuk kembali ke dalam kotak untuk tidur dan saat mulai mndengkur kamera itu perlahan mulai retak dan pecah.
"Astaga!" teriak para penumpang gaduh setelah melihat kamera cctv itu pecah.
Felix menaruh kotak yang ada Sleepy nya yang sedang tidur kembali ke dalam tas.
"Kenapa lama begitu?" tanya Teo.
"Peluru Sleepy menghancurkan semuanya dari dalam dulu termasuk yang terhubung dengan perekaman cctv untuk dihancurkan dulu dan tentunya memory card nya juga ...." jawab Tan.
"Kau membawanya kemana-mana selama ini?" tanya Tom.
"Em!" sahut Felix santai mulai turun dari bus.
"Oh, kalian sudah datang!" kata Cain berdiri sambil menyilangkan tangannya di halte bus.
"Kau melompati waktu ya? oh iya jadi apa yang kau dapat?" tanya Teo penasaran.
Felix mengabaikan mereka dan mulai berjalan menuju sekolah, "Aku tidak bisa menjelaskannya lewat kata-kata!" kata Cain dengan melamun, "Kalian bisa lihat sendiri nanti ...."
"Kalian tidak lihat saja apa yang aku lihat ...." kata Cain.
"Makanya kan kami bertanya?!"
"Sulit untuk menjelaskannya!" kata Cain.
"Katakan saja apa adanya seperti yang kau lihat!"
"Para kelabang itu sedang mondar mandir naik dan turun ke dalam bawah tanah yang ada di panti!" kata Cain.
"Begitu caramu menjelaskan?!" kata Tom tidak puas.
"Makanya sudah kubilang aku tidak tahu cara menjelaskannya kan?!" kata Cain.
"Kau tidak bertanya dengan salah satu dari mereka?" tanya Tan.
"Kau pikir dia berani? yang ukuran kecil saja dia menangis karena takut apalagi ini ukuran segede naga ...." kata Teo mengejek.
"Aku tidak takut, tahu!" kata Cain.
"Ohya, padahal aku masih dengan jelas mengingat kejadian waktu kita 6 tahun ...." kata Tom sudah ingin memulai ceritanya.
"Jangan, hentikan! Felix bisa dengar ...." kata Cain tidak ingin Felix mengetahui kelemahannya.
"Kalau Felix tumbuh dari kecil bersama kita, pasti dia akan ilfeel dan tidak akan mau berteman denganmu!" kata Tan.
"Itu kan dulu ... sekarang sudah beda! aku tidak takut dengan apa-apa lagi ...." kata Cain membela diri.
"Lalu siapa tadi yang memelukku paling erat?!" kata Tom mengingatkan kejadian saat gerbang terbuka.
"Itu hanyalah respon kaget sesaat!" kata Cain tidak mau kalah.
Mereka saling bercanda tapi sebenarnya tidak berhenti memandangi Felix yang berjalan di depan untuk menghindari kecurigaan, mereka terus saja berbicara tidak jelas.
Tan, Teo dan Tom juga perlahan segel pikirannya sudah mulai naik ke level dimana Felix juga sudah tidak bisa mendengarnya. Sepertinya setiap Alvauden memang mempunyai segel pikiran yang tidak bisa ditembus oleh siapapun termasuk Caelvita sendiri.
"Apa hanya aku yang memikirkan ini?" tanya Tom mengetik di handphone.
"Aku juga begitu!" kata Teo.
"Ya, tidak bisa dibiarkan ... Felix selalu saja menyembunyikan sesuatu dari kita!" kata Cain.
Felix berbalik dan mereka semua langsung panik, "Apa?!" tanya mereka berempat serempak.
"Apanya yang apa?!" kata Felix tidak mengerti langsung diberi tatapan seperti itu.
Cain dan Tiga Kembar berjalan menabrak Felix dan duluan masuk ke kelas, "Apa-apaan kalian?!" teriak Felix.
Saat berjalan masuk ke dalam kelas Cain merinding dan berbalik mencari asal udara dingin yang mengenainya. Felix melihat ekspresi Cain yang ketakutan itu dan mulai tidak melepas pandangannya terhadap seseorang yang baru saja melewati Felix dan masuk ke dalam kelas.
"Dallas?!" kata Cain.
"Iya!" sahut Dallas.
"Kau tidak apa-apa?" Cain melihat wajah pucat Dallas.
"Memang sedang tidak enak badan tapi tidak lama juga akan sembuh!" kata Dallas menaruh tasnya di atas meja dan mengeluarkan buku.
"Ada apa?!" tanya Felix melihat Cain tidak berhenti merinding.
"Dallas sepertinya sedang dalam bahaya ...." kata Cain yang terus memandangi Dallas.
...-BERSAMBUNG-...