UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.58 - Rahasia Pabrik Daging



"Uhh, dingin sekali!" seru Mertie.


"Namanya juga di pabrik daging!" sahut Cain.


Mereka berdua sudah hampir selesai mengelilingi hampir seluruh pabrik dan kini masuk ke dalam ruangan pendinginan untuk penyimpanan daging dengan memakai cetakan sidik jari Era yang ternyata ada banyak dibawa Mertie.


"Mau bagaimanapun dilihat, tidak ada yang aneh dari pabrik ini ...." Mertie mulai pesimis.


"Sebelum ke tempat bagian perkantoran Perusahaan Carlton setidaknya kita harus kesini dulu, walau bagaimanapun disinilah tempat ayahmu bekerja!"


"Tapi disini hanya pabrik saja untuk memotong, menyimpan dan mengemas daging ... tidak akan ada yang mencurigakan!" kata Mertie.


"Kalau kau bosan, bisa tidak diam saja!" Cain mulai kesal mendengar keluhan Mertie.


"Ow, daging ini kenapa dipotong-potong kecil ya?" tanya Mertie.


"Daging yang lain dipotong dengan ukuran lebar tapi ini kok?" Cain juga ikut penasaran, "Apa memang ada daging yang dikemas sudah dipotong kecil-kecil begini?" tanya Cain pada Mertie.


"Mana aku tahu! aku jarang makan daging! aku kan miskin! kau tidak tahu?" Mertie dengan nada kesal.


"Mana aku tahu juga! aku ini anak yatim piatu! tidak ada orangtua yang memberi uang jajan!" balas Cain.


"Kau sedang mau adu tanding siapa yang paling tidak beruntung?!" Mertie sewot.


Cain membungkam mulut Mertie dan menariknya bersembunyi setelah mendengar suara langkah sepatu.


Terdengar seperti sedang melemparkan sesuatu kelantai, "Hahh ... berat sekali, apa aku salah memilih produk ya?!" kata seorang laki-laki yang hanya bisa didengar suaranya oleh mereka berdua. Kemudian barang yang tadi dilemparkan seperti diseret karena terdengar dari suara lantai yang berbunyi dan entah dimasukkan ke mana lalu orang tadi pergi lagi setelah menyimpan barang itu.


"Apa tadi sapi ya yang diseret?" Mertie melihat bekas seretan yang penuh darah di lantai.


"Apa hewan yang disembelih dibawa satu-satu kemari?" tanya Cain.


"Aku juga kurang tau soal itu! kan ayahku yang bekerja, bukan aku!"


"Kau itu benar-benar tidak bisa diandalkan!" decak kesal Cain.


"Apa kau bilang?!"


"Sssssst!!!"


***


Akhirnya mereka keluar dari pabrik itu tanpa ada petunjuk sedikitpun, padahal begitu susah saat berada di dalam karena harus melalui titik buta cctv. Mereka akhirnya berhasil menyelinap keluar saat penjaga pintu depan tertidur saat jam 2 pagi.


"Apa memang semudah ini ya? atau kita hanya beruntung saja?" Cain mulai tidak habis pikir dengan mudahnya bisa keluar masuk dengan mudahnya dari sana.


"Karena tidak ada yang perlu disembunyikan disana jadi keamanannya tidak terlalu ketat, lagipula ngapain juga daging dijagain?!" kata Mertie mengundang tawa.


"Besok kita ke Perusahaan Carlton group, pasti tidak akan semudah ini ... baiklah kita berpisah disini saja!" Cain mulai berjalan berlawanan arah dengan Mertie.


"Sampai jumpa nanti!" kata Mertie.


"Nanti? oh iya ya, kan sudah subuh! sudah besok ... hahaha," Cain mulai berlari kecil, "Goldwin!" Cain menepuk bagian dalam pergelangan tangannya tepat diatas urat nadi dengan dua jari.


Goldwin kemudian muncul dari pergelangan tangannya dan langsung melompat ke atas pundak Cain, "Ada apa kau memanggilku? hehh ... bau apa kau ini?" tanya Goldwin.


"Ah, tadi habis dari pabrik daging!" jawab Cain.


"Pabrik daging? daging apa?" tanya Goldwin seperti tidak tahan dengan bau yang menempel pada Cain.


"Oh iya ya ... andaikan tadi aku ambilkan satu iris daging disana untukmu."


"Apa? baru kali ini aku dengar ada kucing vegetarian..."


"Jadi untuk apa kau memanggilku? huhh ... baumu sepertinya aku tahu apa ...."


"Menemaniku pulang, karena bosan sendirian ...." kata Cain polos.


"Bukannya karena takut?" Goldwin menggoda Cain.


***


Cain tidak bisa kembali ke panti atau Rumah Daisy karena bus pertama baru mulai beroperasi jam 4.30 pagi dan lupa mengambil kartu ATM Daisy yang disimpan sembarangan, "Jadi kau akan bermalam dimana? sebenarnya apa yang kau lakukan? kau tidak melakukan sesuatu yang berbahaya kan? atau jangan-jangan kau melakukan suatu kejahatan? eh, tapi tidak mungkin ...."


Sementara Goldwin masih ingin bertanya, Cain sudah masuk ke Bemfapirav membawa serta Goldwin yang berada di pundaknya, "Aku kan sudah bilang benci kesini!" keluh Goldwin.


"Jangan berbicara keras-keras, kau sudah berada di samping telingaku tidak perlu berteriak agar aku dengar!" Cain mulai mengeluarkan sebuah map dan mulai berjalan.


"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Goldwin.


"Kau tidak berjalan sama sekali tapi banyak protes, kita sudah sampai!"


"Sampai dimana?"


"Sauna!" sahut Cain yang berdiri di atas sebuah sungai di Bemfapirav lalu menutup mata dan membuka mata untuk kembali ke Mundclariss, "Wah ... panas!" mereka tiba di ruangan sauna yang bersuhu tinggi yang ada di Mundclariss.


Hanya asal dalam memilih untuk bisa langsung masuk dalam sauna karena anak dibawah umur dilarang masuk tanpa wali apalagi sudah dini hari. Setelah memastikan tempat pakaian, Cain kembali ke Bemfapirav dan berjalan ketempat pakaian sauna yang sudah diperkirakannya tadi dengan berjalan di atas sungai yang dangkal itu, Cain kembali lagi ke Mundclariss dan diam-diam mengambil pakaian lalu kembali ke Bemfapirav dalam sekejap mata dan berjalan menuju tempatnya semula lagi dan kembali lagi ke Mundclariss di ruangan bersuhu tinggi itu dan mengganti baju kemudian menuju ruangan tidur dengan santai.


"Kau ini sudah tahu cara menggunakan Bemfapirav untuk kepentinganmu sendiri ya?!" kata Goldwin yang sebenarnya memuji tapi terdengar menyebalkan.


Cain mulai membaringkan tubuhnya jauh dari para paman yang tidur di ruangan itu agar bisa berbicara dengan Goldwin.


"Seperti kau habis bersentuhan dengan sebuah aura yang tidak baik!" kata Goldwin mulai menjilati tangan Cain untuk membersihkan aura buruk yang menempel.


"Geli!" kata Cain saat lidah kasar Goldwin menjilatinya.


"Uhhuk!" Goldwin batuk setelah merasakan aura jahat yang menempel pada Cain, "Tadi kau bilang dari pabrik daging kan?"


"Iya, mungkin banyak sapi yang sedih karena disembelih ...." kata Cain ngawur.


"Bukan daging sapi! tapi daging manusia!" kata Goldwin langsung membuat Cain terperanjat.


"Apa?!" teriak Cain membuat paman yang tidur mendengkur tiba-tiba berhenti mendengkur tapi tak lama kemudian kembali mendengkur lagi, "Hufff ...." Cain lega karena mengira akan membangunkan paman itu.


"Pabrik itu bukan daging hewan tapi daging manusia! tadi sejak awal bertemu denganmu aku mencium bau darah manusia yang sangat dibenci oleh Leaure, aku juga sudah lama baru mencium bau darah manusia jadi lupa dan aura buruk yang menempel sedikit denganmu tidak salah lagi itu adalah aura dari seorang pembunuh."


Perkataan Goldwin membuat Cain langsung merinding, "Jadi yang diseret tadi itu manusia? jadi itulahvmengapa ada daging yang dipotong kecil-kecil karena untuk menyamarkan bahwa itu adalah daging manusia?"


"Kau ini sebenarnya sedang melakukan apa?" tanya Goldwin.


"Apa ayah Mertie mengetahui hal ini jadi itulah kenapa dia ...." Cain berbicara sendiri.


Goldwin mengeluarkan cakarnya memperlihatkannya pada Cain karena tidak diperdulikan, "Aa ... apa yang akan kau lakukan?" Cain panik melihat kuku tajam Goldwin.


"Aku mempercayai seorang Leaure yang pasti akan selalu menjunjung tinggi kesetiaan dalam melindungi seseorang, jadi aku akan mempercayai kau sedang melakukan hal yang benar bukan?!"


Cain hanya mengangguk, "Baiklah ... aku akan mengajarimu cara untuk menggunakan kekuatan Leaure, walau tidak tahu apa kau bisa menggunakannya karena kau hanya setengah Leaure dan sangat menyedihkan soal kekuatan ... hahh ...." kata Goldwin sambil menghela napas, juga senang saat Cain mendengar dengan patuh.


...-BERSAMBUNG-...