
Teo dan Tom yang duluan kembali ke Mundclariss. Teo yang hendak berteriak karena panik langsung dibungkam mulutnya oleh Tom. Tom sendiri juga langsung menutup mulutnya sendiri dengan menggunakan tangannya yang lain karena takut jika tidak sengaja bersuara. Sialnya mereka berdua tiba tepat di atas kasur yang ada orang tidur di atasnya. Tidak memperkirakan kalau ternyata tempat yang mereka gunakan untuk kembali adalah sebuah kamar.
Walau mereka tidak akan terlihat dan suara juga tidak bisa di dengar tapi mereka langsung merespon dengan menutup mulut. Mungkin itu sudah menjadi respon tidak sadar dari semua orang.
Felix, Cain dan Tan juga tiba di atas kasur seperti yang terjadi dengan Teo dan Tom. Teo dan Tom yang sudah berada dibawah hanya bisa menahan tawa ... sementara Felix, Cain dan Tan perlahan untuk turun dari atas kasur menahan tawa sekaligus kekesalan pada Tom yang percaya diri memimpin jalan dan Teo yang usil mengejek di depan pintu kamar.
Perlahan dibukanya pintu untuk keluar kamar, gelap karena lampu sudah dimatikan tapi ada sebuah cahaya dari arah ruang tamu. Itu adalah sebuah lilin yang dinyalakan dan ditaruh di atas meja kecil yang di dekatnya penuh makanan dan minuman. Serta di depan meja itu ada seseorang yang berkali-kali bersujud. Hal itu dilakukan berulang-ulang sambil menggosokkan kedua tangan dan mulut seperti sedang merapalkan sesuatu atau mungkin sedang berdoa.
Ada kepala kambing di tengah-tengah lilin yang dinyalakan dengan gambar simbol sihir yang di lukis dengan darah.
"Plester luka berwarna kulit, tidak jelas jika dilihat dari kamera pengawas. Bisa saja semua anggota keluarga pemain yang terlibat dalam membantu, tangannya terluka juga ...." kata Tom menunjuk tangan seseorang yang masih saja terus melanjutkan apa yang dilakukannya tanpa henti.
"Apa hanya aku atau ini memang terlihat seperti pemujaan iblis?" tanya Tan.
"Ini ulah Efrain, pasti hal ini ada di dalam misi ...." jawab Felix.
"Apa ini memang salah satu cara untuk menukar nyawa?" tanya Cain.
"Sama sekali bukan! ada beberapa cara menukar nyawa serta ditambah dengan petunjuk yang kalian dapat ... tapi pemujaan ini tidak termasuk!" jawab Felix.
"Ada yang berkilau di wastafel!" teriak Teo.
"Ini serbuk dari batu permata Imperial Topaz! darimana dia mendapatkan ini?" Cain berbalik melihat orang yang sudah kelelahan bersujud tapi terus memaksakan diri.
"Batu permata ini menyimbolkan kekuatan paling besar di Mundebris, ciri khas dari kaum iblis!" kata Felix menjelaskan pada Tiga Kembar.
Cain mengingat Felix yang menumbuk-numbuk batu permata safir, "Apa ini salah satu caranya?" tanya Cain yang sudah tidak sabar mengetahui sebenarnya bagaimana cara menukar kematian tapi Felix masih membuat penasaran dan katanya akan memberitahu nanti jika sudah waktunya.
"Ini juga pasti tipu muslihat dari Efrain! hebat juga dia menyuruh orang lain melakukan hal ini ...." kata Felix yang kemudian menyadari ada mata yang menunggu jawaban, "Bukan!" kata Felix menekankan.
Cain, Tan, Teo dan Tom kecewa karena mengira itu adalah salah satu caranya.
"Tapi ngomong-ngomong ... pemainnya ada dimana?" tanya Teo.
Felix berlari untuk ke luar rumah dengan menembus pintu begitupun Cain tapi giliran Teo dan Tom yang ingin menembus pintu juga langsung terbentur, Tan yang melihat itu berhenti agar tidak bernasib sama seperti kedua saudaranya. Suara benturan itu membuat yang sedang melakukan pemujaan tadi memeriksa tapi karena tidak bisa melihat apa-apa ia kembali melakukan aktivitasnya.
"Kenapa kami tidak bisa menembus pintu seperti kalian?" tanya Teo protes.
"Ah, itu ... aku bisa menembus pintu karena ini adalah kekuatanku sedangkan kalian kan hanya meminjam kekuatanku ...." jawab Cain merasa bersalah tidak memberitahu dari sejak awal.
"Cepat juga kau bilang!" kata Tom sebal.
Tiga Kembar ingin membuka pintu secara manual tapi bunyi decitan pintu luar biasa keras padahal sudah sangat pelan-pelan digerakkan. Akhirnya diurungkan melakukan itu dan masuk Bemfapirav kemudian melangkah beberapa langkah ke depan dan kembali lagi ke Mundclariss akhirnya mereka sudah berhasil ke luar dari rumah.
"Da ... da ... pintu!" kata Teo sementara Tom masih mengelus-elus dahinya yang terbentur tadi.
"Itu dia pemainnya!" seru Cain.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Tan.
"Tunggu dulu ...." Mereka semua saling bertatapan, "Dia tahu kita memasang kamera!" kata mereka semua bersamaan kecuali Felix yang sudah dari tadi di sana mengamati.
"Bunga ... kalian tidak ingat?!" kata Felix memberi petunjuk.
"Seperti yang dicurigai Mertie? tapi apa hubungannya?" tanya Tom.
"Di akar bunga itu ada masing-masing nama pemain!" sahut Felix.
Pria paruh baya itu setelah menggali salah satu bunga kemudian memukuli bunga itu terus menerus tapi anehnya bunga itu tidak hancur bahkan seperti tidak pernah terkena pukulan sama sekali. Dengan emosi yang meledak-ledak pria paruh baya itu terus memukul bunga itu dengan sekop sampai kelelahan dan setelah emosinya sudah reda ditanamnya lagi bunga itu tapi seperti terpaksa karena sambil meneteskan air mata.
"Sepertinya dia masih belum menemukan bunga yang terhubung dengannya!" kata Felix.
"Em?" Cain masih menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Ini adalah salah satu cara menukar kematian!" kata Felix yang langsung membuat jantung yang mendengar berdegup kencang, "Dalam beberapa minggu salah satu bunga yang menyimpan nama pemain akan bisa dicabut, tapi sepertinya secara acak ... jika beruntung menemukan nama pemain yang terhubung dengan nyawa yang mencabut maka ya seperti yang kalian pikirkan bagaimana ... jika bunga itu dihancurkan akan bisa membuat kematian tertukar."
"Jadi ini adalah lomba adu cepat siapa yang cepat melakukan hal ini pada tengah malam ...." kata Tom.
"Kau membaca pikirannya?" tanya Teo.
"Kan, aku sudah pernah bilang kalau tidak bisa membaca pikiran para pemain ...." sahut Felix dengan nada kesal tapi yang lainnya lebih kesal lagi tandanya Felix mengetahui sesuatu lagi.
Pria paruh baya itu kemudian mengeluarkan botol minuman penyegar dan menyiramkannya pada bunga yang baru saja ditanamnya kembali tadi.
"Jangan bilang ...." kata Tan.
"Ya, semua yang kalian curigai adalah petunjuk yang sebenarnya! tidak mungkin kan ... kalau minuman itu untuk merawat tanaman ...." kata Felix.
Menertawai petunjuk yang diberikan Mertie soal bunga ternyata bunga itu adalah hal yang paling penting. Begitu juga dengan informasi dari Teo soal surat yang diabaikan ternyata adalah hal utama karena merupakan misi yang harus diselesaikan oleh para pemain setiap minggu agar bisa melalui minggu itu dengan selamat.
"Hampir saja kita melewatkan petunjuk penting ...." kata Cain.
"Inilah kenapa kita tidak boleh menertawai dan mengabaikan perkataan seseorang. Bisa saja itu lebih penting dari petunjuk yang kita temukan sendiri ...." kata Tan.
"Jadi minuman penyegar itu gunanya apa?" tanya Tom.
"Aku juga tidak tahu apa yang ada di dalamnya tapi dari informasi yang dikatakan Kemp, dulu Franklin menaruh darah iblis dalam minuman. Verlin, Zeki dan Efrain dulu harus membuang semua minuman yang ada di rumah pemain dan menguras air penyimpanan air pemain sampai tak bersisa ... bahkan Efrain sempat harus membuat mata air berhenti dan membuat kekeringan di sebagian tempat karena Franklin bahkan menaruh di aliran sungai ...." jawab Felix.
"Berarti dengan menyiramkan minuman itu pada tanaman akan membuat tanaman itu bisa mati?" tanya Teo.
"Jadi bagaimana dengan orang yang bukan pemain? apa mereka juga akan mendapat efek samping dari darah iblis yang dicampur dalam air?" tanya Tom.
"Tidak sampai mati kalau itu yang kalian pikirkan tapi kebanyakan membuat pemain hampir mati dan membuat pemain tidak bisa melakukan aktivitas banyak dan hanya bisa berdiam diri terus! dan untuk orang biasa darah iblis itu tidak berpengaruh hanya yang terikat dengan permainan yang mendapat efek sampingnya ...." jawab Felix.
"Serangan jantung lima pemain waktu itu apa ada kaitannya?!" kata Cain.
"Ya, benar ... terlebih lagi sekarang Franklin bekerja sama dengan Efrain. Mendapatkan darah iblis bukanlah hal yang sulit lagi baginya ...." kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...