
Pasangan ke 45, hari ke dua puluh tiga : Hototo 64 tahun dan Eustacia 63 tahun. Seharusnya Eustacia yang meninggal tapi ternyata Hototo. Mereka berdua adalah salah satu pemain yang merupakan pasangan suami istri yang juga tidak percaya dengan permainan tukar kematian dan selama ini tidak melakukan misi sama sekali.
"Apa yang terjadi? mereka adalah pemain yang tidak pernah kubayangkan akan mencabut tanaman bunga Flortem ...." kata Tom.
"Terdengar rumor kalau Hototo berselingkuh, apa ini kekuatan dari balas dendam seorang istri?" kata Teo yang mengundang tawa pada situasi yang tidak seharusnya.
"Ajaib juga, bukankah sangat mustahil untuk bisa menarik tanaman bunga Flortem lawan tukar kematian?" tanya Tan.
"Inikah yang dinamakan balas dendam termanis ...." kata Teo kembali membuat tertawa.
"Seharusnya kita tidak tertawa ...." kata Tan memukul pipinya sendiri dan memaksa dirinya untuk menahan tawa.
"Kita memilih Hototo untuk dihidupkan karena dia merupakan mantan hakim yang sudah pensiun akan maju dalam pemilihan presiden Yardley ... visi misi Hototo terdengar menjanjikan tapi lebih baik begini memang, kita jadi tahu sifat yang sebenarnya dari Hototo ... rasanya kita tidak rugi sama sekali kalau memang tertukar!" kata Cain.
"Suka selingkuh dengan visi misi calon presiden apa hubungannya?!" kata Felix heran.
"Aku tidak akan memilih presiden yang tukang selingkuh!" kata Teo membuat Felix tercengang dan Cain senang bahwa Teo berada dipihaknya.
"Kau memang belum cukup umur untuk memilih, tahu?!" kata Felix.
***
Cain menunggu Haera datang, Haera yang sedang menjemput dan mengantar roh Hototo. Malam itu mereka tidak latihan karena cuaca sangat dingin dan salju turun dengan lebatnya. Tapi Tom tetap olahraga dengan berulang kali bolak-balik naik turun tangga. Tan menyiapkan makan malam bersama Teo. Felix sedang memaksa dirinya untuk tidur di dalam kamar karena kepalanya sangat sakit. Berharap tidur bisa membuat rasa sakit itu hilang tapi kantuk tak kunjung datang.
"Kapan aku bisa mengambil tubuh Magdalene juga ...." salah satu yang menjadi beban Felix adalah tubuh Magdalene yang masih ada di dalam kastil Perkumpulan Iblis Anti Caelvita dibawah pengawasan Efrain. Untuk masuk ke kastil itu sama saja dengan menyulut api atau memulai perang. Kata-kata Magdalene selalu terngiang yang mengatakan bahwa setidaknya tubuhnya bisa ditemukan, dikembalikan pada orangtuanya sehingga bisa dikuburkan dengan layak.
"Aku pergi dulu sebentar!" kata Cain yang langsung menghilang.
"Apa-apaan? tiba-tiba begitu?" kata Tom.
Felix berlari dari lantai atas untuk mengecek keberadaan Cain yang tiba-tiba saja tidak bisa dideteksi, "Kemana Cain?"
"Entah ... hanya bilang katanya pergi sebentar dan langsung menghilang!" kata Teo.
"Anak itu!" Felix kesal bukan main.
"Dia itu pewaris pusaka permainan tukar kematian, wajar saja jika dia sibuk!" kata Tan.
"Tapi setidaknya aku bisa mencari keberadaanya dimana ...." kata Felix, "Apa dia ke Vandi?" tanya Felix dalam hati.
Felix gelisah karena sudah H-5 sebelum permainan berakhir. 5 hari lagi sampai waktu bagi Kiana yang ditukar kematiannya. Walau sudah memasang pelindung tingkat tinggi tapi tetap saja Felix khawatir rencananya untuk melindungi Kiana gagal, "Semuanya akan baik-baik saja kan?"
Pagi mulai kembali menyapa, H-4 sebelum permainan berakhir. Seharusnya semakin dekat waktu permainan berakhir, mereka akan semakin senang tapi ternyata mereka semakin tegang. Cain juga masih tidak kembali dari semalam. Tan menyiapkan seragam Cain untuk dibawa ke sekolah.
Cain sudah menunggu di halte bus dekat sekolah bersama Haera yang sedang meniup minuman hangatnya. Keduanya duduk memasang wajah bengong. Tidak melihat ke minuman hangat yang ditiup tapi hanya menatap kosong. Teo gemas sekali melihat Haera tapi masih saja takut untuk membelainya.
"Apa ini?" tanya Tom menunjuk aksesoris rambut Haera yang mencolok.
"Ian yang beliin!" sahut Haera.
"Seleramu juga ...." kata Teo menggeleng-geleng.
"Seragamku?" tanya Cain.
"Sama-sama!" jawab Tan menyerahkan tas Cain yang didalamnya ada buku dan seragan yang sudah disiapkan.
"Katakan itu pada dirimu sendiri! kau tidak berhak mengatakan itu ...." kata Iriana karena Felix selama ini menyimpan banyak rahasia juga.
"Hari ini kita pulang ke panti? bagaimana?" tanya Tan.
"Iya ... bukan untuk mengawasi Kiana tapi memang aku rindu dengan suasana panti!" kata Teo yang terlihat sangat jelas kalau memang mengkhawatirkan Kiana.
***
Seharusnya Dea merasa canggung setelah kejadian kemarin tapi ternyata tidak. Masih saja dia mengganggu Felix dan meneriaki anak-anak yang menatap Felix.
Mertie yang mendapat kabar meninggalnya Hototo panik karena ia juga mendapat daftar yang seharusnya meninggal, "Apa yang terjadi?" tanya Mertie dengan menggunakan bahasa isyarat tanpa menatap.
"Kau yang jawab!" kata Cain.
"Kalau Mertie tahu aku bisa berbicara melalui pikiran, pasti akan membuat dia ketakutan!" kata Felix.
"Kalau begitu, tidak usah ...." kata Cain.
"Apa ada sesuatu yang terjadi tadi malam? tidak ada masalah kan?" tanya Felix memberanikan diri.
"Tidak ada ... Haera hanya kesepian tidak ada yang menemaninya bermain!" kata Cain.
"Kalau dipikir-pikir kita memang harus bersikap baik dengan Haera karena tinggal 4 hari lagi dia akan meninggal juga ...." kata Felix.
"Akan lahir juga Dicoisvi baru, mirip persis dengan Haera! sebenarnya memang Haera juga, tapi Haera yang terlahir kembali dengan ingatan baru tanpa ikatan dengan pewaris sebelumnya ...." kata Cain tidak terlihat sedih sama sekali.
"Bagaimana rasanya menjadi pewaris sementara?" tanya Felix.
"Namanya juga sementara! tidak ada yang istimewa ...." jawab Cain.
"Mulai besok, Haera akan terus bersamamu kan? Dicoisvi akan terus bersama dengan pewaris tiga hari sebelum meninggal kan ...." kata Felix.
"Seharusnya Pewaris dan Dicoisvi akan meninggal bersama, tapi karena aku hanya Pewaris Sementara jadi Haera harus pergi sendirian ...." kata Cain.
"Seharusnya saat Franklin meninggal, Haera juga meninggal tapi Franklin memberi waktu lebih untuk Haera hidup dan menyelamatkan banyak nyawa pemain ... Haera juga pasti bangga dengan Franklin!" kata Felix.
"Dia bangga sekali tentunya! katanya ... Franklin adalah pewaris terhebat sepanjang masa! dia tidak berhenti memuji dan menyombongkan Franklin ... aku bahkan sudah bosan mendengarnya!" kata Cain.
"Haera juga pasti senang dengan beberapa hari yang dilalui bersamamu ...." kata Felix.
"Tentu saja! dia seharusnya merasa terhormat bisa mendapatkan pewaris Alvauden ...." kata Cain sombong.
"Saat permainan ini mulai berakhir, seharusnya kita mulai memikirkan langkah selanjutnya tapi aku tidak bisa memikirkan apapun!" kata Felix.
"Soal itu belakangan! sekarang kita fokus untuk menyelesaikan permainan ini dulu ... semoga saja tidak terjadi sesuatu yang besar sehingga permainan ini bisa selesai dengan aman tanpa pertumpahan darah ...." kata Cain.
"Perkataanmu juga ... pertumpahan darah?!" Felix ingin agar Cain memperbaiki kalimatnya.
"Aku hanya tidak bisa membayangkan persiapan apa yang dilakukan Efrain untuk mengakhiri permainan ini ...." kata Cain.
...-BERSAMBUNG-...