
"FELIX!!!" teriak Efrain yang terdengar masih berada di dalam ledakan.
"Terlalu cepat ...." kata Cain yang jantungnya langsung berdegup kencang karena apa yang diperkirakannya begitu cepat terjadi. Cain menoleh pada Felix yang masih terbaring tidak sadarkan diri, "Kita harus membangunkan Felix! Sekarang!"
"Aku tidak yakin darah kita berdua bisa berguna ...." kata Raja Aluias.
"Ada tiga sekarang!" kata Cain menunjuk Cairo.
"Aku saja yang Viviandem, tidak yakin apa darahku bisa berguna disaat kekuatanku masih jauh dibawah rata-rata begini. Apalagi yang hanya darah manusia dengan sedikit darah Aluias ...." kata Raja Aluias.
"Tidak ada cara lain!" Cain membawa Raja Aluias dan Cairo mendekat ditempat Felix berada, "Banks, bantu aku membangunkan Felix!"
"Walaupun bangun, lukanya masih belum pulih. Untuk berdiri saja akan sulit." kata Banks.
"Tidak masalah, aku akan membantu soal itu. Kalau perlu akan aku gendong dan kuseret ...." kata Cain.
"Apa sudah tiba saatnya?!" tanya Banks.
"Ya, sepertinya Efrain terlalu dibuat marah ...." kata Cain mengiris telapak tangannya. Begitupun Raja Aluias dan Cairo juga mengikut tanpa diperintahkan.
Banks langsung berdiri dan berlari mencari seseorang, "Kalian bertiga, kemari!" teriak Banks sangat terlihat terburu-buru.
"Ada apa?!" tanya Tom.
"Lagi seru juga!" kata Teo seperti sedang santai menonton pertunjukan.
Hanya Tan yang langsung menurut dan berjalan menuju Banks berada.
"Cepat minum ini!" Banks menyerahkan botol ramuan.
"Ramuan apa ini?!" tanya Tan mencoba melihat warna, mencium bau, memperhatikan tekstur tapi terasa asing. Tan baru pertama kalinya melihat ramuan seperti itu.
"Eeeew, bau apa ini?!" kata Teo mengeluh saat datang bersama Tom ketempat Banks dan Tan berada.
"Minum saja!" Banks meminumkannya pada Teo dengan paksa, hingga Teo tidak bisa melakukan apa-apa selain menengguk habis ramuan itu. Setelahnya Teo seperti akan muntah tapi hanya terus seperti itu. Tidak ada tanda-tanda kalau ramuan itu akan keluar lagi. Teo hanya terus merasakan mual yang luar biasa.
Tom meminumnya tanpa dipaksa, tapi dengan ekspresi wajah yang sangat lucu. Bersikeras untuk menengguk semuanya tanpa menyisakan sedikitpun. Walau tidak suka tapi Tom tahu kalau itu pasti untuk kebaikannya juga.
Tan sendiri meminumnya perlahan sambil merasakan dengan teliti bagaimana rasa dari ramuan itu, "Rasanya menjijikkan ...." kata Tan tertawa karena tidak tahu bagaimana menganalisa dan menjelaskan rasa ramuan itu dilidahnya.
"Bagaimana kau bisa tahan meminumnya seperti itu?!" Teo tidak habis pikir melihat Tan meminumnya secara perlahan seperti sedang dinikmati sedikit demi sedikit tiap tetesnya.
"Apa ada campuran Emoniaver di dalam sini?!" tanya Tan masih terus mengecap ramuan itu dengan santai.
"Apa itu Emoniaver?!" tanya Teo.
"Emonia?! apa seperti ammonia?!" Tom mulai merasakan mual juga.
"Emm ... mirip!" kata Tan.
Teo semakin gila rasanya, "Kenapa tidak mau keluar?!" Teo terus memaksa dirinya untuk memuntahkan apa yang diminumnya tapi tidak bisa juga.
Mata Tom sudah berair sambil menutup mulutnya untuk menahan rasa mualnya.
"Tapi ini lebih buruk lagi ... karena dibuat dari mayat iblis!" kata Tan tertawa jahat sangat senang berhasil menjahili kedua saudaranya.
Sementara Banks hanya terus terdiam melihat mereka bertiga, tidak menyangkal ataupun mengiyakan apa yang dinyatakan oleh Tan soal ramuan itu, "Ini terakhir kalinya aku melihat kalian sebagai manusia." kata Banks dalam hati melihat mereka bertiga satu per satu, "Tan?!" kata Banks menghentikan Tan yang masih tertawa.
"Iya, ada apa?!" tanya Tan.
Banks langsung memeluk Tan, "Eh, ada apa ini?!" Tan merasa canggung.
"Apa-apaan?!" Teo merasa terkhianati, "Selalu saja hanya Tan yang kau anak emaskan!" Teo protes.
"Kemarilah!" kata Banks meminta Teo juga mendekat.
"Aku tidak usah!" kata Tom menolak dengan tatapan benci kemudian kembali menutup mulutnya.
Tapi Teo menarik paksa Tom dengan melepas tangan yang menutup mulutnya. Terpaksa Tom harus menggunakan tangan lainnya dan saat itu Teo sudah menyeretnya.
"Apapun ...." kalimat Banks dipotong Teo.
"Jangan! jangan katakan!" kata Teo.
"Memangnya kau tahu apa yang akan aku katakan?!" tanya Banks.
"Aku tahu, kami tahu!" kata Tan.
"Kau tidak perlu mengatakannya!" kata Tom.
"Bagaimana mungkin ...." kata Banks.
"Kami menyadarinya secara perlahan, dari sikap Felix dan Cain ... kami sudah memikirkannya baik-baik dan menemukan kesimpulan." kata Tan.
Banks melepaskan pelukan kemudian melihat Tan, Teo dan Tom yang tidak terlihat takut sama sekali.
"Kami sudah siap." kata Mereka bertiga bersamaan dengan senyuman.
"Semuanya akan baik-baik saja." kata Banks.
"Kami tahu!" jawab mereka kompak lagi.
"Tapi,sepertinya tidak dengan rasa mual ini ...." kata Teo memecah suasana menjadi ceria. Tan dan Tom setuju dengan Teo yang kembali merasakan efek dari ramuan yang masih menempel dilidah.
Felix kelihatan mulai perlahan bangun, "Pergilah ...." kata Tan pada Banks.
Langkah kaki Banks terasa berat meninggalkan mereka bertiga. Walau awalnya mereka hanyalah anak manusia yang terus mengganggunya untuk diajari bela diri dan menggunakan senjata. Tapi lama kelamaan ikatan mereka menjadi lebih dalam dari itu. Banks menoleh tapi mendapati Tan, Teo dan Tom yang sudah dalam posisi bertahan karena kembali diserang oleh iblis lainnya.
Banks mengambil langkah cepat untuk ketempat Felix berada. Luka luarnya sudah ditutup dengan rapi tapi perlu ramuan untuk memberi kekuatan pada Felix agar bisa kembali bertarung.
Menggunakan darah Aluias biasa digunakan untuk menyembuhkan seseorang yang berada dalam satu tim. Dengan menggabungkan darah Aluias yang berbeda akan membantu memulihkan dengan cepat Aluias yang terluka dalam tim itu. Begitu pentingnya sebuah kelompok bagi Aluias. Dan beruntungnya Felix sudah membangkitkan kekuatan Aluias sebelum tidak sadarkan diri tadi.
Ledakan api yang keluar dari Gerbang Alvauden padam. Disana terlihat ada gerbang berwarna jingga ditengah-tengah.
"Hahh, rupanya dia masuk di dalam gerbang untuk menyelamatkan diri." kata Teo merasa Efrain pengecut.
"Itu namanya melindungi diri." kata Tom.
"Jangan memihaknya!" teriak Teo.
"Aku hanya bilang, kalau itu wajar dilakukan semua orang sebagai naluri untuk bertahan hidup." kata Tom.
"Lagipula itu adalah api, Efrain pasti bisa menahannya ... dasar pengecut!" kata Teo.
"Bahan peledak Mundebris bukan hanya sekedar api yang dihasilkan Teo, walaupun ada api ... api itu berbeda dari api biasanya. Sangat merusak!" kata Tan.
"Begitukah ...." kata Teo tidak terlalu peduli.
"Ada apa?!" tanya Felix dipaksa bangun oleh Cain.
"Maaf, kawan! tapi semuanya terjadi begitu cepat dari yang seharusnya ...." kata Cain mengarahkan pandangannya pada Gerbang milik Efrain. Dari dalam gerbang itu terlihat keluar seseorang. Bukan Efrain, tapi orang lain.
"Bu Daisy?!" Tiga Kembar mematung.
Daisy kelihatan berjalan dengan santainya keluar dari dalam gerbang dengan Efrain mengikut dibelakang.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya Teo tidak mengerti dengan situasi yang tidak masuk akal itu, "Apa selama ini Bu Daisy adalah musuh kita?!"
"Bukan ... dia dikendalikan!" kata Tan memutar kepala Teo agar kembali memperhatikan dengan baik.
Disamping kepala Daisy muncul kepala lainnya yang sepertinya sengaja memunculkan diri untuk memperkeruh suasana. Dengan wajah menyebalkan dan senyuman penuh kemenangan.
"Ted ...." kata Tom.
Ted tertawa keras kemudian kembali memasukkan kepalanya kedalam tubuh Daisy.
...-BERSAMBUNG-...