
"Apa Felix mengizinkan hal ini?!" bisik Teo yang tahu walau hanya menjadi penonton saja tapi pasti tetap akan ada resikonya.
"Dia yang berbicara sendiri pada mereka berdua ... dan memperbolehkan kita untuk kesini." kata Tom.
"Lagipula kita tidak terikat di dalam sini ... ibaratnya kita berada ditempat yang sama tapi berada di dimensi yang berbeda. Kita memang seperti berada disini tapi sebenarnya tidak, kita berada ditempat yang terpisah dengan mereka." kata Tan mengerti kekhawatiran Teo, "Tapi ... Ternyata akhirnya kau mulai tertarik juga mengetahui pengetahuan Mundebris ...." Tan kagum pada Teo yang sudah mulai banyak belajar.
"Kalau Felix sudah mengizinkan, aku sih tidak khawatir ...." kata Teo simpel, tidak menerima pujian Tan walaupun sangat ingin. Karena ada Winn yang mengawasinya.
Osvald dan Demelza berada di tempat yang berbeda tapi di dunia yang sama. Hanya berada di jalur yang berbeda, dibagian kiri ada Osvald sedangkan disisi lainnya ada Demelza. Jadi mereka bertiga membagi diri untuk melihat aksi Zewhit yang diinginkan. Tan memilih Zewhit Badut sedangkan Teo dan Tom memilih Zewhit Kurcaci.
Osvald dan Demelza terlihat sedang tertidur nyenyak, desain kamar pun sama persis dengan yang ada di Mundclariss. Hanya saja di dunia pikiran tidak ada lampu sama sekali. Osvald dan Demelza terlihat terbangun tapi tidak menyadari bahwa dirinya berada di dunia mimpinya sendiri. Mereka berdua berjalan ingin menyalakan lampu tapi lampu tidak mau menyala juga.
"Mati lampu kah?!" tanya Osvald.
"Hahh ... dasar! sudah bayar mahal-mahal juga ...." keluh Demelza, "Besok akan aku ceritakan pada anak-anak bagaiamana tidak bergunanya perawatan asrama." sambungnya mengomel sendirian.
Osvald dan Demelza membuka pintu kamarnya dan mendapati pemandangan lain. Biasanya hanya lorong kecil di lorong asrama tapi kali ini setelah membuka pintu langsung tiba di tempat lain yang tidak masuk akal. Osvald mengucek-ngucek matanya tidak percaya apa yang dilihatnya. Tapi mau berapa kalipun dilakukan, yang dilihatnya tetap saja sama. Demelza ingin kembali masuk ke dalam kamarnya tapi pintu kamarnya menghilang.
Osvald dan Demelza mulai terlihat panik. Osvald menampar dirinya sendiri dan Demelza mencubit dirinya sendiri, "Apa ini?! bukan mimpi?!" Osvald dan Demelza heran saat merasakan sakit melakukan itu pada dirinya sendiri.
"Dunia ini, masa saat dia hidup kah?! tahun berapa ini?" Teo melihat sekelilingnya yang hanya ada hutan dengan pepohonan yang sedang tanpa daun dan dimana-mana hanya ada tumpukan salju putih, "Seram sekali disini ... tidak bisa juga diketahui kita berada ditahun berapa kalau ada disini." Teo melanjutkan keluhannya sementara Tom terus mengikuti Osvald yang sedang kebingungan mencari jalan keluar.
"Kalau ini bukan mimpi, lalu apa?! bagaimana aku bisa ada disini?! padahal tadi aku masih ada di dalam kamar ...." Osvald merasakan dingin menusuk masuk ke dalam kulitnya seperti ribuan jarum.
Teo dan Tom tidak merasakan apa-apa karena berada di dimensi lain meski berada ditempat yang sama. Hanya target dari Zewhit lah yang bisa merasakan dunia pikiran itu secara nyata.
Osvald masih mondar-mandir dan tubuhnya sudah dipenuhi salju karena selalu saja terjatuh. Hanya dengan memakai piyama tipis musim panas dan memasuki dunia pikiran yang sedang musim dingin membuat Osvald frustasi.
Sementara itu Demelza juga tiba di dunia Zewhit Badut, "Aku bahkan tidak heran ...." kata Tan melihat dunia yang diciptakan Zewhit Badut itu adalah taman bermain.
Demelza berlari kesana-kemari berteriak, "Siapa yang melakukan ini?! siapa yang mengerjai sampai segininya ...." Demelza terus menyapa orang-orang yang ada disana tapi tidak ada yang memperdulikannya, "Apa ini?! mereka tidak melihatku?!" Selain itu Demelza juga heran bagaimana bisa ada orang-orang di taman hiburan yang gelap itu. Semua wahana bermain bekerja sebagaimana mestinya tapi tidak ada lampu sama sekali, "Apa-apaan ini?!" Demelza serasa mulai kehilangan akal sehatnya dengan berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
"Dia pasti akan sangat kelelahan saat bangun nanti ...." kata Tan kasihan.
"Kasihan Osvald ... aku akan membelikannya besok ayam goreng kesukaanya!" kata Tom.
"Kau bahkan tidak pernah membelikanku, tapi kau malah membelikan orang lain bukannya pada saudaramu sendiri!" kata Teo heboh sendiri.
Demelza tidak ada lelahnya mencoba mengajak orang yang ada disana mengobrol. Tapi tidak ada satupun yang merespon bahkan meliriknya pun tidak. Sedangkan Osvald tidak menemui siapapun tapi merasakan cuaca dingin yang luar biasa ekstrem.
Demelza berhenti bertanya dan mulai memperhatikan orang-orang yang ada disana. Mereka terlihat memiliki ekspresi datar tanpa ekspresi apapun dan sangat pucat. Sibuk melakukan sesuatu tapi tidak menunjukkan ekspresi bahagia yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang di taman hiburan pada umumnya.
Osvald meringkuk di sebuah pohon besar untuk berlindung dari angin dingin tapi karena salju yang dipijakinya tetap saja tidak terlalu berpengaruh ataupun membantu. Osvald sudah mencoba menggali salju itu tapi tidak menemukan akhir, tidak ada tanah dibawahnya. Seakan-akan disana salju adalah tanah, "Ini pasti mimpi ...." Osvald masih ingin menyangkal kenyataan.
"Daripada ayam goreng, sepertinya dia akan lebih senang kalau diberi coklat hangat." kata Teo.
"Ya ...." Tom setuju.
Teo dan Tom ikut duduk di depan Osvald yang kedinginan.
Felix yang sudah kembali ke sekolah menemukan Tan, Teo dan Tom yang tertidur di lorong sekolah yang gelap.
"Seharusnya mereka dibawa saat berada di kamar ... dasar dua hantu itu!" kata Felix kesal karena harus membawa mereka satu per satu ke asrama yang sedang dalam keadaan tidur.
"Lama juga mereka ... padahal baru malam pertama. Mereka tidak berlebihan kan?!" Felix memeriksa dunia pikiran kedua Zewhit itu dengan menyentuh kepala Tan, Teo dan Tom bergantian, "Biasa saja ...." kata Felix setelah melihat keadaan di dunia mimpi itu, "Tapi, rasanya berat memang ...." Felix melihat bagaimana sederhananya dunia pikiran yang mereka ciptakan, tapi meski terkesan sederhana efek yang dihasilkan berat sekali, "Mereka memang bukanlah Zewhit biasa. Dunia pikiran mereka ... walau dengan cerita sederhana saja, tapi rasanya berat sekali ... mereka pasti sangat kelelahan saat bangun."
"Kau akan takjub melihat bagaiamana mereka bermain di dunia pikiran ... mereka sangat kreatif!" kata Iriana.
"Aku akan mencoba nanti, saat Osvald dan Demelza sudah bebas." kata Felix.
"Keputusan yang bagus, latihan dengan mereka tidak akan sama dengan dunia pikiran yang selama ini kau lakukan. Banyak hal yang bisa kau pelajari dari mereka ... lebih dari itu ... mereka sangat suka bermain. Jadi, kau akan terkejut bagaimana cara mereka mengelola dunia pikiran mereka yang unik dan beragam itu. Rasanya seperti berada di zona bermain paling menyenangkan ...." kata Iriana sambil mengingat bagaimana dia biasanya bermain dengan mereka.
"Itu kalau denganmu ... rasanya mereka akan melakukan hal sebaliknya denganku." kata Felix tahu bahwa dia tidak akan diperlakukan baik sama seperti Iriana, "Kalau kau seperti zona bermain, aku bisa saja zona neraka."
...-BERSAMBUNG-...