UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.153 - Misteri Permainan Tukar Kematian



Sudah jelas jika Felix tidak bisa menebak hanya dari ekspresi wajah tapi jika didengar dari nada suara kumbang itu jelas bahwa sedang menyembunyikan sesuatu, "Memangnya ada apa dengan itu? bukankah takdir Kiana sudah jelas bahwa akan berumur panjang ... apa hanya perasaanku saja yang merasa jika kau menyembunyikan sesuatu?"


"Tidak aneh jika dia menjadi salah satu pemain!" kata Kumbang.


"Apa maksudmu? katakan dengan jelas supaya aku bisa mengerti!" kata Felix.


"Permainan Tukar Kematian sebenarnya adalah salah satu pusaka untuk menyeimbangkan!" kata Kumbang.


Felix terdiam dan mulai berpikir sambil menatap lemari takdir Kiana dan menoleh ke lemari takdir Tiga Kembar mengingat semua perkataan kumbang, "Tidak! mana bisa begitu ...."


"Sama seperti Tiga Kembar yang baru dilahirkan sekarang, Kiana juga baru terlahir sebagai manusia ... alasan Tiga Kembar tidak menjadi salah satu pemain adalah karena mereka sudah mendapatkan takdir yang sesuai yaitu umur pendek. Sedangkan Kiana yang mendapat umur panjang harus dijadikan salah satu pemain untuk menyeimbangkan takdirnya di kehidupan selanjutnya ...."


"Jadi misalkan aku bisa menyelamatkan Tiga Kembar, suatu saat mereka akan terpilih menjadi pemain Tukar Kematian juga? begitupun dengan Kiana?!"


Kumbang merasa kasihan terlebih lagi melihat perubahan emosi dari Caelvita yang dari sedih kemudian senang dan sedih lagi. Serasa jika sekarang dirinya dibawa ke neraka, kumbang itu tidak akan menolak dan akan pasrah saja.


"Makanya semenjak Caelvita-47 mengetahui hal ini, beliau dengan cepat menambahkan ke catatan Caelvita untuk diketahui oleh Caelvita selanjutnya ... tapi Tuan Muda harus mengalami hal ini sebelum bisa melihat catatan itu, jadi saya yang akan membimbing Tuan Muda ... lagipula Nona Muda Iriana mungkin masih tidak bisa terlalu sering membantu karena Tuan Muda belum menjadi Caelvita resmi. Nanti setelah menjadi Caelvita resmi pasti Nona Muda Iriana bisa dengan bebas untuk membimbing Tuan Muda ... sekarang jiwa Nona Muda Iriana masih tidak stabil ...." dengan suka rela Kumbang menawarkan dirinya untuk membimbing dalam Permainan Tukar Kematian.


Felix jadi merasa sedang membuang banyak waktu percuma mencari informasi kesana kemari dan membaca banyak buku padahal yang punya pengetahuan banyak sedang sibuk mengangkat batu permata.


"Namamu siapa?" tanya Felix merasa tidak enak baru menanyakannya sekarang.


"Kemp, Tuan Muda!" sahut Kumbang berotot berwarna hitam dengan banyak batu safir yang menempel di tubuhnya akibat pekerjaan.


"Apa semua yang tinggal disini tahu banyak sama sepertimu?" tanya Felix.


"Tidak semuanya juga Tuan Muda, tapi karena sering menyentuh batu permata safir jadi mungkin untuk masa sekarang ini, mungkin ... hanya kami yang mempunyai pengetahuan banyak ...." kata Kemp.


"Batu permata safir ini bisa memberi pengetahuan?" Felix merogoh permata dari dalam saku celananya.


"Jika Caelvita adalah jantung bagi kelangsungan hidup di Mundebris, batu permata ibaratkan otak yang menjadi dasar pengetahuan dan yang menjadi pedoman untuk menjalani kehidupan."


"Kupikir batu permata digunakan sebagai senjata?" tanya Felix.


"Itu adalah prinsip anak zaman sekarang, Tuan Muda dan merupakan prinsip yang salah. Batu permata memang bisa digunakan sebagai senjata atau untuk meningkatkan kekuatan tapi yang tahu betul makna dari batu permata, tidak akan menggunakannya untuk hal tidak penting seperti itu ...." Kemp menyadari dari ekspresi Felix saat ini, "Saya memang Quiris tua yang ketinggalan zaman, Tuan Muda ...." Kemp tertawa.


"Quiris?" tanya Felix.


"Kalau di Mundclariss maknanya sama dengan 'Orang' tapi bagaimanapun juga saya bukan manusia, bukan juga hewan normal ...." Kemp menggaruk-garuk kepalanya yang tidak memiliki rambut.


"Pasti baru kali ini kau bertemu dengan Caelvita yang kurang pengetahuan begini kan?" Felix menyadari kebodohannya.


"Setelah Nona Muda Iriana menjadi Caelvita, tidak mengherankan lagi ...." kata Kemp.


"Em?" Felix tidak paham apa maksud Kemp itu.


Felix tertawa, "Kau ini benar-benar kuno sekali!"


"Saya pun pasrah dengan sebutan itu Tuan Muda ...." kata Kemp ikut tertawa.


"Apa ini hal yang wajar terjadi, Kemp?" tanya Felix.


"Apa itu Tuan Muda?"


"Semua yang dekat denganku memiliki nasib seperti itu ... baik itu Teo, Tan, Tom maupun Kiana ... apa benar aku ini pembawa sial?" kata Felix.


"Tidak ada yang seperti itu Tuan Muda, semuanya sudah diatur dari awal ... mau itu kesialan atau keberuntungan tidak ada yang bisa memiliki salah satunya saja. Akan ada kesialan tapi keberuntungan juga pasti ikut menyertai ... dan apa maksud Tuan Muda yang pembawa sial? bagi Mundebris, Tuan Muda adalah keberuntungan itu sendiri!" kata Kemp.


"Kau ini baik sekali ...." kata Felix.


"Mengatakan fakta tidak menjadikan seseorang itu baik, Tuan Muda!" kata Kemp.


"Dasar!" gerutu Felix dalam hati, "Kau sudah berjanji membantuku dalam permainan ini, kau tidak boleh menarik kata-katamu sendiri dan berpura-pura bodoh dikemudian hari ya?!"


"Saya bukan pribadi yang seperti itu Tuan Muda!" kata Kemp yang seharusnya membuat Felix tenang tapi entah mengapa kesal dengan Kemp yang seperti itu.


"Dari semua perkataanmu tadi, aku menyimpulkan bahwa Franklin bukanlah Quiris yang jahat kan?" kata Felix mulai mengingat semua perkataan Kemp, "Tapi apa coba alasannya Efrain ikut campur?!" kata Felix dalam hati.


"Di luar sana yang menjadi pewaris Pusaka Papan Permainan Tukar Kematian dicap sebagai penjahat tapi bagi Ruleorum dia adalah pahlawan. Itu sudah menjadi beban dan tanggung jawab dari seorang pewaris pusaka itu ... bagi yang tidak tahu, pasti akan mengatakan bahwa Franklin itu seorang pembunuh yang tidak punya pekerjaan tapi bagi Ruleorum, Franklin adalah seseorang yang punya beban berat untuk menyeimbangkan kehidupan seseorang."


"Tapi ada caranya kan membuat Kiana bisa hidup berdasarkan takdirnya dan terlepas dari permainan?" tanya Felix.


"Kalau itu yang Tuan Muda inginkan saya sebagai Ruleorum akan melarang!" kata Kemp.


"Kau ini ... katanya tadi ....." Felix mulai sebal.


"Tapi sebagai Quiris, saya tidak bisa melarang. Saya juga hanya Quiris biasa, punya keluarga, sahabat yang berharga sama seperti Tuan Muda."


Felix mulai tersenyum, "Apa semua Ruleorum, sepertimu? sepertinya aku akan sering-sering kesini ...." kata Felix menyadari kepribadian Kemp sangatlah luar biasa.


"Hem ... tidak ada yang sama seperti saya Tuan Muda! saya hanya satu ...." kata Kemp berbangga diri.


"Kau juga bisa bercanda?!" Felix menyeringai.


"Tuan Muda yang ingin lakukan sekarang ibaratkan sedang ingin menghancurkan keseimbangan kehidupan. Saat ini mungkin Kiana akan berumur panjang tapi nantinya setelah terlahir kembali akan mendapatkan kehidupan yang lebih malang lagi. Sebelum saya memberitahu cara memainkan Permainan Tukar Kematian, saya akan bertanya dulu ... apa Tuan Muda tidak akan menyesal melakukan ini? apa Tuan Muda sedang tidak terbawa perasaan dan egois ingin Kiana hidup lama bersama Tuan Muda di kehidupan saat ini? atau Tuan Muda ingin Kiana mendapat kehidupan selanjutnya yang lebih baik dari kehidupan sekarang?"


"Apa aku egois jika ingin Kiana hidup lama sekarang tapi jika membiarkan Kiana mati dalam permainan ini, nanti di kehidupan selanjutnya Kiana akan mendapat kehidupan yang lebih baik ...." Felix merenung dan memikirkan manakah pilihan yang terbaik.


...-BERSAMBUNG-...