
Saat Felix memilih untuk menyelamatkan Carola, Verlin dan Zeki yang datang ke sekolah menggantikan Felix menjaga kedua Zewhit itu. Verlin dan Zeki yang tadinya hanya terus mengawasi dari beberapa gedung dari sekolah akhirnya harus turun tangan.
"Dia sama saja dengan Iriana! lemah sekali!" kata Zeki menyesalkan pilihan yang diambil Felix.
Verlin dan Zeki sudah menawarkan bahwa akan ikut membantu juga tapi tidak terlalu memperlihatkannya dengan jelas. Bagaimanapun juga masa mereka sudah berlalu, mereka berdua kini hanyalah mantan Alvauden dan mantan Secrevanques. Sudah menjadi kewajiban untuk tidak terlalu menonjol lagi tapi siap sedia membantu generasi baru jika membutuhkan.
"Akhirnya mereka muncul lagi ...." kata Verlin merasakan aura kedua hantu itu saat memasuki sekolah.
"Iriana dulunya sering mengajak mereka bermain atau mengunjungi rumah mereka di Bemfapirav, tapi sepertinya dia bahkan tidak peduli dengan Iriana yang sekarang sudah tidak ada ...." kata Zeki.
Verlin hanya diam, tidak tahu bagaimana cara menghibur Zeki.
"Ada yang datang!" kata Zeki merasakan sesuatu.
Suara teriakan dari Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci terdengar begitu keras. Verlin dan Zeki cepat berlari menuju arah teriakan itu dan mendapati kedua Zewhit itu sudah tertarik oleh tali yang terhubung dengan penjara yang dibuat Iblis Biawak.
Zeki langsung melompat memotong tali yang mengikat kedua Zewhit itu sementara Verlin melepaskan ikatan pada leher mereka berdua.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Verlin.
Zewhit Badut dan Kurcaci mengeluarkan air mata tapi tertawa keras membuat Verlin kesal, "Seharusnya aku tidak bertanya ...."
"Apa ini?! Zewhit membantu Zewhit?!" kata Iblis Biawak.
Verlin dan Zeki kenyataannya memang adalah Zewhit. Jadi mereka berdua tidak tersinggung sama sekali.
"Kau sendirian?!" tanya Zeki.
"Tuan Muda ...." Iblis Biawak menyapa memberi salam dengan sopan, "Ah, iya ... sudah bukan ya?!" kemudian merubah ekspresinya menjadi jahil.
"Tersenyumlah sepuasnya! kau pikir bisa sendirian mengalahkan kami berdua?! Efrain bodoh itu sepertinya terlalu mempercayaimu. Baiklah ... akan aku biarkan kau hidup dan membuat Efrain membunuhmu sendiri dengan gagal membawa mereka berdua." kata Zeki santai.
Iblis Biawak itu langsung menyerang Zeki dengan marah, "Beraninya kau memanggil Yang Mulia ... bodoh?!"
Verlin maju membantu Zeki tapi terlempar seketika dengan serangan Iblis Biawak. Bagaimanapun juga Verlin bukanlah tipe petarung. Kemampuannya dalam bertarung memang berada ditingkat bawah dibanding Viviandem yang lainnya.
"Aku tahu kau selalu memuja-muja Efrain, tapi bagaimana ya ... namamu saja dia tidak tahu! aku tahu karena 99% hidupku selama ini selalu bersama dia." kata Zeki terus memprovokasi Iblis Biawak.
"Hahh ... dia masih saja tidak berubah! suka sekali membuat lawan emosi. Baru tahu rasa dia kalau mati dan langsung menghilang tanpa jejak." kata Verlin yang melihat Zeki terus dihantam oleh Iblis Biawak yang emosi.
Kenyataannya Iblis Biawak memang sangatlah kuat. Zeki sendiri bisa dengan jelas dilihat kesusahan menghindari serangan. Padahal yang bisa memojokkan Zeki begitu biasanya hanyalah Efrain. Verlin membantu sebisanya tapi kebanyakan hanya menghalangi atau terkena serangan.
Kedua Zewhit itu hanya duduk manis sambil bertepuk tangan menikmati pertarungan. Memberikan reaksi yang berlebihan jika terjadi sesuatu yang menarik.
"Ini ketiga kalinya aku ingin membunuh mereka!" kata Zeki menatap benci kedua Zewhit itu.
"Pertama dan kedua kapan?" tanya Verlin tidak kenal situasi.
"Apa aku harus menjawabnya sekarang?!" kata Zeki sebal.
Dinding sekolah ada yang retak membuat Zeki dan Verlin mulai berhati-hati, "Jangan sampai kita menghancurkan sekolah ini ...." kata Zeki.
"Apa kau masih terobsesi dengan sekolah karena tidak bisa sekolah?!" kata Verlin masih sempat-sempatnya bercanda.
"Kemana Felix?! harusnya dia sudah kembali!" kata Verlin melihat jam sekolah yang besar.
Iblis Biawak menyerang menggunakan Isvintria membuat Zeki dan Verlin terjatuh terpental di tanah beberapa kali membuat rumput halaman sekolah menjadi berantakan dan rusak. Melihat itu, Iblis Biawak menyeringai dan menoleh pada kedua Zewhit itu.
Zewhit Badut dan Kurcaci hanya terlihat melongo. Tidak memperlihatkan ekspresi ketakutan sama sekali atau keinginan untuk melarikan diri.
"Dasar bodoh! lari!" teriak Zeki yang masih belum bisa duduk.
Iblis Biawak perlahan mulai mendekati kedua Zewhit itu dan memunculkan kembali penjara berhiaskan Safir itu. Dengan kasar Iblis Biawak melemparkan cambuk dan mengikat kedua leher Zewhit itu dan menariknya masuk ke dalam penjara. Zeki berusaha berdiri dan melemparkan pedangnya tapi itu tidaklah menghalangi Iblis Biawak sama sekali. Dengan mudah dia menghindari pedang Zeki itu.
Kedua Zewhit itu heboh di dalam penjara itu. Terus melompat-lompat tidak jelas dan berteriak melengking kemudian tertawa.
"Hahh ... aku benci mereka!" kata Verlin.
"Kau sudah sadar?" tanya Zeki.
Penjara safir itu tertarik ke arah Verlin dan dihancurkan hanya dalam sekali pukulan. Membuat Zewhit Badut dan Kurcaci itu kegirangan melihat penjara itu berubah menjadi serbuk yang berkilauan berjatuhan seperti bintang jatuh dari langit.
"Kau tidak tahu ya?! begini-begini aku ini Nusfordis Sapphire. Pusaka Ruleorum dengan mudah bisa kupanggil dan kuhancurkan semauku. Jadi, jangan berani-berani kau melemparku seperti tadi lagi!" kata Verlin membuat Zeki menahan tawa. Verlin memegang bahu Zewhit Badut dan Kurcaci itu dan dibuat menghilang, "Dan ... aku juga kaum Ruleorum, dengan mudah aku punya keahlian untuk mengendalikan Zewhit sesuka hatiku. Jadi kalau kau ingin mereka kembali, harus mengalahkanku dulu! kau juga tidak bisa membunuhku karena hanya aku yang tahu dimana mereka kusembunyikan ... intinya kau dalam masalah! seharusnya kau tidak melemparku seperti tadi!" jujur saja Verlin malu sekali terlempar seperti tadi.
"Tidak kusangka Quiris lemah sepertimu adalah Nusfordis Sapphire ...." kata Iblis Biawak melihat Batu Permata Safir yang tertanam di tangan Verlin bersinar terang dan berubah menjadi busur dan panah yang terbentuk dari batu permata safir itu juga. Dengan kata lain dengan anak panah yang tidak akan pernah ada habisnya.
"Kau tahu kan terkena senjata dari Pemilik Batu Permata tertinggi, walau kau berhasil menghindar dan aku tidak berhasil membunuhmu tapi dengan luka kecil saja bisa membuatmu menderita seumur hidup. Jadi, berbahagialah karena aku ini punya penglihatan buruk ...." kata Verlin menyeringai dan langsung membakkan anak panahnya mengenai lengan Iblis Biawak dan membuatnya menjadi membiru kemudian membusuk.
"Penglihatanmu benar-benar buruk! seharusnya kau mengenai jantung atau kepalanya!" Zeki mengambil kesempatan itu menyerang Iblis Biawak yang sedang kesakitan.
"Aku juga menargetkan itu tahu!" kata Verlin sebal.
Pertarungan sudah mulai terlihat imbang dan perlahan berat sebelah dengan Zeki dan Verlin yang unggul.
Matahari mulai muncul membuat Iblis Biawak melakukan serangan mematikannya untuk melarikan diri.
"Hahh ...." Zeki membuang dirinya untuk langsung berbaring, "Kau masih saja harus terkena Isvintria baru bisa menggunakan kekuatanmu itu ... menyedihkan sekali!"
"Bagaimanapun juga aku ini Ruleorum buangan, tidak mudah menggunakan kekuatan Nusfordis Sapphire ditambah lagi sekarang sudah menjadi Zewhit." kata Verlin.
"Kau masih saja lemah, tapi selalu bisa diandakan. Berkat kau juga kita berdua bisa selamat saat Efrain menyerang waktu itu ... rasanya baru kemarin kita tertawa bersama Efrain dan Dave tapi sekarang tinggal kau dan aku." kata Zeki.
Saat Verlin ingin menghibur Zeki, Tiga Kembar akhrinya datang.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Tom.
"Jangan tanya!" sahut Zeki.
"Lalu bagaimana kita bisa tahu kalau tidak bertanya?!" kata Teo.
Verlin tertawa dan mulai melakukan peregangan dan memunculkan kembali kedua Zewhit itu. Saat kedua Zewhit itu muncul dan melihat matahari langsung, mereka dengan hebohnya berlari masuk ke dalam sekolah.
"Dasar, Zewhit kampungan ...." kata Zeki membuat Verlin dan Tiga Kembar tertawa.
...-BERSAMBUNG-...