
Biasanya Osvald dan Demelza langsung dibawa masuk ke dunia masing-masing Zewhit yang terikat dengannya itu tapi kali ini tidak. Mereka berdua tiba di tempat yang biasanya disebut sebagai lobby oleh Teo karena jika masuk ke dunia mimpi selalu saja tiba disana terlebih dahulu.
Tempat itu sebenarnya adalah pusat dari ciptaan dunia pikiran kedua Zewhit itu. Disanalah semua berawal dan semuanya terhubung.
"Dimana ini?!" tanya Demelza berjalan di ruangan yang bertema jaman dulu itu.
"Apa ini?! mereka tidak bisa melihat satu sama lain?!" kata Tom melihat Osvald tidak mendengar perkataan Demelza yang berjalan tepat disampingnya.
"Sepertinya begitu ...." kata Tan.
Anehnya Osvald dan Demelza sepertinya hanya melihat jalan yang menuju dunia masing-masing Zewhit yang terikat dengannya saja. Osvald berjalan menuju pintu yang merupakan dunia yang dipenuhi salju itu dan Demelza menuju pintu yang merupakan tempat taman hiburan berada.
"Dunia Zewhit ini terlihat satu kesatuan tapi ternyata masing-masing punya batas sendiri." kata Tom.
"Itu tandanya kedua dunia itu tidak tercampur, Osvald dan Demelza tidak bisa melihat satu sama lain karena berada di dunia yang berbeda. Sistemnya sama dengan kita sekarang yang juga tidak dilihat oleh mereka." kata Tan.
Osvald dan Demelza kaget saat membuka pintu karena melihat tempat yang selama ini menyiksa mereka berdua. Ingin kembali menutup pintu itu tapi langsung terdorong maju karena sebuah dorongan angin kencang. Akhirnya mereka memasuki dunia yang sudah terbiasa menyiksa mereka itu. Tan, Teo dan Tom ikut berjalan masuk mengikuti seperti biasa. Teo berharap bisa didorong juga oleh angin kencang itu karena menurutnya terlihat menyenangkan tapi tentu saja tidak bisa. Walau berharap tapi Teo harus berjalan masuk sendiri.
"Mimpi kali ini berbeda ...." kata Osvald.
"Kali ini bukan mimpi lagi, Osvald ...." kata Teo yang berdiri disamping Osvald.
"Jangan terlalu dekat, kau bisa saja tidak sengaja disentuh!" kata Tom yang membuat Teo langsung menjaga jarak aman agar tidak disentuh oleh Osvald.
Seperti biasa, Osvald langsung bergerak cepat mencari ranting, kayu atau apapun itu yang bisa dipergunakan sebagai tenda untuk terlindung dari angin dingin.
"Oh, ada tanah ...." kata Osvald melihat kali ini sudah ada tanah. Padahal selama ini dia berusaha menggali salju tapi tidak ada ditemukan tanah walau telah menggali cukup dalam. Kejanggalan yang ada di dunia mimpi sudah menghilang kini semuanya menjadi lebih nyata di dunia Zewhit.
Akhirnya Osvald bisa menggali tanah yang ada disana dan tinggal menggunakan apa yang ditemukannya sebagai atap sementara bisa terlindung dari angin di dalam lubang galiannya itu.
"Kuat sekali Osvald, bagaimana bisa dia menggali disaat sedang kedinginan begitu ...." kata Teo yang bisa merasakan hawa dingin juga padahal ada dimensi buatan yang melindunginya.
"Tepatnya ... itu adalah naluri bertahan hidup. Kau sendiri juga pasti akan begitu kalau dihadapkan dengan situasi yang mengharuskanmu untuk bertahan hidup." kata Tom.
"Apa-apaan?! kau memujiku?!" Teo menyeringai.
Tom diam saja menghindari tatapan Teo, "Apa ini?! biasanya dia lelet dalam mengerti, bagaimana dia tahu kalau itu adalah pujian?!"
Osvald begitu senang karena bisa masuk ke dalam lubang yang selama ini diimpikannya. Bukannya hanya membangun tenda dari ranting dan kayu yang berada di atas tumpukan salju dan angin tetap masuk melalui cela-cela. Tapi kali ini berbeda, terasa lebih hangat berada di dalam lubang galian itu.
"Kita tidak bisa masuk!" kata Teo melihat lubang galian Osvald hanya untuk satu orang saja.
"Kita tunggu disana saja ...." kata Tom menunjuk sebuah pohon besar yang tumbang untuk ditempati duduk.
"Ow ....." kata Teo menunjuk sesuatu saat Tom sedang membersihkan salju di atas pohon tumbang itu agar bisa diduduki.
Zewhit Kurcaci berjalan mendekati lubang tempat dimana Osvald berlindung dan mengambil satu per satu ranting yang dijadikan atap oleh Osvald.
"Siapa itu?!" tanya Osvald melihat atapnya tiba-tiba ada banyak cela, "Angin kah?!" Osvald keluar dari lubang itu untuk memeriksa tapi Zewhit Kurcaci berlari bersembunyi.
"Ada jejak kaki ...." Osvald merinding, selama ini selalu hanya dirinya sendirian disana tapi kali ini ditemukan jejak kaki yang bukan miliknya, "Siapa disana?!" teriak Osvald melihat arah jejak kaki itu berakhir yakni dibelakang sebuah pohon besar.
"Jangan kesana!" teriak Teo dan Tom gemas sendiri.
"Di film horor juga begitu, pemeran utama selalu saja yang punya rasa penasaran tinggi ... sudah tahu kalau disana ada hantu tapi tetap diperiksa." kata Teo mengomel.
Osvald pelan-pelan memeriksa yang ada di balik pohon besar itu tapi saat sampai dibalik pohon itu tidak ditemukan siapa-siapa, "Hahh ...." Osvald bisa bernapas lega.
"Hantu memang tahu cara menakuti ...." kata Tom melihat Zewhit Kurcaci memanjat pohon dan saat ini berada di atas kepala Osvald.
Osvald merinding merasakan sesuatu mengenai rambutnya. Lehernya kaku untuk melihat apa yang ada diatasnya sekarang. Tapi tetap dipaksakan untuk mendongak dan akhrinya melihat sosok Zewhit Kurcaci, "Aaaaaasaa!" teriakan histeris Osvald yang membuat Teo dan Tom mengerti betul bagaimana perasaan Osvald saat itu. Karena sudah pernah merasakan tatapan seram Zewhit Kurcaci. Osvald menutup matanya dan saat membukanya Zewhit Kurcaci itu sudah tidak ada. Tapi Osvald bukannya kembali ke dalam lubang yang sudah susah payah digalinya tadi malah berlari menjauh darisana.
Teo dan Tom terpaksa mengikuti juga padahal sudah nyaman menemukan tempat duduk.
Saking takutnya Osvald, dia berlari tanpa henti dan sampai di area terbuka dimana tidak ada pepohonan.
"Ow, ada tempat seperti ini rupanya ...." kata Teo melihat tempat baru, biasanya hanya tempat yang tadi ditempati Osvald membuat lubang.
"Dunia ini lebih luas dari yang kita duga ...." kata Tom juga takjub.
"Ooooow!" Teo dan Tom langsung menjatuhkan diri saat Osvald berlari ke arahnya agar tidak disentuh.
"Kenapa tiba-tiba?!" tanya Tom masih kaget.
Rupanya Zewhit Kurcaci terlihat berdiri dari kejauhan dengan tatapan menyeramkan, "Ah, bikin kaget saja!" kata Teo setelah melihat Zewhit Kurcaci itu dan terjatuh lagi.
"Bukan kau juga yang ditakuti!" kata Tom menarik Teo berdiri.
Sementara Demelza saat terdorong masuk ke dalam taman hiburan yang gelap itu hanya bisa pasrah. Demelza pun kembali melakukan rutinitasnya mengambil apa yang ada di dalam saku orang-orang yang ada disana agar bisa menemukan petunjuk. Tapi Demelza merasa aneh dan sadar bahwa ternyata orang yang diambil barangnya itu menatapnya.
"Hahh?!" Demelza terjatuh karena kaget. Selama ini semua orang disana tidak memperdulikannya dan memperlakukannya seakan tidak ada. Bahkan wajah orang-orang yang ada disana terlihat berbeda. Biasanya hanya terlihat seperti manusia pada umumnya tapi kali ini terlihat sangat menyeramkan. Demelza berlari ketakutan dan mencari tempat persembunyian. Tapi terlalu banyak orang yang ada di taman hiburan itu. Semuanya kini menatap Demelza dan berjalan ke arah Demelza. Demelza panik dan terus berlari sekuat tenaga.
Bahkan Tan sendiri merinding melihat kejadian itu. Tan tahu betul karena bersama Demelza terus dan melihat semua orang yang dulunya tidak memperdulikan Demelza, kini semuanya tertarik mengejar Demelza.
Demelza kini dikejar oleh semua orang yang ada di taman hiburan itu, "Mereka seperti zombie saja ...." kata Tan yang juga ikut berlari agar tidak kehilangan jejak Demelza.
...-BERSAMBUNG-...