UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.218 - Pengalihan



Felix ragu untuk memberitahu mereka fakta baru yang didapatnya itu, "Tapi, lucunya ... seharusnya mereka tahu kalau mataku tidak bisa ditipu tapi mereka dengan beraninya berbohong?" Felix merasa masih belum waktunya memberi tahu mereka soal itu. Bagaimanapun juga saat ini pasti sahabatnya itu tertekan dengan masalah yang sudah lebih dari batas usia bahkan lewat batas manusia untuk tangani. Selama masih belum mendapat kepastian Balduino dan ibunya itu berpihak pada siapa, Felix tidak bisa dengan mudahnya menuduh dan membuat sahabatnya teralihkan dengan masalah baru, "Aku harus menyelidikinya terlebih dahulu ...."


Balduino juga sudah tahu kalau Felix bisa tahu kalau dirinya adalah Setengah Ruleorum bahkan dengan memakai batu permata safur tapi diam tanpa memberi penjelasan soal ibunya juga membuat Felix ragu harus menyimpulkan bagaimana. Apakah Balduino tidak tahu kalau ibunya juga adalah seorang Setengah Ruleorum atau sengaja menyembunyikannya.


"Bagaimana menurutmu, Felix?" tanya Tan.


"Em?!" Felix tidak mendengar pertanyaan yang diajukan Tan karena sibuk memikirkan hal lain.


"Setelah dari Rumah Balduino dan bertemu Ibunya ... menurutmu bagaimana?" Tan mengulangi dengan lebih detail.


"Tidak ada yang istimewa ...." kata Felix berbohong.


"Ya kan? maksudku ... Balduino itu lebih tepatnya hanya seseorang yang sangat putus asa meminta pertolongan!" kata Teo.


"Seseorang sepertimu tidak bisa hidup di zaman yang penuh tipu-tipu saat ini ...." kata Tom menggeleng-geleng.


"Aku bukannya mudah ditipu tapi pintar menilai seseorang itu baik atau jahat ... sudah jelas kalau Balduino itu orang baik!" kata Teo.


"Yang mencurigakan dari Balduino juga adalah kurangnya pengetahuan soal istilah Mundebris ... setelah berbicara dengannya, kalian juga pasti menyadari kan?" kata Tom.


"Dia kan hanya punya ibu manusia yang tidak terlalu tahu soal pengetahuan Mundebris ...." kata Teo.


"Ohya? seseorang yang pernah tinggal di Mundebris tidak mungkin ....." kata Tom.


"Sama dengan kita juga kan, saat pertama kali mengenal dunia Mundebris ...." kata Teo.


"Yang paling mencurigakan adalah dia bisa melihat hantu yang membawa jari kelingking bahkan aku dan Felix tidak melihatnya ... setahuku, walau keturunan Ruleorum ... untuk melihat makhluk halus tingkat tinggi hanya yang memang mempunyai kekuatan khusus. Kekuatan yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang Setengah Viviandem!" kata Cain.


"Kau juga cuma Setengah Leaure tapi bisa memiliki kekuatan yang tidak dimiliki Setengah Leaure pada umumnya bahkan melampaui Viviandem Leaure murni." kata Tan.


"Bagaimana jika Balduino juga adalah seseorang yang istimewa seperti Cain? Ruleorum sejati?" kata Teo.


"Tidak ada yang namanya Ruleorum sejati!" kata Cain kesal.


"Heh? kenapa tidak ada? apa yang membuat Leaure istimewa dibanding Ruleorum sehingga tidak ada yang namanya Ruleorum sejati?!" kata Teo membuat Cain tersinggung.


"Menurutmu apanya yang perlu Ruleorum sejati, mereka kan hanya malaikat kematian. Sedangkan Leaure adalah malaikat pelindung!" kata Cain dengan bangga.


"Hentikan!" kata Felix pelan tapi penuh penekanan, "Tidak baik membanding-bandingkan satu kerajaan dengan yang lainnya! semuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing ... aku tidak mau mendengar lagi kalian membanding-bandingkan seperti ini lagi!" Felix dengan jelas memberi peringatan.


"Jadi serius begini ... kami kan hanya bercanda!" kata Teo mendengus mengelus-elus hidungnya yang tidak gatal.


"Aku tidak akan mulai kalau kau tidak mulai!" kata Cain.


Teo dan Cain masih terus beradu mulut dari mulai masih di perjalanan sampai di Rumah Daisy.


"Ibu pulang ke rumah?" tanya Tan membantu membawa barang belanjaan Daisy yang berupa makanan instant dan bahan makanan yang lain.


"Mau mengambil baju sekalian singgah di jalan membelikan kalian bahan makanan ...." jawab Daisy.


"Ibu, sudah dengar soal kejadian yang terjadi di sekolah kami?" tanya Tom.


"Sudah, bahkan ibu yang memberitakannya tadi sore!" jawab Daisy.


"Ohya? ibu bilang apa?" tanya Teo.


"Eeeey, kan pasti ibu masih hapal naskahnya!" kata Teo.


"Memangnya zaman sekarang masih ada yang hapal naskah?! zaman sudah maju begini juga ...." kata Daisy naik ke lantai atas.


"Apa-apaan?! sok modern! padahal kita sering melihatnya menghafal." kata Teo.


Tan dan Cain memasukkan barang-barang yang dibeli Daisy ke dalam lemari dan kulkas. Sementara Teo dan Tom menghidupkan tv untuk menonton berita.


"Kembali ditemukan potongan jari kelingking manusia di Sekolah berinisial 'G'. Pihak sekolah dengan keras membantah bahwa itu merupakan jari kelingking asli melainkan hanya mainan dari murid yang iseng ... Bagian forensik juga mengatakan bahwa itu hanyalah jari palsu tapi apakah benar demikian pemirsa? pihak sekolah pasti dengan keras meminta agar ini tetap dirahasiakan untuk menjaga citra sekolah. Tapi kenyataan bahwa siswi berinisial M tahun lalu yang masih belum ditemukan jasadnya merupakan fakta bahwa sekolah G tidaklah aman lagi ...."


"Apa-apaan ibu!" rengek Teo dan Tom pada Daisy yang menjelek-jelekkan sekolahnya.


"Bisa-bisa tidak akan ada anak yang mau masuk bersekolah di Gallagher kalau begini ...." kata Tan.


"Makanya kalian mulai sekarang cari sekolah lain untuk ibu pindahkan!" kata Daisy santai.


"Hah?! menyebalkan! kami sudah nyaman sekolah disana ... ibu saja yang mulai dari sekarang harus membuat berita yang bagus-bagus saja tentang Gallagher!" kata Teo.


"Ibu ini memberitakan fakta bukan kebohongan!" kata Daisy.


"Memangnya sejak kapan ibu jadi jurnalis yang berbudi luhur?! mematuhi peraturan?!" kata Tom tercengang.


"Jangan khawatir, nanti ibu yang biayai kalau kalian pindah ke sekolah yang baru ...." kata Daisy.


"Kami tidak mau!" rengek Teo.


"Kau terlihat pucat Felix? ibu belikan obat nanti di apotek kemudian ibu suruh kirim kesini ...." kata Daisy mengambil sebotol air minum dan mulai berangkat.


"Memangnya dia tahu harus membelikan obat apa tanpa bertanya dulu Felix apanya yang sakit dan langsung pergi begitu ...." kata Cain tidak habis pikir.


Daisy kembali membuka pintu, "Felix, ibu belikan obat apa? bagian mana yang sakit?"


Pertanyaan dari Daisy yang tiba-tiba muncul langsung membuat tertawa, "Kenapa kalian tertawa?!" tanya Daisy bingung.


"Tidak usah bu! Dokter Mari sudah memberi obat yang banyak ...." kata Felix.


"Begitu ya ... kalau begitu ibu berangkat!" kata Daisy sudah benar-benar pergi.


Akhir-akhir ini bukan hanya aksi dari pemain permainan tukar kematian saja tapi ada kejadian yang tidak kalah seramnya. Pembunuhan yang dilakukan dengan cara keji kemudian pelaku tidak akan ingat melakukannya. Mereka mendengar berita dari tv yang sudah mengganggu pikiran beberapa hari ini. Entah hanya kebetulan saja atau memang kesengajaan tapi itu mulai terjadi setelah Neumbell diumumkan Efrain.


"Bukankah kita juga harus menyelesaikan itu?" tanya Tan yang membuka diskusi sambil makan malam.


"Itu masalah Mundclariss yang tidak ada hubungannya dengan kita ... kalau ada campur tangan seseorang dari Mundebris atau Bemfapirav barulah kita turun tangan! itu murni perbuatan manusia yang mempunyai masalah mental ...." jawab Tom.


"Kita punya kekuatan untuk menghentikan itu, kenapa kita tidak membantu?" kata Teo.


"Ada yang bertugas ... namanya polisi! jangan menganggu pekerjaan orang lain ... lagipula dengan keahlian tombakmu itu masih jauh dari kata cukup untuk melindungi seseorang atau menghentikan kejahatan!" kata Cain menohok.


"Wah ... kalian jahat sekali! kalau begini saja baru kompak sekali!" kata Teo kecewa.


"Memang tindakan benar tidak memberitahu mereka soal Balduino dan ibunya ... kejahatan yang dilakukan manusia saja bisa membuat pengalihan apalagi kalau aku mengatakan bahwa Ibu Balduino berbohong soal identitasnya yang juga Setengah Ruleorum! meski tidak dikatakan, pasti mereka juga akan tetap mencurigai juga sih ...." Felix dilema.


...-BERSAMBUNG-...