UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.474 - Perburuan Harta Karun Terakhir Masa SD part 2



Tan, Teo dan Tom sempat melupakan Osvald dan Demelza anak yang seperti apa. Bagaimana mereka menjadi target karena mereka mirip dengan Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci. Osvald anak yang kesepian dan Demelza yang tidak menyukai rumahnya.


"Kita pasti menang!" kata Teo merangkul Osvald.


"Waktu kelas satu, kami ikut perburuan harta karun karena penasaran saja dan karena saat itu kita masih anak baru. Semua hal terasa asing dan mendebarkan untuk dilakukan. Terlebih lagi Cain yang sangat bersemangat ... saat kelas tiga memang kami ingin berpartisipasi lagi tapi itu juga karena Felix yang baru saja pindah ke Gallagher. Cain dan kami saat itu ingin agar Felix punya kenangan saat perkemahan pertama seperti kami dulunya saat kelas satu." kata Tan.


"Apa sih maksudnya?! kau sedang merendah atau apa ...." kata Demelza bingung.


"Maksudnya, dia mau mendapatkan beasiswa. Jadi bekerjasamalah!" kata Teo asal, hanya ingin membuat mereka semua tertawa.


Memang salah satu alasan mereka berpartisipasi adalah untuk mendapatkan beasiswa tambahan tapi alasan utama adalah membuat kenangan. Kelas satu saat jadi siswa baru, kelas tiga saat Felix bergabung, kelas enam atau sekarang yang merupakan saat terakhir menjadi murid SD.


Anak-anak sibuk berlarian kesana-kemari untuk mencari tempat bersembunyi. Tapi kelompok Felix masih santai saja, baru berlari saat para guru sudah datang mendekat. Mereka berlari bersembunyi di belakang tenda untuk menyusun strategi.


"Petunjuk pasti ada di sekitar sini! usahakan untuk mencari secara menyeluruh dan teliti." kata Tom membagi-bagi daerah untuk mereka berpencar.


"Makan siang?! bagaimana dengan makan siang?!" tanya Teo protes karena tidak ada strategi untuk itu.


"Setelah permainan selesai, kita baru makan! jangan mengambil resiko!" kata Demelza.


"Tidak, tidak ... aku bisa pingsan kalau menunggu sampai selesai." kata Teo.


"Hahh ...." semuanya mengehela napas kesal karena Teo.


"Walau kau tidak terlalu berguna, tapi kehilangan satu orang dalam kelompok bisa mempengaruhi pencarian." kata Tom.


"Apa maksudnya itu?! kau membutuhkanku tapi menghinaku juga ...." kata Teo sebal, "Pokoknya aku akan makan siang tepat pada waktunya." lanjutnya.


"Terserah!" kata Demelza kini tidak peduli.


Mereka mulai berpencar mencari petunjuk sesuai daerah masing-masing yang telah dibagikan. Disaat anak-anak lain hanya diam bersembunyi, mereka harus bergerak dengan hati-hati menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh guru.


"Pertama kalinya kita main petak umpet di acara perkemahan ... pasti anak-anak lainnya juga akan curiga ada sesuatu dibalik ini." kata Tan dalam hati.


"Terakhir kali kita petak umpet di sekolah, Gina menghilang. Tapi aku tidak perlu khawatir ... karena disini aman." kata Felix meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalau aku adalah guru, dimana aku akan menyembunyikannya?!" Teo ingin berpikir seperti yang menyembunyikan agar mudah menemukannya juga, "Kalau aku Pak Egan, pasti aku akan menyembunyikannya di tempat yang banyak didatangi." Teo memandangi tenda makan.


Demelza menatap tajam Teo dari kejauhan dengan menggunakan tangannya untuk mengancam agar Teo mengurungkan niatnya untuk masuk kesana.


"Ck, terserah aku!" kata Teo tidak peduli dengan ancaman Demelza, "Pasti banyak petunjuk di dalam sana ...." mungkin Teo memang lapar dan ingin masuk kesana makan tapi juga menginginkan petunjuk yang tersembunyi disana juga pastinya.


Teo membuka resleting jaketnya dan merogoh sesuatu di saku dalam jaketnya. Mengeluarkan botol ramuan tidak terlihat, itulah rencana Teo. Tapi saat akan meneguk ramuan itu, Teo mendapatkan pesan dari handphonenya yang bergetar.


"Itu minuman yang membuatmu tidak terlihat kan?!" tanya Mertie lewat pesan, "Cari tempat lain, ada cctv ditempatmu sekarang!" pesan kedua dari Mertie yang datang tidak jauh berbeda dari pesan pertama seakan Mertie mengetik seperti mesin saking cepatnya.


"Ah, Mertie tidak tahu ya soal cara kerja ramuan ini. Tapi hebat juga dia tahu soal ini ...." kata Teo mencari sekeliling karena Mertie pasti sedang ada disekitarnya saat ini. Teo kembali meneguk ramuan tidak terlihat. Kemudian berjalan menjauh darisana dan mencari titik buta cctv. Setelah memastikan tidak ada lagi kamera yang merekamnya, Teo memfokuskan diri dan perlahan tubuhnya menghilang.


Teo mengeluarkan handphone yang bagian belakang case adalah cermin untuk mengecek memastikan seluruh tubuhnya sudah tidak terlihat sepenuhnya. Karena terkadang ada anggota tubuh Teo yang tetap terlihat karena kurang fokus, "Okey!" Teo mengembalikan handphone kembali ke dalam sakunya.


Kali ini Teo berjalan dengan percaya diri tanpa takut sama sekali melewati para guru yang kebanyakan sedang berjaga di depan tenda makan.


"Tidak, kita bisa mendapatkannya tanpa harus curang." kata Tan.


"Kalaupun meminta, Felix tidak akan mau juga." kata Tom.


Felix sendiri tidak melakukan tugasnya seperti yang lain. Bukannya mencari petunjuk di daerah yang sudah dibagikan tapi malah berjalan ke arah sebaliknya.


Teo memasuki tenda makan dan mulai mencari tapi ujung-ujungnya tergoda juga melihat menu makan siang yang sudah terpajang, "Wah ...." tanpa sadar Teo berjalan ke arah makanan bukannya mencari sekeliling dulu, "Ini pasti enak sekali ... ini juga!" Teo seperti mengabsen satu-satu makanan, "Oh ...." mata Teo tertuju pada sesuatu yang terlihat aneh berada diantara susunan makanan. Teo mengambil botol merica yang ternyata di dalamnya bukan diisi oleh merica melainkan sebuah kertas, "Felix, kau tidak bilang kalau petunjuk tidak terlihat jelas ...." Teo protes karena hampir saja melewatkan petunjuk itu.


"Memangnya kau menemukannya dimana?!" tanya Tan.


"Di dalam botol merica." jawab Teo.


"Haha, ternyata tidak dibuat jelas ya. Kalau tidak teliti kita bisa melewatkannya tanpa kita sadari." kata Tom.


"Jadi bagaimana kau menemukannya? bagaimana kau menyadari itu adalah petunjuk?!" tanya Felix.


"Botol merica berada di dekat makanan prasmanan, kan aneh ...." kata Teo.


"Maka dari itu, kan jelas sekali. Jadi, apa masalahnya?!" kata Felix.


"Kau ini kenapa sih?! masih saja kesal soal mengumpulkan kayu bakar sendirian?!" kata Teo tertawa dan Felix tidak merespon lagi.


"Bagaimana petunjuk yang kau dapatkan?!" tanya Tan.


Balasan dari Teo tidak jelas apa, jadi Tan menyimpulkan kalau Teo saat ini, "Kau sedang makan kan?!"


"Em ...." jawab Teo.


"Hahh ... dasar!" maki Tom.


"Enakkah?!" Tan sebenarnya juga sudah lapar.


"Padahal kau tadi yang paling banyak sarapan, sekarang kau lagi yang duluan makan siang." kata Tom heran pada Teo.


Teo yang mengambil makanan dengan hati-hati agar tidak ada yang melihat makanan melayang sendiri. Kemudian Teo bersembunyi di bawah meja makan. Memang yang dipegang oleh seseorang yang meminum ramuan tidak terlihat akan ikut tidak terlihat juga tapi saat ini Teo sedang tidak fokus untuk melakukan itu. Tubuhnya sendiri saja saat ini sulit untuk dipertahankan agar tidak terlihat.


"Petunjuk yang kudapatkan hampir sama dengan yang tadi." kata Teo memeriksa petunjuk sambil makan.


"Coba foto!" kata Tan.


Teo memotret petunjuk dan mengirimkannya di ruang obrolan kemudian mengirimkannya pada Osvald dan Demelza juga agar melihat seperti apa petunjuk yang ditemukannya.


"Tidak, tidak sama." kata Tom.


"Hem?! menurutku sama saja." kata Teo.


"Tidak, memang kalau dilihat sekali ... sama. Tapi kalau dibandingkan ...." Tom mengeluarkan petunjuk yang pertama, "Berbeda." sambungnya.


...-BERSAMBUNG-...