UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.380 - Mencari Pengalaman



Teo menjelaskan apa yang harus dilakukan Mertie tapi tidak menjelaskan secara detail mengapa harus melakukan hal itu pada Demelza. Mertie langsung setuju saja, tanpa Tiga Kembar perlu membujuk atau memohon.


"Kau tidak bertanya kenapa kami memintamu melakukan ini?!" tanya Teo.


"Tidak penting, mau alasan apapun itu ... yang jelas sekarang aku punya alasan untuk mengerjainya, sudah cukup bagiku." jawab Mertie.


"Kau punya cukup alasan selama ini, tapi diam saja ...." Tan heran.


"Lebih tepatnya tidak ada motivasi ... jujur, aku sangat ingin mengerjainya tapi semangat untuk melakukannya tidak ada." kata Mertie.


"Maksudmu, kami ini sebagai penyulut api ...." Teo tidak habis pikir, mengira dirinya akan memanfaatkan Mertie tapi sebaliknya dirinyalah yang dimanfaatkan ternyata.


"Aku tidak mengerjai orang-orang tanpa alasan yang kuat ...." kata Mertie.


"Jadi, kau terganggu dengan gosip yang disebarkan Demelza tapi tidak terlalu tertarik untuk mengerjainya ...." kata Tom.


"Bukannya begitu ... kriteria orang-orang yang kukerjai hanyalah yang aku pikir hebat atau ... penjahat. Demelza?! mengerjainya akan membuat rekorku hancur, dia tidak hebat ... bukan juga penjahat ... tapi karena kalian memintanya, jadi aku tidak punya pilihan lain." kata Mertie.


Tan memaksakan dirinya tersenyum dan mulai menarik paksa Teo dan Tom untuk pergi darisana, "Kau sudah mengerti kan, apa yang harus kau lakukan ...." Tan yang merasa dipermainkan oleh Mertie ingin cepat-cepat lepas dari perasaan memalukan itu.


"Memang nama samarannya sangat cocok untuknya, dia lebih menyeramkan dari hantu yang ada di sekolah saat ini ...." kata Teo.


"Menurutku, dia lumayan baik ... punya prinsip!" kata Tom.


"Bukan prinsip tapi lebih ke ... tipe kriteria yang disukainya saja ...." kata Tan.


"Walau dia melakukan itu, belum tentu berhasil. Kita hanya bisa memujinya saat Demelza benar-benar tidak jadi pulang." kata Teo.


"Kenapa kau pesimis begitu?! biasanya kan semua idemu selalu berhasil." kata Tom.


"Biasanya kan kau selalu mengatakan ideku pasti akan gagal!" balas Teo.


"Biasanya yang kukatakan akan terkabulkan terbalik ... jadi tidak usah khawatir." kata Tom tertawa.


Teo menyipitkan matanya dan menyingkirkan tangan Tom yang bersandar pada bahunya hingga Tom hampir saja terjatuh.


"Kau mau kemana?!" teriak Tan melihat Teo berjalan pergi.


"Kau selalu saja suka sendirian akhir-akhir ini!" Tom juga ikut menambahkan.


Teo tidak peduli, hanya terus berjalan meninggalkan kedua saudaranya. Tidak mungkin dia berbicara pada Winn jika bersama mereka jadi terpaksa Teo yang tidak suka sendirian harus membiasakan diri sendirian.


"Kutebak, Alvauden-47 pasti sangat kesepian ...." kata Teo yang hanya mengira-ngira berdasarkan apa yang dirasakannya saat ini.


"Kesepian itu juga tergantung dari seseorang ... bisa jadi hanya sendirian tapi tidak merasa kesepian, bisa jadi bersama dengan orang banyak tapi merasa kesepian diantara kerumunan itu. Semuanya tergantung dari dirimu sendiri." kata Winn.


Teo menguap mendengar perkataan Winn, entah apa dia mendengarkan dengan baik atau tidak. Tapi Winn tetap semangat berbicara. Wajar, karena Winn sudah lama tidak punya teman untuk berbicara. Teo memaklumi hal itu, walau tidak bisa menjadi teman yang asik diajak mengobrol setidaknya menurut Teo dirinya bisa menjadi pendengar yang baik.


***


Sepertinya ide Teo berhasil atau lebih tepatnya Mertie berhasil. Demelza tetap berada di sekolah padahal sedang libur musim panas. Wajah pucat Demelza semakin terlihat mencolok, bahkan anak-anak yang tadinya tidak memperhatikan kali ini mengkhawatirkan Demelza. Penampilannya juga tidak kalah memprihatinkan. Demelza yang terkenal akan fashionable, akhir-akhir ini hanya terus memakai pakaian yang sederhana. Tidak berbeda jauh dengan Osvald juga begitu saat ini.


Awalnya Osvald dan Demelza mempercayai bahwa yang mengerjainya adalah manusia. Sehingga bahkan mereka berdua sudah melapor pada guru dan polisi. Tapi seperti biasa, guru tidak menemukan siapapun di kamera cctv dan anak-anak mulai ditanyai satu per satu tapi tidak ada yang mengaku. Guru BK sekolah juga ikut bertindak, memisahkan anak-anak yang membenci Osvald dan Demelza. Anak-anak itu diawasi tapi mereka melakukan aktivitas masing-maising. Bahkan yang membenci mereka tidak mendekat melainkan menjauh dari Osvald dan Demelza atau lebih tepatnya menghindari.


Sementara polisi juga melakukan penyelidikan di sekolah. Polisi yang bertugas adalah yang dulunya menyelidiki Hantu Merah Muda. Tapi dulu dan sekarang, mereka tidak menemukan apa-apa. Polisi sudah menjelaskan bahwa yang melakukan kejahilan itu tidak akan dihukum melainkan hanya diberi teguran tapi tidak ada yang mengaku juga. Osvald dan Mertie merasa tidak adil mendengar itu tapi apa boleh buat karena mengerjai bukanlah tindak kejahatan besar, apalagi dilakukan oleh anak dibawah umur. Setidaknya polisi Yardley selalu ada membantu setiap masalah yang ada. Selalu ada jika dicari dan dibutuhkan, meski itu hal sepele.


Sepertinya tidak lama lagi mereka akan menyadari bahwa yang mengerjai mereka itu bukanlah manusia. Osvald tidak punya pilihan lain selain harus memperbaiki nilainya. Menurutnya pulang dengan keadaan nilai buruk lebih menyeramkan lagi. Demelza yang hanya anak tunggal merasa lebih menyeramkan lagi jika pulang kerumah tanpa ada orang disana. Jadi lebih memilih tinggal di asrama sekolah, setidaknya dia memiliki teman sekamar dan banyak anak-anak lainnya yang memilih untuk tetap di sekolah selama liburan musim panas ini.


***


Tiga Kembar dalam keadaan sangat segar dan terbebas dari rasa kantuk setelah istirahat. Hanya berjaga saat malam, itupun hanya satu dari mereka saja. Kalau ada yang datang barulah yang berjaga akan membangunkan yang lainnya tapi tidak ada gangguan sama sekali akhir-akhir ini.


Teo pun sudah mulai bisa berjaga sendirian. Meski hanya terus berada di atap saja. Sedangkan Felix tidak memberi dirinya istirahat sama sekali. Ada saja yang dilakukan dan didatangi Felix. Tentunya tanpa sepengetahuan Tiga Kembar kecuali Teo. Teo tahu betul jika Felix meninggalkan sekolah atau sudah datang kembali.


"Kenapa kau diam saja?!" tanya Winn.


"Kau tahu betul kalau dia berbohong bahwa sedang beristirahat ...." kata Winn.


"Memangnya ada yang berpengaruh kalau aku mengatakan sesuatu?!" kata Teo.


"Benar juga ...." kata Winn.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Teo pada Tan dan Tom bahkan sebelum membuka pintu menuju atap.


"Eh?! bagai ...." Tan heran dengan itu tapi menurutnya wajar saja, karena siapa lagi yang akan kesana kalau bukan dirinya dan Tom, "Ayo turun!" ajak Tan pada Teo.


"Untuk?!" tanya Teo.


"Malam ini kedua Zewhit itu akan memulai pekan tahap gangguan terakhirnya, kau tidak penasaran seperti apa?!" kata Tan.


"Penasaran?! untuk apa aku penasaran akan hal itu?! kalian sudah gila ya?!" kata Teo.


"Jarang-jarang bisa melihat bagaimana Zewhit menggunakan Dunia Pikiran ... anggap saja sebagai pengalaman." kata Tom.


"Ayo!" Teo dengan ajakan cerianya.


Teo yang malas akhirnya bergerak juga, walau berjalan seperti siput dan akhirnya ditarik paksa oleh Tan dan Tom.


"Nanti ketinggalan ...." kata Tan.


"Kau pikir sedang mau menonton film?!" Teo meneriaki Tan tepat ditelinga.


"Ide bagus, ayo beli minuman dan snack di jalan!" kata Tom sengaja untuk membuat Teo jengkel.


"Lawan kita nanti kebanyakan adalah Zewhit ... walau Felix melarang kita latihan setidaknya kita mendapat izin untuk bisa melihat bagaimana cara kerjanya." kata Tan.


"Jadi, maksudmu kita akan memasuki dunia pikiran?! bukannya hanya mengawasi?! " Teo menolak untuk bergerak.


"Masih malam pertama tahap gangguan terakhir, jadi dunia pikiran hanya bisa terbentuk di dalam mimpi ... nanti setelah malam kelima dan ketujuh barulah secara langsung." kata Tom.


"Ya sudah tunggu sampai malam itu saja!" kata Teo.


"Kita akan ketinggalan ceritanya!" kata Tan.


"Toh, yang penting tahu endingnya!" kata Teo.


Zewhit Badut dan Kurcaci datang dari belakang mereka dengan tertawa riang kemudian memegang kerah baju mereka bertiga dari belakang dan dibawa masuk ke dunia pikiran dalam sekejap.


"Aaaaaaaa!" teriak Tiga Kembar bersamaan.


"Ow, bisa tidak bilang permisi dulu ...." kata Tom sebal karena dibawa secara tiba-tiba.


"Lucu sekali kau mengira dia akan mendengarkanmu!" Teo menendang Tom.


"Setidaknya dia mengizinkan kita menjadi penonton ...." kata Tan.


"Sangat melelahkan berada di dunia ini ...." kata Teo.


"Kan kita tidur sekarang di Mundclariss, malahan baik menurutku ... bayangkan betapa menyenangkannya bisa menonton disaat sedang tidur." kata Tom.


"Memasuki dunia mimpi, maksudku dunia pikiran Zewhit tidak membuat kita sepenuhnya beristirahat. Saat bangun nanti kita akan tetap merasa lelah." kata Teo.


"Ow, kau tahu banyak lebih dari yang kupikirkan ...." kata Tom mengejek.


"Sudah dimulai!" kata Tan menyuruh mereka diam.


...-BERSAMBUNG-...