UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.436 - Kota Inciadicorcre



"Baiklah, aku menghormati pendapatmu soal itu ... tapi berpikirlah secara luas dan lebih dalam lagi. Solusi dari Caelvita-1 sudah yang terbaik untuk menjaga batas antara masing-masing dunia agar bisa bertahan lama sampai saat ini." kata Iriana.


"Kalau begitu ... bisa saja dunia baik-baik saja sampai saat ini agar aku bisa terlahir. Untuk menemukan solusi terbaik menyelesaikan solusi setengah-setengah dari Caelvita-1." kata Felix.


"Kau ini memang tidak punya rasa sopan pada senior, ya ...." Iriana menghela napas.


"Caelvita itu hanya satu yang terus kembali lahir. Apa maksudmu senior?! semuanya juga adalah aku. Bahkan kau sendiri juga adalah aku dari masa sebelumnya ...." kata Felix.


"Kita lihat sampai kapan kau akan mempercayai itu ...." kata Iriana.


"Padahal kau sendiri yang mengajariku soal itu!" kata Felix berdecak kesal.


Felix memutar arah untuk kembali ke area perkemahan dan keluar dari hutan. Sambil melihat sisi lain Bemfapirav dan Mundebris bergantian untuk memastikan setiap sudut hutan adalah tempat yang aman.


"Ramai sekali di Mundebris ...." kata Felix.


"Memang sudah biasa disana, setiap hari adalah hari pasar besar. Disaat kau mencari sesuatu akan lebih baik kesana, karena pasar tidak akan tutup disana walau terjadi perang sekalipun." kata Iriana.


"Itu tandanya aman juga, semakin sibuk di Mundebris menandakan semakin aman sisi lain di Mundclariss. Walau ada kecurangan di pasar mengakibatkan hal buruk terjadi di Bemfapirav tapi Mundclariss bisa menyembuhkan Mundebris dengan energi positif dari hutan yang sehat disini." kata Felix.


"Kalau terjadi sesuatu juga disini, pasti akan terkena dampaknya di Mundebris. Jadi, memang disini adalah lokasi terbaik. Kau menemukan tempat yang benar ideal. Jika ada yang menyerang disini, di Mundebris akan datang membantu." kata Iriana.


"Kota Inciadicorcre atau kota untuk para Quiris Mundebris yang setengah-setengah. Sangat padat dan ramai, mudah untuk anak buah Efrain menyusup dalam keramaian dan membuka gerbang kesini tapi kalau membuat keributan di Mundclariss semuanya akan percuma juga." kata Felix.


"Sepertinya kau bisa santai saja disini, tidak perlu khawatir." kata Iriana.


"Aku tetap tidak akan menurunkan pengawasanku ...." kata Felix sudah keluar dari dalam hutan. Felix melihat jam tangannya ternyata masih siang tapi sudah gelap karena terlindung dari pepohonan tinggi.


Panas matahari juga tidak membuat gerah sama sekali karena pohon yang banyak membuat udara sangat sejuk. Tiga Kembar yang sudah berkeliling menanam batu permata emerald memang kelelahan tapi tidak terlalu berkeringat. Tan, Teo dan Tom juga tidak pernah kehilangan konsentrasi sehingga memunculkan dirinya menandakan mereka tidaklah selelah itu sampai menghilangkan manfaat dari ramuan yang diminumnya.


Felix sampai di pertengahan area perkemahan dan melihat batu permata emerald sudah hampir sepenuhnya mengelilingi area perkemahan.


"Kau benar-benar boros memakai batu permata!" kata Iriana.


"Itu karena kau tidak bisa menggunakannya makanya tidak pernah kau pakai!" balas Felix menohok.


Jam 2 siang Tiga Kembar beristirahat dahulu untuk makan siang dengan menuangkan sekeliling mereka ramuan tidak terlihat oleh mata manusia agar bisa makan dengan santai dan nyaman. Felix tidak bergabung dengan mereka dan hanya makan roti isinya sambil berjalan berkeliling. Bukan hanya memeriksa Mundclariss tapi dapat melihat semua yang ada di Mundebris saat ini. Seakan dia berjalan diantara Quiris dengan menggunakan Idibalte tapi tidak. Melainkan hanya matanyalah yang sampai di Mundebris, tubuhnya tetap berada di Mundclariss.


Sore berlalu dengan cepat, malam tiba dengan cepat. Tapi batu emerald masih belum sepenuhnya mengelilingi area perkemahan. Udara lebih dingin lagi saat malam, serasa sudah memasuki musim dingin saja. Bahkan banyak kabut putih mengelilingi menutupi pandangan mata. Tapi semuanya berubah setelah lampu di perkemahan dinyalakan.


"Wah ...." Tan, Teo dan Tom takjub melihat itu dan menghentikan aktivitasnya.


"Apa kau melihat ini, Felix?!" tanya Teo.


"Kau pikir aku tidak punya mata?!" balas Felix sarkastik, "Cepat bekerja! supaya kita bisa cepat pulang juga!" perintah Felix.


"Dasar! kau ini tidak punya perasaan sama sekali!" kata Teo.


"Kau akan bosan juga kalau 12 kali giliran harus berjaga disini!" kata Felix mengingatkan kalau mereka harus ada disini berjaga untuk setiap kelas.


"Jangan mengatakan hal yang bisa membuat sial begitu!" kata Tom.


"Maksudku, kita harus melindungi tempat ini ...." kata Tan.


"Aku sudah menemukan tempat yang bagus untuk mengawasi. Ada empat pohon tinggi yang memudahkan kita mengawasi semuanya dari kejauhan." kata Felix.


"Jadi, kau mau kita menjadi ninja?! mengawasi dari pohon?!" kata Teo sebal.


"Sudah selesai! ayo kita pulang!" kata Felix melihat batu permata emeraldnya sudah sempurna mengelilingi area perkemahan tidak memperdulikan ucapan Teo.


"Disini sangat dingin sekali, kita harus memakai pakaian hangat kalau kesini lagi." kata Tan yang berjalan paling belakang diantara mereka.


"Woah!" Teo kaget dengan apa yang barusaja dilihatnya.


"Ada apa?!" tanya Tom menyusul Teo.


Tepatnya di depan rumah pengelola perkemahan ada satu Quiris. Memang tidak akan jelas kalau tidak diperhatikan baik-baik karena kabut. Tapi setelah dilihat dengan cermat akan jelas kalau itu adalah Quiris Mundebris. Setengah pohon dan Setengah hewan.


"Yang ... Yang Mulia ...." Quiris itu tergagap setelah melihat Felix yang hanya memakai idibalte level rendah untuk tidak terlihat oleh manusia saja, "Batu permata emerald banyak sekali disini ...." sambungnya dalam hati mengintip saat sedang berlutut.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Felix.


"Mereka sepertinya lupa menyiram bunga ini ...." jawab Quiris itu menunjuk bunga di dalam pot, "Jadi, saya datang untuk menyiramnya ...."


"Dari ucapanmu, menandakan kalau kau sering kemari ...." kata Felix membuat Quiris itu gemetaran, "Jangan menyia-nyiakan energimu untuk membuka gerbang, kau bisa saja terjebak disini dan dianggap sebagai tumbuhan unik dan diteliti kalau tidak bisa kembali ke Mundebris."


"Maaf Yang Mulia, saya tidak bisa tinggal diam saja kalau merasakan ada tanaman yang sakit." kata Quiris itu.


"Dia perpaduan antara ibu dari segala pohon di Mundebris dan hewan penjaga tanaman. Wajar kalau dia tidak bisa menahan diri untuk tidak kesini ...." kata Tan setelah menganlisa baik-baik.


"Berbahaya! apapun itu, jangan lupa minum ramuan untuk menahanmu merasakan dan mendengar tanaman yang membutuhkan pertolongan. Kau bisa saja mati kalau ditemukan oleh manusia!" kata Felix.


"Ramuan saya habis Yang Mulia ...." kata Quiris itu.


"Kembalilah! dan segera beli ramuan baru!" Felix memanggil gerbangnya untuk Quiris itu kembali ke Mundebris dan memberikan batu permata emerald, "Kali ini beli yang banyak!"


"Satu batu permata emerald setara dengan ribuan batu permata lainnya. Saya bahkan bisa membuat kolam ramuan setelah ini Yang Mulia ...." kata Quiris itu dengan senang hati menerima batu permata pemberian Felix dan pamit memasuki gerbang Caelvita.


"Akan bagus kalau kita bisa merekrutnya melawan Efrain ...." kata Tom menyayangkan kepergian Quiris itu tanpa dibujuk terlebih dahulu.


"Kita tidak bisa meminta Quiris Setengah tanaman atau Setengah hewan yang ada di Mundebris untuk ikut berperang. Kecuali mereka yang menginginkannya sendiri ...." kata Tan.


"Makanya, kan kubilang hanya sayang saja ...." kata Tom.


...-BERSAMBUNG-...