UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.238 - Terungkap Tujuan Efrain



Pertempuran terus berlangsung tapi tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Efrain. Meski begitu, tidak ada peluang untuk memenangkan pertarungan itu. Kekuatan para iblis jauh di atas mereka, melawan satu iblis saja kewalahan apalagi ribuan.


Belum lagi soal stamina, Felix yang masih mempunyai tubuh manusia dan menjadi sarang Veneormi, Dokter Mari yang hanya Setengah Viviandem, apalagi Tan, Teo dan Tom yang memang seorang manusia biasa. Melawan iblis sama saja dengan bunuh diri.


Tapi Felix tetap bangga melihat perjuangan ketiga sahabatnya yang pantang mundur dan pantang menyerah. Kehadiran Dokter Mari juga sangat membantu, pengalaman memang tidak bisa berbohong. Dokter Mari sudah mengalahkan 20 iblis sendirian, padahal bagi Felix dan Tiga Kembar mengalahkan satu iblis saja sama dengan misi yang mustahil untuk dilakukan.


Kekuatan iblis yang bahkan melebihi kekuatan Viviandem. Iblis terkenal sebagai Quiris terkuat di Mundebris dan tentunya makhluk terkuat di tiga dunia.


"Jadi apa yang akan terjadi dengan Bella?" tanya Tom.


"Bukankah Kiana sudah terlindungi ...." kata Teo.


"Meski begitu, tetap saja kita harus menukar kematiannya kan? Kiana hanya aman dari pemain lawan tapi kalau tidak melakukan penukaran, apa yang akan terjadi?" tanya Tom.


"Oh iya ya ... kita tidak menukar kematian Bella saat melompati waktu." kata Teo mengingat.


Tom menatap tajam Felix karena saat itu Felix tidak menukar kematian Kiana dengan Bella, "Siapa yang mengira akan terjadi seperti ini ...." kata Felix membela dirinya.


"Seharusnya kau sudah bisa memprediksi hal ini ...." kata Tom.


"Kalian ini, sempat-sempatnya ...." kata Tan kewalahan harus melindungi mereka berdua karena Felix dan Tom tidak fokus.


"Biarkan saja mereka! tidak usah dilindungi, lindungi aku saja ...." kata Teo.


"Teo yang kutakutkan tidak akan fokus dalam pertarungan ternyata bisa diandalkan ... malah terbalik dengan mereka yang kuandalkan tidak akan pernah dibantu, ternyata ...." kata Tan dalam hati.


"Pemimpin kalian dimana?" tanya Felix.


"Yang Mulia tidak akan turun tangan di pertempuran ini!" jawab Iblis yang dihadapi Felix.


"Tidak mungkin ... dia yang paling bersemangat mau membunuhku, mana mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini ...." kata Felix dalam hati.


Dokter Mari masih terus menyerang dan bertahan tapi tampak jelas kalau saat ini, Dokter Mari bisa berdiri karena bermodalkan semangat saja.


Bahkan bagi Felix sangat asing dan aneh bisa melihat Dokter Mari bertarung seperti itu, apalagi Tiga Kembar yang sudah mengenal Dokter Mari sejak kecil.


Sebuah gerbang emerald yang menandakan Alvauden muncul. Dari dalam gerbang itu terdengar suara, "Butuh bantuan?"


"Zeki?" tanya Felix.


"Aku juga datang ...." kata Verlin yang tidak diperhatikan.


Secercah harapan datang menghampiri, bagaikan sebuah cahaya masuk menyinari ruang gelap, seperti setetes air yang jatuh untuk seseorang yang tidak pernah minum selama tiga hari.


Zeki terlihat santai saat keluar gerbang dan langsung diserang oleh iblis. Begitupun Verlin yang hanya berjalan biasa tanpa memegang senjata bisa membuat iblis tidak bisa mendekatinya. Seperti menyapu bersih barisan iblis untuk bisa sampai ke tempat Felix dan lainnya berada.


"Mereka yang telah dikalahkan oleh Efrain sehebat ini ... bagaimana bisa kita melawan Efrain ...." kata Tom heran melihat pemandangan di hadapannya. Tidak percaya itu benar terjadi di depan matanya.


"Verlin sedang bersama dengan mereka pastinya ...." kata Tan merasakan kehadiran hewan Mundebris yang sudah melakukan kontrak dengannya.


"Dode apa lagi itu namanya? aku lupa ...." kata Teo.


"Dodediomo!" kata Tom.


"Kulihat kalian kesulitan ...." kata Zeki.


"Terimakasih sudah datang ...." kata Tan.


Teo dan Tom tidak berani mendekat dengan Verlin karena takut terkena pedang tajam Dodediomo. Dodediomo memang seperti kelinci kecil atau mirip seperti pikachu kalau kata Teo. Hanya saja bulunya berwarna hitam pekat dengan pedang super panjang, bahkan panjang pedangnya setinggi Verlin padahal tubuh Dodediomo sendiri cuma sebesar hamster atau tikus.


Tapi keahlian dan ketajaman pedangnya tidak ada duanya. Mereka merupakan nenek moyang atau makhluk pertama yang menggunakan pedang dan kemudian mengajarkannya. Memang sekarang populasinya sudah hampir punah karena diburu oleh ahli pedang yang menantang duel. Tapi Verlin behasil menemukan dua Dodediomo yang sekarat dan menyelamatkannya. Sehingga dengan senang hati membalas budi untuk melakukan kontrak. Verlin lah yang juga membantu Tan, Teo dan Tom melakukan kontrak dengan Dodediomo itu.


Dodediomo yang wujudnya tadi tidak kelihatan kini perlahan muncul di bahu kanan dan bahu kiri Verlin dengan pedang yang menjuntai sampai ke tanah. Verlin memunculkan pedangnya dan menyerang iblis yang datang bersamaan dengan Zeki. Beruntungnya, Verlin bisa santai tidak usah mengkhawtirkan kanan dan kirinya saat menyerang. Karena ada Dodediomo yang melindungi.


Yang menjadi permasalahan adalah pertarungan seperti tidak akan ada habisnya dan masih ada hal lain yang harus dilakukan. Menukar kematian pemain hari kemarin dan menukar kematian Kiana menjadi Bella hari ini. Tapi tidak ada jaminan mereka bisa hidup setelah pertarungan ini berakhir. Tidak ada cela untuk bisa kabur karena sudah menyia-nyiakan menggunakan portal cahaya darurat ke Istana Ruleorum saat mencari keberadaan Cain tapi berakhir tanpa hasil.


"Sepertinya kalian sudah lupa ya siapa aku?!" kata Zeki menyeringai dan terus menebas iblis yang melawannya, "Akulah yang memenggal kepala Efron, kakak dari Efrain ... Raja kalian!"


"Sehebat itukah Zeki?" tanya Teo dalam hati menyempatkan diri melirik tapi hampir celaka jika tidak ada Tan yang melindungi.


"Mengalihkan pandangan saat sedang dalam pertarungan sama halnya mencari mati." kata Tan menyadarkan Teo.


Tiba-tiba mata Felix bersinar biru dan tinggal melamun memandang lurus kedepan. Felix menjatuhkan pedangnya dan para iblis berusaha menyerangnya tapi tidak ada yang bisa menyentuhnya dan langsung terpental mundur.


"Dimana aku? tunggu ... tempat ini seperti tidak asing ...." kata Felix.


"Iriana? kau benar mulai kembali hidup ...." terdengar suara yang tidak asing juga.


"Suara ini? Efrain? hehh ... dia memegang tanganku? tunggu ... tanganku?" kata Felix dalam hati seperti berada di alam mimpi, "Itu ... Haera kah?" Felix mengedip-ngedipkan matanya melihat sosok Haera yang terikat di atas altar di sampingnya.


"Anna? eh ... jiwa ini ... Lix?" kata Haera lewat pikiran sambil tersenyum.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Felix.


"Ini hari kematianku, Lix lupa ya ...." jawab Haera riang.


"Meski begitu, seharusnya kau tidak disini ...." kata Felix.


"Memangnya kita dimana sekarang?" tanya Haera mencoba membuat Felix fokus.


"Kita di ... hahh! di dalam Kastil Perkumpulan Iblis ...." jawab Felix akhirnya mengingat memang pernah dari tempat itu saat menyelamatkan Gina dulunya, "Apa yang kita lakukan disini?"


"Cain ... kau berpotensi menjadi Alvauden yang hebat tapi sayangnya hidupmu hanya bisa berakhir sampai disini!" kata Efrain.


"Cain? dimana Cain?" Felix melihat sekeliling.


"Itu aku! saat ini aku menyamar menjadi roh Ian ...." kata Haera.


"Apa?!" teriak Felix lewat pikiran tapi suaranya mengagetkan Haera seperti Felix sedang berteriak langsung ditelinganya.


"Efrain ikut dalam permainan ini bertujuan untuk mendapatkan kekuatan maksimal, ikut campur dalam permainan tukar kematian akan meningkatkan kekuatan tapi sepertinya Efrain tidak tahu kalau kekuatan itu berasal dari kutukan. Memang memberi kekuatan tapi sebagai gantinya kita akan terikat oleh kutukan. Efrain menggunakan kesempatan ini untuk menghidupkan Anna kembali dengan meningkatkan kekuatan terlarangnya, yakni transfer jiwa." kata Haera menjelaskan.


...-BERSAMBUNG-...