
"Jangan bersikap lemah! atau setidaknya jangan biarkan dirimu terlihat lemah! kau tahu kenapa Alvauden kebanyakan dibenci?! itu karena Alvauden sebaik apapun itu harus mengubah karakternya menjadi keras saat berada di depan umum. Karena Alvauden tidak boleh terlihat lemah dan terlihat tidak berguna. Ingatlah selalu itu! setidaknya kaulah yang harus selalu mengingat itu!" kalimat dari Cain yang terlintas dalam pikiran Tom saat itu langsung memberi Tom kekuatan.
Tom yang telah berhasil membawa Osvald keluar bersama dengan Tan, tidak kembali masuk ke dalam bus untuk membantu menyelamatkan yang lainnya melainkan berjalan menuju tempat Felix berada.
"Tom! bantu aku disini dulu!" teriak Tan melihat bus saat ini ada percikan api dimana-mana.
"Kau lakukan tugasmu! bagaimanapun juga kau seorang Vitiumed, menyembuhkan dan merawat yang terluka adalah hal utama yang menjadi kewajibanmu. Tapi aku akan melakukan tugasku yang utama sebagai Alvauden! aku akan membantu Felix!" kata Tom.
"Teman-teman kita masih banyak di dalam, Tom." teriak Tan.
"Aku tidak peduli! bagi Alvauden menjaga Caelvita adalah hal yang utama! Felix juga salah satu teman yang butuh bantuan kita sekarang." kata Tom melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Tom!" teriak Tan.
Disaat para guru membawa keluar anak-anak yang terluka, Tan diam-diam terus mengawasi sekitar karena harus memotong benda yang mengeluarkan percikan api. Dengan menggunakan Telloppernya, Tan membantu menahan pendarahan korban yang berhasil dikeluarkan dari dalam bus dan juga sambil terus memanjangkan Tellopernya untuk mencegah percikan pada bus itu berubah menjadi api.
"Mertie! apa yang kau lakukan disini?! sudah bapak bilang kalau kalian tetaplah berada di dalam bus!" kata Pak Egan memergoki Mertie datang mendekat bersama beberapa anak lainnya saat membawa satu anak keluar dari dalam bus yang terbalik itu.
"Bagi bapak, mereka hanyalah murid yang pintar atau murid yang terlalu bekerja keras untuk belajar. Tapi, bagi kami ... mereka adalah teman kami, teman seangkatan dan sudah bersama selama enam tahun." kata Mertie.
"Bukan saatnya untuk berdebat! bapak bilang kembali! dan ini adalah perintah! Bukan permintaan." kata pak Egan tegas.
"Bapak mengajarkan kami soal kerjasama saat berburu harta karun ...." kata Mertie yang membuat Pak Egan terlihat terdiam, "Atau itu semua hanyalah omong kosong saja?! saat keadaan seperti inilah bagaimana kerjasama itu bisa dibuktikan dengan benar." Mertie terus berbicara untuk membujuk dan anak-anak lainnya menyetujui ucapan Mertie dan menuntut hal yang sama.
"Baiklah, tapi kalian bantu diluar saja! bantu teman-teman kalian yang sudah ada diluar bus saja! biar kami para guru yang mengeluarkan dari dalam bus." kata Pak Egan akhirnya terbujuk juga.
"Tidak, kami akan membantu juga mengeluarkan yang ada di dalam!" kata Mertie bersikeras.
"Tugas kami adalah mencegah adanya korban baru!" teriak Pak Egan.
"Disaat bapak berdebat begini sudah mengulur waktu, biarkan kami membantu." kata Dallas yang juga ikut bergabung.
"Tugas bapak seharusnya mencegah adanya korban sama sekali!" kata Mertie menyudutkan Pak Egan.
"Baiklah, lakukan apa yang kalian mau." Pak Egan menyerah.
Anak-anak dari bus yang selamat mulai membagi diri bergerak menuju teman-teman yang sudah dibawa keluar dan juga ikut masuk ke dalam bus.
"Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Dallas memang ingin membantu tapi tidak tahu harus membantu apa setelah sampai.
"Usahakan hentikan pendarahan dari luka, itu yang lebih penting!" kata Tan.
"Harusnya aku lebih memperhatikan saat anak palang merah menjelaskan ...." kata Anak lainnya kelihatan antara ngeri melihat darah sekaligus memang tidak tahu harus berbuat apa.
Mertie masuk ke dalam bus langsung kaget, bukan karena pemandangan mengenaskan dari teman-temannya yang sedang tergeletak penuh luka melainkan banyaknya arwah yang ada disana.
"Kau bisa melihatku?!" tanya salah satu Roh.
Mertie untuk sekian lama tidak melihat sosok hantu lagi, kali ini bisa melihatnya lagi tapi itu adalah hantu dari teman satu angkatannya di sekolah.
"Teo ...." Mertie mendekati Teo yang kelihatan sedang meringkuk ketakutan.
"Mertie, bawa dia keluar! kami sudah mencoba tapi dia terus bersikeras menolak ...." kata Bu Janet tidak bisa terus-menerus menghadapi Teo yang keras kepala karena harus bergerak cepat menolong yang lainnya sedang dalam keadaan darurat.
"Teo! kau baik-baik saja?! apa yang kau lakukan disini?! Tan sibuk membantu diluar, Tom dimana?! dia baik-baik saja kan?!" tanya Mertie.
"Teo! sadarlah! bukan saatnya untukmu menyalahkan diri ... kita harus melakukan sesuatu agar korban tidak bertambah. Bukan seharusnya aku yang mengatakan ini ... tapi, kau!" kata Mertie.
"Iya, gara-gara kau aku mati." kata Roh Demelza.
"Ini sudah takdirmu, walau bukan hari ini tapi dalam waktu dekat kau pasti akan mengalami hal yang sama juga. Jangan menyalahkan orang lain atas takdir yang sudah tergariskan untukmu." kata Mertie.
"Apa?! kau bisa melihatku juga?! apa bisa melihat hantu adalah bakat yang normal hampir semua orang miliki?!" kata Demelza tercengang.
Percikan api kembali muncul, karena banyak anak-anak yang melihat jadi Tan tidak bisa menggunakan Telloppernya lagi.
"Kita harus bergerak cepat!" teriak Bu Latoya.
Disaat Mertie mencoba menarik paksa Teo untuk keluar darisana, terdengar suara seperti bisikan atau lebih seperti semprotan krim di kafe. Itu adalah alat pemadam kebakaran yang dibawa oleh anak-anak lainnya dari bus dibelakang. Semua angkatan 89 Gallagher kali ini benar-benar bergerak bersama-sama menunjukkan kerjasama yang asli. Bukan rekayasa atau dibuat-buat seperti saat perburuan harta karun di lokasi perkemahan.
"Ayo, kita keluar!" kata Mertie menarik tangan Teo saat melihat korban terakhir dibawa keluar dari dalam bus.
"Kau harus bertanggung jawab! kau harus ikut mati denganku!" kata Demelza.
"Kau ini egois sekali! bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?!" kata Mertie.
"Kau duluan keluar!" kata Teo melepas tangan Mertie.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Demelza, Teo! Ini bukan salahmu!" kata Mertie.
"Seperti yang dikatakan Demelza, aku harus bertanggung jawab!" kata Teo mulai bangkit berdiri.
"Ayo, cepat kalian keluar!" teriak Pak Egan.
"Baik, pak." sahut Mertie.
"Ayo!" Mertie kembali meraih lengan Teo tapi gagal karena Teo menolak.
"Kau ini bodoh?! kalau disuruh mati, kau menurut begitu saja?!" teriak Mertie tidak habis pikir.
"Aku akan bertanggung jawab dengan cara lain!" kata Teo memunculkan Moshasnya.
"Akhirnya, kau sadar juga ...." kata Winn terdengar sangat lega.
Teo melempar Moshasnya kedepan menembus bagian depan bus dan kemudian berlari mengikuti arah tombaknya itu meluncur.
Mertie akhirnya tersenyum karena yang dimaksud Teo akan lakukan bukanlah tanggung jawab dari orang bodoh melainkan tanggung jawab dari seseorang yang sedang membangun kembali keberaniannya.
"Teo mana?!" tanya Bu Janet.
"Dia sudah keluar bu." sahut Mertie dengan perasaan lega dan mulai keluar dari dalam bus.
Teo yang keluar dari dalam bus melihat Moshas menancap di dada Efrain saat ini.
"Kukira kau tidak akan datang ...." kata Tom kelihatan susah bernapas dan terlihat banyak terluka. Bukan luka akibat kecelakaan tapi luka karena pertarungan.
...-BERSAMBUNG-...