
"Aku sudah terbiasa ... bukan lagi permasalahan yang menggangguku. Karena ada masalah lain yang lebih besar yang mengganggu." kata Felix santai saja tidak terlihat tersinggung ataupun sedih.
"Benar juga ...." kata Teo mulai mengembalikan moodnya untuk ceria.
"Sebenarnya aku membuat skenario ini untuk melihat reaksi dari anak-anak lain bagaimana. Tapi kelihatannya mereka merasa bersalah juga memperlakukan Felix begitu ...." kata Tan.
"Apa?! merasa bersalah?! lucu sekali!" kata Demelza merusak suasana.
"Benar yang dikatakan Demelza, Tan. Kelihatannya saja mereka merenungkan perbuatan mereka padaku saat itu tapi dalam hati mereka juga tidak terlalu peduli." kata Felix dalam hati menghargai Tan yang memiliki niat baik ingin melihat reaksi anak-anak yang seperti itu tapi pikiran yang didengar Felix bertolak belakang dengan apa yang terlihat.
"Kelihatannya saja begitu, tapi nanti juga pasti mereka menceritakan kejelekan Felix lagi." sambung Demelza.
"Walau kau sudah terbiasa karena ini bukan yang pertama kalinya tapi bagaimanapun juga kau pasti terluka kan?! sama dengan komentar buruk di internet, bukannya akan membuat terbiasa seiring berlalunya waktu tapi semakin menambah luka. Kau pasti heran mendengar ini keluar dari mulutku tapi seperti itulah kenyataannya kalau berpikir secara logis. Luka yang telah sembuh kalau dilukai ditempat yang sama pasti akan terasa sakit lagi juga. Tidak mungkin tidak akan terasa sakit dengan alasan sudah pernah terluka atau sudah terbiasa. Dan kau belum sembuh sudah dilukai lagi ...." kata Tom membuat waktu seakan berhenti. Semuanya berhenti beraktivitas karena ucapan Tom itu. Bahkan Pak Egan harus ke belakang panggung memeriksa karena mereka terlalu lama bersiap-siap.
"Itu jika aku bukan Caelvita ... jika aku hanya manusia biasa pasti aku akan merasakan itu. Tapi aku Caelvita ... tidak punya waktu untuk terluka karena perkataan buruk." kata Felix lewat Jaringan Alvauden, "Pada akhirnya ... Tom yang kepribadiannya mirip denganku memang lebih mengenalku dengan baik." kata Felix dalam hati berusaha meyakinkan dengan tetap bersikap santai. Walau Felix bukanlah manusia biasa tapi itu tidak menandakan dirinya tidak punya perasaan. Semua yang memiliki perasaan mustahil untuk tidak terluka. Bahkan untuk Felix sekalipun.
Bagian keenam saat kelas empat, bagian ketujuh saat di kelas lima, bagian kedelapan saat ini yakni kelas enam digambarkan seperti yang telah dilalui tapi tetap dilebih-lebihkan karena bagaimanapun ini adalah pertunjukan.
Akhir pertunjukan harus dilakukan dengan pembacaan surat terakhir sebagai murid SD. Setelah pertunjukan dinyatakan selesai tidak ada yang langsung turun dari panggung, masing-masing mereka mengeluarkan selembar surat yang telah ditulis untuk dibaca di depan umum.
Giliran pertama adalah Teo, katanya karena dialah yang paling tua diantara Tan dan Tom. Sementara Osvald, Demelza dan Felix memilih belakangan saja.
Teo bukannya terlalu percaya diri tapi karena memang suka melakukan apapun dengan cepat dan suka melakukan semua hal pertama kali dibandingkan yang lain. Katanya supaya bisa cepat santai, "Kalian tahu siapa aku bukan?!" pertanyaan dengan nada usil itu dengan cepat ditebak oleh penonton bahwa dia adalah Teo.
"Maaf jika selama ini aku selalu menganggu kalian, jujur aku dalam keadaan tidaklah sadar melakukan itu semua." kata Teo membuat penonton tertawa sekaligus ada yang mengutuknya.
"Aku terkenal selalu menjadi pengganggu, berbeda dengan kedua saudaraku yang selalu berprestasi yakni Tom dan selalu baik pada kalian yaitu Tan. Kami memang kembar tapi aku bangga selalu membawa wajah ini kemanapun, karena Tan selalu membantu dan memperlakukan kalian dengan baik jadi aku sering mendapatkan perlakukan yang sama juga dengan berpura-pura menjadi Tan hahaha ...." seruan woooo dan tawa menanggapi perkataan Teo itu, "Tapi Tom yang selalu berprestasi sering membuatku dalam masalah. Kadang ada diantara kalian yang suka menanyakan cara mengerjakan soal padahal aku bukan Tom." kembali tawa lepas dari penonton terdengar.
"Diantara mereka berdua, aku adalah yang paling buruk. Tapi itu tidak membuatku merasa rendah diri. Karena aku yang memilih untuk menjalani kehidupan seperti ini. Bukan hidup seperti Tan yang harus baik kepada semua orang atau belajar keras seperti Tom. Sangat menyebalkan ... aku memilih hidup untuk menyenangkan diriku sendiri. Aku tidak ingin hidup untuk menyenangkan orang lain, hanya ingin menikmati hidup tanpa harus berusaha keras. Mungkin kalian akan mudah lupa denganku ... hanya akan ingat dengan Tan dan Tom yang memiliki kesan kuat. Tapi aku berterimakasih kepada kalian yang menjadi bagian dari kenangan masa sekolah dasarku. Aku tidak akan marah kalau kalian melupakanku karena aku juga mudah lupa hahahah ... intinya kurang lebih itulah yang ingin kuucapkan." akhir kata dari Teo yang disambut dengan tepuk tangan.
"Jangan membuatku jadi terhura ...." Teo berpura-pura menghapus air mata nya yang tidak ada menetes.
"Terharu!" balas Penonton mengoreksi.
Giliran kedua adalah Tom, "Aku yang kedua karena aku tidak percaya diri untuk yang pertama dan tidak yakin bisa memberikan kesan yang kuat kalau giliran terakhir." sepertinya apapun yang diucapkan dipanggung terus membuat para penonton tertawa.
"Akhir-akhir ini aku agak membosankan kan?!" tanya Tom yang diiyakan oleh penonoton, "Sudah kuduga karena Teo sering sekali mengeluh soal itu ... dulu aku selalu menemani Teo bermain dan melakukan hal bodoh bersama, karena menurutku itu menyenangkan dibanding bersama Tan yang kebanyakan hanya diam. Kalian tahu ... kalau bersama Tan satu katapun tidak akan keluar tapi kalau bersama Teo, semua hal omong kosong dan tidak penting dibahas." kembali suara tawa memeriahkan suasana.
"Tapi setelah melalui banyak hal, aku sadar kalau saatnya berhenti melakukan hal itu. Kebanyakan waktuku kuhabiskan sendirian untuk mengembangkan diri menjadi lebih baik. Karena waktu sedetik seakan sangat berharga untuk aku lewatkan tanpa melakulan sesuatu untuk bisa berkembang. Mungkin aku menjadi membosankan sekarang, tapi aku tetaplah Tom yang kalian kenal selama ini ... maaf jika aku sering pelit membantu kalian belajar karena tidak ingin rangkingku jadi direbut hahaha, terimakasih karena tetap bersikap baik walau aku melakukan itu ... untungnya kalian semua memaklumi hal itu karena persaingan di Gallagher sangatlah ketat. Kalau disekolah lain pasti aku sudah dikucilkan dan dibenci karena pelit. Tapi karena di Gallagher, aku beruntung ...." akhir kata dari Tom.
"Kami juga melakukan hal yang sama kok, apalagi dengan adik kelas yang suka meminta buku atau minta diajarkan." kata Penonton yang sangat memaklumi sikap Tom yang wajar untuk siswa Gallagher miliki.
"Pak, ini baru penampilan pertama ... kalau sudah terharu sekarang bisa-bisa nanti banjir." kata Teo pada Pak Egan yang diam-diam mengusap air matanya.
"Diam kau Trayvon!" kata Pak Egan yang membuat semua penonton tertawa karena baru sadar melihat Pak Egan setelah diberitahu Teo.
Giliran ketiga Tan, "Em ... membaca suratku sendiri saja sangat membosankan, pasti kalian juga akan merasakan hal yang sama." tapi para penonton merasa itu tidaklah membosankan.
"Kalian yakin, mau mendengarnya?!" Tan meyakinkan.
"Baca saja! coba kita dengar semembosankan bagaimana suratmu itu ...." teriak Penonton.
"Sudah aku peringatkan ya ... jadi jangan mengeluh saat ditengah-tengah nanti. Aku tidak akan menghentikannya walau kalian minta." kata Tan.
...-BERSAMBUNG-...