UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.301 - Bertahan Hidup



"Aku bahkan tidak sempat menanyakan nama dari ibu yang meninggal tadi ...." kata Tom merasa bersalah.


"Felix pasti tahu siapa namanya ...." kata Teo memegang bahu Tom dan menatap Felix meminta bantuan.


"Lebih baik tidak mengetahuinya daripada mengetahuinya akan membuat kalian terus mengingatnya ...." kata Felix.


"Memang seharusnya begitu kan?! kita harus mengingatnya ... kalau bukan kita, siapa lagi?!" kata Teo merasa Felix aneh karena berpikir demikian.


"Hidup dengan dipenuhi rasa bersalah adalah hidup yang terbuang percuma. Lebih baik hidup menyalahkan orang lain daripada hidup dengan rasa bersalah ... jangan biarkan dirimu menyesali hari ini. Salahkan Ditte! simpan semua dendammu pada Ditte, Tom. Suatu saat jika bertemu Ditte ... kau bisa menghukumnya dengan amarah dan dendammu itu." kata Felix yang menginginkan sahabatnya tidak larut dalam duka. Tapi memiliki dendam yang bisa membantunya terus melangkah maju dan mencapai tujuan besar terlebih lagi Felix hanya ingin sahabatnya terus bertahan hidup.


Setelah kejadian malam itu, Nenek Hylmi dan Lian masih dalam keadaan tidak sadarkan diri di Rumah Sakit. Banks telah datang bersama Tan memeriksa keadaan Nenek Hylmi tapi menurut Banks, Nenek Hylmi masih bisa bernapas saja adalah sebuah keajaiban. Sedangkan Lian juga dalam keadaan koma karena pendarahan hebat yang tidak langsung ditangani dengan cepat.


"Intinya, apapun yang terjadi kita dalam masalah!" kata Teo.


"Ditte bahkan membuat rencana cadangan jika gagal dengan memilih satu orang lagi." kata Tom.


"Tidak heran dia adalah tangan kanan Efrain ...." kata Tan.


Mertie sedang sibuk mempersiapkan alat-alatnya jadi jarang bisa ditemui saat istirahat atau pulang sekolah. Sedangkan Felix lebih memilih untuk pergi sendiri entah kemana dan hanya membiarkan Jaringan Alvauden terus terbuka tapi tidak pernah ikut merespon.


Pemerintah sepertinya menyembunyikan kejadian ini dengan baik karena berita masih tidak ada yang muncul setelah kejadian itu. Mertie yang mengawasi Kayle mengatakan bahwa Kayle akhir-akhir ini sedang sibuk bertemu dengan pengacara terkenal. Sebelumnya tidak ada pengacara yang bersedia membela para pelaku pembunuh lupa ingatan tapi saat ini bahkan pengacara yang memiliki nama besar bersedia membela. Sepertinya Kayle benar berguna dari yang dibayangkan.


Meski kini para wartawan sudah mencium bau rahasia yang disembunyikan. Begitupun Daisy yang sudah seperti anjing yang siap menggigit pemerintah yang tutup mulut itu. Tapi kejadian malam itu masih menjadi rahasia untuk saat ini. Seluruh penduduk Desa Kimber juga telah menandatangani surat persetujuan untuk menjaga kerahasiaan. Tapi meski begitu, tidak ada yang ingat secara detail kejadian malam itu.


Tidak menentunya lokasi dari target Iblis untuk melakukan kejahatan membuat Felix merasa cemas dan khawatir.


"Maka dari itu mengapa Caelvita butuh setidaknya satu orang Hyacifla untuk membantu meramal masa depan ...." kata Iriana.


"Kau sedang bercanda ... dimana aku bisa menemukan Hyacifla saat Viviandem belum dibangkitkan." kata Felix.


"Perlu diakui bahwa kau memang sangat terlambat membangkitkan Vivandem ... dan masalah juga datang bertubi-tubi tanpa menunggu kau dalam keadaan siap." kata Iriana.


"Aku tidak tahu apa maksud dari perkataanmu itu tapi yang jelasnya aku merasa tersinggung. Walau kau mungkin tidak berniat demikian ...." kata Felix.


"Maaf." kata Iriana singkat.


Felix berdiri dan mulai melompat dari atap rumah yang menjadi tempatnya selalu datang untuk memeriksa sesuatu akhir-akhir ini.


Felix juga tidak bisa menjadikan Verlin sebagai Hayciflanya karena kekuatan Verlin sudah tidak sama seperti dulu lagi saat masih hidup. Iriana yang sudah pernah menjadikan Verlin sebagai Hyacifla dan juga sebagai Secrevanques. Sangat tidak bijak memberinya beban baru lagi pada seseorang yang masih mengemban tugas seumur hidup dan tidak akan pernah pensiun dari gelar Secrevanques. Felix harus memilih Hyaycifla baru dan mau tidak mau Felix haruslah menunggu untuk itu.


"Aku juga harus memeriksa Iblis yang pergi ke bagian selatan itu ...." Felix mengeluarkan batu permata ruby dari saku celananya untuk dijual agar hasilnya bisa digunakan untuk biaya pesawat.


"Jangan langsung menjualnya sekaligus ... aku mengatakan ini karena pernah dituduh mencuri." kata Iriana.


"Kau hanya kurang lincah ...." kata Felix merendahkan.


"Memangnya bagaimana rencanamu?" tanya Iriana agak sedikit sebal dari nada bicaranya.


"Jangan samakan aku denganmu!" kata Felix sombong.


Felix tidak hanya ke satu toko tapi pergi ke banyak toko perhiasan untuk menjual batu permata ruby. Dengan memakai penyamaran agar tidak tertangkap kamera cctv dan tertangkap mata dari pembeli. Tidak ada sertifikat permata jadi harganya dibawah harga pasaran tapi tidak masalah bagi Felix karena dia punya banyak permata untuk dijual.


"Kau sendiri tahu bagaimana resikonya jika terungkap ada Viviandem yang hidup saat masih belum saatnya ...." kata Felix menghitung uangnya.


"Setidaknya kau beruntung karena memilikinya saat kau mengetahui identitasmu ... aku sendiri baru tahu penyebab ibuku bersikap aneh setelah mengetahui identitasku dan itu sudah terlambat karena dia sudah meninggal." kata Iriana.


"Dalam buku harian Ratu Sanguiber mengatakan bahwa ibumu itu terlalu berlebihan dalam melindungimu sehingga mengalami hal itu. Jadi kali ini dia akan berhati-hati ...." kata Felix.


"Hahh ... setidaknya itu bisa menjadi pembelajaran." kata Iriana pasrah mengakui kebenaran dari perkataan Felix walau menyebalkan.


"Dia harus hidup sampai waktunya tiba." kata Felix.


Felix tidak selamanya bisa menggunakan kartu Daisy jadi dia harus memikirkan hal lain selain menggunakan uang beasiswanya juga. Dengan mengambil batu permata di Mundebris, Felix bisa dengan bebas mengambilnya karena memang semua permata yang ada di Mundebris adalah miliknya. Sayangnya Caelvita tidak memiliki obsesi akan kekayaan sehingga hanya menggunakan uang secukupnya sesuai kebutuhan. Felix juga sering heran dengan dirinya sendiri yang tidak tergiur untuk melakukan sesuatu dengan itu. Tapi kata Iriana itu sudah tertanam di dalam diri setiap Caelvita.


***


"Akhirnya selesai juga ...." Tan membaringkan dirinya dengan masih memangku botol ramuan.


"Awas, tumpah!" teriak Tom langsung mengamankan botol itu.


"Ayo kita tes!" kata Teo.


Dikeluarkannya buku ramuan penyembuh tingkat menengah dan mengambil cairan ramuan yang berhasil dibuatnya dengan menggunakan pipet tetes. Diteteskan cairan ramuan penggemuk hewan sementara yang telah dibuatnya dengan susah payah itu. Tan, Teo dan Tom menatap buku dengan jarak sangat dekat dan tanpa berkedip sedikitpun.


"Apa sudah bisa dibuka?" Teo berusaha mengangkat sampul buku.


"Jangan dulu!" Tan memukul tangan Teo yang terlalu terburu-buru.


Sebuah tulisan mulai muncul, "Selamat membaca!" sontak langsung membuat Tan, Teo dan Tom bersorak senang. Bahkan tanaman dan hewan merasa perlu bertepuk tangan walau dengan canggung karena tidak tahu apa yang sedang dirayakan oleh mereka bertiga. Karena kebanyakan tanaman dan hewan hanya terus tidur tidak perduli apa yang dilakukan oleh mereka.


"Ayo kita coba!" Tom jadi penasaran dengan ramuan penggemuk itu karena buku mengatakan itu benar dan merasa perlu melihat hasilnya dengan mata sendiri.


Arah pandangan mata mereka tertuju pada Heather yang selalu mengikuti mereka setiap saat jika berada di Mundebris. Walau sering bersembunyi dan tidak menampakkan diri tapi Heather selalu ada mengawasi.


"A ... ak ... aku?" Heather tidak menyangka dipilih menjadi hewan percobaan mereka, "Tapi aku ini Unimaris!" Heather mencoba menolak.


Tan, Teo dan Tom mulai mengejar Heather. Heather yang merasa terancam langsung berniat terbang pergi tapi sebuah sulur tanaman meraih kaki Heather.


"Dasar, pengkhianat!" Heather memaki pohon yang membantu Tan, Teo dan Tom.


"Efeknya hanya sementara, tidak perlu khawatir!" kata Tan.


Heather secara terpaksa meminum ramuan penggemuk itu untuk menjawab Tiga Kembar yang dipenuhi oleh rasa penasaran itu.


"Tidak ada yang terjadi ...." kata Heather setelah meminum seteguk.


Tapi Tan, Teo dan Tom langsung tertawa lepas membuat Heather bingung. Heather mulai memeriksa seluruh tubuhnya yang ternyata perutnya kini sudah seperti slime yang mencair menyentuh kakinya, "Aaaaaaaaaaa!" Heather kaget bukan main, "Kembalikan! kembalikan tubuhku seperti semula!" bahkan Heather kini tidak bisa mengangkat kakinya apalagi untuk terbang. Sementara itu Tiga Kembar semakin tertawa dengan reaksi Heather yang lucu itu.


"Mereka terdengar bahagia sekali ...." kata Felix tersenyum bersandar di kursi pesawat yang sedang dinaikinya.


...-BERSAMBUNG-...