UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.248 - Jaringan Alvauden



Malam itu pertama kalinya bagi mereka bisa tidur senyenyak itu. Selama setahun lamanya semenjak kepergian Cain, mereka tidak pernah tidur secara benar sama sekali. Jadi wajar saat pagi mereka terlambat bangun.


Tan bangun langsung kaget setelah perlahan membuka mata melihat sinar matahari masuk melalui tirai jendela kamar yang masih tertutup, "Jam berapa sekarang?" teriak Tan membuat Teo dan Tom juga otomatis ikut terbangun.


"Jam 11.31 pagi!" jawab Felix melihat jam disamping kasurnya.


"Pagi katamu?!" Tan menarik bantal Felix karena sebal.


"Aw!" keluh Felix.


Tan bangun dengan menginjak kaki Felix, dia tahu kalau Felix pasti sudah bangun daritadi pagi tapi malah tidur lagi bukannya membangunkan mereka.


Teo dan Tom juga berlarian turun dari tangga, bahkan ada yang terdengar jatuh tapi Felix tidak peduli dan hanya kembali tidur.


"Jam berapa pesawat kita?" tanya Teo.


"12.30!" sahut Tom.


"Apa?!" Teo berlari menabrak pintu.


Felix yang sudah mendengar mereka semua keluar kamar, akhirnya bangun juga untuk bersiap-siap. Felix tidak punya tujuan besar seperti Tiga Kembar, hanya seperti biasanya yakni tujuan hariannya adalah mencari keberadaan Cain.


Tidak lama setelah Felix memakai baju terdengar ada yang berusaha melakukan komunikasi dengannya. Felix membuka tirai jendela melihat Tiga Kembar berlarian dengan tas ransel yang penuh. Tidak jelas terlihat wajah mereka dari kamar Felix.


"Kami pergi ya felix!" kata Tan menoleh sebentar.


"Iya, hati-hati!" kata Felix lewat pikiran dengan hanya menatap.


"Jaga dirimu selama kami tidak ada!" kata Teo melambaikan tangan.


"Aku yang seharusnya bilang begitu!" kata Felix dengan nada kesal.


"Aku tahu apa yang akan kau lakukan, semoga berhasil!" kata Tom tidak menoleh dan hanya terus berlari.


"Kau juga!" kata Felix.


Untungnya mereka sudah menyiapkan barang yang akan dibawa dan baju yang akan dipakai hari ini. Jadi mereka hanya tinggal mandi dan ganti baju saja kemudian langsung berangkat.


Felix tidak mengantar mereka sampai bandara. Melihat bagaimana kecepatan mereka, Felix tidak bisa ikut terburu-buru begitu. Perjalanan ke bandara juga hanya memakan waktu 10 menit menggunakan kereta bawah tanah yang langsung menuju bandara langsung. Kali ini benar terasa manfaatnya tinggal asrama dibanding tinggal di panti asuhan.


Perjalanan mereka akhirnya dimulai, dengan menggunakan jaringan komunikasi Felix yang sengaja dibuka selalu itu. Mereka terus mengobrol lewat pikiran. Butuh lama Felix melatih mereka untuk bisa menggunakan itu dan Felix juga harus selalu fokus, tidak boleh melamun yang bisa menyebabkan komunikasi juga akan tertutup.


Bagaimanapun juga komunikasi menggunakan handphone terbatas, bukan hanya karena harus membeli handphone masing-masing tapi juga karena sebab lain seperti jarak, biaya dan karena habisnya baterai. Semua itu dipertimbangkan jadi mereka mau tidak mau harus bisa menggunakan jalur pikiran yang dibuka oleh Felix itu.


Komunikasi yang hanya bisa digunakan oleh Alvauden yang Caelvitanya masih hidup. Komunikasi yang sangat bisa diandalkan untuk berkomunikasi tanpa harus didengar oleh orang lain ataupun untuk menyusun strategi hanya Alvauden dan Caelvita yang tahu. Semua itu berpusat pada Felix, Caelvitalah yang menjadi pusat dari komunikasi itu.


Latihannya juga bukan main, cara termudah untuk bisa berkomunikasi ke dalam pikiran Felix adalah dengan memfokuskan diri sendiri dahulu. Felix melatih mereka untuk bisa tersadar saat sedang bermimpi. Memfokuskan diri bahkan disaat sedang bermimpi adalah cara ampuh untuk melatih otak. Menyadari diri sedang bermimpi bukanlah hal mudah. Hanya seseorang yang pernah atau beberapa kali mengalami Lucid dream yang memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak pernah mengalaminya.


Intinya, cara terbaik untuk mengendalikan mimpi adalah menjadi pribadi yang semakin peka dan menaruh perhatian pada hal-hal detail di sekitar.


Dengan bisa memfokuskan diri meski sedang bermimpi ternyata membuat mereka mudah memfokuskan diri pada saat sedang sadar juga. Felix juga menggunakan metode ini bukan karena pengetahuan Mundebris tapi melakukan percobaan pada dirinya sendiri. Selama ini kekuatannya itu hanya bisa efektif jika digunakan di Mundebris tapi tidak di Mundclariss. Maka dari itu Felix mencoba cara itu ternyata bisa berguna juga dan kali ini diajarkan pada sahabatnya.


Menggunakan cara itu untuk membuat mereka bisa fokus agar bisa melakukan latihan tingkat lanjut yakni Felix meninggalkan sebuah umpan. Umpan yang digunakan itu adalah dengan membuka jalur komunikasi secara luas kemudian mereka harus bisa masuk sendiri. Jalur komunikasi itu juga hanya bisa dirasakan dan digunakan oleh Alvauden. Jadi mustahil dilakukan oleh Quiris lain atau manusia biasa kecuali Tiga Kembar.


Setelah bisa mengetuk masuk barulah mereka bisa melangkah ketingkat selanjutnya yakni mencari sendiri umpan yang dibuat Felix itu. Dengan cara Felix akan pergi ketempat yang tidak diketahui oleh mereka kemudian mereka harus mencari keberadaan Felix sendiri. Dengan Felix membuka jalur komunikasi itu, mereka bisa tahu kalau Felix sudah dekat. Saat itulah baru mereka coba untuk masuk sendiri.


Biasanya mereka hanya bisa berkomunikasi jika Felix yang memulai duluan tapi sekarang mereka bahkan bisa membuka komunikasi itu sendiri. Meski Felix harus juga fokus sebaik mungkin. Karena pikirannya adalah perantara jadi jika dia tidak fokus, komunikasi tidak akan terjadi juga. Jalur komunikasi itu dinamai Jaringan Alvauden.


Kali ini Felix harus bisa meluaskan jaringan komunikasinya itu. Karena Tiga Kembar cukup jauh darinya. Tapi saat ini Felix menyesal juga rasanya mengajari mereka. Setelah mereka bisa melakukannya sendiri, rasanya kepala Felix akan pecah mendengar mereka terus saja berbicara lewat pikiran. Bahkan saat sedang belajar di dalam kelas mereka terus mengobrol membuat Felix tidak bisa fokus dalam belajar.


Tan, Teo dan Tom melangkah turun dari pesawat meneguhkan hati bahwa harus bisa melakukan kontrak sebanyak mungkin selama liburan itu. Setidaknya sudah lumayan mendekati tempat mereka melakukan kontrak terakhir sebelumnya. Setelah keluar dari bandara, mereka juga langsung memanggil Gerbang Alvauden.


"Aku jadi penasaran bagaimana situasi Mundebris di sini ...." kata Tom melihat wilayah yang baru pertama kali dilihatnya terlebih lagi untuk masuk wilayah baru di Mundebris.


"Semoga tanaman dan hewan disini lebih ramah ...." kata Teo.


Tan masuk ke dalam gerbang dan disambut oleh pemandangan yang langsung membuat mulutnya menganga, "Apa yang harus kulakukan? mungkin aku akan menghabiskan waktuku disini saja ... bahkan tidak sempat melangkahkan kaki ...." kata Tan melihat banyaknya macam-macam tanaman bunga dalam satu tempat yang mengelilinginya, "Haha ... bisa gila aku!"


Teo dan Tom tertawa mendengar kata itu keluar dari mulut Tan. Tidak terbayangkan bagaimana banyaknya tapi setelah mendengar Tan berkata begitu mereka bisa menduga kalau lebih dari yang mereka bisa bayangkan. Untungnya Teo mendapat lapangan luas saja dengan rumput yang sudah melakukan kontrak menyambutnya. Sedangkan Tom mendapatkan hutan lebat yang dikelilingi pohon yang jenisnya juga sebagian besar sudah melakukan kontrak dengannya.


"Semangat, Tan!" kata Felix.


"Aku tidak sabar melihat jenis tanaman dan hewan jenis apa yang akan muncul di telapak tanganku ...." kata Teo jahil.


"Diam kau!" kata Tan sebal.


...-BERSAMBUNG-...