
Suasana perburuan harta karun yang sangat mirip dengan saat kelas tiga itu membuat mereka tertipu. Dari awal para guru sudah merencanakan akan memakai zombie dari dalam air untuk menakut-nakuti. Sehingga dibuatlah seakan-akan kalau akan ada sesuatu di dalam air seperti saat kelas tiga dulunya. Padahal semuanya sudah diatur untuk kejutan menarik dari para zombie.
Tan, Teo dan Tom yang terus mengandalkan Felix kalau sudah buntu dan malas berpikir membuat otak mereka menjadi tumpul. Mereka terlambat menyadari kalau semua petunjuk yang mereka miliki sudah sangat lebih dari cukup untuk membantu mereka menemukan harta karun tersebut.
Tom perlahan memanjat pohon dengan menggunakan bantuan tali. Pohon yang dipanjatnya berada tepat disamping air terjun berada sehingga pohon itu licin dan berlumut karena terus terkena air. Tom sendiri terus terkena air tapi untungnya sudah basah daritadi jadi tidak menjadi masalah lagi.
"Wah, hebat sekali Tom ...." kata Osvald kagum melihat Tom sangat berani memanjat pohon besar dan tinggi itu.
"Ini sih kecil bagi Tom ... akupun juga bisa kalau mau!" kata Teo.
"Siapa?! kau?! jangan bercanda!" kata Osvald tertawa tidak percaya.
"Wah ... kau meragukanku?!" kata Teo tersinggung.
"Kukira kalian dulunya takut ketinggian ...." kata Demelza mengingat-ingat, bagaimanapun Demelza sudah satu sekolah dengan mereka selama enam tahun.
"Itu cerita lama ... kau ini kan selalu update soal berita di sekolah, tapi tentang ini kau tidak tahu?! hahh ... mengecewakan! soal kejelekan kami saja kau perhatikan tapi soal perubahan dan kemajuan kami kau tidak tertarik sama sekali!" kata Teo.
"Cerita soal perkembangan dan pencapaianmu tidak menarik untuk diceritakan pada anak-anak. Kau tahu kenapa?! karena soal itu ... mereka tidak peduli! kelebihanmu tidak akan ada yang ingin tahu! orang lain hanya suka mendengar kekurangan saja agar bisa merasa lebih baik." kata Demelza.
"Makanya kau harus menghargai kami yang selalu menghargai pencapaianmu! hanya orang-orang yang benar peduli lah yang memberi perhatian pada apa yang kau capai. Kalau orang lain yang tidak peduli, pencapaianmu akan dianggap menyebalkan dan tidak ingin didengar." kata Tan.
"Dunia yang kejam!" kata Teo.
Tom sudah mulai tidak terlihat karena terhalang dedaunan dan juga karena gelap. Senter mereka tidak bisa terlalu menggapai keberadaan Tom lagi.
"Bagaimana? kau menemukan sesuatu?!" teriak Teo.
Tapi sayangnya tidak ada balasan, entah itu karena Tom tidak dengar karena suara air terjun yang keras atau memang sedang malas menjawab saja.
"Jangan diganggu, dia pasti kesulitan berada di atas sana mencari sendirian." kata Mertie.
"Apa perlu salah satu dari kita naik ke atas membantu?!" tanya Osvald.
"Kau saja!" sahut Teo.
"Hahh?! aku?!" Osvald panik.
"Bukankah yang bertanya biasanya yang akan mengajukan diri juga ...." kata Teo.
"Mana ada peraturan seperti itu?!" kata Osvald protes.
"Ya ... sudah biar aku naik juga!" kata Tan tertawa menepuk bahu Osvald yang terlihat sedang panik.
Tan baru mau meraih tali untuk ikut naik memanjat ke atas pohon tapi Tom sudah meluncur turun menggunakan tali itu. Tom langsung dikelilingi oleh mata yang sudah sangat penasaran daritadi.
"Jadi, kau menemukan sesuatu?!" tanya Teo.
"Bukankah sudah jelas, dia turun dengan tangan kosong!" kata Mertie.
"Bukan di atas sana." kata Tom.
"Lalu dimana?!" tanya Demelza sudah tidak sabar.
"Jadi, hanya petunjuk lain juga ... kukira harta karunnya sudah ada di atas." kata Demelza kesal.
"Kesabaran adalah hal yang harus dimiliki oleh pemburu harta karun. Mencari harta karun bukan hanya butuh kecerdasan tapi juga kesabaran. Memburu harta karun bukanlah sesuatu yang mudah dan gampang dilakukan, apalagi sebentar ... kita memang harus sengaja meluangkan banyak waktu untuk itu." kata Tan.
"Maksudmu di atas air terjun yang bisa membunuh kita itu?!" kata Osvald sudah mulai menyerah padahal belum mencoba sama sekali.
"Iya, aku sudah melihat sekeliling dengan teropong tapi hanya di atas sana yang terlihat ada sesuatu yang bersinar. Seperti sebuah tanda yang sengaja ditaruh agar mudah dilihat dari teropong saat malam." kata Tom.
"Berarti belum jelas juga ...." kata Mertie.
"Untuk lebih jelasnya harus kita periksa sendiri." kata Tan.
Dengan pakaian basah dan angin malam yang dingin, mereka mendaki ke atas puncak air terjun.
"Sepertinya tidak lama lagi aku akan membeku ...." kata Teo.
"Tidak sedingin itu kok ...." kata Osvald.
"Apa?! aku tidak salah dengar?! memangnya kulitmu terbuat dari baja sehingga tidak merasakan dingin ... tidak masuk akal kau bilang tidak dingin!" kata Teo mengomel.
"Aku juga tidak tahu ... akhir-akhir ini aku jadi seperti kebal dengan cuaca dingin." kata Osvald.
"Jangan bercanda?!" kata Teo.
"Itu karena efek dari Dunia Zewhit Kurcaci ... walau mereka lupa tapi semua hal yang terjadi seperti sudah tertanam di dalam kepala mereka. Bukankah sudah kukatakan kalau kedua Zewhit itu istimewa ... mereka bukan sekedar menakuti saja tapi melatih target mereka juga agar bisa bertahan dengan hal buruk yang pernah menimpa Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci. Para Zewhit itu memang menyiksa mereka berdua tapi itu juga demi kebaikan mereka berdua. Supaya mereka tidak berakhir bernasib sama dengan Zewhit Badut dan Zewhit Kurcaci. Osvald yang selama tujuh malam sudah dilatih merasakan dinginnya salju, dingin seperti saat ini hanya hal biasa baginya." kata Felix lewat Jaringan Alvauden.
"Ternyata ada juga manfaatnya setelah melewati malam panjang yang penuh penderitaan itu ... mereka bisa beradaptasi dengan dunia nyata dengan baik." kata Tan.
"Demelza juga kudengar jadi sering pulang ke rumahnya akhir-akhir ini ... apa itu karena hal yang sama juga?!" kata Tom.
"Tentu saja, Demelza yang membenci rumahnya itu ... saat berada di Dunia Zewhit, dia akhirnya tersadarkan oleh Zewhit Badut kalau sebenci apapun pada rumah ... rumah adalah rumah ... tempat untuk kembali. Hal itu sudah tertanam di alam bawah sadarnya." kata Felix.
"Semua penderitaan yang mereka alami berbuah manis kini. Meski menjadi target adalah hal buruk, tapi itu membuat mereka bisa kuat bertahan dalam menjalani hidup. Meski mereka tidak ingat, tapi semuanya sudah tertanam dialam bawah sadar mereka." kata Tan.
"Ada bagusnya juga kita membentuk tim Dunia Zewhit ini, kita bisa memantau perubahan mereka berdua ...." kata Tom.
Tan, Teo, Tom, Mertie, Osvald dan Demelza telah sampai di puncak air terjun.
"Ternyata memang benar ada ...." kata Tan menyenteri.
"Sudah kuduga tidak akan semudah ini ...." kata Teo menghela napas setelah melihat tujuan utamanya sangat sulit untuk digapai.
"Berbahaya begini ... bagaimana mungkin guru melakukan ini?!" kata Demelza protes.
"Kalian tahu kan, apa inti dari perburuan harta karun saat kelas tiga?!" tanya Tom.
"Kerja sama!" sahut Tan dan Teo kompak.
"Kita bisa mendapatkan itu kalau bekerja sama." kata Tom.
...-BERSAMBUNG-...