
Dengan Felix yang menyembunyikan dan benar-benar tidak ada niatan untuk memberitahu, bisa dipastikan bahwa alasannya adalah untuk melindungi. Entah itu melindungi dalam hal apa tapi firasat mereka berempat hanya bisa menebak bahwa Felix ingin agar mereka bisa tetap menjalani hidup normal. Tidak seperti Cain yang memang bukan manusia biasa, mau tidak mau memang takdirnya untuk terlepas dari kehidupan normal.
"Kalian tidak tahu saja saat gelang yang menahan kekuatanku hancur ... tidak ... kalian pasti sudah melihat kami sering bertengkar kan? alasannya ya itu ... Felix sudah tahu bahwa aku mempunya gelang yang menyegel kekuatanku tapi tidak pernah memberitahuku. Aku yang marah karena tidak diberitahu ... Felix yang marah karena aku mengetahui sesuatu yang membuat masa kehidupan normalku berakhir. Menurutku Felix takut kalian juga ikut begitu ...." kata Cain.
"Sudah cukup kau yang terseret ... begitu?" tanya Tan.
"Tapi menurutku tidak sesederhana itu alasannya!" kata Teo.
"Menurutku juga begitu!" kata Tom.
Cain dan Tan baru kali ini merasa tertinggal dengan Teo dan Tom yang sepertinya mengetahui sesuatu lebih dari mereka.
"Seperti yang dikatakan Cain bahwa sebelum Felix mengetahui bahwa Cain itu Setengah Viviandem, Felix terus menyembunyikan dan tetap membiarkan Cain terus mendampinginya dan ikut mengetahui rahasia Felix. Tapi Felix baru marah saat gelang yang menyegel kekuatan Cain itu hancur ...." kata Teo.
"Ya! itu tandanya ... tidak ada masalah memberitahu kami kan? lagipula kami tidak seperti Cain yang punya kekuatan spesial. Kami hanya manusia biasa, apa yang membuat Felix berubah pikiran?" sambung Tom.
"Baru kali ini kalian berdua bicara ada benarnya juga!" kata Tan mengejek.
Cain memikirkan perkataan Teo dan Tom yang benar harus dipertimbangkan, "Apa yang membuat Felix sampai berubah pikiran dan merahasiakannya?!"
***
Hari kedua Felix dirawat di Klinik Dokter Mari dan masih belum sadarkan diri juga. Dokter Mari membuat surat keterangan sakit untuk Felix. Untuk masalah sekolah sudah terselesaikan tapi mereka saling bekerja sama untuk tidak memberitahu siapapun tentang keadaan Felix itu. Dokter Mari yang memberitahu bahwa jika ada yang perlu dikatakan agar menghubunginya saja untuk menghindari Bu Corliss tahu jika Felix sedang terluka. Cain dan Tiga Kembar yang tidak pernah pulang ke panti agar tidak diketahui bahwa Felix sedang tidak bisa ke sekolah.
"Apa Felix lama baru akan sadar?" tanya Teo.
"Waktu itu kan, enam hari baru sadarkan diri ...." Tom juga ikut khawatir.
"Biasanya memulihkan kekuatan dan memulihkan luka itu berbeda. Kalau habis melakukan sesuatu yang menguras kekuatan seperti saat menyelamatkan pesawat yang jatuh itu ... akan butuh waktu lama agar bisa sadar. Tapi hanya memulihkan luka, biasanya tidak akan selama itu! dan saat itu Felix tidak menggunakan kekuatannya sama sekali ...." jawab Dokter Mari.
Lagi-lagi Tan, Teo dan Tom merasa takjub dengan Felix yang ternyata pernah menyelamatkan dalam skala besar begitu. Mereka begitu kagum karena Felix bukannya ingin menyombongkan dengan pamer kekuatan pada mereka tapi malah menyembunyikannya.
"Aku jadi meragukan diriku sendiri ... apa benar aku sudah mengenal Felix dengan baik?!" kata Tan.
"Tapi ada apa dengan Dokter Mari dan Cain? seperti sedang marahan atau hanya perasaanku saja?" kata Teo menyadari ada kecanggungan diantara mereka berdua.
Cain hanya diam dan tidak berniat menceritakan perbuatan Dokter Mari yang seperti aib baginya itu.
***
Hari ketiga, Dea yang mengetahui bahwa Felix sakit dari surat keterangan sakit yang dibawa oleh Cain, Tan, Teo dan Tom membuat Dea datang ke panti dan menanyakan keadaan Felix dan berniat menjenguk Felix.
"Halo?" Dokter Mari menjawab telepon Bu Corliss.
"Apa kau menyembunyikan bahwa Felix sedang sakit Marissa?!" kata Bu Corliss yang membuat panik Cain dan Tiga Kembar yang ikut mendengarkan.
"Bagaimana Ibu bisa tahu?!" bisik Teo pada yang lain.
"Maaf, Liss! sebenarnya Felix memang sakit dan sedang kurawat di klinik! tapi tidak perlu dikhawatirkan karena tidak parah kok lagipula Felix tidak ingin ada yang mengkhawatirkannya!" kata Dokter Mari mau tidak mau harus menjawab walau harus dengan kebohongan.
"Apa-apaan kau menyembunyikan bahwa Felix sedang sakit! lagipula kau itu ibaratkan hanya ibu kedua atau ketiganya! akulah ibu pertamanya ... dan tidak tahu apa-apa saat Felix sedang sakit?! jadi empat anak itu ikut rahasia-rahasian juga? awas saja mereka!" Bu Corliss kesal.
Cain dan Tiga Kembar yang mendengar itu langsung berniat pergi dari klinik agar tidak kena marah Bu Corliss.
"Kalau saja tidak ada teman Felix yang datang pasti aku tidak akan tahu apa-apa bahkan setelah Felix sembuh ... aku tidak akan tahu jika dia pernah sakit! untung saja ada Dea ... aku akan kesana sekarang bersamanya!" kata Bu Corliss yang akhirnya mengungkap siapa yang menghancurkan rencana mereka.
"Aku lupa ada anak itu!" Cain memukul kepalanya karena tidak memikirkan secara menyeluruh dan akhirnya melakukan kesalahan.
Bu Corliss menutup telepon dan segera akan ke klinik menjenguk Felix. Tapi Felix yang belum juga sadar membuat mereka panik. Jika Bu Corliss tahu Felix terluka parah akan membuat masalah makin runyam. Bisa membuat Felix dibawa ke Rumah Sakit besar dan diperiksa. Padahal saat ini banyak hal pada Felix yang tidak bisa dijelaskan dengan sains. Felix tidak bisa dibawa ke Rumah Sakit lagi karena jika saja darahnya diperiksa bisa membuat heboh rumah sakit. Belum lagi hal lain yang tidak diketahui, bisa jadi fisiologi tubuh Felix ada yang berbeda dari manusia. Lebih banyak alasan untuk memang menyembunyikan kenyataan bahwa Felix sakit tapi karena Dea semuanya terbongkar.
"Jadi bagaimana? kalian akan tetap disini?" tanya Dokter Mari.
"Lagipula Ibu juga sudah tahu kalau kami tahu! rasanya tidak perlu menghindar lagi ...." kata Tan pasrah jika kena marah.
"Bagaimana ini? apa Dokter bilang saja kalau memberi Felix obat penenang makanya sedang tidak sadarkan diri?" kata Teo panik.
"Bahaya jika ibu melihat perban luka Felix!" kata Tom.
"Kalau hal itu kan bisa disembunyikan dengan memakaikan Felix baju yang bisa menutupi luka itu ...." kata Cain.
"Tinggal kalian yang harus berperilaku normal dan harus terlihat tidak mencurigakan bahwa sedang mengkhawatirkan Felix!" kata Dokter Mari.
"Baiklah! ayo kita bersiap!" kata Teo terlihat bersemangat.
Mereka akhirnya menyetel ruangan Felix yang terlihat suram itu menjadi cerah dengan diubah suasana kamar menjadi tempat bermain mereka. Felix juga tidak terlalu diperlihatkan bahwa sedang sakit parah dan hanya terlihat sedang beristirahat. Sedangkan Cain dan Tiga Kembar membuat kamar itu berantakan dengan sengaja. Banyak mainan berserakan dan remah-remah cemilan yang sengaja juga dijatuhkan.
Bu Corliss yang datang melihat itu langsung marah-marah, "Kalian ini! saudara kalian sedang sakit tapi malah bersenang-senang begini! cepat bereskan!" Bu Corliss yang melihat Felix seperti sedang tidur tidak terlalu khawatir.
Padahal mereka yang baru saja membuat berantakan, kini harus membersihkannya lagi. Teo dan Tom jelas memperlihatkan wajah kesal saat Dea datang.
...-BERSAMBUNG-...