
Felix menyerahkan sebuah gelang pada Mertie. Seperti Iriana yang membuat sebuah gelang yang diberikan melalui Nenek Alviani, kini Felix mengikuti ide itu dengan memasukkan helaian rambutnya di dalam sebuah gelang yang ia buat sendiri. Felix sebenarnya membuat banyak gelang akhir-akhir ini untuk diberikan pada semua yang ada di panti tapi tidak pernah ia duga akan memberi Mertie juga. Felix takut terjadi sesuatu dengan Mertie dengan roh Ted yang kini tidak diketahui apa yang bisa dilakukannya.
"Kalian tidak turun?" tanya Teo saat melihat Felix dan Cain masih duduk dalam bus.
"Ada yang perlu kami ambil di panti!" jawab Cain dengan menggunakan isyarat tangan pada mereka bertiga agar cepat turun.
"Kalian tidak akan menginap disana kan?" tanya Tan.
"Tidak ... jangan khawatir! hahh ... kalian ini baru begini saja sudah merindukan kami ...." kata Cain menggoda.
"Rindu? malah kami akan senang! tempat tidur jadi luas tahu!" sahut Tom mulai mendorong Teo dan Tan turun. Felix tersenyum mendengar itu.
Sesampai mereka berdua di halte bus dan kemudian harus berjalan kaki lagi agar bisa sampai ke panti tapi dengan gelap-gelapan. Cain memanggil Goldwin, "Baru juga beberapa menit!" teriak Goldwin sebal.
"Gelap! kami berdua tidak ada yang membawa senter!" balas Cain.
"Hahh ... akan aku bawakan Stelumina, tunggu sebentar!" kata Goldwin.
Tak lama kemudian Goldwin kembali dengan membawa kotak tembus pandang dengan tiga serangga yang sedang tertidur sambil berbaring di ayunan masing-masing, "Bangun!" Goldwin sambil mengetuk-ngetuk kotak itu.
Ketiga serangga itu terlihat menguap dan masih sangat mengantuk dengan mata dipaksa terbuka, "Eh ... Mundclariss!" kata serangga yang kini mulai mengeluarkan sinar berwarna putih.
"Aura ini!" kata serangga yang mengeluarkan sinar berwarna kuning.
"Tuan Muda Caelvita!" mata serangga yang mengeluarkan sinar berwarna jingga itu jadi terlihat segar.
"Karena begitu dekat dengan Caelvita, akhirnya ... sudah lama sekali aku tidak melihat kalian mengeluarkan sinar yang sangat terang begini ...." kata Goldwin.
"Tampan sekali Tuan Muda ...." kata serangga yang bersinar putih itu dengan mata berkaca-kaca.
"Akhirnya ... Caelvita laki-laki!" kata serangga yang bersinar kuning sambil cekikikan dan saling berpelukan dengan serangga yang berwarna jingga.
"Nanti aku kasi gaji lebih, sekarang temani dulu Tuan Muda ini ... nanti aku jemput!" kata Goldwin memberikan kotak itu pada Cain.
"Gaji? ey hey ... tidak perlu!" kata serangga bersinar jingga.
Goldwin hanya menyipitkan matanya dan memasang wajah sebal sambil perlahan menghilang.
"Kalian digaji apa?" tanya Felix.
"Koin Mundebris tapi kalau Goldwin dibayar dengan emas Leaure, Tuan Muda!" jawab serangga bersinar putih.
"Mau kalau koin emerald? nanti aku yang bayar!" kata Felix.
"Ey ... kalau Tuan Muda mah gratis!" sahut serangga bersinar kuning.
"Stelumina? kalau di Mundclariss kalian kunang-kunang ya? tapi bentuk kalian berbeda sekali sih ...." kata Cain yang memperhatikan kepala mereka yang berbentuk bintang itu.
Stelumina itu mengangguk sambil cahaya mereka dikedip-kedipkan. Perjalanan Felix dan Cain jadi tidak sepi karena Stelumina yang tidak berhenti mengajak bercerita tapi jalanan juga terlihat sangat terang berkat mereka.
"Kita hampir sampai!" kata Felix kemudian melihat Stelumina.
"Tuan Muda simpan saja kotak ini, kami bisa pulang sendiri kok!"
"Tapi katanya Goldwin yang akan menjemput ...." kata Cain.
"Goldwin akhir-akhir ini sibuk sekali ... kalau diganggu bisa-bisa kami dipecat!" sahut Stelumina jingga.
"Iya ... kami juga sering lembur karena dia banyak membaca buku!" tambah Stelumina putih yang mulai menguap.
"Dia bekerja keras sekali! aku tidak tahu ...." kata Cain dalam hati.
Stelumina itu kemudian mulai menghilang dengan ceria melambaikan tangan dan meninggalkan kotak menjadi kosong.
"Felix! Cain!" kata Pak Satpam yang menyenteri wajah mereka berdua.
Cain yang masih mengobrol dengan Pak Satpam sedangkan Felix teralihkan oleh anak laki-laki yang terlihat mengintip dari balik pintu masuk. Felix mulai menghampiri, "Menunggu siapa?" tanya Felix.
"Tidak menunggu siapa-siapa!" jawab anak laki-laki itu mulai berlari.
"Iya ... adik Idalina! korban Ted!" jawab Cain, "Dia sepertinya sudah menyadari! tambahnya.
"Kalian sudah makan malam?" tanya Luna yang tiba-tiba lewat.
"Belum kak!" jawab Cain.
"Kalau begitu, ganti baju! biar kakak siapkan makanan untuk kalian!" kata Luna.
"Kami tidak akan menginap disini kak, cuma mau mengambil sesuatu lalu kembali ke Rumah Bu Daisy!" kata Cain.
"Kalau begitu kita barengan saja, kebetulan kakak juga akan ke kota. Langsung saja ke ruang makan kalau begitu, kakak siapkan makanan."
***
Setelah Felix memberi gelang yang dibuatnya pada Dokter Mari untuk dibagikan pada semua penghuni panti termasuk petugas panti. Langsung saja mereka berangkat kembali ke halte bus. Cain yang masih tidak ingin berbicara dengan Dokter Mari hanya menemani Felix saja.
"Kakak dapat pekerjaan?" tanya Felix tiba-tiba.
"Em!" sahut Luna dengan anggukan.
"Dimana? siapa tahu nanti bisa ke tempat kerja Kak Luna!" kata Cain.
"Hem ... sepertinya tidak bisa! tempat kerja kakak bukan di tempat fasilitas kesehatan lagi karena lisensi kakak dicabut."
"Jadi dimana?" tanya Felix.
"Sebagai perawat pribadi di rumah orang kaya hehe ... mereka tidak memperhatikan soal lisensi tapi berdasarkan keahlian dan gajinya juga lebih tinggi. Kakak termasuk beruntung bisa mendapat pekerjaan ini. Mungkin tidak lama lagi kakak bisa menyewa apartemen lagi."
"Yah ... padahal masakan Kak Luna yang paling kami suka!" kata Cain cemberut.
"Tiap akhir pekan juga akan kesini kok!" sahut Luna.
"Tapi Kak Luna kelihatan tidak seperti biasanya ...." kata Cain mulai memerhatikan Luna.
"Memangnya biasanya bagaimana?" tanya Luna.
"Biasanya ceria, suka marah-marah, bercanda, sekarang ...." kata Cain membuat Luna mengalihkan pandangan.
"Sebenarnya kalau tidak terpaksa sih kakak lebih suka membantu di panti saja dibanding harus bekerja tapi tidak enak juga terus menumpang tinggal di panti jadi mau tidak mau harus bekerja dan dunia pekerjaan itu sangatlah menyebalkan ... nikmati masa sekolah kalian kalau sudah bekerja kalian akan merindukan masa saat sekolah dulu."
"Padahal kami malah ingin cepat naik kelas, naik tingkat, lulus dan bisa langsung bekerja!" kata Cain.
"Mungkin kalian berpikir kalau sekolah itu susah tapi setelah memasuki dunia pekerjaan kalian akan sadar kalau masa sekolah adalah masa yang paling indah."
"Kak Luna tidak berniat untuk lanjut kuliah lagi?" tanya Felix.
Cain melihat Felix yang biasanya tidak sepenasaran ini dengan seseorang dan biasanya juga bersikap dingin dengan Luna.
"Untuk menyewa apartemen kecil saja masih perlu uang banyak, nanti kalau sudah banyak tabungan yang terkumpul baru deh lanjut kuliah lagi ... kakak juga bosan dengan gelar diploma saja hehe ...."
"Awas kak!" teriak Felix berusaha menarik Luna yang akan menyeberang jalan ke halte bus tapi ada motor yang datang dengan kecepatan tinggi.
Felix dan Cain tidak berhasil menarik Luna tapi untungnya Luna terlihat baik-baik saja dan berhasil menghindari motor itu tapi berkat didorong oleh seseorang.
"Siapa kamu?" tanya Felix pada orang yang mendorong Luna itu.
"Siapa?" tanya Luna mulai berdiri membersihkan pakaiannya.
Orang yang ditanya itu langsung menghilang.
"Hantu?" tanya Cain dalam hati.
"Kenapa dia menolong Kak Luna? siapa dia?" tanya Felix.
...-BERSAMBUNG-...