UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.458 - Tidak Ada Yang Boleh Dikecualikan



Acara Perkemahan untuk kelas 3 SD telah berakhir bersamaan juga dengan Pelatihan Persiapan Memasuki Osis. Semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala atau gangguan. Meski begitu Mertie tetap saja khawatir dan selalu mengganggu Felix. Tapi Felix hanya mengabaikan, sementara Tiga Kembar sedang tidak bisa dihubungi.


Bahkan saat sudah di dalam bus menuju perjalanan pulang, Mertie masih tetap gelisah. Sepertinya Mertie baru bisa lega kalau bus sudah sampai di sekolah.


"Jadi, beginilah besarnya sebuah tanggung jawab ...." kata Mertie dalam hati terus khawatir dengan semua murid, guru dan anggota timnya. Menjadi ketua, membuat Mertie seperti bertanggung jawab penuh dengan nyawa mereka semua. Padahal sebagai ketua, Mertie hanya perlu membuat pelatihan itu berjalan lancar sesuai dengan jadwal. Tapi, Mertie lebih memikirkan keselamatan mereka.


Felix sudah lelah berpura-pura mengejar Teo untuk dikerjai, akhirnya seperti dia sedang mengerjai dirinya sendiri juga. Felix dan Tiga Kembar berjalan menuju jalan besar untuk menemukan kendaraan yang bisa dipakai untuk kembali ke sekolah.


"Apa kita pakai jalur Mundebris saja ...." Teo sudah tidak kuat jalan dan lebih memilih untuk naik kuda saja walau harus melewatkan banyak waktu.


"Tidak ... kau pikir sekolah dekat darisini. Walau menggunakan kuda, kita akan melewatkan banyak waktu. Dan ... kita sudah membuang banyak waktu ...." kata Tom.


"Benar yang dikatakan Tom, jadi lebih baik kita memakai cara normal saja sekaligus bisa istirahat juga." kata Tan.


"Apa kita akan menaiki lagi mobil dari Carlton Group secara kebetulan ...." kata Teo mengundang tawa.


"Tidak mungkin hal yang sama terulang kembali." kata Tom.


"Iya, saat itu ... kita memang hanya ditakdirkan untuk melihat itu terjadi saja." kata Tan.


FT3 sampai di pom bensin yang menjadi satu-satunya bangunan di jalan panjang itu. Sejauh mata memandang hanya ada pepohonan tanpa ada pemukiman warga. Setelah beberapa saat ada sebuah mobil berhenti untuk mengisi bensin.


"Wah, kita beruntung ...." kata Tom sudah bersiap menaiki mobil sebagai penumpang tak terlihat.


Tapi Teo langsung tertawa karena ternyata banyak barang bawaan di atas mobil pick up itu yakni banyak kurungan dengan ular masing-masing di dalamnya, "Sudah kuduga saat kau mengatakan kita beruntung pasti akan begini akhirnya ...." kata Teo masih tertawa.


"Kita memang tidak pernah beruntung, ada mobil yang cepat datang kukira karena keberuntungan tapi ternyata ada sesuatu dibaliknya. Sudah kuduga ... kita tidak pernah melalui hal secara mulus." kata Tan.


"Sudah, jangan mengeluh! ayo naik saja! atau kalian lebih memilih berjalan kaki?!" kata Felix sudah naik dan menyingkirkan barang-barang disana untuk ada tempat mereka duduki.


Tan, Teo dan Tom yang memang terkenal sangat penakut soal hewan melatah. Meski sudah menjadi Alvauden dan melalui banyak hal, tetap saja mereka masih memiliki ketakutan yang sama. Setidaknya Tom bisa memberanikan dirinya lebih dari kedua saudaranya saat ini. Tan hanya memaksakan diri saja dengan menutup mata sambil duduk diantara banyak ular. Sementara Teo masih belum naik juga.


"Ayo cepat! sebelum mobil jalan lagi ...." kata Felix mengulurkan tangannya.


"Aku ... lebih memilih jalan saja." kata Teo dengan wajah pucat masih terus memandangi ular yang tidak berhenti menggeliat di dalam kurungannya.


"Sepertinya yang punya mobil ini pemburu ular ya?!" kata Tan berbicara untuk mengurangi rasa takutnya tapi tetap dengan mata tertutup atau dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Tom sudah menahan dirinya untuk tidak emosi karena Teo masih saja keras kepala menolak untuk naik mobil itu.


"Cepat, atau kau kuseret naik!" Felix sudah mengancam.


"Aku bilang aku jalan kaki saja!" Teo sudah mau melangkah menjauh dari mobil itu.


Felix melirik Tom yang sepertinya sudah emosi karena daritadi menahan emosi. Tapi ternyata Tan lebih emosi lagi daripada Tom, "Ya sudah! kalau begitu jangan naik! jalan kaki saja sana pengecut!" teriak Tan.


Felix dan Tom kaget mendengar Tan berteriak seperti itu. Seorang Tan yang dikenal sangat dewasa, ternyata berubah juga jika berhadapan dengan yang ditakutinya. Teo yang belum pernah dikatai seperti itu oleh Tan terkejut. Seperti terhipnotis, Teo dengan suka rela naik ke atas mobil juga.


"Mereka tidak bisa melihat kita ...." kata Tom yang sebenarnya sedang meyakinkan dirinya sendiri.


"Kalian harus memberanikan diri! sebagai seseorang yang ingin menjadi Nusfordis Sapphire seharunya tidak takut dengan hewan apapun." kata Felix saat sampai di jalan besar tapi Tiga Kembar langsung melompat turun seperti berlomba, "Kalian kan sudah melawan ratusan ular saat di Desa Quinlan, kenapa masih saja takut begini ...." Felix terus mengajak bicara tiga orang yang biasanya cerewet itu karena tiba-tiba jadi pendiam. Sebaliknya Felix jadi yang terus berbicara.


"Kau tidak mengerti Felix ...." kata Teo dalam hati.


Tan dan Tom juga hanya terus diam saat di perjalanan.


Felix rencananya ingin melepaskan semua ular yang terkurung saat akan turun dari mobil tapi setelah membaca pikiran sopir, Felix mengurungkan niatnya. Ular-ular itu akan dijual ke kebun binatang sedangkan jika dilepas ditengah-tengah kota bisa membahayakan ular-ular itu. Di kebun binatang mereka bisa dirawat dan diberi makan tapi jika dilepas di tengah kota, kabar buruknya kalau bertemu manusia, bisa merasa terancam dan pasti ular itu akan dilukai.


***


"Kau benar tidak mengerti atau apa?! tapi sudah jelas sih ... kau tidak mengerti karena kau tidak berperasaan sama sekali." kata Iriana.


"Kau mengajak berkelahi?!" balas Felix.


"Mereka takut pada hewan melatah tapi harus melawan dan membunuh karena terpaksa hanya bermodalkan kenekatan. Menurutku, rasa takut itu sudah bercampur menjadi rasa bersalah. Terkadang, rasa takut itu sebenarnya rasa peduli juga untuk saling menjaga jarak dan tidak melukai satu sama lain." kata Iriana.


"Aku tidak ingin mereka menjadi Alvauden yang penakut seperti ini!" kata Felix.


"Kau benar-benar tidak punya perasaan sama sekali ya?!" kata Iriana, "Tapi ... sebenarnya tidak begitu! Felix memberi mereka waktu untuk membiasakan diri dan memberanikan diri. Tanpa memaksa ... menurutku Felix lebih baik dari yang kubayangkan." kata Iriana yang tidak diperdengarkan oleh Felix.


Butuh beberapa kali transit untuk bisa menaiki bus yang menuju arah sekolah. Terlihat mereka semua sangat kelelahan sehingga melewatkan perhentian bus mereka karena ketiduran. Terpaksa mereka harus berjalan kaki lagi untuk kembali ke sekolah.


"Apa kita kena karma Mertie ya?!" Teo merasa ada yang salah dengannya hari ini, semuanya tidak ada yang beres.


"Memangnya kita salah apa?!" Tom menolak untuk setuju.


Karena kelelahan, Tiga Kembar muncul dan menghilang saat menaiki tangga akibat tidak fokus menjaga khasiat ramuan yang harus dilakukan secara sadar tanpa melamun.


Sedangkan Felix tidak kembali ke asrama melainkan masih berada di depan pagar sekolah seperti menunggu seseorang, "Banks kemana tidak pernah datang melapor ...." Felix khawatir tapi Felix tahu kalau Banks sepenuhnya bisa menjaga dirinya sendiri, "Iya, Banks bukan seseorang yang perlu dikhawatirkan." Felix akhirnya meninggalkan gerbang dan ikut masuk ke dalam sekolah.


(Sementara itu di Rumah Banks)


"Aku akan memanggil Tuan Muda Felix!" kata Goldwin terlihat panik melihat luka Banks yang sangat parah.


"Tidak! Yang Mulia belum boleh tahu soal ini!" kata Banks memegang erat surai Goldwin untuk ditahan agar tidak pergi.


"Apa yang terjadi?!" Cain datang seperti mendobrak pintu.


"Oh, kau datang ... cepat bantu aku!" Goldwin kesulitan mengambil ramuan.


"Luka ini?! kau dapatkan dimana?!" Cain terlihat gemetaran menuangkan ramuan.


"Dari seseorang yang membuat lubang di tengah kota." kata Banks.


...-BERSAMBUNG-...