
Felix dan Cain tiba di sekolah dengan bus terakhir yang beroperasi dari Panti asuhan Arbor. Sekolah terlihat ramai dibanding saat mereka berdua saat pelatihan minggu lalu. Saat ini begitu banyak keamanan menjaga sekolah. Pak Acton kelihatan sedang berbincang dengan keamanan yang disewa dari pihak sekolah.
"Pak Acton kelihatan senang sekali ada temannya ...." kata Cain.
"Selama ini kan hanya sendiri terus-menerus menjaga gerbang!" kata Felix.
Cain terlihat hanya terus memandang Pak Acton yang berbadan besar dibanding keamanan yang berdiri berbicara dihadapannya itu, "Tapi, biar bagaimanapun ... Pak Acton lebih menakutkan! maksudku terlihat sangat bisa diandalkan begitu ...."
"Kau ini! cepat buka gerbang ke Mundebris!" Felix kesal karena Cain asyik membicarakan hal tidak penting.
"Sebisa mungkin, kau tidak boleh menggunakan kekuatanmu ... jaga-jaga kalau gagal, mereka harus mengira bukan Caelvita yang terlibat dalam misi Penyelamatan ini ...." kata Cain.
"Makanya lakukan yang terbaik! agar aku tidak perlu membantu ...." kata Felix yang membuat Cain menghela napas panjang karena tidak dipercayai.
"Tapi, Goldwin mana ya? daritadi aku memanggilnya tidak datang-datang juga ...." kata Cain.
"Dia akan datang nanti!" kata Felix.
Keluar dari lorong panjang gerbang Leaure, Cain langsung membuat garis pelindung agar tidak terlihat.
"Kita sudah kesini tapi tidak melihat apapun!" kata Cain.
"Aku mungkin tidak akan mempercayai jika orang lain yang memberitahu tapi kau yang mengatakannya sendiri!" kata Felix.
"Kapan aku bilang?!" Cain bingung, "Ah ... aku dari masa depan? tapi dimana? apa kita perlu masuk ke kastil mencari ... tapi firasatku tidak baik ...."
"Bukan saatnya takut karena firasat ... kita harus menyelamatkan Gina!" kata Felix.
"Kalau begitu, kau tinggal disini saja ... biar aku yang masuk!" kata Cain.
"Kau ingin berlagak sok jadi pahlawan?!" kata Felix.
"Jika terjadi sesuatu denganku kan kau bisa datang menyelamatkanku ...." kata Cain tersenyum.
"Kau pikir kau itu punya dua nyawa? huh?! kau itu ibaratkan barang habis pakai! jangan sok berani ...." kata Felix jengkel.
"Habis pakai?" Cain tidak punya waktu untuk merasa tersinggung, "Bukannya sok pemberani tapi aku mempercayaimu! bukankah hal utama yang menjadi fokus kita adalah menyelamatkan Gina terlebih dahulu?!" balas Cain.
"Kau tahu kenapa kau selalu kalah kalau bermain catur denganku?!" kata Felix, "Kau itu hanya terus bermain bertahan dan melindungi prajuritmu dan takut membuatnya maju menyerang sedangkan aku berbeda. Aku sebisa mungkin terus menyerang!" lanjut Felix.
"Jangan salah! aku hanya membiarkanmu menang saja!" kata Cain berusaha mengelak tuduhan Felix itu.
"Karakter seseorang bisa dinilai dari permainan catur. Dan yang menang adalah yang agresif dibanding denganmu yang pasif ...." kata Felix.
"Maaf ya tapi biasanya yang agresif dalam bermain catur itu adalah usia muda sedangkan orang dewasa cenderung pasif karena mempertimbangkan dengan matang sebelum melangkah!" kata Cain menyeringai.
"Jadi yang ingin kau katakan adalah pikiranmu sudah dewasa dan aku ini masih pikiran anak kecil, begitu?" Felix jengkel.
"Aku tidak bilang begitu ...." kata Cain santai, "Tapi maksudku memang begitu ...." Cain menjulurkan lidahnya membuat Felix geram.
Felix menahan emosinya untuk tidak membalas ejekan Cain itu karena sedang berada di daerah musuh. Bahkan bercanda seperti itu seharusnya tidak dilakukan tapi Cain sering lupa dalam situasi apa dan memang tipe yang suka membuat seseorang naik darah.
"Tapi apa itu yang kau semprotkan? cairan vitamin untuk pohon? dan kenapa kita berkeliling begini?" tanya Cain yang mengandung keluhan.
Dan tak lama setelah itu semua pohon yang disemprot tadi meledak berkeping-keping. Pohon yang menyembunyikan kastil itu kini hanya tinggal serpihan dan kastil perkumpulan iblis itu sangat jelas terlihat. Semua penjaga panik dengan kejadian itu dan mulai berpencar mencari pelaku tapi Felix dan Cain dengan santainya hanya berjalan diantara mereka tanpa terlihat.
"Ow! keren sekali!" Cain sambil memukul punggung Felix, "Aku tidak tahu kau sudah belajar membuat ramuan peledak itu?!"
"Kau ini bisa serius sedikit tidak? kita sedang di area musuh dan belum menguasai bela diri dan kekuatan kita masih dibawah rata-rata ... kita bisa mati disini!" kata Felix menceramahi Cain.
"Jangan terlalu tegang! santai saja!" kata Cain.
"Apa?!" Felix dengan ekspresi jengkel.
"Kalau denganmu aku tidak merasa takut sama sekali ... pasti semua akan baik-baik saja rasanya!" kata Cain dengan senyum lebar.
"Saat bersama Mertie kau bertingkah seperti pemimpin yang bisa diandalkan tapi bersamaku kau jadi menyebalkan begini seperti sedang tamasya saja!" kata Felix kesal.
"Kau yakin Felix?" tanya Iriana.
"Kenapa tiba-tiba?" Felix kaget karena sudah lama Iriana tidak muncul berbicara dengannya.
"Baiklah, aku akan mempercayaimu bisa melakukannya tapi apapun yang terjadi ... saat aku menyuruhmu untuk lari, kau harus lari! kau bisa berjanji?" kata Iriana.
"Aku tidak bisa! bagaimana mungkin aku menjanjikan hal yang tidak bisa kupastikan bisa kulakukan itu ..." kata Felix.
"Kau ini keras kepala sekali!" kata Iriana.
"Bisa tidak kau berpura-pura menelepon? kau jadi terlihat seperti orang gila berbicara sendiri!" kata Cain dengan ekspresi penuh dengan penghinaan.
Felix dan Cain memanjat pagar dan berhasil masuk ke dalam pekarangan kastil tua itu. Banyak sekali macam-macam bentuk dan rupa wajah iblis yang berkeliaran. Bahkan ada yang tidak diketahui Felix dan Cain mereka hewan apa.
Pintu masuk dijaga oleh dua penjaga yang bertubuh besar, "Pak Acton akan jadi seperti bayi kalau berdiri berdampingan dengan mereka!" kata Felix yang sengaja karena tadi Cain mengatakan bahwa Pak Acton terlihat sangat besar dibanding tim kemananan.
"Pak Acton manusia! jangan dibandingkan dengan mereka yang Iblis!" kata Cain.
"Bagaimana kita bisa masuk ke dalam? tidak mungkin kan kita mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk minum teh ...." kata Felix.
"Sekarang giliranmu yang bercanda? enak ya sudah menjahiliku?!" decak kesal Cain.
Tapi hal yang tidak diduga terjadi, ada iblis yang membuka pintu dari dalam hendak keluar. Felix dan Cain saling tatap lalu berlari cepat masuk ke dalam sebelum pintu tertutup. Untungnya iblis itu sangat tinggi jadi Felix dan Cain dengan bebasnya berlari diantara kedua kaki iblis itu
Tidak seperti yang dilihat dari luar, kastil itu sangatlah sempit dibanding tampak luar yang terlihat sangat megah dan diperkirakan sangat luas. Tapi saat berada di dalam hanya ada satu ruangan dengan tangga menuju kebawah dan keatas.
"Ini bukan ilusinasi kan?" tanya Cain takut jika sekarang mereka dalam pengaruh mantra, "Heh! kita naik ke tangga atas? biasanya kan kalau menyekap seseorang di lantai bawah tanah?!" kata Cain menunjuk tangga menuju ke lantai bawah.
"Lihat itu!" Felix menunjuk sebuah jejak yang tertinggal di tangga menuju lantai menuju lantai atas.
"Jejak Merah? bukankah itu menandakan Sanguiber? aku membacanya di perpustakaan Sanguiber!" kata Cain.
"Ya! tapi manusia juga memiliki jejak warna yang sama dengan Sanguiber!" kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...