UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.112 - Perpustakaan Leaure



"Tidak memiliki nama belakang?" Cain mulai membaca ulang dengan seksama.


"Setengah Viviandem tidak berhak memiliki nama belakang karena tidak mewarisi seluruh kekuatan dari kedua orangtua ...." kata Goldwin.


"Tapi ...." Cain dengan wajah tersenyum.


"Ya ... itu tidak membuat ibumu menjadi rendah diri dengan Viviandem murni lainnya bahkan ia bersahabat baik dengan Ratu Sanguiber dan dijadikan sebagai penasehat. Dan jangan lupakan prestasinya membantu Caelvita muda yang belum resmi, menyelesaikan perang saudara antar iblis saat itu ...." Goldwin bisa menebak dari senyuman Cain yang dipenuhi rasa bangga itu.


Masih banyak prestasi lainnya lagi yang tercatat disana tapi tulisan lama sekali menerjemahkan.


"Kau bisa membacanya lagi nanti ... kau punya banyak waktu untuk itu ...." kata Goldwin yang melihat Cain tidak ingin pergi darisana.


"Tapi akan dimulai dari awal lagi kan menerjemahkannya kalau aku meninggalkan tempat ini ...." keluh Cain.


Goldwin menggunakan kukunya untuk menarik tudung jaket Cain, "Awas! nanti jaketku rusak! iya ... ayo pergi!" kata Cain pasrah.


"Karena sudah pernah ke Istana Sanguiber, kau pasti sudah tahu kan kalau perpustakaan disana itu turun kebawah?" kata Goldwin saat sudah sampai di sebuah ruangan yang tidak ada apa-apa disana seperti saat akan masuk di Perpustakaan Sanguiber. Yang berbeda hanyalah banyaknya pasir emas.


"Jadi mana talinya?" tanya Cain malas.


"Tali?" Goldwin sambil menyeringai.


"Kau tidak akan menggunakan tali ... tapi akan terbang!" kata Goldwin.


"Terba ...." Cain dengan mulai berteriak, "Aaaaaaaaaang?!"


"Bagi Leaure, pengetahuan membuat seseorang bisa terbang bebas ... jadi perpustakaan Leaure dibangun diatas langit ...." kata Goldwin terlihat santai terbang dengan sayap emasnya.


"Bagaimana bisa kita memiliki sayap?" tanya Cain disela-sela ketakutannya.


"Kau ini takut tapi masih sempat-sempatnya bertanya ... ini hanya sayap palsu, terbuat dari pasir emas yang kita pijaki tadi di bawah ...." jawab Goldwin.


Cain melihat kebawah dan melihat Istana Leaure, "Namanya perpustakaan Leaure tapi tempatnya bukan di istana melainkan di langit? apa-apaan?" kata Cain protes.


"Hanya karena kelihatannya begitu bukan berarti begitu ...." kata Goldwin yang membingungkan, "Semua area menyangkut tanah dan langit di sekitar Kerajaan adalah milik kerajaan, bisa dipergunakan sebagaimana mestinya ...."


Cain dan Goldwin tiba diatas awan dan sayap mereka berdua hilang dengan terbang seperti debu turun kembali kebawah.


"Kita tidak akan jatuh kan?" tanya Cain mulai menekan-nekan awan.


"Sudah dimantrai, tidak perlu khawatir ...." Goldwin mulai berbicara bahasa lain yang tidak dimengerti oleh Cain dan perlahan buku mendatanginya satu persatu.


"Jadi bagaimana kita bisa kembali?" Cain mulai khawatir akan terjebak disana selamanya.


Goldwin mulai mendorong Cain dan Cain langsung terjatuh diatas awan seperti diatas kasur yang empuk tapi terasa sedikit lembab kemudian buku datang mengelilinginya yang tadi dipanggil Goldwin.


"Aku sudah memilih buku paling dasar! kuasai itu dulu baru kita lanjut lagi ...." kata Goldwin.


Cain melihat sekitar dengan banyaknya buku yang tersusun rapi sampai tidak bisa dilihat karena berada paling atas entah sampai ke langit keberapa.


"Di langit kerajaan Leaure bukulah yang menjadi bintang ... buku yang sudah dibaca akan bersinar terang ...." kata Goldwin.


Cain mulai memasang wajah muram, "Ini hanya sementara, karena Viviandem belum dibangkitkan maka bintang di kerajaaan Leaure hanya sedikit yang bersinar karena yang membaca buku selama ini hanya aku dan beberapa Unimaris atau setengah Viviandem lainnya ...." kata Goldwin.


"Tapi aku tidak biasa membaca sambil tidur ...." kata Cain mulai bangun dari awan yang seperti kasur itu.


"Bayangkan saja kursi dan meja! awan akan membentuk dirinya menjadi yang diinginkan pengunjung perpustakaan ...." kata Goldwin.


Yang diduduki Cain tiba-tiba bergerak sendiri membentuk kursi dan muncul juga meja serta buku yang melayang-layang disampingnya mengantri untuk dibaca. Buku yang mengantri terlihat bertengkar memotong antrian karena ingin dibaca duluan.


"Diantara kalian, yang mana paling tua? antrian barisan mulai dari yang paling tua!" kata Cain mencoba menghentikan pertengkaran antar buku itu.


Cain sudah serius membaca dan tidak memperdulikan Goldwin lagi. Goldwin hanya tersenyum bangga melihat itu. Walau Leaure sangat menjunjung tinggi pengetahuan, tidak semua seperti Cain yang memang terlahir suka membaca buku dan dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Dulu aku hanya mengenal satu dunia dan aku punya begitu banyak pertanyaan dengan dunia yang aku kenal saat itu dan saat ini aku mulai mengenal bukan hanya satu tapi tiga dunia sekaligus. Rasa penasaranku jadi bertambah berkali-kali lipat sekarang ...." kata Cain dalam hati senyum-senyum sendiri saat membaca.


Goldwin juga ikut membaca dan tidak mengawasi Cain lagi dan hanya menjawab pertanyaan jika Cain menemukan istilah yang tidak dimengertinya.


"Goldwin?!" kata Felix melalui pikiran.


"Iya Tuan Muda!" jawab Goldwin melalu pikiran juga.


"Jangan sampai terlalu asyik disana dan lupa waktu ... apalagi Cain kalau bertemu buku bahkan akan lupa kalau dia itu makhluk hidup yang butuh makan dan tidur, kau harus pintar-pintar membatasinya atau kalau tidak kalian akan melewatkan waktu bertahun-tahun di Mundclariss ...." kata Felix dari bawah.


Goldwin hanya tersenyum, "Baik Tuan Muda ... saya sangat mengerti itu! tapi Tuan Muda bagaimana bisa sampai kesini? bukannya sedang bersama Banks?"


"Kau mungkin tidak sadar tapi di Mundclariss sudah hampir pagi dan Cain tidak pulang-pulang juga ... makanya aku kemari." kata Felix.


"Hah?" Goldwin melirik tiga jam dunia Mundclariss, Bemfapirav dan Mundebris yang tergantung di perpustakaan."Cain ayo kita turun!" kata Goldwin.


"Kita kan bisa memundurkan waktu ... nanti bisa kembali ke waktu saat kita masuk ke Mundebris!" kata Cain.


"Kau jadi percaya diri sekali ... tapi bagaimanapun kita harus menghemat waktu jadi kita harus menetapkan waktu untuk membaca dan latihan fisik!" kata Goldwin membuat Cain menurut saja karena memang sudah hampir membaca tiga buku dalam waktu sesingkat itu. Jadi dia tidak akan rugi sama sekali.


"Tuan Muda ... nanti akan saya kabari saat Cain sudah selesai dan bisa pulang bersama nantinya agar ...." kata Goldwin pada Felix.


"Baiklah ... ingat! tetapkan jadwal latihan, jangan hanya asal-asalan dan membuang-buang banyak waktu dan akhirnya tidak bisa kembali ke waktu yang diinginkan ...." kata Felix.


"Baik, Tuan Muda!" sahut Goldwin.


"Jadi, bagaimana kita turun?" tanya Cain.


"Kalau naik dengan terbang jadi untuk turun ya ...." Goldwin mulai mendorong Cain, "Jatuh!"


"Aaaaaaa!" teriak Cain yang mulai terjatuh.


Goldwin yang juga ikut menjatuhkan diri dengan santainya mengejek Cain yang tidak berhenti berteriak. Hingga hampir sampai di atas gundukan pasir emas Cain menutup mata karena takut akan terluka tapi nyatanya ia mendarat dengan mulus bahkan mendarat santai dengan kedua kakinya.


"Karena baru pertama kali jadi aku maklumi! Leaure itu harus tidak memiliki rasa takut sama sekali sehingga bisa menolong siapa saja di situasi apapun itu ...." kata Goldwin sambil menyipitkan mata.


"Aku hanya kaget saja tadi! tiba-tiba saja kau mendorong tanpa bilang terlebih dahulu, siapa yang tidak keget ... asal kau tahu saja ya, aku ini tidak takut ketinggian sama sekali ...." kata Cain melihat Goldwin yang seperti menemukan kelemahannya.


...-BERSAMBUNG-...