
Lima hari yang lalu, sebelum Felix bangun. Cain yang mulai menanyakan segala hal tentang Caelvita dan tentang Mundebris pada Goldwin. Bahkan sampai Goldwin sudah setengah tertidur masih saja ditanyai, Alger yang melihat itu kasihan dengan Goldwin tapi disisi lain Cain sangat bersemangat tanpa mengantuk sedikitpun terus bertanya. Hingga alarm jam 5 subuh Cain berbunyi masih ia sempatkan untuk bertanya kepada Goldwin sebelum pergi mandi.
"Baru kali ini aku temui Leaure yang penuh pertanyaan seperti ini ...." Goldwin segera menghilang saat Cain pergi ke kamar mandi.
Berangkat ke sekolah dengan tidak tidur walau sebentar saja harusnya Cain merasa tidak enak badan atau setidaknya mengantuk tapi mukanya berseri-seri sekali setelah banyak jawaban yang memuaskan segala pertanyaannya.
"Beruntungnya aku punya Goldwin! punya banyak pengetahuan tentang Mundebris ...." Cain dalam hati, "Hahh ... cuacanya bagus sekali!" sambil menghirup udara.
"Dia sudah gila ya?! dingin bersalju begini dibilang cuaca bagus ...." Teo dan Tom menjauhi Cain.
"Kau tidak khawatir dengan Felix?" tanya Tan.
"Khawatir?" sahut Cain, "Dia hanya lagi mengisi ulang tenaga juga!" kata Cain dalam hati, "Dia baik-baik saja!" Cain tanpa kekhawtiran sama sekali.
Sampai di sekolah topi dan pakaian Pak Acton terlihat penuh dengan salju karena terus berdiri ditempat yang sama. Teo dan Tom datang menggoyang-goyangkan badan Pak Acton membuat salju yang ada Pak Acton berjatuhan. Mungkin hanya mereka berlima yang berani seperti itu pada Pak Acton karena selalu datang pagi jadi tidak pernah bermasalah dengan Pak Acton.
"Felix?" tanya Pak Acton.
"Masih belum bangun pak!" sahut Tan.
"Dia pasti baik-baik saja, Felix anak yang tangguh!" kata pak Pak Acton dengan suara beratnya.
"Tentu saja, dia sudah menyelamatkan 201 jiwa penumpang pesawat ...." kata Cain dalam hati dengan bangga.
Setelah berpisah dengan tiga kembar untuk ke ke kelas masing-masing. Cain langsung menuju atap bukannya ke kelas.
"Kenapa dia belum datang? hahh ...." keluh Cain meniup salju yang terus mulai menumpuk di pundaknya, "Meleleh?" tanya Cain setelah melihat salju yang ditiupnya mencair, "Sehangat itukah napasku?!"
"Diluar dingin, bisa bicara di dalam saja?!" sapa Mertie sambil berteriak.
"Yang perlu siapa?" tantang Cain.
"Hahh ... menyebalkan!" sahut Mertie.
"Jadi mulai langsung saja, sebelum Felix bangun kita harus setidaknya menyelesaikan masalah ayahmu!" kata Cain to the point.
"Tidak seperti kau saja yang suka berbasa-basi dulu ...."
"Harus secepatnya sebelum Felix bangun!" Cain serius tidak seperti biasanya, "Aku hanya ingin meringankan beban Felix dengan membantu Mertie agar dia tidak perlu peduli dengan masalah Manusia dan fokus untuk membangkitkan Viviandem saja!" katanya dalam hati.
"Sebenarnya aku perlu Felix yang bisa diajak serius tidak seperti denganmu yang kebanyakan bercandanya ... baiklah, setelah pulang sekolah kita mulai ke tempat kerja ayahku!"
***
Pulang sekolah tiga kembar cepat-cepat untuk bisa segera ke Rumah Sakit menjenguk Felix tapi Cain menolak. Walau Felix ingin mengikutsertakan tiga kembar dalam misi ini tapi Cain lebih memilih melakukannya sendiri dan merahasiakan bahwa akan memulai rencana membantu orangtua Mertie.
"Apa kita bisa hanya berdua?" tanya Mertie.
"Perasaan kau dulu protes karena mengikutsertakan Tan,Teo,Tom?" jawab Cain meletakkan teropongnya.
"Hanya saja rencanamu itu lebih mudah dilakukan jika banyak yang membantu ...."
"Untuk sekarang kita lihat saja dulu ... jika tidak berbahaya baru kita panggil mereka ...." Cain mau tidak mau harus menggunakan segala cara untuk mempercepat selesainya misi sebelum Felix bangun.
Mereka berdua berkeliling gedung tinggi untuk melihat kegiatan dan keamanan sekeliling Pabrik Daging yang merupakan Pabrik dari Perusahaan Carlton, perusahaan besar yang memproduksi segala macam daging mentah.
"Carlton? bukan Era Carlton kan?" tanya Cain menghentikan langkahnya.
"Iya benar!" kata Mertie cuek.
"Dia yang jadi pemimpin geng Halle yang sering membully mu itu kan?"
"Bagaimana kau tahu? kukira kau tidak perduli dengan hal-hal seperti itu?" tanya Mertie.
"Itu kalau bersama Felix, aku hanya mencoba menyesuaikan diri dengannya yang tidak suka mencampuri urusan orang lain tapi aku sendiri pribadi sangat tertarik dengan segala hal."
"Beruntung sekali Felix memiliki sahabat sepertimu!" kata Mertie.
"Aku yang beruntung memilikinya."
***
Jam 11 malam waktu pulang kerja di Perusahaan Carlton, lama menunggu akhirnya mereka berdua mulai berencana masuk ke dalam perusahaan dengan berpura-pura sebagai anak dari seorang pekerja, "Kami mau menjemput ayah kami!" seru Cain riang pada security.
"Nama ayahmu siapa?" tanya paman itu.
"Aku tidak tahu nama lengkapnya, hanya panggil ayah saja!" Mertie memasang wajah imut sok polos.
"Memang dengan begitu bisa?" tanya Cain dalam hati, "Baiklah ... silahkan masuk anak manis!" kata paman itu, "Hehh?!" Cain bingung, "Berhasil?!"
Setelah berhasil masuk mereka bertemu dengan anak-anak yang sepertinya sama ingin menjemput orangtuanya juga, "Wah ... sepertinya ini hari keberuntungan kita?" kata Cain.
"Apa maksudmu?" tanya Mertie.
"Kau pikir akan ada anak-anak yang datang menjemput orangtuanya di jam segini!"
"Kau juga anak-anak!" jawab Mertie kesal.
"Tidak, maksudku ... akan mencurigakan jika hanya kita saja yang datang ternyata ada anak yang lain."
"Tidak akan mencurigakan sama sekali! banyak anak-anak yang datang menjemput orangtuanya kesini walau sampai larut malam begini ...." Mertie jadi mengingat kenangan saat tiap malam bersama ibunya datang menjemput ayahnya pulang bekerja.
"Lebih mudah lagi dong dari perkiraanku!" Cain mengelus-elus dagunya yang tidak gatal, "Hai!" sapanya pada anak yang kelihatan berpakaian sangat lusuh dan terlihat ada yang bolong walau kecil.
"Kalian siapa? aku baru melihat kalian pertama kalinya datang kesini ...." kata anak itu.
"Ohya? orangtua kalian baru ya disini? aku juga baru datang lagi setelah sekian lama ...." jawab Cain asal dengan mempertimbangkan mereka yang tidak mengenal Mertie berarti mereka baru juga disini.
"Memang baru setengah tahun."
"Kena deh!" seru Cain dalam hati, "Oh iya ... kalian mau tukeran jaket sama topi gak?" pinta Cain tiba-tiba membuat Mertie bingung.
"Untuk apa?" tanya anak itu.
"Ah, itu ... kami mau ngasi surprise sama ayah kami tapi kalau pake baju ini pasti akan langsung ketahuan ...." kata Cain memasang wajah murung.
"Oh begitu! baiklah ...." anak itu mulai melepas jaket dan topinya untuk saling bertukar.
"Kau juga!" bisik Cain sambil menepuk bahu Mertie untuk memintanya bertukar jaket juga dengan anak yang lain.
"Ini jaket hangat mahal yang kubeli dengan uang yang kutabung selama setahun!" protes Mertie.
"Nanti kubelikan yang baru!" bujuk Cain.
Dengan terpaksa Mertie juga ikut bertukar jaket dan topi dengan anak lain, "Sebenarnya ini untuk apa?" bisik Mertie mulai memperhatikan jaket lusuh yang dipakainya.
"Oh iya, kalian nanti kalau pulang ... tidak usah menunggu kami ya! karena kami mungkin akan pulang belakangan, tapi jangan bilang ke penjaga ya kalau mereka bertanya kemana kami? bilang saja kalian sudah melihat kami pulang tadi, ok?" kata Cain kepada dua anak itu.
"Memangnya kalian mau melakukan apa sampai lama disini?" tanya anak perempuan yang bertukar jaket dengan Mertie.
"Mau membuat dekorasi kejutan, jaket dan topi hangat itu buat kalian sebagai hadiah ... tapi ingat ya harus apa?" Cain seperti guru saja padahal anak yang disuruh seumuran dengannya.
Mereka berdua langsung saja setuju karena mendengar jaket dan topi yang mereka tukar tidak perlu ditukar lagi. Walau Mertie tidak bisa memalingkan wajahnya melihat jaket hangatnya untuk terakhir kalinya saat ditarik Cain menjauh.
Cain mencoba menarik Mertie, "Setidaknya itu sebagai alibi kita kalau-kalau mereka mencari kita atau memeriksa cctv pengunjung karena seperti yang kau lihat paman penjaga tadi lumayan teliti."
Mereka berdua bersembunyi sampai perusahaan benar-benar tutup dan kini tinggal hanya penjaga depan yang tinggal, "Anak dua yang memakai jaket cerah berwarna orange dan biru tadi sepertinya belum keluar ...." kata penjaga yang hendak menutup pagar.
"Aku tadi melihat ada anak yang memakai jaket seperti itu sudah pulang dari tadi!" kata penjaga lainnya, "Coba kuperiksa di cctv!" diputarnya cctv, "Ini dia!"
"Oh iya!" akhirnya paman penjaga itu mengakui kesalahannya.
Sementara itu Cain dan Mertie mulai keluar dari tempat persembunyiannya dan mulai berjalan ke pintu belakang, "Pakai password!" bisik Cain.
"Coba tekan 0623!" kata Mertie.
Cain menekan tombol, "Bukan!"
Kemudian Mertie mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik sakunya dan menaruh sebuah cetakan lilin sidik jari seseorang.
"Jangan bilang?!" Cain mengira-ngira.
Pintu terbuka, "Iya ... itu sidik jari Era!" Mertie mulai masuk ke dalam.
"Jadi selama ini kau dibully untuk mendapatkan hal seperti itu?" bisik Cain kagum.
"Sebenarnya aku bisa saja mendapatkan informasi ulang tahun mereka dan sidik jari tanpa harus di bully tapi karena mereka menetapkan aku sebagai targetnya jadi ya aku ladeni saja!"
"Wah ... kau keren sekali!" Cain kagum lagi.
"Kalau ada Felix, pasti dia sudah memukulmu! kata Mertie kesal melihat Cain yang santai padahal sedang dalam situasi menyelinap diam-diam masuk ke dalam perusahaan.
"Iya ... ya ... pasti! aku jadi rindu Felix ...." kata Cain.
...-BERSAMBUNG-...