
Goldwin menghirup napas panjang membuat bulu emasnya semakin bersinar terang, "Matikan lampunya!" teriak Cain mengigau.
"Apanya yang lampu? di Bemfapirav mana ada lampu?!" Goldwin mengibaskan ekornya pada kepala Cain yang sedang berbaring di meja makan.
"Emm ... hentikan!" Cain mencoba menyingkirkan ekor Goldwin.
"Tuan Muda sudah bangun!" kata Goldwin membuat Cain terperanjat.
"Apa? bagaimana kau tahu?" tanya Cain panik.
"Barusan aku menerima banyak Viriaer, itu tandanya kekuatan Caelvita sudah pulih ... tidak seperti sebelumnya saat Tuan Muda tidak sadarkan diri, Viriaer yang ada hanya sedikit."
"Viriaer? kalau manusia disebut oksigen kan? aku sebenarnya agak bingung ya, kenapa hanya Iblis, Zewhit dan sepertimu Unimaris yang masih bisa hidup tanpa harus dibangkitkan ...." kata Cain penasaran.
"Karena tubuh kami memiliki penyimpanan cadangan Viriaer, tidak seperti Viviandem."
"Memangnya kau umbi-umbian?" tanya Cain mulai usil membuat Goldwin menarik rambut Cain dengan kuku dan menggigitnya, "Aw! haha ampun!"
"Tuan Muda datang kesini!" seru Goldwin membuat Cain jadi terdiam, "Aku jemput dulu, tunggu disini ... jangan kemana-mana!"
Tak lama kemudian Goldwin datang bersama Felix, "Cain!" teriak Felix.
"Itu dia orang yang kurindukan ... sepertinya dia baik-baik saja!" kata Cain dalam hati sambil memperhatikan Felix dari ujung kaki sampai ujung kepala, "Sedang apa kau disini?" pertanyaan Cain yang tidak sesuai dengan isi hatinya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu?!" balas Felix kesal.
"Tinggalkan aku sendiri!" kata Cain, "Padahal aku ingin sekali memeluk anak nakal itu!" Cain dalam hati.
"Kau kenapa? ada masalah? apa ada Zewhit yang mengganggumu saat aku sedang tertidur? maaf pasti kau kesusahan saat aku tidak ada ...."
"Banyak sekali yang ingin kuceritakan ...." Cain dalam hati dan hanya menghela napas lalu menyela perkataan Felix, "Kau jadi gampang sekali ya bilang maaf."
"Ada masalah apa?" tanya Felix.
"Sekarang baca pikiranku, kau akan tahu sendiri!" tantang Cain padahal sebenarnya dia sendiri takut jika Felix benar bisa membaca pikirannya sekarang.
"Kemampuan itu masih datang dan pergi, biasanya hanya gampang pada Zewhit saja kalau dengan manusia masih sulit ...." balas Felix, "Memangnya ada apa? langsung saja katakan? jadi tidak seperti kau saja!" sambungnya.
"Hah ... untunglah tapi sampai kapan aku akan menyembunyikan ini? aku juga tidak sanggup mengatakannya langsung pada Felix ...." kata Cain dalam hati, "Dari awal kau memang tidak mengenalku Felix, dari awal hanya aku yang selalu mencoba mengenalmu, mengertimu tapi kau hanya egois dan mementingkan dirimu sendiri ... mulai sekarang aku bukan sahabatmu lagi, jangan dekati aku lagi!"
"Maafkan aku Felix ... mengatakan hal kasar seperti ini ...." sambung Cain dalam hati.
"Apa kau khawatir karena kejadian enam hari yang lalu? atau terjadi sesuatu saat aku tidak ada?"
"Kau masih tidak mengerti juga?!" teriak Cain, "Kau tidak tahu saja betapa ketakutannya aku selama kau tidak ada Felix ... biasanya bersamamu aku sangat berani bisa melakukan apa saja ...." lanjutnya dalam hati.
"Makanya buat aku mengerti!" balas Felix.
"Sudah aku bilang dengan jelas, kau ... BUKAN SAHABATKU LAGI! MENGERTI!!!" teriak Cain, "Kau selamanya adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki ...." katanya dalam hati.
"Ayo Goldwin ... kita kembali!"
"Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan menjadi sahabatku?" kata Felix dalam hati dan hanya mulai terdiam.
Sementara Cain yang baru saja sampai langsung duduk sambil memeluk lututnya, "Felix ... maafkan aku!"
"Kalian ini seperti pasangan suami istri saja!" kata Goldwin mengejek.
"Kau tidak tahu betapa aku merindukannya!" Cain mulai berbicara dengan mata berair.
"Makanya kenapa juga kau melakukan hal yang tidak sesuai dengan kata hatimu itu!" Goldwin memasang wajah datar.
"Aku malu bertemu Felix sekarang ... tapi disisi lain aku juga merindukannya, kalau ada dia saat penyelidikan Carlton Group pasti akan selesai lebih cepat dan banyak hal yang seharusnya tidak terjadi jika ada Felix ...."
"Kau ini manja sekali! kalau begitu sana kembali katakan ... jangan mengadu denganku!" Goldwin kesal dan meninggalkan Cain.
Cain kembali ke kamar setelah drama bolak baliknya ke Bemfapirav dan Mundclariss untuk melihat Felix tapi tidak berani sampai menyapa Felix, "Hem ... kenapa dia tidak kembali juga ya? padahal aku ingin sekali melihatnya lagi di tempat terang tadi tidak jelas di Bemfapirav ...." kata Cain dalam hati, "Tunggu ... masa iya aku masih dikamar ini dan sedang ngambek ceritanya ... nggak real banget aku ini ... harus cepat-cepat pindah kamar!" lanjut Cain sambil memukul-mukul kepalanya.
Setelah itu Felix dan Cain kembali bertemu didalam kelas dan bertengkar lagi tapi saat Cain memukul Felix tiba-tiba seluruh perasaan sedih Cain seperti memenuhi ruangan dan bisa dirasakan oleh Felix dan ditatapnya mata Cain yang langsung membuat kenangan Cain begitu cepat langsung terbaca.
"Anak itu melakukan banyak hal bodoh berbahaya selama aku tidak ada ... dasar!" kata Felix sambil mengelus-elus pipinya yang sudah di hantam Cain tapi sambil tersenyum.
***
Cain dan Mertie setelah bolos sekolah selama sehari dan bolos melakukan penyelidikan di perusahaan Carlton Group akhirnya kini siap beraksi lagi. Mertie telah membaca hampir seluruh email yang berhasil dihack dengan mengirimkan email yang berisi lampiran virus jika si penerima mengklik lampiran itu maka otomatis semua email penerima akan terkirim ke Mertie.
Banyak sekali bukti penting yang ada disana bahkan email yang telah dihapus berhasil ia kembalikan dan pagi tadi sebelum berangkat sekolah Mertie mengirimi Surat Merah Muda pada CEO Carlton Group, "Kali ini akhirnya aku benar-benar mengirim surat sesungguhnya setelah sekian lama hanya bermain-main saja ... tunggu saja ... selama ini aku sudah membuat Surat Merah Muda yang tidak pernah tidak membuat yang menerima tidak ketakutan!"
"Apa ini?" teriak CEO Carlton Group menerima kotak berisikan cairan berwarna merah muda yang didalamnya ada surat yang tahan air terlihat sedang mengambang, "Lelucon lain? mereka pikir aku akan takut dengan hal seperti ini ... hahaha."
"Maaf pak, tapi banyak dokumen yang sangat rahasia diunggah ke media sosial tapi postingannya sudah saya minta dari pihak platform untuk dihapus dan semua artikel berhasil saya turunkan ... tapi sudah ada wartawan yang sepertinya ikut terpancing sekarang ... jadi saya pikir ini bukan sekedar lelucon saja pak ...." jawab sekeretaris CEO Carlton Group.
"Kau baru bekerja dua hari sebagai sekretaris utama saat dulu kau hanya sebagai asisten Viola tapi kerjamu lumayan bagus ...." puji CEO Carlton Group sambil membuka Surat Merah Muda untuk dibaca.
"Melangkahlah sendiri ke kejaksaan dan akui segala dosamu! kuberi kau waktu sampai besok pagi ... kalau kau tidak melakukan apa yang kuperintahkan maka kau akan melihat Perusahaanmu hancur dalam sekejap mata ... tapi aku berbaik hati memberimu pilihan ... apa kau memilih diam dan melihat perusahaanmu hancur tepat saat kau masih berpijak diatasnya atau bersedia mengakui kesalahan dan akan kubuat kau hanya bisa melihat perusahaan yang kau dirikan hancur dihadapanmu ... setidaknya kau tidak hancur dan terkubur bersama perusahaanmu itu kan?!"
"Ingat juga ... dosa putramu adalah tanda dosamu sebagai orangtua yang tidak baik ...." tambah Mertie dibagian paling bawah surat.
"Kau pikir ayahnya Ted tahu apa yang Ted perbuat?" tanya Cain.
"Maka dari itu kita cari tahu!" jawab Mertie.
"Apa maksudnya?" Cain memukul teropong Mertie.
"Kalau dia berusaha menyembunyikan Ted berarti dia tahu ... tapi kalau Ted tetap bebas kemana saja berarti ayahnya tidak tahu ...."
"Oh ... itu dia keluar!" seru Cain melihat Ted mengendarai mobil mewahnya.
...-BERSAMBUNG-...