
Lama Tan menenangkan dirinya dulu, "Bukankah ini hal yang gawat, Felix ... jika benar ini terjadi ... astaga! Efrain sepertinya sudah gila!" Tan menutup mulutnya.
"Aku bahkan memakinya dengan kata lebih kasar lagi tadi saat kau tidak ada." kata Teo.
"Apa yang terjadi?" tanya Cairo.
"Bagaimana rasanya masuk dunia hantu?" tanya Teo tertawa.
"Tadi itu dunia hantu? rasanya tidak jauh berbeda dengan disini ...." tanya Cairo.
"Memang tidak jauh berbeda karena Bemfapirav ibarat dunia yang berada disisi lain cermin dari dunia manusia. Dunia untuk mereka yang sudah tidak hidup lagi ...." jawab Tom.
"Setelah memasuki dunia hantu, Kak Cairo sekarang bisa melihat hantu juga. Nanti setelah dibawa Felix ke Mundebris, Kak Cairo bisa melihat iblis dan semua yang tinggal disana ...." kata Teo.
"Felix ...." Tan masih tidak bisa berhenti gelisah.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Cairo.
"Gerbang biasanya dimiliki oleh setiap Quiris dengan gerbang yang memiliki ciri khas dari masing-masing kaum. Tapi ada juga gerbang umum yang dibuat untuk memasuki dunia lain. Karena menggunakan gerbang sendiri biasanya memakan banyak energi dan kadang harus menunggu lama untuk bisa membuka gerbang kembali tapi kalau menggunakan gerbang umum, tidak. Menggunakan Gerbang pribadi juga agak merepotkan karena harus menjalani sidang setiap satu kali sehari untuk memantau apa yang telah dilakukan dan darimana saja. Biasanya gerbang umum dijaga oleh pihak yang berwajib dengan harus membuat izin atau kalau di Mundclariss namanya passport. Gunanya sama untuk mendapatkan izin masuk ke dunia lain. Tapi tidak semuanya dengan mudah memiliki izin itu dan terkadang dibuatlah gerbang ilegal yang tidak memerlukan izin tapi hanya perlu membayar dengan biaya besar." kata Tom memulai menjelaskan dasar gerbang terlebih dahulu.
"Gerbang?" tanya Cairo.
Felix memanggil Marsden, "Ini yang namanya gerbang. Gerbang ini yang akan membawa ke Mundebris."
Cairo mengikuti Felix masuk ke dalam gerbang Caelvitanya itu. Setelah Cairo berjalan di dalam lorong hijau itu, terlihat sesuatu di ujung lorong yang berada di luar pintu gerbang lainnya.
"Jadi ini ... dunia keg ... apa tadi? Mun apa?" tanya Cairo hanya langsung melongo melihat dunia yang sangat berbeda itu.
"Mundebris." jawab Felix.
Biasanya Felix tidak ingin manusia biasa mengetahui nama itu tapi setelah bersama Cairo selama beberapa hari, Felix merasa Cairo bisa dipercaya dan dapat diandalkan.
"Tuan Muda punya gunting?" tanya seseorang.
Cairo yang kakinya bergerak sendiri karena sesuatu langsung kaget karena menginjak tanaman yang bergerak dan bisa berbicara itu.
"Untuk?" tanya Felix.
"Ini ... tolong dipotongkan ini!" Tanaman itu memperlihatkan daunnya yang setengah rusak.
"Itu kan hanya perlu ditarik saja, gampang!" kata Felix.
"Kalau ditarik saja tidak rapi!" Tanaman itu berteriak protes.
"Hahh ...." Felix hanya bisa menghela napas karena bertemu tanaman yang terlalu memperdulikan penampilannya itu.
"Aku punya ...." kata Cairo menurunkan tasnya.
"Pertama kali ke Mundebris?" tanya Tanaman itu.
"I ... iya." sahut Cairo.
"Hati-hati ... kalau salah sedikit memotong daunku yang masih segar, aku akan membalasmu. Aku ini bisa mengeluarkan api, tahu!" kata Tanaman itu membuat Felix hampir tertawa. Melihat itu, Tanaman itu hanya bisa menatap Felix sebal.
Cairo dengan berhati-hati memotong rapi daun yang rusak dan sebisa mungkin tidak mengenai daun yang masih segar. Cairo berkeringat dingin melakukan itu, mungkin ini pertama kali baginya menggunting sesuatu sampai seserius itu dan lebih mencengangkannya lagi takut dimarahi oleh tanaman.
"Kau jangan suka membodohi orang lain lagi! kali ini saja aku maafkan!" kata Felix setelah Cairo selesai dan sudah mau kembali ke Mundclariss.
Tanaman itu hanya membuang muka tidak perduli dengan Felix, "Ck!" Felix tidak habis pikir melihat itu.
"Masing-masing gerbang memiliki fitur khusus, aku bisa memundurkan waktu dan kembali ke waktu saat masuk tadi. Jadi tidak melewatkan waktu sedikitpun ...." kata Felix.
"Gerbang ini ...." tidak selesai kalimat Cairo, dirinya langsung tersungkur ke tanah dan susah bernapas.
"Bisa minta ...." Felix mengulurkan tangannya pada tanaman tadi tapi tanaman itu langsung menyuapkan buahnya yang kecil itu. Felix tidak bisa berkata-kata dan hanya tersenyum melihat itu. Bagaimana Tanaman tadi memperlakukan Cairo tapi saat Cairo membutuhkan tanpa membuang waktu langsung menolong.
"Dia sudah membantuku tadi ... jadi wajar kalau aku membalasnya." kata Tanaman itu cemberut.
"Untung ada kau disini!" kata Felix.
"Biasanya jenisku dilarang ditanam di tempat yang tidak ada pengawasannya begini tapi aku lebih suka sendiri jadi aku merangkak keluar sendiri dari rumah kaca." kata Tanaman itu.
"Ada alasannya kenapa kau dilarang berada di luar begini ...." kata Felix.
"Tapi coba Tuan Muda pikir, bagaimana kalau aku tidak ada disini ... dia pasti sudah mati." kata Tanaman itu sombong.
"Tentu saja ... aku berterimakasih soal itu." kata Felix terpaksa.
Cairo akhirnya bangun tapi masih kesulitan bernapas normal, "Apa yang terjadi?"
"Manusia biasa tidak bisa berlama-lama disini karena yang ada di dunia ini Viriaer bukan Oksigen. Aku harap kau merahasiakan ini dari mereka ...." kata Felix.
"Mereka itu calon Nusfordis Sapphire, Tuan Muda tidak bisa membodohinya." kata Tanaman itu.
"Aku tidak membodohinya, hanya menunda mereka mengetahuinya. Lagipula tidak akan ada Plaevivindote atau Anaevivindote yang memberitahunya jika mereka tidak bertanya." kata Felix.
Felix kembali mengatur waktu di gerbangnya setelah Cairo baikan.
"Aku tebak ada gerbang ilegal di dunia hantu itu?! gerbang yang dibuat oleh iblis?" kata Cairo saat berjalan di dalam lorong hijau gerbang Caelvita.
"Belum." kata Felix.
"Belum?" tanya Cairo.
"Ada beberapa cara untuk menciptakan gerbang. Untuk membuat gerbang masuk ke Bemfapirav harus membunuh banyak hantu dan untuk membuat gerbang masuk Mundclariss harus membunuh manusia. Aku juga tidak tahu jumlahnya hingga hari ini yang ternyata jumlahnya adalah lima manusia tiap titik pengorbanan dan gerbang yang akan dibuat oleh Efrain ini bukan gerbang biasa melainkan gerbang besar tanpa batas yang membuat akses bebas untuk keluar masuk dari satu dunia ke dunia yang lain." jawab Felix.
Cairo yang baru saja keluar dari gerbang memasang wajah panik mendengar itu, "Jadi itu yang terjadi ...."
"Gerbang neraka, itulah yang direncanakan oleh Efrain. Membuat gerbang untuk melepaskan para penjahat yang ada di neraka untuk masuk ke Mundclariss." kata Tom.
"Kita harus menghentikannya apapun yang terjadi." kata Cairo akhirnya mengerti kepanikan mereka tadi.
"Dan kau tahu kan apa maksud dari ini?" tanya Felix.
"Kami, pemburu iblis harus membunuh saat di korban yang pertama atau tidak membunuh sama sekali. Tidak ada yang mati, maka kuota untuk membuat gerbang itu tidak akan terpenuhi." kata Cairo yang cepat paham membuat Felix sangat lega.
"Apapun yang terjadi tidak boleh ada yang mati." kata Teo mengoreksi Cairo.
"Kita sudah tahu apa yang mereka rencanakan tapi bukannya kita sudah menang." kata Tan.
"Rencana Efrain ini terlalu besar, untuk menciptakan gerbang neraka haruslah membunuh ratusan orang atau bahkan lebih untuk menempuh lingkaran penuh." kata Tom.
"Apa kalian bisa tahu dimana target berikutnya?" tanya Cairo.
"Kita butuh peta Provinsi Eartha." jawab Tan.
...-BERSAMBUNG-...