
"Apa-apaan?! dia sedang mengetesku, begitu maksudmu?!" Felix makin kesal.
"Dengan begini ... kau punya peluang menang saat perang akhir tahun!" kata Iriana.
"Dia bisa berbicara Iriana! dia bisa mengatakannya langsung saja, kenapa harus melakukan hal tidak perlu begini?!" Felix berteriak kencang mengeluarkan seluruh kekesalannya.
Daritadi Felix hanya berbicara melalui pikiran saja dengan Iriana tapi karena saking kesalnya, kali ini Felix mengatakannya langsung. Zeki pun tentunya pasti mendengar teriakan Felix itu, "Dia sedang berbicara dengan Iriana, ya?!" Zeki hanya terus diam seakan pura-pura tidak dengar.
"Dia bukannya hewan yang tidak bisa berbicara ... tapi malah main serang saja seperti hewan buas." emosi Felix semakin meluap.
"Kalau dia hewan buas, kau sudah mati daritadi." kata Iriana tidak membantu sama sekali.
"Hahh ... apa untungnya aku berbicara denganmu?!" kata Felix menarik senjatanya yang tadi terlempar dan dikembalikan ke penyimpanan senjata di belakang punggungnya yang tidak terlihat.
"Mau kemana kau?!" teriak Zeki melihat Felix seperti anak kecil yang masih ngambek dan ingin melarikan diri entah kemana, "Perbaiki kekacauan ini dulu sebelum kau pergi!" Zeki menunjuk lapangan yang berwarna hitam saat ini.
"Bagaimana aku bisa memperbaikinya?!" tanya Felix.
"Kau Caelvita!" jawab Verlin.
"Memangnya ada apa dengan itu?!" Felix seperti kehilangan akal pikirannya karena kesal.
Zeki menarik paksa tangan Felix untuk menyentuh tanah dan perlahan rumput kembali tumbuh memenuhi area yang hitam. Setelah Zeki melihat semuanya sudah kembali normal barulah ia melepaskan tangan Felix.
"Jadi, apa yang dikatakan Iriana?!" tanya Zeki.
"Katanya dia tidak datang untuk membunuhku ...." jawab Felix sudah mulai tenang setelah melihat rerumputan yang mulai tumbuh.
Zeki memukul kepala Felix, "Aw! kenapa kau memukulku?!" tanya Felix yang baru saja emosinya mulai reda tapi kembali naik.
"Aku ingin memukul Iriana tapi tidak bisa jadi aku memukulmu! apa?! apa katanya?! tidak datang dengan niat membunuh?! jadi, yang tadi itu apa?!" Zeki melampiaskan kekesalannya pada Iriana melalui Felix.
"Entahlah ...." Felix malas menjawab.
Felix, Zeki dan Verlin terus berjaga di sekolah sampai matahari akan terbit. Felix bisa mengembalikan rumput yang tadinya mati tapi tidak bisa memperbaiki listrik yang bermasalah di sekolah. Karena kedatangan Thunderbird listrik sekolah menjadi bermasalah.
Felix memeriksa Tan, Teo dan Tom yang masih tertidur lelap masih dengan keadaan sama seperti kemarin. Felix ragu antara mau membangunkan mereka atau menunggu saja. Tapi disaat masih dilema itu, mereka semua bangun.
"Bagaimana?!" tanya Felix.
Teo memajukan tangannya meminta Felix untuk menunggu, "Huuuuuh ...." Teo kesulitan bernapas.
Tan dan Tom langsung bangun meminum air putih yang banyak bahkan saat masih pusing dan tidak bisa berjalan dengan benar.
Felix membuka jendela kamar agar udara bisa masuk, rasanya panas sekali karena listrik mati semua, alat elektronik seperti AC tidak bisa dinyalakan.
"Tidak ada perbedaan sama sekali dengan malam kemarin ...." kata Tan.
"Tapi efeknya semakin berat rasanya." kata Tom.
"Seakan mereka hanya ingin disiksa dengan cara yang sama terus berulang-ulang." kata Tan.
"Sesuatu yang berulang bukanlah sebuah kebetulan tapi sebuah pola dan sebuah pertanda. Harusnya kalian sudah menyadari ...." kata Felix.
"Osvald seakan sedang latihan fisik dan mental di area bersalju." kata Teo.
"Aku memang tertarik mengetahui cerita mereka tapi sebenarnya itu bisa aku tanyakan denganmu. Tujuan utamaku ingin memasuki dunia pikiran mereka adalah untuk belajar bagaimana mereka melakukan permainan pikiran ... tapi tidak ada yang menonjol untuk dipelajari." kata Tan.
"Kami tidak mengeluh ... hanya saja masih belum mendapatkan informasi apa-apa setelah dua malam berlalu." kata Tom.
"Seperti itulah yang dirasakan oleh Osvald dan Demelza. Tidak tahu menahu kenapa mereka ada disana. Setidaknya kalian punya tujuan kenapa ada disana. Sedangkan mereka?!" kata Felix.
"Perkataanmu tidak akan membuat kami menyerah." kata Tan.
"Aku tahu ...." kata Felix.
Tiga Kembar tidur semalaman tapi keadaan mereka lebih parah daripada saat hanya tidur beberapa jam dalam sehari. Rasanya seluruh tubuhnya habis dipukuli dan dicambuk serta kepala sakit dan pusing. Hanya mata yang terlihat begitu jernih, tidak kelihatan merah seperti biasanya.
Tapi dengan kondisi seperti itu tidak membuat mereka beristirahat melainkan menjalani awal pagi dengan lari keliling lapangan sekolah. Sambil merasakan sinar matahari pagi yang hangat mengenai kulit.
Felix tidak menceritakan tentang kejadian semalam. Bagaimana keadaan lapangan semalam dan saat ini sangatlah berbeda.
"Hem ... bau apa ini?! seperti bau arang?!" Tom yang berbaring diatas rumput mencium bau aneh.
"Itu pasti karena kakiku terlalu cepat berlari seperti mesin ...." kata Teo membuat lelucon. Tapi berkat itu Tom jadi teralihkan dan Felix tidak perlu repot bercerita.
"Apa malam ini mimpi mereka akan tetap sama?!" tanya Tan dalam hati tapi sambil menatap Felix.
"Kenapa?! kau mau bertanya apa?!" nada bicara Felix bukan seperti meminta Tan untuk bertanya tapi seakan mengajak berkelahi kalau berani bertanya.
"Hahh ... menu sarapan apa ya?!" Tan beranjak pergi menyadari hal itu.
***
"Sepertinya sudah waktunya ...." kata Tom.
"Iya, sudah cukup lama ...." kata Tan.
"Dengan kondisi sekarang, kalian pikir bisa?!" tanya Felix.
"Memangnya sejak kapan kita pergi dengan kondisi sempurna?!" kata Teo.
"Berbeda lelahnya dengan aktivitas yang kalian lakukan biasanya dengan memasuki dunia Zewhit." kata Felix.
"Jadi, kita mulai dimana?!" tanya Tan.
"Disini?!" Tom menunjuk sebuah peta.
"Apa?! kenapa kau menatap kami seperti itu?! kau pikir kami tidak tahu kau diam-diam pergi sendiri selama ini, huh?!" kata Teo.
"Jadi, sudah sejauh mana area yang kau periksa?!" tanya Tan.
"Kalian terlalu mengenalku ...." kata Felix teheran-heran mengira dia menyembunyikan dan merahasiakan kepergiannya selama ini tapi ternyata sudah diketahui oleh mereka. Felix menunjuk sebuah titik lokasi yang ada di peta.
"Tidak sejauh yang kuperkirakan ...." kata Tom.
"Kukira juga kau sudah jauh sekali ...." kata Teo.
Felix kehilangan kata untuk diucapkan dan hanya terdiam canggung, "Ternyata semenakutkan inilah punya seseorang yang mengenalmu dengan baik ...." kata Felix dalam hati.
...-BERSAMBUNG-...