
"Tidak ada yang istimewa dariku, kau juga tahu itu!" kata Osvald tertawa, "Aku seperti anak lainnya yang punya kehidupan biasa-biasa saja." lanjutnya.
"Kalau diingat-ingat kau juga tidak pernah mengajak kami ke rumahmu. Padahal selama ini anak lainnya selalu memanggil kami ke rumah mereka untuk bermain kalau liburan musim dingin atau musim panas." kata Teo.
"Kau juga tidak pulang selama liburan ini ...." kata Tan.
"Itu karena ada nilaiku yang kurang jadi aku harus ikut kelas tambahan di liburan ini. Bukankah sudah kukatakan pada kalian ...." kata Osvald, "Dan ... soal aku yang tidak mengajak kalian ke rumahku itu karena tidak ada yang spesial bisa dilakukan di rumahku. Lebih seru kalau bermain di luar."
"Aku setuju denganmu soal itu, di rumah tidak ada yang menyenangkan dilakukan. Lebih baik tinggal di asrama dengan banyak orang ...." kata Demelza.
"Andaikan aku jadi kalian yang punya rumah untuk pulang, pasti setiap hari aku akan senang jika jam pulang sudah tiba dan buru-buru untuk segera pulang. Tinggal di asrama?! hahh ... aku sudah bosan dengan suasana yang sama seperti ini terus menerus dari sejak kecil." kata Teo, "Apalagi kau Demelza yang punya rumah mewah besar ... wah ...."
"Aku malah iri denganmu yang punya banyak teman di panti ... tunggu, bagaimana kau tahu soal rumahku?!" kata Demelza.
"Iri?! selama ini kau selalu menjadikan kami bahan gosip karena tinggal di panti ... lucu sekali!" kata Tom memberi waktu untuk Teo mencari alasan.
"Bukankah kau selalu membanggakan betapa besarnya rumahmu pada anak yang lain ...." kata Teo berhasil menghindar, padahal dia tahu bagaimana Rumah Demelza saat berada di Dunia Zewhit.
"Yang kukatakan semuanya adalah fakta ...." kata Demelza sombong.
"Benar juga, kenyataan bahwa kami yang anak panti asuhan bukanlah gosip semata ... tapi untuk mencari teman tidaklah harus punya bahan cerita baru atau sengaja mencari informasi tentang kejelekan orang lain. Dan ... sebagai saran! kalau kau mau kami selalu menemanimu makan, kau harus berhenti menceritakan sesuatu tentang kami. Aku tahu ... kalau semua yang kau ceritakan memang benar tapi caramu merangkai kata terkadang sangat menyebalkan, kau tahu itu kan?!" kata Tan.
"Aku tidak butuh teman makan! aku memang lebih suka makan sendirian." kata Demelza keras kepala.
Tiga Kembar dan Osvald hanya langsung cepat-cepat menghabiskan makan malam mereka agar bisa lari dari Demelza. Mereka mencoba berteman dengan Demelza, walau bagaimanapun mereka sudah berjuang bersama-sama di Dunia Zewhit meskipun Demelza dan Osvald lupa. Tapi masih sangat jelas diingatan Tiga Kembar bagaimana mereka saling melindungi satu sama lain.
"Kukira kita bisa akrab ternyata masih jauh ...." kata Tan merasa menyesal ikut bergabung dengan Demelza makan, pencernaannya jadi terasa terganggu karena makan terlalu cepat.
"Padahal kita sudah melewati antara hidup dan mati seharusnya kita bisa sangat dekat setelah perjuangan bersama itu tapi ya ... karena mereka lupa, apa boleh buat?!" kata Teo menyedot habis yogurtnya.
"Lupa?! siapa yang lupa?!" tanya Osvald yang baru bergabung setelah membeli yogurt juga di kantin.
"Adalah ... seseorang!" kata Tom sudah menghabiskan lima botol yogurt.
Setelah dari ruang makan besar mereka singgah di kantin sekolah untuk membeli cemilan dan duduk bersantai sejenak. Mertie juga ikut ke kantin karena takut berjalan pulang sendirian. Tapi tidak mau juga bergabung di meja Tiga Kembar dan Osvald. Mertie memang sudah terlepas dari label sebagai anak yang dirundung atau dibully Geng Halle tapi tetap saja tidak mau terlihat menjalin keakraban dengan siapapun. Baginya sendiri itu mandiri, tidak memerlukan bantuan siapapun adalah sebuah hal yang luar biasa. Dan Mertie ingin terus menjaga imagenya itu.
Mertie yang sudah menjadi Ketua Tim Pelatihan Persiapan Memasuki Osis tetap tidak memiliki teman akrab. Cornelia mengakui jiwa kepemimpinan dan cara Mertie memimpin memang baik. Tapi Mertie terus membuat garis batasan dengan anak yang lain. Hubungan hanya sekedar ketua dan anggota saja, tidak lebih.
Terkadang Cornelia berpikir, mungkin memang lebih bagus begitu. Membuat garis yang tepat, tidak menjalin sebuah hubungan yang erat dengan anggota organisasi akan membuat segalanya bisa berjalan dengan baik karena tidak berdasarkan perasaan atau pertemanan. Tidak ada kata menunda karena berteman, semua anggota Mertie mengerjakan tugas sesuai waktu yang diberikan karena profesionalisme. Seakan bukan organisasi sekolah melainkan sudah memasuki dunia pekerjaan yang sesungguhnya.
Cornelia ingin menyapa Mertie yang sedang makan cemilan sambil melakukan sesuatu di depan laptopnya tapi diurungkan karena Mertie terlihat sibuk. Padahal sebenarnya saat ini Mertie sedang menahan napas karena Zewhit Kurcaci sedang berada di dekatnya. Tan, Teo dan Tom pura-pura tidak melihat itu dan hanya mulai mencari bahan lelucon agar mengeluarkan energi bahagia mengusir Calvin pergi darisana.
"Hahh ...." setelah Zewhit Kurcaci pergi barulah Mertie bisa bernapas normal.
"Sudah mau jam 9 ...." kata Osvald melihat jam di kantin.
Mertie juga ikut dibelakang mereka meski jaraknya terbilang jauh tapi yang penting Mertie tidak sendirian melewati lorong gelap itu. Setelah lepas dari lorong gelap itu, Mertie mengambil jalan lain karena asrama perempuan dan laki-laki berbeda arah.
"Mertie?!" teriak Teo.
"Apa?!" sahut Mertie cepat karena kaget.
"Kau tidak takut berjalan sendirian?! mau ditemani?" Teo melakukan bahasa isyarat.
"Apa maksudmu, aku tidak mengerti! pergi sana!" kata Mertie benar-benar tidak mengerti apa maksud dari Teo itu.
"Kau ini sedang apa?!" Osvald juga heran.
"Aku hanya mau berbaik hati tapi yasudahlah, bodoh amat!" kata Teo berjalan cepat.
Ketua asrama anak laki-laki sudah bersiap akan mengabsen. Tiga Kembar sudah siap di depan kamar dengan jempol mereka masing-masing untuk absen di mesin absensi yang dibawa ketua asrama.
"Felix dimana?!" tanya Tan.
"Sudah dekat!" sahut Teo yang disusul Felix membuka pintu dari tangga.
Mesin absensi asrama harus menggunakan sidik jari dan langsung tercatat hari, tanggal dan waktu penghuni asrama absen. Pada awal bulan, catatan absensi akan dibagikan. Adanya keterlambatan bisa membuat diskors untuk tidak boleh tinggal di asrama selama sebulan atau pelanggaran besar bisa diusir keluar dari asrama.
"Terkadang aku ingin merusak mesin itu dengan Sesemax ku." kata Tom saat mereka selesai absen dan berada di dalam kamar.
"Gallagher punya banyak uang, mesin absensi gampang untuk dibeli lagi yang baru." kata Tan.
"Kalau begitu, tinggal dihancurkan lagi sampai sekolah kehabisan uang." kata Teo.
"Jadi, apa ada berita terbaru dari luar atau kau barusaja bertemu Banks?" tanya Tan pada Felix.
"Aku baru memeriksa tempat perkemahan yang aman, lokasi sebelumnya Mertie tidak suka." jawab Felix.
"Oh, iya memang sudah mau musim gugur ... tanda perkemahan sekolah sudah akan kembali dimulai." kata Teo.
"Aku tidak tahu kau masih mencarikan lokasi ...." kata Tom.
"Di luar sana sedang tidak aman dan Mertie tahu betul itu karena dia sudah mengikuti aktivitas kita. Jadi untuk lokasi perkemahan harus yang jauh dari titik Gerbang Neraka. Aku sudah menemukan satu sebelumnya tapi dia tidak suka jadi aku carikan lagi." kata Felix.
"Kali ini kita tidak bisa menikmati perkemahan sekolah seperti dulu lagi. Kita harus berjaga kalau ada iblis yang datang, walau memang jauh dari Titik gerbang neraka tapi kita termasuk di dalam cincin gerbang neraka juga ...." kata Tan.
"Tentu saja, gerbang neraka yang diciptakan Efrain lebih besar dari yang dibayangkan ...." kata Tom.
...-BERSAMBUNG-...