
Badai salju pun berhenti dan langit mulai cerah. Orangtua Magdalene yang baru datang dari luar kota karena pekerjaan kini mengamuk di ruang guru, "Bagaimana bisa kalian tidak tahu dimana Alene berada? bagaimana bisa kalian tidak menjaga murid kalian? bagaimana bisa hal ini menimpa putri ku ...." Ibu Magdalene hanya bisa menyalahkan untuk menutupi rasa bersalahnya.
"Kami sibuk bekerja karena untuk masa depan Magdalene juga, sekarang apa guna nya sekarang? putri kami satu-satunya menghilang!" Ayah Magdalene sudah tidak membantu menenangkan Istrinya tapi mulai ikut menyesali perbuatannya.
Salju turun lagi, "Tolong bantu temukan tubuhku dan kembalikan pada orangtuaku ... aku mohon bantuan kalian Cain, Felix ...." suara Magdalene turun bersama salju itu.
"Sepertinya dia sudah mulai tenang!" Cain merasa lega mendengar suara Magdalene yang begitu tenang.
Sekolah diliburkan untuk mengefektifkan pencarian secara menyeluruh di sekolah Gallagher yang luas, tapi tidak ada tanda-tanda jasad Magdalene dimanapun.
***
Felix dan Cain mulai mencarikan kado ulang tahun untuk tiga kembar, "3 kado sekaligus!" Cain memukul dahinya.
"Tahun lalu kau kasi kado apa ke mereka?" tanya Felix.
"Buku!"
"Hahh, sudah kuduga ... ternyata dari dulu kau itu memang sudah membosankan!"
"Buku adalah hadiah yang tidak terpengaruh oleh waktu dan uniknya semakin umur bertambah cerita dan makna dari buku yang kita baca pun akan berbeda tergantung perubahan kepribadian kita ...."
"Apanya yang tidak terpengaruh oleh waktu, lama kelamaan kertasnya akan usang, tintanya akan memudar."
"Kau ini benar-benar tidak bisa menghormati kesucian dari sebuah buku ya! Aaaaaaa!!!" tiba-tiba Cain kaget dan melemparkan dirinya sendiri ke tanah yang dipenuhi salju.
"Kenapa keluar lewat sini?" tanya Felix melihat Verlin keluar dari gerbang dari Mundebris.
"Kalian sedang apa disini? kebetulan ... aku memang ingin mencarimu Felix, aku sudah menemukan bahan bakar untuk Curis ... untuk perjalanan mencari gelang untuk Cain ... mmmmm ...." mulut Verlin dibungkam Felix dan wujud Verlin jadi bisa muncul, untung saja tidak ada yang melihat.
"Ah, jadi ngerasain dingin deh!" keluh Verlin.
"Gelang untukku?" tanya Cain membersihkan salju yang ada di pakaiannya.
Felix menutup gerbang berhiaskan batu safir itu dengan hanya menatapnya, "Eh, aku masih mau kembali!" kata Verlin melihat gerbangnya menghilang.
"Bisa ya, Alexavier sesantai ini! berjalan-jalan sesuka hati ...." Felix berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku begini karena kau juga!"
"Karena aku? jangan bercanda! kau begini juga untuk bisa dapat poin banyak kan!"
"Tentu saja!" jawab Verlin tidak tahu malu, "Kalian sedang apa disini?" lanjutnya.
"Mencari kado ulang tahun." Cain tidak berusaha mengungkit soal gelang lagi.
"Wah, kenapa tidak bilang ... ayo cari di Mundebris saja! kebetulan banyak toko lagi kosong tidak ada penjualnya ... hahaha."
"Kau ini kalau tidak jadi Alexavier, mau jadi apa!" kata Felix geleng-geleng kepala kemudian tersenyum, "Ayo kita ke sana!" Felix menarik tongkatnya dan membenturkannya membuat gerbang besar berhiaskan Emerald muncul.
Cain tersenyum tidak percaya Felix punya jiwa pemberontak juga.
Besi yang berbentuk manusia yang ada di tengah gerbang pun melihat Felix lagi, "Selalu saja begitu! memangnya kalau bukan aku siapa yang akan memunculkan gerbang ini!" kata Felix kesal.
"Seringkali Caelvita meminjamkan tongkatnya, jadi saya mulai berhati-hati membuka gerbang!" Gerbang itu berbicara membuat Felix dan Cain kaget, "Ah, be ... gitu ...." tidak disangka gerbang itu membalas balik.
Gerbang pun dibuka dan mereka bertiga memasuki lorong berwarna hijau itu, "Paling enak memang memakai gerbang Caelvita, cepat sampai!" kata Verlin setelah sampai di depan banyak gedung toko yang tidak ada orang sama sekali.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan selama ini Felix?" tanya Cain takjub tiba di Mundebris.
"Apa yang di dahimu itu?" Felix memeriksa dahi Cain yang bersinar karena permata emerald yang terangkai seperti mahkota itu.
"Itu tanda seorang Alvauden!" kata Verlin.
"Apa tidak sakit?" Felix khawatir.
"Walau permata itu seperti tertanam di kulit tapi tidak berbahaya sama sekali ...." Verlin mulai berjalan memasuki sebuah gerbang yang diatasnya bertuliskan Nigfor.
"Nigfor?" tanya Felix.
"Nigfor adalah pasar terbesar yang ada di Mundebris. Biasanya berjalan disini harus saling berhimpit-himpitan dengan penduduk Mundebris lain tapi sekarang sepi begini ...."
"Kau datang lagi Verlin!" sapa seseorang.
Felix dan Cain mencari arah munculnya suara itu yang dari belakang, "Kelelawar?!" kata Cain langsung menutup mulutnya, "Maaf!"
"Lihat! aku sedang bersama siapa, Duarte?!" Verlin menunjuk Felix dengan semangat.
Kelelawar besar berwarna merah itu menatap Felix dengan senyuman lebar, "Selamat datang Tuan Muda!"
"Namamu Duarte?" tanya Felix.
"Iya Tuan Muda, senang bisa melihat Tuan Muda! Selamat datang juga kepada Tuan Alvauden!"
"Ah, iya ... halo!" kata Cain canggung.
"Daripada menggunakan Curis, kan lebih baik meminta kepada dia, pasti dia bisa menerbangkan kita dengan cepat ...." Felix memandang Verlin sambil berbicara dalam hati tapi kaget karena sepertinya didengar oleh Verlin, "Kau bisa mendengarku?"
Verlin mengangguk, "Aku juga bisa mendengarmu!" kata Cain disampingnya, "Eh!" Felix kaget.
"Saya juga bisa mendengar Tuan Muda!" kata Duarte mengangkat tangannya.
"Berbicara melalui pikiran dengan seseorang masih sulit ya? harus sebisa mungkin memfokuskan ke satu orang saja. Kalau tidak bisa dikontrol semua penduduk Mundebris akan mengira Caelvita sedang mengumumkan sesuatu ...." Verlin mulai memimpin jalan memasuki toko.
"Apa tidak apa-apa kita mengambil barang tanpa membayarnya, itu sama saja dengan mencuri!" kata Cain merasa yang dilakukannya saat ini salah saat memasuki sebuah toko yang bernama Fargo.
"Modelnya tidak ketinggalan jaman, bagaimana bisa?" tanya Felix.
"Walau semua toko designnya seperti toko barang antik tapi para penjualnya sering berjalan-jalan ke Mundclariss untuk menyesuaikan model yang sedang dipakai oleh manusia."
"Tetap saja ini tidak benar!" Cain masih tidak bisa ikut melakukan hal yang tidak baik menurutnya.
"Tenang, nanti Felix yang bayar!" kata Verlin.
"Aku? bagaimana caranya?"
"Coba tekan itu!" Verlin menunjuk banyak tombol dengan masing-masing simbol yang berbeda di depan meja kasir.
Ditekannya simbol bulan berwarna hijau, "Letakkan barang yang dibeli di depan mata burung elang!" kata seseorang yang tidak diketahui ada dimana.
"Burung Elang? yang ini?" Felix mengambil sembarang sepatu dan meletakkan di depan sebuah patung Burung Elang.
"Anda akan membayar dengan menggunakan uang dari Argepono Caelvita?"
"I ... ya!" jawab Felix walau tidak tahu apa maksudnya.
"Sebuah koin emerald turun dibawah tombol yang ditekannya tadi lalu koin itu langsung masuk ke dalam laci penjualan toko.
"Apa itu dari tabungan yang di bank?" kata Felix panik melihat banyak koin emerald yang turun.
"Lebih tepatnya uang yang kau simpan dari rumah, kasir menggunakan kekuatan spritual untuk mengambil uang simpanan dari penduduk Mundebris, jadi tidak perlu membawa uang saat ingin membeli barang."
"Tunggu, setahuku ... aku tidak punya koin emerald yang kusimpan di panti!"
"Bukan rumah yang di Mundclariss, tapi rumahmu yang di Mundebris!"
"Aku punya rumah disini?!"
"Tentu saja!" Verlin memukul wajahnya sendiri.
"Kenapa kau tidak pernah bilang?!"
"Kau tidak pernah bertanya!"
Cain iseng menaruh sepatu pilihannya di depan mata burung elang dan mencoba menekan semua tombol juga karena pusing mendengar Felix dan Verlin ... saat menekan simbol bergambar singa, koin emas keluar, "Eh!"
"Siapa sekarang yang nakal?! memakai uang ibunya diam-diam!" kata Verlin sambil memasang senyum jahil.
...-BERSAMBUNG-...