UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.43 - Hal Aneh di Mundebris



Tadi Felix tidak begitu memerhatikan sekelilingnya saat masuk Mundebris tapi sekarang disekelilingnya terlihat banyak tanaman yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Walau takjub dia tetap memasang wajah datar.


"Bulan purnama ...." Nenek Alviani mendongak memandang bulan.


"Sudah lama aku tidak melihat bulan purnama di Mundebris ...." Verlin kemudian duduk di atas rerumputan, "Verlin ... jangan duduk disini ...." kata seseorang.


"Siapa itu?" tanya Felix mencari asal suara.


"Kalian kan bisa memakai penahan berat badan ... dasar pemalas!" Verlin mencoba mencabut rumput tapi rumput itu malah balik menarik membuat Felix kaget, "Rumput bisa bicara?"


"Semua hal di Mundebris punya akal dan bisa berbicara pastinya ...." sebuah batang menjulur dari pot yang jauh dan menyelipkan bunga pada telinga Felix lalu kembali ke potnya semula.


Felix mengambil bunga itu tapi bunga itu kemudian mengedipkan mata membuatnya kaget dan melempar bunga berwarna ungu dan kuning itu, "Aduduh ...." katanya meringis, "Tolong tanam saya lagi Tuan Muda Caelvita ...."


Nenek Alviani mengambil bunga itu dengan hati-hati dan membawanya ke pot baru, "Tolong air ...." katanya dengan suara sangat menggemaskan, "Yeeeaaayy!" teriaknya setelah diberi siraman air oleh Nenek Alviani.


"Bagaimana mereka bisa berfotosintesis tanpa sinar matahari?" tanya Felix kemudian terganggu lagi oleh Verlin dan Rumput yang masih saja saling tarik-menarik.


"Matahari itu apa?" tanya rumput yang diinjak Felix membuatnya langsung memindahkan kakinya tapi mau dimanapun sekarang dia berada di tengah lapangan yang dipenuhi rumput.


"Tidak apa-apa, kami bisa menahan berat asal tidak sampai 500kg ...." sebuah helaian rumput menepuk-nepuk sepatu Felix, "Oh iya ... tadi matahari itu apa?"


"Iriana tidak pernah memberitahu kalian? matahari adalah bintang pusat tata surya ... cahaya bulan juga berasal dari pantulan sinar matahari ...." Felix menunjuk bulan.


"Nona Iriana tidak tahu apa itu Matahari, dia hanya bilang seperti bola besar berwarna jingga ... eeeh, cahaya bulan kan berasal dari Tuan Muda Caelvita ...."


"Dari aku?! tunggu tadi kau bilang Iriana bilang Matahari itu apa? haha ...." Felix menertawakan cara Iriana menjelaskan yang seperti anak TK itu.


"Hahaha ... kalau bulan purnama begini berarti menandakan Caelvita sedang ada di Mundebris ... hemmm ... aku bisa tumbuh lebih tinggi deh ...."


"Jangan bikin repot yah! aku sedang sibuk jadi tidak bisa memotong rapi kalian ... jangan buat halaman rumahku menjadi hutan belantara!" Verlin datang menduduki rumput yang berbicara tadi.


"Jangan khawatir ada Nenek Alviani yang akan memotong kami ... ah sudah lama akhirnya bisa punya daun baru ...."


"Memangnya kalau dipo ... tong kalian tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa asalkan tidak mencabut kami sampai akar, malah bagus karena daun lama kami bisa dipotong ...."


Felix tidak habis pikir kini dan mulai melangkahkan kaki tapi berjinjit di atas rerumputan hingga sampai di kursi yang beralaskan kerikil, "Halo Tuan Muda Caelvita ...." kata kerikil yang kini menumpuk dirinya seperti tangan dan melambai, "Hahh?!" teriak Felix naik diatas kursi dan melompat kebelakang.


"Hiyyaaaa ... lompatan yang bagus!" tanah yang dipijakinya pun juga berbicara.


"Verlin ... ayo kita kembali ke Mundclariss!" Felix sudah tidak sanggup lagi berada disana.


"Baiklah, kita juga sudah kelamaan disini ...."


Nenek Alviani melambaikan tangan diikuti oleh setiap tanaman yang terlihat dari luar pagar halaman rumah Verlin dan tanaman diluar rumah Verlin juga kini ikut-ikutan.


Kali ini Verlin yang membukakan gerbang untuk kembali ke Mundclariss karena diceramahi pohon yang ada di depan rumahnya gara-gara tidak sopan membuat seorang Caelvita membukakan gerbang untuknya.


Cara Verlin membuka gerbang dengan membuat api berwarna biru dengan empat jarinya dan melemparnya membuat empat titik dan saling terhubung kemudian muncullah gerbang yang dipenuhi permata safir dan mereka berdua mulai berjalan memasuki lorong berwarna biru itu. Cukup lama dibanding melewati lorong yang dibuka Felix tadi.


"Sudah pagi?" tanya Felix kaget.


"Ah, lupa kuberitahu yah ... 1 jam di Mundebris berarti sudah 1 hari berlalu di Mundclariss dan sepertinya kita menghabiskan 30 menit di Mundebris berarti sudah setengah hari berlalu ...."


"Apa?! kenapa kau tidak bilang dari awal? sekarang aku terlambat masuk sekolah jadinya!"


"Sekolah?!" Verlin memutar matanya.


***


"Iriana? apa sebenarnya maksudnya dengan menyuruh Nenek Alviani menunggu disana?" Felix pasrah dan akhirnya memilih bolos masuk sekolah.


"Sepertinya Sang Caldway ingin Nenek Alviani untuk menjadi Alexavier ...."


"Bukannya orang meninggal baiknya pergi ke surga yah? kenapa malah membuat neneknya sendiri menjadi hantu?"


"Semua pasti ada alasannya ...." Verlin menyentuh Felix dan kemudian mengulurkan tangan kanannya.


"Bukannya katanya kau takut lama terlihat di Mundclariss ... apa juga maksud tangan itu?"


Felix jadi memasang wajah melongo sekaligus kesal terhadap pernyataan Verlin dan menyentuh tangan Verlin yang diulurkan itu.


"Alexavier adalah profesi atau pekerjaan paling aman bagi Zewhit ... dan jika kinerja bagus bisa dibangkitkan menjadi Amantasia ... tapi butuh waktu yang lama juga!" Verlin kembali dengan membawa segelas minuman hangat dari mesin otomatis yang ada di seberang jalan.


"Cuma segelas? oh iya apa hantu tidak bisa makan makanan manusia lagi?"


"Bisa, siapa bilang?!


"Ada kenalan hantu yang bilang ...."


"Bisa saja, asalkan kau menyentuhnya sehingga membuatnya bisa menampakkan diri ... hanya saja rasanya tidak akan sama lagi seperti saat masih manusia dulu ... lebih baik kau memberi Alger makanan dari Mundebris, dia pasti akan suka!"


"Bagaimana kau bisa tahu namanya?"


"Keceplosan yah ... hahaha ... tadi saat menyentuhmu aku membaca sedikit kenanganmu ...."


"Tidak sopan! ? tunggu ... apa itu Amantasia?"


"Setengah Viviandem setengah Zewhit!"


"Jadi kaupun bisa hidup lagi menjadi Viviandem?!


"Kalau tidak mati lagi yah ... begitu deh!"


"Butuh berapa lama untuk bisa menjadi Amantasia dan bagaimana caranya?"


"Sebenarnya sih tergantung kamu juga ...."


"Tergantung aku?"


"Mengerjakan lebih banyak tugas dari seorang Caelvita akan membuat poin untuk dibangkitkan menjadi Amantasia semakin cepat juga ...."


"Jadi yang Anak Kecil Alvauden yang waktu itu bilang tidak jadi dibangkitkan menjadi Amantasia itu karena Iriana meninggal?"


"Sedikit lagi dia bisa dibangkitkan ... wajar saja kalau dia kesal ... hahaha."


"Kenapa Alexavier merupakan pekerjaan paling aman?"


"Menjaga pemilik rumah, menjaga rumah dan seisinya merupakan pekerjaan paling mulia dan memberi banyak poin, walau biasanya butuh 100 tahun lamanya baru bisa mengumpulkan poin untuk bisa dibangkitkan menjadi Amantasia ..."


Felix kaget mendengar butuh 100 tahun lamanya, "Apa tidak ada pekerjaan lain lagi?"


"Saat masa antara menghilangnya Sang Caldway dan munculnya Caelvita baru yang belum sempurna hanya menjadi Alexavier pilihan satu-satunya ...."


"Bagaimana caranya agar membuat han ... maksudku Zewhit menjadi Alexavier?"


"Gampang saja, tinggal mendaftar di kantor Alexavier tapi sekarang kantornya tutup."


"Jangan bilang?"


"Iya, kau harus membangkitkan seluruh Viviandem barulah semua aktivitas di Mundebris bisa berjalan normal lagi, Nenek Alviani bisa menjadi Alexavier seperti yang dikehendaki Sang Caldway dan seperti keinginanmu menjadikan Alger juga Alexavier kan?"


"Tapi Alvauden Anak Kecil itu bisa jadi Alexavier setelah Iriana meninggal? bagaimana ceritanya?"


"Akan ada saja hal istimewa bagi Alvauden ...."


***


Felix berjalan menuruni tangga menuju stasiun kereta sambil memikirkan obrolannya dengan Verlin tadi.


"Kenapa kau begitu terobsesi membuatkan gelang baru untuk Cain? dia kan bisa merasakan hidup luar biasa menjadi Viviandem."


"Aku hanya ingin Cain bisa hidup normal seperti manusia biasa ...."


Sementara saat ini Cain tidak bisa fokus belajar di kelas karena mejanya kini dipenuhi hantu yang saling menumpuk dirinya, "Bisa gila aku kalau begini ... Felix, kau dimana?" ingin rasanya Cain menangis.


...-BERSAMBUNG-...