
"Mudah!" kata Teo begitu ceria.
"Wah, sudah kuduga kau memang jagonya soal ide." kata Tan.
"Jadi apa? cepat katakan!" kata Tom.
"Hancurkan pintu saja!" kata Teo membuat Tan dan Tom melongo.
"Jadi, itu idemu?! kau pikir kami bodoh tidak memikirkan itu?!" kata Tom.
Tan kelihatan kecewa karena mengira Teo benar menemukan ide yang bagus seperti sebelum-sebelumnya, "Ternyata ... tidak selamanya. Harusnya aku tahu itu ... Teo kan memang orang yang seperti ini. Apa yang aku harapkan?!"
"Mudah sekali kita melakukan itu! tapi, akan membuat keributan besar dan meninggalkan jejak yang tidak biasa. Hahh ... aku pikir, kau akan memiliki ide yang bagus." kata Tom.
"Jangan salahkan aku! kalian berdua juga memikirkan yang sama, kenapa terlihat meremehkanku begitu?!" kata Teo merasa tidak adil.
"Baiklah, ayo kita lakukan ini saja." kata Tan pasrah.
Tan membuat dirinya tidak terlihat saat melewati kerumunan banyak orang. Teo dan Tom sendiri sudah tidak terlihat daritadi. Berjalan melewati banyak orang yang sedang mengeluh karena keterlambatan yang mendadak itu.
Sampai di depan pintu, Teo dan Tom menjaga agar tidak ada yang mendekat saat Tan sedang menggunakan Telloppernya untuk membuka pintu kereta dengan paksa. Tellopper yang kecil dan tipis bisa masuk diantara sela pintu kereta. Tan mulai menutup matanya dan Tellopper kelihatan bergerak memanjangkan dirinya memenuhi bagian sela pintu. Tellopper kemudian terlihat mendorong pintu itu untuk terbuka.
"Bukankah kau bisa membuka itu dengan kekuatanmu! mana hasil latihanmu selama ini?! ototmu ini juga kenapa tidak digunakan?!" kata Teo.
"Sekuat apapun aku, mana mungkin bisa mengalahkan kekuatan Tellopper?!" kata Tom.
"Akan lebih cepat kalau menggunakan Sesemax." kata Teo yang sebenarnya sudah tidak sabaran.
"Kalau menggunakan Tellopper akan terlihat lebih natural terbuka sendiri kalau menggunakan kapak, pintu itu akan hancur." kata Tom.
"Ayo!" Tan menghentikan mereka dan sudah berada di luar kereta.
"Wah ... dinginnya!" keluh Teo.
Setelah Teo dan Tom sudah keluar dari kereta, Tan memendekkan Telloppernya dan dibuat menghilang. Pintu kereta juga kelihatan kembali tertutup tapi tidak rapat lagi. Bisa dipastikan itu sudah rusak karena dibuka paksa.
"Ayo, lari!" kata Tom merasakan dingin yang menusuk.
Tan dan Teo setuju, untuk menghilangkan dingin harus dengan berlari. Walau kaki lelah, tapi karena dingin lebih mendominasi jadi mereka lupa dan mulai berlari lagi.
Saat sampai di depan kereta, memang terlihat banyak salju yang menumpuk. Wajar jika kereta terpaksa diberhentikan demi keselamatan. Mereka bertiga melanjutkan berlari meninggalkan kereta yang sudah mulai terlihat jauh di belakang.
"Untungnya kita sudah tidak terlalu jauh lagi." kata Tom.
"Mungkin, kita memang tidaklah sesial itu." kata Tan tertawa bagaimana memikirkan dirinya merasakan hal aneh jika tiba-tiba mendapatkan keberuntungan dan merasa terbiasa kalau sial.
"Biasanya kita hanya melihat pemandangan ini dari dalam kereta, tapi melihatnya dengan berlari sendiri di lintasan kereta rasanya berbeda." kata Teo menikmati pemandangan sambil berlari.
"Apalagi ditambah efek salju begini ...." kata Tan.
"Sempurna!" sahut Teo tertawa sedangkan Tom hanya tersenyum mendengar kedua saudaranya sedang mode mendramatisir situasi.
Tidak terasa mereka telah sampai di stasiun kereta yang ada di pusat kota Pippa. Terlihat sangat sepi dan bersih karena memang kebanyakan yang dulu kesana hanyalah pendatang dari luar kota. Sekarang hanya pegawai pemerintahan saja yang datang kesana untuk bekerja.
Baru terasa kaki mereka kelelahan setelah sampai, entah karena pemandangan yang indah di jalan jadi mereka lupa atau karena termotivasi oleh dingin makanya kaki otomatis bergerak sendiri. Sehingga punya kekuatan untuk sampai di stasiun lebih cepat dari perkiraan.
"Tunggu, apa itu disana?!" tanya Teo menyipitkan matanya melihat dari arah mereka tadi berlari.
"Mana mungkin ...." kata Tom mengingat bagaimana salju yang begitu banyak menghalangi pasti akan butuh lama untuk dibereskan.
"Bukan kereta, tapi manusia." kata Teo.
"Apa maksudmu?!" tanya Tom kembali mundur untuk memastikan omong kosong Teo itu. Tapi ternyata memang benar, ada rombongan besar sedang berjalan di atas lintasan kereta mendekat.
"Apa mereka tidak bisa menunggu juga seperti kita, makanya lebih memilih untuk berjalan saja?!" kata Teo.
"Tidak, ada yang aneh ...." kata Tom melihat pergerakan rombongan yang tidak biasa itu, "Kenapa mereka harus bergerak dalam barisan seperti itu?! harusnya kan mereka berjalan disamping rel kereta saja dan terpisah-pisah. Tapi mereka terlihat seperti tentara yang dibariskan saja."
"Lari!" kata Tan dengan suara rendah setelah ikut bergabung melihat apa yang Teo dan Tom lihat itu.
"Kenapa?!" tanya Tom.
"Lari!" kali ini Teo yang berteriak.
Rombongan banyak orang yang terlihat itu juga semakin menambah kecepatan, bahkan sudah keluar dari barisan dan berlari seperti sedang tidak dalam pikiran yang waras. Cara lari mereka seperti tidak memperdulikan keselamatan tubuh mereka sendiri melainkan hanya teurs berlari. Ada yang sepatunya terlepas, tidak dihiraukan dan hanya terus berlari. Bahkan ada yang kakinya kelihatan mengeluarkan darah karena terluka tapi tetap berlari juga seakan tidak merasakan sakit sama sekali.
"Apa-apaan ini?! apa mereka zombie?!" Teo panik.
"Tidak ada yang namanya zombie." kata Tom menarik paksa Teo untuk berlari.
"Mereka kan tidak melihat kita, kenapa harus berlari?" tanya Teo.
"Kau barusan terlihat tahu! kalau sedang dalam keadaan panik, kita tidak bisa menjaga tubuh kita tetap tidak terlihat." kata Tan.
"Dan kalau wujud kita terlihat, otomatis Aura Alvauden kita akan langsung menyebar." kata Tom.
"Makanya, kenapa mereka tadi langsung berlari karena ... kau yang tiba-tiba kelihatan. Auramu terlihat oleh mereka!" kata Tan.
Teo pun akhirnya mulai mengerti dan melepaskan tangan Tom untuk berlari juga, "Bersembunyi pun tidak akan berguna, karena kalau kelihatan pasti aura kita akan tetap terlihat. Cara yang tepat memang hanyalah berlari."
"Akhirnya ... kau paham juga." kata Tom.
"Rasanya seharian ini kita terus berlari ... lama-lama kita ini jadi runningkid ...." kata Teo.
Tiga Kembar sudah berlari sampai di dekat lubang misterius yang ada ditengah kota Pippa itu. Terlihat disekitar sana ramai karena banyak ahli yang ingin meneliti lubang itu. Toko-toko disana juga diubah menjadi tempat penelitian. Sementara toko dan bangunan yang jauh darisana kelihatan tidak ada yang menempati.
"Toko dan gedung yang tidak terpakai terlihat menyeramkan saja." kata Teo.
"Hanya bagian disini yang terang, yang lainnya seperti tempat berhantu saja." kata Tom.
Lubang misterius itu sudah tidak bisa dilihat langsung karena tertutupi oleh plastik putih yang mengelilingi. Teo mencoba membuka pintu untuk masuk kesana tapi tangannya dipegang erat oleh seseorang.
"Bapak bisa melihat saya?!" tanya Teo panik melihat seorang Laki-laki berjas putih menahan tangannya.
"Teo!" teriak Tan dan Tom saat melihat Teo dicekik oleh Laki-laki itu dan Teo mulai diangkat seluruh tubuhnya hanya dengan menggunakan satu tangan.
Semua pekerja yang ada disana, yang tadinya kelihatan biasa-biasa saja dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing langsung berhenti beraktivitas dan mengelilingi Tan dan Tom sekarang.
Orang-orang yang tadinya di dalam kereta yang berhenti itu juga sudah mendekat, masih dengan berlari tanpa ekspresi.
"Kita masuk dalam perangkap." kata Tom melihat kemanapun tidak ada jalan keluar lagi karena sudah dikepung.
...-BERSAMBUNG-...