
Hari keempat adalah hari dimana mereka harus lebih bersiaga dari hari sebelumnya. Karena hari ini merupakan hari dimana mereka menukar kematian Lander, ayah dari pemilik perusahaan penyiaran tv yang rela membakar perusahaannya sendiri untuk membakar pelaku yang menukar kematian ayahnya. Tapi semua itu juga karena bujukan Efrain. Sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi hari ini, apakah sesuai apa yang terjadi saat mereka ada di masa depan atau berbeda lagi saat benar dijalani.
"Mungkin saja tidak akan ada yang terjadi ...." kata Teo.
"Ya, bisa jadi putra dari Lander itu baru bisa mudah dipengaruhi setelah ayahnya benar meninggal." kata Tom.
"Tetap saja kita tidak boleh membuat penjagaan kita lengah!" kata Felix.
"Kalau itu sudah pasti ... aku mengatakan itu untuk membuat diriku sendiri tenang!" kata Tom tertawa.
"Bagaimanapun juga, malam ini akan menjadi malam yang berat sampai besok." kata Tan.
"Kita harus mencegah kebakaran terjadi dengan masuk ke dalam gedung yang sudah jelas-jelas kita ketahui bahwa itu adalah jebakan ...." kata Cain.
"Jangan!" kata Teo.
"Jangan apa?!" tanya Cain.
"Kau mau bilang kan ... untuk mengerjakan ini sendiri!" jawab Teo.
"Memang ini sudah menjadi misiku! dan ... aku tidak sendiri! ada Goldwin menemaniku!" kata Cain.
"Tetap saja ... kami akan membantumu!" kata Tan.
"Akan sulit jika melakukan ini dengan banyak orang!" kata Cain.
"Akan mudah melakukan ini dengan banyak orang!" balas Tom.
"Hahh ...." Cain hanya bisa menghela napas karena tidak punya tenaga untuk berdebat dengan Tom.
"Kalian berdua pasti kesusahan melakukan hal seperti ini tanpa kami selama ini?!" kata Tan mengingat mereka bertiga baru bergabung setelah Felix dan Cain melakukan banyak hal hanya berdua dulunya.
"Mungkin tidak terlalu membantu ... tapi setidaknya kalian pasti tidak kesepian karena kami kan?!" kata Teo bercanda.
"Sebenarnya aku tidak ingin kalian bisa ikut masuk ke dunia yang aku dan Cain masuki saat ini ...." kata Felix.
"Kau ini!" kata Tom.
"Tapi jujur aku senang kita melakukan ini bersama-sama ... kalian ikut bergabung dalam penderitaan ini karena kesalahanku dan juga keegoisanku!" kata Felix.
"Lagi ... lagi kau berkata seperti itu! aku sudah bosan." kata Teo.
"Sebelumnya memang hanyalah kesetiaanku saja yang membuatku terus mengikutimu Felix ... tapi saat berlatih dengan Banks semalam membuatku sadar, dimana lagi aku bisa mendapat pengalaman hebat seperti ini ... maksudku bisa mempunyai kekuatan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa pada umumnya ... aku ... kagum saja dengan diriku sendiri!" kata Tan.
"Mulai lagi si pak tua Tan!" kata Cain meledek.
"Bagi kami ini sebuah keajaiban ... hal yang tidak bisa dilakukan orang lain, bisa kami lakukan!" kata Teo.
Cain, Tan dan Teo memandang Tom, "Jangan mengharapkan aku mengatakan sesuatu tentang kagum, keajaiban dan sebagainya! yang bisa kulakukan hanyalah memanggil gerbang emerald dan masuk Bemfapirav!" kata Tom membuat mereka tertawa karena satu-satunya yang belum memunculkan senjata Alvauden.
"Aku bisa bertahan hingga saat ini berkat kalian juga ... tanpa kalian aku pasti sudah depresi berat sekarang! inilah kenapa Caelvita perlu seorang Alvauden ...." kata Felix dalam hati.
***
Tidak ada pilihan lain selain menggunakan garis pelindung Cain dan Felix memakai Idibalte. Hari ini dan besok mereka harus lebih waspada. Maka dari itu mereka harus bertingkah layaknya hantu, dengan tidak terlihat. Naik ke bus mereka bisa saja tidak membayar karena tidak kelihatan tapi mereka tetap menscan kartu transportasi bus mereka membuat sopir bus mengira ada yang salah dengan mesin scan kartu.
"Kita adalah hantu yang baik ...." kata Teo bangga pada dirinya sendiri tetap berbuat baik disaat punya kesempatan untuk menghemat.
Sampai di halte bus dekat sekolah mereka membunyikan bel untuk berhenti. Semua penumpang mencari siapa yang ingin turun di halte itu tapi tidak melihat siapapun. Mereka segera turun agar tidak membuat sopir dan penumpang bus lainnya ketakutan.
Saat berjalan memasuki pagar sekolah mereka melihat mobil dari perusahaan penyiaran tv lewat di samping mereka.
"Entahlah apa yang akan dilakukan mereka ... tetap bersikap biasa saja!" kata Felix.
Saat sudah duduk di kelas, mereka membuka garis pelindung dan Felix membuka Idibaltenya.
"Hahh?! sejak kapan kalian masuk?" tanya Dallas kaget melihat kedatangan mereka berlima.
"Daritadi ... kau sibuk membaca jadi tidak melihat kami!" kata Cain.
"Begitukah?" Dallas pun meragukan ingatannya sekarang.
"Iya ... bisa-bisa terjadi gempa bumi kaupun tidak sadar kalau sedang membaca buku!" kata Tom membantu Cain.
Dallas menggaruk-garus kepalanya dan mulai mengingat-ingat tapi setahunya memang dia tidak merasakan kedatang mereka.
"Aku tidaklah seserius itu kalau membaca buku sampai-sampai tidak menyadari kalau ada orang yang masuk ke kelas!" kata Dallas.
"Kau ini bicara apa sih ... jangan membuat kami takut!" kata Teo melebih-lebihkan.
Cain dan Tom kesal dengan akting buruk dari Teo itu tapi berkat Teo juga mereka bisa lepas dari kecurigaan.
***
Kelas dimulai, bukannya dengan pelajaran pertama sesuai jadwal tapi dari produser penyiaran tv yang masuk berbicara. Mengatakan akan melakukan interview singkat soal pendidikan sekolah dasar di Gallagher.
"Anehnya hanya kelas kita yang terpilih ...." kata Cain menyeringai.
Kedua produser tv itu melihat satu per satu murid yang ada di kelas.
"Mereka terlalu jelas ... bisa tidak kalau berpura-pura akting sedikit!" kata Cain.
Felix menginjak kaki Cain yang tidak berhenti mengomel kesal, "Bersikap biasa saja!" kata Felix.
"Ini sudah biasa saja!" kata Cain tidak bisa menyembunyikan kekesalannya pada kedua produser tv yang datang itu.
"Kalian satu per satu akan dipanggil untuk melakukan interview! jangan lupa untuk bersikap sopan dengan paman dan tante ini ya?!" kata Bu Farrin menggantikan Pak Egan yang masih di rawat di rumah sakit.
Satu per satu teman sekelas mereka pergi melakukan interview tapi waktunya sangat cepat. Seakan mereka sengaja ingin cepat-cepat menemui Felix dan Cain.
Nama Cain dipanggil, "Aku pergi dulu ...." kata Cain santai.
"Ingat! bersikap biasa saja layaknya anak SD kelas 4 usia 11 tahun!" kata Felix lewat pikiran.
Mata kedua produser itu terlihat berseri-seri melihat kedatangan Cain memasuki ruangan interview.
"Jadi, nama adik ... Cain Vale Wilmer?!" kata produser laki-laki.
Wajah datar Cain berubah cerah, "Halo kakak! iya saya Cain yang bla-bla itu hehe ...." kata Cain tersenyum mengubah mode kesalnya dengan mode akting ceria.
"Kalau sudah umur 11 tahun apa masih membaca dongeng gak ya?" tanya produser perempuan.
"Dongeng? masih! bahkan ibu panti saya masih suka mengoleksi buku dongeng sampai sekarang! rasanya, umur bukanlah penentu untuk bisa membaca atau tidak membaca dongeng ...." jawab Cain.
"Jadi percaya dong soal sesuatu yang mustahil ... seperti dongeng putri duyung yang pergi meminta pertolongan penyihir laut dan membuat perjanjian. Ia menukar suara indahnya dengan sepasang kaki. Tapi sang pangeran malah menikahi perempuan lain. Penyihir laut yang mengetahui hal itu memberi tawaran baru. Si penyihir meminta agar putri duyung membunuh pangeran tersebut bila ingin selamat dari siksaan kaki ... bagaimana menurut Cain soal kejahatan tukar menukar yang dilakukan oleh Penyihir dan Putri duyung?" kata produser perempuan berusaha mengungkit soal permainan tukar kematian.
"Jadi dia mencoba memancingku dengan cara ini ...." kata Cain dalam hati berakting berpikir lama, "Tapi ia nyatanya tak tega untuk membunuh pangeran, jadi tubuh putri duyung berubah menjadi gelembung. jadi intinya tidak ada yang namanya kejahatan tapi putri duyung hanya melakukan itu karena ingin mencoba bahagia dan penyihir bersedia membantu ... tidak ada tindakan tukar menukar yang jahat! murni karena ambisi putri duyung semata ...." balas Cain.
...-BERSAMBUNG-...