UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.239 - Selamat Jalan ....



"Transfer jiwa?" tanya Felix.


"Roh dari seorang Pewaris Permainan Tukar Kematian bisa menghidupkan seseorang kembali. Terlebih lagi Ian adalah Alvauden. Efrain saat ini seperti mendapat gaji sekaligus bonus ...." jawab Haera masih sempat bercanda.


"Jadi karena itu Efrain membunuh Franklin ... kau sudah tahu ini akan terjadi saat Franklin membuang gelarnya sebagai pewaris dan menyerahkannya pada pewaris baru kan? dari awal kau sudah tahu kalau Cain akan ditangkap oleh Efrain ... kenapa kau tidak bilang apa-apa kepadaku?" kata Felix.


"Maka dari itu ... Haera disini menggantikan Ian!" kata Haera.


"Kau langsung memberi tahu Cain soal ini saat terpilih menjadi pewaris?" tanya Felix.


"Tentu saja! langsung Haera katakan setelah Ian menjadi pewaris ... kegagalan merupakan peluang untuk mendapatkan kemenangan dua kali lipat." jawab Haera.


"Kau harusnya memberitahuku ... tidak! Cain yang harusnya memberitahuku! setidaknya aku bisa ikut membantu ... jadi apa yang direncanakannya? tidak mungkin dia mengorbankanmu begini tanpa melakukan sesuatu kan?" kata Felix.


"Ian sedang melakukan hal yang lebih besar ...." kata Haera.


"Apa itu? dimana dia? jadi ... rohnya bukan ditangkap melainkan memang ini sudah direncanakan. Kau menggantikannya dengan menyamar saat Cain bisa melakukan hal lain? menyelamatkan Kiana kah?" kata Felix.


"Ian tidak berniat menyelamatkan satu orang saja! inilah beruntungnya mendapatkan seorang pewaris Leaure ...." kata Haera.


"Jadi apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Felix.


"Lix akan tahu saat terbangun nantinya!" jawab Haera.


"Terbangun? sekarang kan aku sudah bangun ...." kata Felix bingung.


"Tidak dengan tubuh itu, tapi dengan tubuh Lix yang saat ini sedang bertarung ...." kata Haera.


"Memangnya aku ditubuh siapa saat ini?" Felix mulai memaksakan dirinya memeriksa tubuhnya walau berat untuk mengangkat kepala tapi setidaknya bisa melirik, "Tubuh perempuan ...." Felix kaget.


Efrain sedang sibuk melakukan sesuatu di depan api. Haera yang sedang terikat di atas altar ternyata berwujud Cain, tapi mata Felix tentunya tidak bisa dibohongi. Felix sendiri juga berada di atas altar disamping Haera dan berada di dalam tubuh seorang perempuan. Walau terlihat asing tapi Felix bisa menebak siapa perempuan itu, "Iriana!" itu adalah tubuh Iriana yang sudah tidak bernyawa.


Tapi sayangnya Felix tidak bisa melihat wajah Iriana seperti apa. Efrain sepertinya terus menjaga jasad dari sahabatnya itu untuk dihidupkan kembali. Memang tidak ada yang mustahil di dunia Mundebris. Tidak aneh jika memang ada cara untuk menghidupkan kembali orang mati.


"Kau sepertinya keliru!" kata Haera.


Efrain membuka matanya yang sedang sibuk merapalkan mantra.


"Jiwa Iriana sudah tidak ada lagi, saat Haera membuat pikiran Felix menjadi kuat dan kebal ... saat itulah jiwa Iriana juga sudah ikut menghilang. Walau kau menghidupkan tubuh Iriana, jiwa yang tertarik bukanlah jiwa Iriana tapi jiwa Felix. Felix yang akan hidup di tubuh Iriana .... kau pasti sudah melihat bagaimana Felix sudah tidak tersiksa lagi saat bertemu denganmu ... itu karena pikiran dan jiwanya sudah kuat berkat Haera." kata Haera dengan suara Cain.


"Aku akan hidup dengan tubuh Iriana?" Felix panik sendiri.


Felix tahu bukan saatnya mengkhawatirkan itu tapi membayangkan hidup di dalam tubuh perempuan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


Berkat Haera yang berbicara melalui pikiran dengan Felix akhirnya bermanfaat juga. Tidak terbayangkan berapa kali Felix merasakan pusing yang luar biasa saat Haera berbicara melalui pikiran. Tapi ternyata itu adalah sebuah latihan dari Haera dan siapa yang tahu kalau itu untuk menyelamatkannya. Padahal dulunya, tidak terhitung berapa kali Felix memaki Haera saat membuatnya pusing disituasi sedang ingin menyelidiki kebakaran di Rumah Daisy.


Efrain sepertinya tidak percaya perkataan Haera itu. Bukannya tidak percaya tapi hanya ingin mempercayai apa yang ingin dipercayainya. Terlalu senang melihat Iriana membuka matanya tapi jiwa yang datang ternyata adalah Felix.


"Iriana?" Felix berusaha memanggil Iriana.


"Anna tidak akan menjawab atau tidak bisa menjawab ... walau sedikit, tapi kehadiran Anna bisa mempengaruhi ritual Efrain ini!" kata Haera menghentikan Felix.


"Bukan hanya Efrain satu-satunya iblis yang bisa melakukan transfer jiwa ...." jawab Haera tersenyum.


"Maksudmu ... Banks?" tanya Felix.


"Melakukan transfer jiwa harus dengan kekuatan besar, makanya Efrain ikut campur dalam permainan untuk mengincar kekuatan itu ... tapi meski begitu, Anks bisa memanggilmu kembali karena Lix punya kekuatan yang sama besarnya juga ... itu bisa membantu Anks." jawab Haera.


"Tapi seingatku, Banks sedang tidak ada didekatku ...." kata Felix.


"Pahlawan memang datangnya paling terkahir!" kata Haera tersenyum dengan air mata menetes.


"Kau ...." Felix menyadari apa yang sedang terjadi.


"Selamat tinggal Lix! saat bertemu diriku yang baru ... meski tidak seperti Haera yang sekarang, tapi tolong sapa dan perlakukan Haera yang baru dengan baik ...." kata Haera.


"Walaupun kau tidak mengingatku, aku akan terus mengingatmu!" kata Felix.


"Mendengarnya saja sudah membuat lega ... itu sudah lebih dari cukup." kata Haera.


Efrain datang mendekat dengan Isvintria yang besar dan bersinar terang memenuhi tangan kirinya. Haera menutup mata dengan tersenyum.


"Haera!" teriak Felix melihat Efrain akan menyerang Haera tapi saat membuka mata dia sudah kembali ke tubuhnya.


"Syukurlah ... hampir saja!" kata Banks menghela napas.


"Haera ...." kata Felix mengingat apa yang terjadi dengan Haera, dia juga tidak bisa kesana memastikan apa Haera baik-baik saja.


"Kau tidak apa-apa Felix?" tanya Teo.


"Haera sepertinya sudah pergi ...." jawab Felix dalam hati tidak bisa mengatakannya pada Teo yang begitu menyukai Haera.


Felix masih ingin berduka atas apa yang terjadi dengan Haera tapi pemandangan dihadapannya membuatnya kembali tersadar. Tan, Teo,Tom bahkan Dokter Mari sudah terpojok. Zeki dan Verlin sepertinya sibuk menjaganya saat Banks memanggil jiwanya kembali.


"Tidak!!!" teriak Felix melihat ketiga sahabatnya diambang kematian. Senjata mereka sudah terlempar jauh dan senjata lawan sudah ada di depan tenggorokan mereka. Tan, Teo dan Tom menutup matanya sudah pasrah. Dokter Mari yang ingin menyelamatkan tidak bisa berbuat lebih karena sedang dalam posisi yang sama.


Felix mengusahakan lari secepat yang dia bisa untuk menyelamatkan mereka, "Ini bukan hari kematian kalian ...." kata Felix menggertakkan giginya sambil berlari. Zeki dan Verlin juga ikut dibelakang untuk membantu. Membukakan jalan untuk Felix mendekat pada Tiga Kembar. Tapi jarak mereka terpaut jauh, sangat terlambat untuk bisa sampai ke tempat mereka.


"Bangunlah, muridku!" teriak Banks.


Tan yang sudah pasrah menerima nasibnya, membuka matanya mendengar itu.


"Tidak ada kematian yang mudah bagi pemilik Tellopper!" kata Banks.


Ketiga iblis yang sedang mengincar leher mereka tiba-tiba tumbang seketika. Tan menjulurkan tangannya dan Tellopper yang menembus tubuh ketiga iblis itu kembali ke tangannya. Pedang kecil yang tadinya memanjang itu kembali memendekkan dirinya dan menjadi Pedang kecil biasa. Banks tersenyum bangga melihat itu.


"Padahal selama latihan aku tidak pernah berhasil melakukan ini ...." kata Tan tidak mempercayai dirinya sendiri sudah menguasai teknik itu.


Teo dan Tom juga membuka matanya dengan perasaan lega bahwa masih diberi kesempatan hidup.


...-BERSAMBUNG-...