UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.255 - Mimpi Aneh



"Kau darimana saja?!" tanya Tom saat Felix membuka pintu kamarnya dan masuk dengan ekspresi kesal.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Tan mengetahui ada sesuatu yang membuat Felix kesal dilihat dari ekspresinya.


"Tidak! tolong keluar! aku ingin sendiri dulu!" kata Felix langsung membaringkan dirinya diatas kasur.


Tan, Teo dan Tom lekas bangun dan segera keluar dari kamar Felix. Mereka datang mengunjungi Felix yang tidak hadir saat makan malam di ruang makan sekolah. Tapi sepertinya bukan hanya makan, untuk tersenyum saja Felix tidak bisa karena ada sesuatu yang terjadi dan tidak diketahui oleh mereka.


"Biasanya hanya Cain yang bisa membuatnya kesal begini ...." kata Teo menutup pintu kamar Felix.


Setelah Felix mendengar suara pintu kamarnya ditutup, ia kemudian mulai bangun dari tempat tidurnya dan duduk, "Jika mereka tahu Cain sudah berubah ... pasti mereka akan kecewa!" kata Felix mengacak-acak rambutnya.


Felix merasa bersalah tidak bisa membawa Cain kembali disaat dirinya sudah menemukan keberadaan Cain. Kenyataan bahwa kini Cain sudah memiliki kekuatan yang luar biasa adalah pencapaian yang hebat dan membuat Felix bangga tapi lamanya Cain berada di Mundebris adalah suatu kesalahan. Lama kelamaan Cain sudah memiliki pola pemikiran yang sama dengan Quiris Mundebris, "Tidak ... ini hanya perasaanku saja! jelas-jelas tanda Alvauden Cain masih ada ...." kata Felix.


"Iriana?" Felix memanggil, "Apa gelar Alvauden bisa hilang? apa Alvauden kita ... bisa meninggalkan kita?"


"Hal seperti itu bukannya memang tidak pernah terjadi sih ...." kata Iriana.


"Maksudmu pernah terjadi?" tanya Felix.


"Pernah sekali terjadi di zaman Caelvita 86! tanda Alvauden seorang Pemimpin Alvauden 86 menghilang. Alvauden itu berhenti menjadi Alvauden." jawab Iriana.


"Hahh ... ternyata hal itu bisa terjadi ... sepertinya itu akan terjadi padaku juga!" kata Felix.


"Kenyataan bahwa Leaure sejati menjadi Alvauden merupakan sesuatu yang baru karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Caelvita dan Leaure sejati, jika kedua kekuatan itu bersatu, tidak bisa diprediksi pencapaian apa yang akan kalian dapatkan kelak. Yang menjadi masalah terbesar adalah kalian memang tidak cocok satu sama lain tapi jika kalian bisa mengatasi itu ... semuanya akan baik-baik saja nantinya!" kata Iriana.


"Apa kau melihatnya?" tanya Felix.


"Masa depan maksudmu?" Iriana balik bertanya.


"Ya!" sahut Felix.


"Aku hanya bisa melihat masa depanmu sampai kau berumur 13 tahun." kata Iriana.


"Itu tahun depan ... apa saat itu Cain masih ada disampingku?" kata Felix.


"Ya, dia masih ada!" kata Iriana.


Felix tersenyum lega mendengar itu dan mulai menenangkan pikirannya untuk berpikir logis. Setelah apa yang terjadi dengan Cain, wajar jika memang dia berubah. Harusnya dia mengerti, memahami dan mwmaklumi Cain yang baru saja melakukan hal yang bukan menjadi kebiasannya. Membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber, Dihukum, Kehilangan kedua lengan, Sendirian selama masa penyembuhan. Mustahil jika memang Cain tetap menjadi dirinya yang dulu setelah melewati semua itu.


Lama Felix berpikir, ketika sudah merasa buntu Felix menyerah dan mulai membaringkan dirinya untuk tidur. Karena tidak bisa tidur, Felix bolak-balik mengghadap ke kiri dan ke kanan berulang kali kemudian berhenti saat melirik foto dirinya bersama Cain yang berada di atas meja samping tempat tidurnya, "Sudah jelas sebenarnya ... kenapa aku masih saja ragu begini ...." kata Felix menutup matanya karena merasa sudah bisa tidur setelah mendapat solusi.


"Aku sudah bermimpi ya? tapi ini dimana?" Felix mendapati dirinya sudah tersadar di alam mimpi, "Rasanya aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya ...." Felix melihat sekelilingnya dan tanpa sengaja melihat tangannya yang tidak biasa, "Apa ini? tanganku?" Felix melihat tangannya yang berubah menjadi tangan hewan dengan sisik berwarna hijau dan kuku yang panjang dan tajam, "Aku berubah menjadi hewan di dalam mimpi? bagaimana mungkin? tiba-tiba saja? padahal aku sudah melatih diriku untuk memimpikan hal yang ingin kumimpikan saja ...."


Felix kemudian berusaha berdiri dengan tubuh hewan yang belum diketahui identitasnya itu, "Aku menjadi hewan apa sebenarnya? wah ... tinggi sekali hewan ini ...." Felix mulai berdiri dan melihat ke bawah, "Apa tidak ada sesuatu seperti cermin atau air di sekitar sini untuk melihat aku menjadi hewan apa sekarang ini ...." Felix mulai melangkahkan kaki dengan susah payah karena berat badannya yang tidak biasa dan sepertinya ada ekor yang selalu mengganggu di belakangnya, "Tidak mungkin aku menjadi dinosaurus kan? hahaha ...." Felix tertawa tapi dengan suara berat dan keras, "Suara hewan ini ...." Mau berjalan kemanapun tidak ada sesuatu yang bisa membantu untuk melihat dirinya. Pencahayaan disana juga sangat minim dan tidak ada jalan keluar yang ditemukan.


"Felix!"


"Suara ini ... Teo?" Felix terbangun mendapati Teo sedang memukul wajahnya dengan bantal, "Apa-apaan kau ini?!" diambilnya bantal dari tangan Teo itu dan membalas pukulan yang didapatnya tadi.


"Kami daritadi membangunkanmu tapi kau tidak bergerak juga ...." kata Tan.


"Kukira kau mati!" kata Tom.


"Makanya aku memukulmu, seharusnya kau berterimakasih ...." kata Teo.


"Mimpi tadi ... aku harus memasukkannya ke dalam jadwal mimpiku. Aku harus kembali ke tempat itu lagi ...." kata Felix dalam hati.


Biasanya Felix hanya memimpikan kejadian yang sudah pernah ia lalui dengan tempat yang pernah didatangi sebelumnya. Aneh bagi Felix untuk memimpikan sebuah tempat yang tidak pernah sama sekali didatangi dan terlebih lagi berada di dalam tubuh hewan tinggi dan besar yang dikirinya adalah dinosaurus.


"Apa aku mulai bermimpi normal seperti manusia kebanyakan lagi? mimpi mustahil yang tidak ada hubungannya dan tidak jelas ... padahal aku sudah berlatih keras untuk bisa juga bekerja di dalam mimpi juga. Apa ini karena aku terlalu lelah? tidak ... kenapa harus sekarang? dulu aku lebih lelah dari ini tapi tetap bisa melatih otakku dalam memilih emosi dengan baik untuk dijadikan mimpi ...." Felix terus memikirkan apa yang membuatnya memimpikan mimpi tadi.


"Bagaimana mimpi kalian?" tanya Felix saat bertemu di kantin untuk makan siang.


"Masih seperti biasa ... tapi kali ini aku melatih diri untuk menghafal nama tanaman dan hewan Mundebris di dalam mimpi." jawab Tan.


"Kalau aku melatih diri untuk melihat hantu paling menyeramkan ... untuk bisa berhenti takut dengan hantu lagi." kata Tom.


Kepribadian utama Tom memang realistis tapi anehnya dia takut dengan hantu. Tapi setidaknya Tom mencoba untuk lepas dari rasa takutnya itu.


"Kalau aku tidur nyenyak sampai-sampai tidak bermimpi sama sekali!" kata Teo membuat mereka tercengang.


"Apa kalian pernah bermimpi berada di dalam tubuh hewan di tempat yang tidak pernah kalian datangi sebelumnya? apa tidak apa-apa aku menanyakan ini ... walau Dokter Mari yang melatih tapi akan memalukan jika aku mengatakan bermimpi asal-asalan disaat aku yang membuat mereka berlatih untuk tersadar dalam mimpi ...." kata Felix dalam hati.


...-BERSAMBUNG-...