UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.38 - Caelvita ke-119



Didalam Ambulance, petugas disana terus melakukan Resusitasi Jantung Paru pada Nenek Alviani, sedang Felix yang kebingungan bisa mengirim Aloysius ke Proferce yang dia sendiri tidak tahu itu apa, hanya tanpa sadar langsung ia ucapkan.


"Dia sudah tidak tertolong lagi!" kata petugas Ambulance itu.


Felix berhenti melamun setelah mendengarnya dan melihat Nenek Alviani kini terbaring pucat pasi tapi melihat roh Nenek Alviani tadi tersenyum sesaat sebelum meninggalkan Mundebris membuatnya tidak tahu harus senang atau sedih.


Ambulance sampai di rumah sakit dan Felix menunggu di depan ruang tunggu gawat darurat. Tak lama seorang pria paruh baya datang, "Ayah!"


"Ayah?! itu ayahmu Iriana?"


"Iriana?"


"Kau Sang Caldway kan?"


Felix terus bertanya tapi tidak ada jawaban dari Iriana.


***


Felix menelepon Cain lewat telepon umum dan menjauhkan telinganya saat Cain mengangkat. Benar saja bahkan dari jauh bisa didengar Cain sedang teriak marah-marah, "Kau ini kemana saja? kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku hahh?!"


"Aku sedang di rumah sakit Zion, itu ... em ... nenek yang memberi kita gelang meninggal dunia ...."


Terdengar Cain menjelaskan pada Dokter Mari dimana Felix sekarang, "Tunggu Dokter Mari datang menjemputmu ...." Cain menutup telepon bahkan saat Felix masih ingin bicara.


"Kau anak yang bersama ibuku disaat terakhirnya?" tanya Ayah Iriana.


"I ... yya ...." jawab Felix kaget karena tiba-tiba Ayah Iriana datang menyapa diluar boks telepon.


"Terimakasih banyak sudah menemani disaat terakhirnya, paman tidak tahu harus membalas bagaimana ...."


"Tidak ... tidak perlu membalas apa-apa," kata Felix ... tapi dalam hatinya, "Nanti aku minta di Iriana saja balasannya, sudah memanfaatkanku sekarang malah diam saja ...."


"Kalau boleh, apa bisa datang ke pemakaman ibu saya nanti sore?" menyerahkan alamat.


"Saya akan datang."


***


Dokter Mari datang menjemputnya di Rumah Sakit dan langsung mengantarnya lagi ke sekolah.


"Rambutmu?" Dokter Mari memulai pembicaraan setelah lama diam di dalam mobil.


"Ah iya ...." langsung saja dirogohnya spray rambut didalam tasnya.


"Kau tiba-tiba menghilang ditengah hujan untuk mewarnai rambutmu jadi hijau lalu sekarang mewarnainya lagi jadi hitam?" Dokter Mari dengan nada bercanda.


"Iya!"


"Kau sedang memberontak yah?" tanya Dokter Mari.


"Apa itu perkataan yang patut diucapkan oleh psikiater?"


"Baiklah ... apa yang membuat Tuan Felix mewarnai rambut?" dengan nada candaan.


"Hahh ...." Felix tidak menghiraukannya.


"Bisa tidak kau tidak menganggapku sebagai psikiater Felix? anggap saja sama seperti Bu Corliss dan Daisy ...."


"Saya bertemu Dokter Mari pertama kali sebagai pasien dan psikiater. Susah untuk menghilangkan kesan pertama dengan mudah ... melihat dokter saja langsung mengingatkan bahwa saya adalah pasien dengan gangguan psikolog."


"Maaf jika kesannya begitu, mulai sekarang anggap saja dokter adalah ...."


"Adalah bibi dari Cain ...." Felix menyela.


"Sejak ka ... pan kau tahu?" Dokter Mari langsung mengerem mobil mendadak.


"Sejak tadi malam saat Alexavier mendekati Cain dan dokter mendorong Cain cepat masuk ke dalam rumah, walau sebentar tapi dokter Mari bisa merasakan kehadiran Alexavier itu kan? saya juga tidak bisa membaca pikiran dokter Mari tadi malam saat tertidur, saya kira karena dokter tidur nyenyak tapi pagi harinya juga ternyata tetap tidak bisa, dokter juga memakai gelang safir kan seperti Cain tapi di pergelangan kaki ... dan ... hanya Cain yang bisa berbicara santai dengan dokter selama ini saya perhatikan ...."


"Selamat datang Felix Fane Farrel ... Caelvita yang ke-119!" Dokter Mari menyilangkan tangan kanan nya dan menunduk sedikit.


***


"Sampai kapan dokter akan berbicara resmi begitu?!" Felix turun dari mobil.


"Maaf kalau selama ini saya tidak sopan ...." Dokter Mari ikut turun.


"Tidak ada yang berubah, jadi bisa tidak berhenti berbicara ...."


"Semuanya kini berubah, kenyataan bahwa anda adalah seorang Caelvita dan kenyataan bahwa saya adalah keturunan Viviandem ...."


"Sebenarnya apa itu Caelvita?"


"Saya hanya setengah Viviandem, ibu saya Viviandem dan ayah saya manusia, tidak punya hak untuk menjelaskan kepada anda."


"Jadi Cain?"


"Cain keponakan saya, anak dari adik saya yang sudah meninggal 10 tahun lalu saat melahirkan Cain ... alasan saya tinggal di panti karena Corliss mengatakan kalau melihat anda mewarnai rambut menjadi hijau itu menandakan anda sudah berubah menjadi Caelvita."


"Itu karena ...."


"Felix!!!" teriak Cain memotong kalimat Dokter Mari.


"Kau darimana saja?" tanya Teo dan Tom.


"Seragam mu basah begini ... ayo ganti pakai pakaian olahragaku saja," kata Tan.


***


Sesudah Felix mengganti bajunya, diluar kamar mandi langsung ada yang menghadangnya, "Felix, apa kabar?" tanya Dea dengan nada riang.


"Kau sudah datang?"


Lama Dea berceloteh tidak jelas sampai mereka berdua kini memasuki kelas. Felix menuju meja Demelza dan mengeluarkan boks kacamata dari dalam tasnya, "Ini ... sebagai permintaan maaf ku!"


"Apa?!!!" Dea merebut kacamata itu dan ingin melemparnya tapi dihadang oleh Felix.


"Dan ... kau ... Dea, jangan sekali-kali lagi menyakiti seseorang mengatasnamakan aku!!!" Felix merebut kembali kacamata dari tangan Dea.


Felix berjalan ke mejanya dengan Cain yang tiba-tiba ... pura-pura sibuk membaca, "Kau tidak bosan membaca terus?"


"Tidak semua orang bisa menjadi penulis, tapi semua orang bisa menjadi pembaca!"


Felix langsung menutup buku tebal Cain setelah mendengar petuahnya tadi.


"Felix?!" teriak Dea sambil berjalan cepat.


"Apa lagi?!"


"Kau tidak tahu apa saja yang sudah kulakukan hanya untukmu tapi kau malah seenaknya memberi hadiah kepada orang yang sudah mengataimu itu!!!"


"Siapa bilang itu hadiah? kau tidak dengar tadi itu permintaan maaf! jadi kalau kau melukai orang lain lagi dengan menggunakan namaku sebagai alasan, sama saja kau sedang menyusahkanku!"


Dea pergi dengan berlinang air mata.


"Aku temani nanti ke pemakaman nenek itu!" kata Cain.


"Tidak, aku saja sendiri yang pergi ...." kata Felix.


"Bukan hanya aku tapi Tan, Teo dan Tom juga akan ikut."


"Aku bilang tidak!" Felix bersiteguh.


"Kenapa?"


"Pemakaman bukan untuk anak umur 10 tahun datangi."


"Kau juga umur 10 tahun, paman!" Cain memukul Felix dengan pulpen.


"Disana pasti banyak hantu dan ...."


"Dan apa?" tanya Cain.


"Pokoknya kau tidak usah ikut!"


"Memangnya aku pergi karena mengkhawatirkanmu ... nenek itu sudah berbaik hati memberi kita gelang ajaib ini ...."


"Kau tidak tahu saja apa yang sudah aku alami tadi!" kata Felix.


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau tidak memberitahu!" Cain tidak mau kalah.


"Kau ini keras kepala sekali!" kata Felix.


"Kau sedang mengatai dirimu sendiri!" balas Cain.


"Cain!" teriak Felix.


"Apa?!" Cain balik meneriaki.


Sekarang mereka berdua jadi tontonan didalam kelas karena saling adu mulut.


Felix berjalan cepat keluar dari dalam kelas sambil membanting pintu membuat yang ada didalam kelas kaget semua.


Saat makan siang pun mereka makan saling berjauhan membuat Si Tiga Kembar harus membagi dirinya untuk menemani mereka berdua. Didalam kelas saat belajar Felix bertukar bangku dengan Dallas. Sampai pulang sekolah Felix dan Cain tidak saling bicara.


Walau sudah malam tapi mereka tetap bersikeras ikut ke pemakaman. Si Tiga Kembar jadi diam juga karena Felix dan Cain sedang bertengkar.


Di peron kereta sudah ada Alger yang memiringkan kepalanya menyapa Felix.


Untuk menuju pemakaman Nenek Alviani, mereka memakai kereta. Felix juga senang karena bisa melihat Alger lagi walau tadi hanya ingin menemuinya sendirian saja tanpa mereka berempat. Didalam kereta pun Felix dan Cain duduk terpisah.


"Kucing tadi lezat sekali ...." Felix tiba-tiba mendengar pikiran Alger.


...-BERSAMBUNG-...