UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.46 - Malaikat Maut dari Kerajaan Ruleorum



Magdalene mencoba menyentuh Cain tapi tidak bisa karena dinding pelindung, "Apa benar aku sudah mati?" Magdalene menangis dan dicobanya lagi berdiri dihadapan tiga kembar tapi karena mereka tidak bisa melihat sosok hantu jadi Magdalene tambah menangis lagi.


"Oh iya aku ketinggalan sesuatu di loker, kalian duluan saja ...." kata Cain ingin tinggal menanyai Magdalene tapi Felix bilang ingin ikut menemaninya, "Cuma sebentar kok!" tapi Felix bersikeras karena tahu sifat Cain yang pasti kasihan dan berniat menolong Magdalene.


Si Tiga Kembar pergi duluan ke halte bus dan kini tinggal hanya mereka bertiga. Felix, Cain, Hantu Magdalene. Diberitahunya soal jari Magdalene yang ada di meja dalam kelas tapi dia sendiri tidak ingat dan baru sadar jari kelingkingnya ternyata terpotong.


"Kau tidak ingat apa-apa?"


"Seingatku juga, aku tidak pernah meninggalkan kelas tapi katamu yang saat lilin mati itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi."


Felix hendak menarik Cain pergi, "Kalian mau kemana? jangan tinggalkan aku disini sendiri!" isak Magdalene.


"Maaf, tapi aku tidak mengenalmu sama sekali ...." sebenarnya Felix tidak ingin Cain ikut terlibat dengan hantu lagi.


"Aku mohon, aku tidak tahu harus kemana?!"


"Tunggu saja, nanti akan ada Malaikat Maut datang menjemputmu!" kata Felix sarkastik.


"Felix!!!" Cain dengan nada marah.


"Kau mungkin kasihan karena mengenalnya tapi bagiku dia hanya teman sekelas yang bahkan baru aku tahu namanya, lagipula kau bisa menolong apa hahh?!"


"Bisa tidak kau sedikit berpura-pura saja ingin menolong, dia baru saja meninggal tanpa tahu penyebabnya!"


"Jadi kau mau membawanya ikut pulang, begitu? memberinya kamar, menyiapkannya makanan!"


"Kau itu egois sekali!!!"


"Kalau ingin menolong seseorang pikir dulu ... apa kau memang bisa menolongnya, jangan hanya langsung niat ingin menolong nanti ujung-ujungnya kau tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya memberikan harapan palsu!"


Cain jadi tidak bisa berkata-kata setelah mendengar yang dikatakan Felix memang ada benarnya.


"Setidaknya bantu aku menemukan tubuhku agar orangtuaku bisa menguburkanku, aku mohon ...." Magdalene kini berlutut.


Felix ikut berlutut dan menatap mata Magdalene untuk bisa melihat kenangannya, karena sekarang ia tidak bisa menyentuh Magdalene agar bisa dibaca pikirannya disaat ada banyak polisi dan guru yang berkumpul. Bisa saja wujud hantu Magdalene bisa terlihat.


Saat ditatapnya mata Magdalene tiba-tiba sebuah es menutupi mata Magdalene dan Felix tidak bisa melihat apa-apa.


"Apa itu perisai es?" tanya Cain.


"Aku tidak bisa melihat apa-apa!" Magdalene mengucek-ngucek matanya, "Apa yang telah kau lakukan dengan mataku, Felix?!


"Aku tidak melakukan apa-apa! sepertinya yang membunuhmu mempunyai kekuatan khusus atau ...."


"Apa kalian punya kekuatan khusus? bagaimana bisa kalian melihat hantu? tapi aku bersyukur juga ada seseorang yang bisa melihat hantu seperti kalian ...."


"Kau ini tipe yang berpikiran positif sekali ya?!" kata Felix kembali berdiri lagi.


"Jadi apa yang akan kita lakukan?!" tanya Cain.


"Bukan kita! apa yang akan kau lakukan?!"


"Hahh, jadi terserahku ya! Magdalene kau ikut dengan kami!"


"Kau mau menyimpannya dimana?"


"Dia itu bukan barang!" tegas Cain.


"Dia juga bukan manusia!" Felix membalas.


"Kalian ini suka sekali bertengkar ya!" Magdalene yang ikut berjalan dibelakang mereka berdua.


"Kami bertengkar gara-gara kamu tahu!" teriak Felix.


"Maaf, aku juga tidak bisa kembali ke rumah karena orangtuaku sedang ada pertemuan diluar kota ...."


"Kau tidak punya saudara?" tanya Cain.


"Tidak, aku anak tunggal dan keluargaku yang lain semua ada di desa jauh dari kota."


"Orangtuamu sibuk sekali sampai-sampai tidak menyadari anak satu-satunya meninggal ...." perkataan menusuk Felix membuat Cain menginjak kaki Felix, "Aw! apa-apaan kau ini!"


"Kau itu tidak peka sekali ya!"


"Kau yang tidak peka! kau tidak tahu ya kalau menginjak kaki seseorang itu sakit?!"


"Kau layak mendapatkannya!!!"


Sampai di halte bus terlihat tiga kembar sibuk makan jajanan, "Kalian cepat sekali datangnya!" kata Teo.


"Cepat kau bilang? padahal sudah makan sebanyak ini!" Cain menunjuk tusuk bambu yang banyak.


"Maaf, waktu berjalan begitu cepat saat makan!" Tom melahap sekaligus satu tusukan.


Sampai di halte bus dekat Rumah Daisy, Felix dan Cain mengajukan diri membeli makan malam, "Beli makanan yang banyak ya!" teriak Teo sambil berlari melambaikan tangannya.


Padahal tujuan sebenarnya adalah untuk menyentuh Magdalene dan membaca pikirannya tapi akibatnya wujud Magdalene akan terlihat juga. Felix mengajak bersalaman tapi saat tangan mereka akan bersentuhan langsung ada lapisan es lagi yang menutupi.


"Apa sebenarnya maksud dari perisai es ini? apa ini hal baik atau buruk?" Cain bingung.


"Sudahlah, ayo kita beli makanan dan pulang!"


Diperjalanan menuju Rumah Daisy tiba-tiba banyak hantu yang hendak mendekat tapi langsung berbalik arah melihat Felix, "Huuuft, sepertinya aku tidak bisa jauh-jauh sekarang dari Felix!" kata Cain dalam hati.


"Selamat datang Caelvita yang ke-119!" Lia langsung datang menyilangkan lengan kanannya dan menunduk.


"Caelvita?" tanya Cain.


"Dia baru saja meninggal!" tunjuk Lia pada Magdalene.


"Dia siapa?" tanya Magdalene.


"Penjaga rumah ini atau nama kerennya Alexavier!" kata Cain dengan nada ceria.


"Bukan nama keren, tapi memang sebutannya begitu!" Felix memperjelas.


"Iya ... iya!"


"Eh, em ... permisi ... Yang Mulia!" sapa Banks.


"Kau sudah datang?"


"Berani-beraninya iblis datang kesini!" Lia marah.


"Percayalah aku juga tidak berniat dekat-dekat dengan area perumahan!"


"Kalian masuk duluan dan Lia ... bisa Magdalene tinggal sementara disini?" Felix hendak berbicara dengan Banks dan menyuruh mereka bertiga pergi.


"Jangan Yang Mulia! anak ini penuh dengan energi buruk! tidak baik hantu yang dibunuh tinggal di sebuah rumah yang ditinggali manusia!" Banks berusaha menghentikan.


"Maaf Yang Mulia saya juga tidak bisa mengizinkan hantu ini untuk masuk ke dalam rumah ini! hantu yang baru saja meninggal biasanya masih labil dan tidak mengingat apa-apa, bisa saja dia jadi lepas kontrol karena emosi setelah mengingat kejadian saat dia dibunuh dan mencemari rumah dengan energi buruk."


Felix menatap Cain kesal, "Kau dengar itu!"


"Apa tidak bisa di halaman rumah? kan tidak perlu masuk ke rumah ...." Cain masih bersikeras.


"Hahh, baiklah ...." Lia menyerah dan mempersilahkan mereka masuk tapi Cain malah ikut dibelakang Felix dan Banks, "Kenapa kau malah ikut?!" Felix baru sadar ketika duduk di bangku taman.


"Percayalah aku juga terpaksa ikut denganmu!" Cain malu mengatakan kalau dia tidak perlu takut jika bersama Felix karena tidak akan dikerumuni oleh hantu.


"Maaf Yang Mulia, saya tidak datang sebelum Yang Mulia tiba disini karena saya mendapat informasi sekolah Gallagher pulang sekitar jam 7-8 malam ...." Banks menunduk lagi hampir menyentuh tanah tapi dihentikan oleh Felix karena bisa-bisa mengakibatkan gempa lagi.


"Pohonmu tidak apa-apa kan kalau ditinggal?" canda Cain.


"Sekarang pohon saya tinggal sendiri di sebuah lahan Tuan, satu lahan kini sudah hampir kosong karena ditebang. Kalau tidak dijaga akan dengan mudahnya ditebang tapi kalau ada saya menjaga bahkan dengan memakai apapun tidak akan bisa ditebang."


"Maaf, tadi aku hanya bercanda ...." Cain jadi merasa bersalah.


"Dimana pohonmu itu?" tanya Felix.


"Saya tidak tahu nama tempatnya Yang Mulia tapi saya tahu jalannya ...."


"Mulai sekarang kau harus cari tahu nama tempatnya!"


"Baik Yang Mulia, saya akan ke desa terdekat walau saya jarang kesana karena Nucusno dan Alexavier dari dulu tidak akur, perbedaan karena mereka Zewhit Manusia dan kami Iblis tidak bisa dipungkiri kami adalah musuh sejak dulu!"


"Dengan hantu manusia, bagaimana dengan hantu Viviandem?"


"Karena satu dunia, kami akur dengan Viviandem, semoga ada Alexavier Zewhit Viviandem di desa ...."


"Banyak yang ingin aku tanyakan Banks tapi mendengar pohonmu bisa saja sekarang ada yang ingin menebang jadi jawab saja satu pertanyaan ini lalu kau bisa pulang dan mencari tahu alamat pohonmu itu agar aku yang mendatangimu."


"Baik Yang Mulia!"


"Apa tidak ada seseorang yang bertugas mengantar orang meninggal?"


"Malaikat Maut dari Kerajaan Ruleorum yang biasanya menjemput dan mengantar roh ke sidang pengadilan tapi mereka adalah Viviandem jadi selama 10 tahun ini banyak roh yang jadi Malexpir."


"Jadi semua kekacauan ini karena diriku dan hanya aku yang bisa menghentikan?!"


"Bukan karena Yang Mulia, tapi memang hal ini akan terus terjadi seiring pergantian Caelvita dan seperti Yang Mulia katakan kekacauan ini hanya bisa dikembalikan jika Viviandem dibangkitkan agar semua aktivitas Mundebris bisa kembali seperti semula ...."


Cain hanya menyimak, tidak tahu bagaimana ikut dalam pembicaraan mereka.


...-BERSAMBUNG-...