
Tan, Teo dan Tom serentak langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing saat berbalik. Mereka dalam posisi siap bertahan dan siap menyerang kapan saja jika yang berbicara itu adalah musuh.
Tan melihat kotak mainan yang dijatuhkannya tidak terbuka, sehingga akhirnya mulai tenang, "Pemburu Iblis?!" Tan menghilangkan Telloppernya dan memungut kotak mainan yang jatuh.
"Siapa kalian? kaliankah Iblis itu?!" tanya seorang Laki-laki dengan memakai tudung kepala jadi wajahnya tidak jelas kelihatan.
"Ada darah Aluias masih mengalir dalam dirinya ... walau sangat sedikit tapi jelas terlihat. Seharusnya kaulah yang membawa senjata Aluias seperti Antonia." kata Felix.
"Aku tanya siapa kalian?!" Pemburu Iblis itu terlihat mulai mundur tapi bukan karena takut melainkan untuk bersiaga dan berpikir bagaimana melawan mereka berempat.
"Tapi dia tidak bisa disebut sebagai Setengah Viviandem?" tanya Tom mulai menurunkan kapaknya yang berat di tanah.
Felix hanya mengangguk menjawab pertanyaan Tom.
"Kami seperti kalian ... jadi tenanglah!" Teo mulai melangkah maju mendekati pemburu iblis itu, "Sudah mendengar berita tentang kami dari paman pemburu iblis yang di penjara itu? kami juga ada bersama saat Kak Antonia menjalankan misinya ...." Teo menjelaskan sedangkan Tan, Tom dan Felix tidak terlalu peduli dengan pemburu iblis itu dan hanya mulai sibuk berkeliling desa itu.
Pemburu Iblis itu menurunkan senjatanya, "Jadi kalian anak yang punya kekuatan super yang dikatakan Trevon? kau bersama dengan sepupuku juga saat kejadian itu terjadi?"
Teo agak geli mendengar disebut memiliki kekuatan super, "Nama kakak siapa?"
"Cairo." jawabnya sambil menurunkan senjata.
"Teo ...." mengajak bersalaman, "Yang memakai ransel merah tadi Tom dan yang memakai ransel jingga namanya Tan. Ya ... kami ini saudara kembar hahaha." Teo tertawa canggung.
"Kau belum memperkenalkan anak yang satunya ...." kata Cairo.
"Ah, dia ... Felix." kata Teo agak ragu mengatakan.
"Kalian sepertinya masih anak SD, bagaimana bisa? apa kalian berasal dari dunia kegelapan?" tanya Cairo.
"Oh iya ... jangan menyebut dunia kegelapan kalau berada di dekat Felix." kata Teo menghentikan langkahnya memperingatkan Cairo, "Felix tidak suka ada yang menyebutnya begitu ...."
"Lalu aku harus menyebutnya apa?" tanya Cairo.
"Yang jelas jangan menyebutnya dunia kegelapan. Lebih bagus dunia pelangi ...." jawab Teo tertawa.
Setelah berjalan berkeliling desa, mereka akhirnya mulai bertemu dan berkumpul di tengah-tengah desa yakni di jembatan kecil dengan air sungai yang tenang. Rumah penduduk lumayan jauh dari sana jadi mereka bisa bebas berbicara tanpa perlu berbisik-bisik.
"Kutebak kau kesini karena mendapat informasi dari seseorang?!" kata Tom mulai meminum air dan duduk bersandar di tengah jembatan.
"Tidakkah kau terlalu kasar?! aku ini lebih tua darimu!" kata Cairo.
"Bersopan santun hanya berlaku untuk pertemuan jangka panjang ...." kata Tom yang tidak memikirkan kalau akan bertemu lagi dengan Cairo setelah ini.
"Tom!" Tan menegur.
"Haha ... jangan hiraukan dia! dia sedang menyebalkan akhir-akhir ini karena terlalu lelah." kata Teo.
"Kau bisa saja mati malam ini dan kita tidak akan bertemu lagi. Jadi buat apa aku harus bersopan santun ...." kata Tom.
"Tom!" Tan dan Teo meneriaki.
"Apa?!" balas Tom berteriak juga, "Dia datang kesini dengan keadaan sudah siap sedia kehilangan nyawanya dan yang pastinya sudah siap sedia juga membunuh seseorang." kata Tom.
"Aku tidak tahu kalian siapa tapi aku mengerti bagaimana kalian memandangku. Sepertinya kalian memang memiliki tujuan yang sama denganku yakni untuk membasmi Iblis tapi dengan cara yang berbeda ... tapi cara kalian tidak akan pernah berhasil. Kenapa?! karena baik itu aku dan kalian tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan iblis jika mereka tidak berada di dalam tubuh manusia. Untuk menyelamatkan manusia dan membunuh Iblis haruslah mempunya kekuatan yang tinggi ... sayangnya kekuatan menyelamatkan itu tidak berlaku bagi kita yang lemah ... yang lemah seperti kita hanya bisa menyelamatkan dengan cara membunuh." kata Cairo.
"Ehhem ... sepertinya kita harus berkeliling satu kali lagi." kata Teo takut jika Felix emosi.
Tapi tiba-tiba botol minuman Tom yang berada di atas kotak mainan itu terjatuh dan kotak itu terbuka menunjukkan wajah Iblis kuda. Felix bergegas berlari diikuti Teo dan Tom dibelakang.
"Apa yang tertulis di dalam informasi yang kakak dapatkan?" tanya Tan pada Cairo.
"Hanya tanggal, waktu dan tempat." jawab Cairo.
"Jangan mati!" kata Tan mulai berlari.
Cairo hanya tersenyum mendengar itu keluar dari mulut anak yang jauh lebih muda darinya, "Harusnya aku yang mengatakan itu ...." katanya dalam hati.
Saat Tan dan Cairo masih berlari tiba-tiba angin kencang datang dan menghalangi pandangan.
"Pergilah!" kata Felix yang membenturkan Tongkat Caelvitanya yang menimbulkan angin kencang tadi.
"Maaf Yang Mulia tapi hal itu tidak bisa kulakukan ... desa ini masuk dalam tempat yang membutuhkan 5 darah dari manusia berbeda." kata Iblis Kuda.
"Bilang dong kalau kau mau meminta darah saja ... astaga itu mudah saja. Bisa kau kembali besok malam? aku akan menyediakannya saat kau datang." kata Teo tidak terlalu takut karena mata iblis itu hanya berwarna kuning.
"Kalian bisa melihat wujud Iblis itu?" tanya Cairo.
"Katanya kakak masih memiliki darah Aluias? kakak tidak bisa melihat Iblis?" tanya Tan baru tahu kalau ternyata Cairo tidak bisa melihat iblis itu ternyata.
"Tidak." sahut Cairo.
"Hantu?" tanya Tan lagi.
"Tidak juga." sahut Cairo.
"Hahh ... harusnya aku membaca lebih banyak buku tentang Aluias." kata Tan menghela napas dan menggaruk-garuk kepalanya, "Jadi kelebihan dia apa?!" tanya Tan dalam hati memandang Cairo. Tan berharap Cairo mempunyai kekuatan yang lebih dari Antonia agar bisa bertahan hidup, "Kak Antonia sangat hebat dalam bela diri dan sangat hebat menggunakan pedang ...." Tan mencoba memancing.
Cairo menyeringai, "Aku lebih hebat darinya ...."
Tan akhirnya tersenyum mendengar itu.
"Tunggu apalagi?! kita berempat bisa membunuhnya." kata Tom tidak sabaran.
"Aku akan melepaskanmu jika kau pergi tanpa melukai siapapun." kata Felix.
"Apa maksudmu? kita harus membunuhnya walau tidak melukai siapapun disini." kata Tom heran Felix melunak pada iblis itu.
"Dia salah satu sahabat Ratu Sanguiber." kata Felix membuat Tom mundur akhirnya mengerti kenapa Felix bersikap lembut begitu, "Walau kau kaum Iblis, kau tidak perlu tunduk dan menuruti semua perintah Efrain ... kau bebas memilih jalan hidupmu sendiri." kata Felix.
"Wajah Yang Mulia terlihat tidak asing ... walau dengan mata yang berbeda dan rambut yang berbeda. Apa Yang Mulia seperti Sang Caldway yang mempunyai orangtua?" tanya Iblis Kuda terlihat melemahkan penjagaannya.
"Apa maksudmu? bukankah Caelvita tidak memiliki orangtua ...." kata Felix menyeringai.
"Yang Mulia Efrain mengatakan bahwa Yang Mulia mirip dengan seseorang yang kukenal dekat. Ternyata setelah melihat langsung, memang benar ...." kata Iblis Kuda menaruh kedua pedangnya di belakang punggung, "Walau aku pergi ... akan ada Iblis lain yang akan datang kesini. Desa ini telah dipilih untuk menjadi tempat pengorbanan. Lima manusia harus mati di desa ini." kata Iblis Kuda mulai berbalik pergi.
...-BERSAMBUNG-...