UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.417 - Kemarahan



Tanpa pikir panjang mereka semua hanya langsung memasuki ruangan baru yang gelap itu. Tidak ada pilihan lain karena kini Zewhit Air berenang mendekat dan mulut nyamuk muncul dari atas terus menusuk mencari keberadaan mereka didalam air.


"Aaaaaaaa!" teriak mereka semua saat memasuki ruangan baru yang ternyata tanpa lantai itu. Mereka terus terjatuh dalam kegelapan.


"Bersiaplah! dengan ruangan yang rusak tanpa ada lantai begini ... pasti ada perubahan, ada yang salah dengan rumah hantu ini ... kita harus bersiap dengan hal terburuk!" teriak Tan.


"Jaring! pikirkan jaring!" teriak Osvald meminta untuk memikirkan membuat jaring saja dibanding air lagi yang bisa menjadi bumerang untuk mereka.


Luka Tan dan Teo terus mengeluarkan darah, entah mereka pucat karena jatuh terus dari ketinggian atau karena kehilangan banyak darah, sudah tidak bisa dipastikan lagi.


"Aaaaaack!" Teo merasakan sakit yang luar biasa hebat saat punggungnya mendarat di atas jaring seperti yang sudah direncanakan oleh Osvald.


"Kita ada dimana?!" tanya Tom melihat kemanapun tidak bisa melihat apa-apa.


Tan meraba tas nya untuk mencari ramuan dan menebak ramuan dari indera penciuman karena tidak bisa melihat. Karena darahnya terus keluar, itu tidak bisa terus dibiarkan lama. Tan menuangkan ramuan itu pada lukanya kemudian mencari keberadaan Teo untuk melakukan hal yang sama.


"Teo!" teriak Tan.


"Disini!" balas Teo yang ternyata berada cukup dekat dengan Tan.


Tan merangkak menuju Teo berada, setidaknya dia hanya terluka sedangkan Teo terluka sekaligus terkena racun jadi dia harus mengalah untuk mencari.


"Iya, ini aku!" kata Teo merasa tidak nyaman diraba-raba oleh Tan.


Teo ditemukan oleh Tan seperti yang dibayangkan, berbaring dengan cara telungkup karena tidak bisa berbaring terlentang. Memudahkan Tan untuk menyiramkan ramuan.


"Aku tahu bau ini ...." kata Demelza mencium bau yang familiar dengannya itu.


"Ini bau darah hewan di Mundebris ...." kata Tom dalam hati tidak mau membuat mereka menjadi panik.


Tiba-tiba ada yang dingin menyentuh kepala mereka, "Ini salju!" kata Osvald sudah sangat tidak asing lagi dengan salju akhir-akhir ini.


"Dua dunia bersatu ...." kata Tan sudah bersiap dengan Tellopper nya karena tahu hal besar akan terjadi.


Jaring yang berhasil menyelamatkan mereka itu bergerak, "Ada apa ini?!" teriak Demelza.


Terjawab langsung setelah muncul penerangan di ruangan luas itu.


"Lagi ... lagi! yang kita lakukan menjadi bumerang ...." kata Osvald melihat jaring yang mereka tempati kini ditarik oleh bermacam-macam banyak makhluk aneh. Seakan mereka sedang dijala seperti ikan.


"Ini idemu!" kata Demelza menyalahkan.


"Idemu juga tidak beres dan hampir membunuh kita semua ...." kata Osvald.


Bukan hanya satu tapi ada sekitar puluhan yang menarik jaring yang mereka tempati terlebih lagi dibawah jaring juga sudah ada yang menunggu. Daripada saling menyalahkan seperti yang dilakukan Osvald dan Demelza. Tan, Teo dan Tom lebih memilih untuk bersiap bertarung.


Ruangan yang mereka tempati adalah penjara yang dimaksud oleh Demelza. Tempat dimana semua hantu dan makhluk menyeramkan terkurung. Tapi dapat dilihat dengan jelas kalau tidak ada satupun yang terkurung saat ini. Ruangan itu penuh dengan berbagai macam warna cairan darah.


Osvald dan Demelza yang hanya bermodalkan senjata kecil dari Teo dan Tom gemetaran melihat banyakanya lawan.


"Tidak, kau pikir kita hanya akan dikurung saja kan seperti yang pernah kau alami ... tapi sekarang tidak akan begitu lagi. Pasti kita akan langsung dibunuh, dicincang dan dimakan oleh mereka." kata Tom.


"Hentikan!" teriak Demelza tidak mau mendengar perkataan Tom lagi.


"Itulah yang akan terjadi pada kita kalau kalah disini, jadi kalian juga harus berusaha yang terbaik ... bagaimanapun hanya kalian berdua yang bisa melakukan sesuatu dengan pikiran karena sudah menjadi target dari awal. Kalian sudah dilatih selama 6 malam, kini di malam terakhir adalah prakteknya." kata Tan.


"Kau kan juga bisa melakukannya!" kata Osvald.


"Penglihatanku saat ini sudah kabur, mustahil untuk melakukan sesuatu tanpa bisa melihat sesuatu dengan jelas dan kepalaku serasa mau pecah, kau pikir aku bisa berpikir dengan keadaan seperti ini?!" kata Tan.


"Lagipula ... beginilah yang terjadi, selama enam malam ini kalian disiksa semata-mata untuk melatih kalian melewati malam terakhir. Walau semuanya menjadi lebih besar dari yang dibayangkan tapi ... kalian sudah merasakan berbagai macam masalah dan bagaimana mencari solusi untuk keluar dari masalah itu. Jadi, kalian pasti bisa melakukan yang terbaik!" kata Tom.


"Okey, petuah terakhir!" kata Osvald pada Teo karena tinggal Teo yang belum mengatakan kata-kata motivasi.


"Jangan mati!" kata Teo.


Semuanya terjadi begitu cepat, Tan memotong tali jaring itu sehingga mereka semua perlahan jatuh dan mendarat diatas makhluk aneh menyeramkan. Tanpa pikir panjang mereka langsung menusuk makhluk yang mereka tempati mendarat itu. Makhluk aneh yang menarik jaring tadi merangkak turun ke bawah juga seperti layaknya laba-laba di dinding.


Osvald dan Demelza langsung ditempatkan di bagian tengah sementara dikelilingi oleh Tiga Kembar. Tan dan Teo yang terluka terus melawan apa yang mendekat begitupun Tom yang terlihat ada benjolan besar di bahunya akibat gigitan nyamuk raksasa tadi. Rasa gatal dan juga rasa pusing akibat gigitan nyamuk tadi bersatu. Rasa pusing karena kehilangan banyak darah juga tidak membuat Tom mengendurkan semangatnya untuk terus melawan.


"Kita harus melakukan sesuatu!" kata Osvald melihat bagaimana dirinya dilindungi mati-matian oleh mereka dan terus mencegah ada yang mendekati dirinya dan Demelza di barisan bagian dalam. Osvald merasa harus melakukan sesuatu untuk membantu.


Tan, Teo dan Tom bertarung hanya bermodalkan insting saja saat ini karena stamina mereka sudah diambang batas. Terlebih lagi dengan keadaan yang tidak sehat, mengagumkan melihat bagaimana mereka melawan dengan sekuat tenaga. Bukan untuk bertahan hidup tapi untuk melindungi.


Salju terus turun dengan lebatnya dan terus terjadi penumpukan salju di ruangan itu. Tiba-tiba dimasing-masing bagian atas penjara terlihat banyak orang yang berdiri.


"Warga desa itu!" kata Osvald.


Lawan tidak berhenti-hentinya datang sementara Tiga Kembar sudah kewalahan melawan makhluk aneh menyeramkan. Ditambah lagi kini ada warga desa kecil yang kejam di dunia Zewhit Kurcaci.


Osvald mencoba menempatkan warga desa itu ke dalam penjara tapi hanya sebagian saja karena tidak bisa sekaligus melakukannya sedangkan ada banyak warga desa kali ini dengan wajah yang banyak kembar.


Demelza diam mematung kemudian terduduk lemas, "Beginikah ... akhirnya ... aku akan mati disini ... di dunia konyol ini ...." Demelza merasa tidak adil mengalami semua hal yang dikarenakan karena dirinya terpilih sebagai orang yang paling penakut padahal masih banyak yang lebih dari dirinya menurutnya, "Akan aku bunuh mereka semua!" teriak Demelza yang berhenti meratapi nasibnya. Demelza sudah begitu muak dan mulai berdiri menggenggam erat tangannya. Teriakannya menggema dan diikuti suara benturan keras ditandai dengan munculnya wahana permainan frisbee menerobos masuk ke dalam ruangan seperti ayunan dan terus menghancurkan ruangan itu.


"Demelza! hentikan!" kata Osvald yang melihat ruangan itu akan runtuh.


"Cepat kesini! berlindung!" teriak Tom.


Selama enam malam Demelza menahan emosi dan terus sabar menjalani apapun yang terjadi tapi setelah mengetahui kebenaran bahwa dirinya ada disana karena alasan sepele. Menurutnya itu sangat tidak adil, semua yang dirasakannya, semua penyiksaan yang dialaminya tidaklah adil menurutnya.


"Akan aku hancurkan semuanya!" teriak Demelza penuh amarah.


Kali ini, segala macam wahana permainan menerobos masuk terus menghancurkan ruangan itu. Serasa ingin menjadikan semuanya menjadi debu. Demelza kini menghafal semua wahana permainan yang terus dilihatnya selama enam malam dan akhirnya menggunakannya sebagai senjata.


"Tidak kusangka, yang menyiksanya ... dibuat jadi senjata!" kata Tan yang selama ini terus menyaksikan bagaimana Demelza setiap malamnya, sehingga tidak menyangka kalau Demelza begitu memperhatikan semua wahana permainan dengan mendetail.


...-BERSAMBUNG-...