
"Seperti yang diharapkan ...." kata Winn.
"Apanya?!" tanya Teo.
"Em?!" Tom bingung apa yang dimaksud Teo.
"Zeki sudah banyak membunuh monster seperti itu, tentunya dengan menggunakanku ...." kata Winn.
"Cih!" Teo kesal karena Winn tiba-tiba memuji Zeki yang merupakan pemilik sebelumnya.
"Kau ini kenapa?!" tanya Tom.
"Tidak kenapa-kenapa!" sahut Teo sebal.
"Kau terlihat sangat kenapa-kenapa!" balas Tom lebih sebal lagi.
Osvald melihat pertengkaran yang sudah sering dilihatnya selama hampir 6 tahun itu. Tapi masih tidak tahu apa harus percaya atau bagaiamana karena semuanya terlihat sangat mustahil.
"Apa mereka memang orang seperti ini?! lagipula jika aku bangun aku tidak akan mengingat ini juga ... apa mereka terang-terangan begini karena itu?! tapi apa alasannya mereka kemari?! menolongku?!" di kepala Osvald penuh dengan banyak pertanyaan tapi tidak satupun bisa keluar dari mulutnya.
"Toloooooong!" teriak suara perempuan.
"Apa itu Demelza?! tapi bagaimana kita bisa mendengarnya?!" tanya Teo mencari asal suara itu berada.
"Siapa lagi kalau bukan dia ... setelah kepergian Zeki, sepertinya dunia Zewhit Badut dan Kurcaci bersatu." kata Tom.
"Jadi, yang terdengar tadi itu adalah dinding yang rusak?!" tanya Teo.
"Jangan kesana! sudah kubilang jangan penasaran disini! itu adalah umpan jebakan ...." kata Osvald saat Teo dan Tom akan mencari asal suara itu.
"Jadi, kau sudah percaya pada kami?!" tanya Tom menyeringai melihat bagaiamana Osvald terlihat khawatir pada dirinya dan Teo.
"Entahlah ...." jawab Osvald.
"Ini!" Teo mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan melemparkannya pada Osvald karena tidak ingin membuat Osvald takut jika Teo terlalu dekat lagi, "Itu senjata hadiah dari guruku ... jadi jangan dihilangkan!" kata Teo.
"Kenapa kau memberiku ini?!" tanya Osvald.
"Kau juga harus melindungi dirimu sendiri, jaga-jaga kalau ... terjadi apa-apa dengan kami ...." jawab Teo kembali menggendong tas besarnya.
"Harusnya kau sudah mempercayai kami, coba pikirkan ... memangnya ada penjahat yang memberikan senjata?!" kata Tom.
"Tapi kenapa kalian bisa ada disini?! semuanya tidak ada yang bisa kupercaya, tempat ini ... kalian ...." kata Osvald.
"Wajar jika kau merasakannya seperti itu dan memang sudah seharusnya ... lagipula kau juga akan melupakan yang disini ... semuanya akan hilang setelah kau bangun besok. Jadi, kau harus bertahan hidup sampai besok apapun yang terjadi." kata Teo disaat Tom sudah pergi duluan mencari asal suara Demelza.
"Jadi, kau benar Teo!" kata Osvald mulai mendekati Teo secara perlahan.
"Aku, Tom." kata Teo menyipitkan mata.
"Kau pikir bisa membodohiku, aku bisa tahu perbedaan kalian tahu!" kata Osvald mulai memeluk Teo, "Jadi, kau ternyata punya kekuatan super?! apa sejak kau lahir?! dan bagaimana kau bisa kesini?! seharusnya kau kesini dari malam pertama! kau tidak tahu saja bagaiaman sulitnya dan tersiksanya aku disini." Osvald berbicara tiada henti mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Ceritanya panjang ... yang jelas, kau pasti bingung kenapa bisa ada disini?! dan kenapa ini bisa terjadi padamu ... intinya aku kesini untuk membantumu melewati malam terakhir gangguan ini." kata Teo mengalihkan pembicaraan, "Bukan hanya kau yang mengalami hal ini tapi ada orang lain juga ...."
"Siapa?!" tanya Osvald.
"Ayo, kita susul Tom!" kata Teo menepuk bahu Osvald.
"Aw!" keluh Osvald karena Teo menepuk bahunya yang tadi terluka.
"Ah, sorry!" kata Teo.
Baru kali ini Teo merasa sangat canggung berjalan berdampingan dengan Osvald padahal mereka sangatlah dekat.
Osvald terus tertawa, "Bagaimana ini bisa terjadi?! kau dan kekuatan supermu?! rasanya seperti mimpi saja."
"Ini memang hanya mimpi saja! kau akan melupakan semuanya saat bangun ...." kata Teo.
"Kenapa ini terjadi padaku, Teo?!" tanya Osvald murung.
"Dan orang lainnya yang memiliki rasa takut itu adalah Demelza?!" kata Osvald setelah melihat Demelza.
"Hahh?!" Teo langsung berlari menuju tempat Demelza dan Tom berada, "Tan, dimana?!" teriak Teo tapi setelah mulai mendekat Teo langsung menutup mulutnya kaget melihat apa yang dilihatnya, "Apa yang terjadi?!" Teo mulai panik dan gemetaran.
"Bantu aku menekan lukanya!" kata Tom menarik tangan Teo untuk menekan luka pada perut Tan. Sementara Tom mencari sesuatu dari dalam tas kecil Tan.
"Apa yang terjadi?!" teriak Teo pada Demelza.
"Dia ... dia berusaha melindungiku dan jadi begini ...." kata Demelza terbata-bata.
Tom menuangkan ramuan berwarna biru pada luka Tan dan pendarahan langsung berhenti, "Setidaknya begini dulu ...." Tom kemudian membalut luka Tan tapi Tan perlahan menutup matanya, "Tan! Tan! bangun!" teriak Tom tapi Tan sudah tidak sadarkan diri.
"Apa kau sudah benar melakukannya dengan benar?! coba periksa lagi, apa ada ramuan lainnya di dalam tasnya ...." kata Teo.
"Ada banyak ramuan tapi aku tidak tahu karena tidak ada label namanya, hanya Tan yang tahu." kata Tom.
"Inilah kenapa kalau bertarung kita harus melindungi Tan, karena dia harus merawat kita ... kalau dia yang terluka, kita tidak bisa berbuat apa-apa." kata Teo.
"Dia tidak apa-apa, setidaknya ... pendarahannya sudah berhenti, dia tidak sadarkan diri karena kekurangan oksigen ... kalau di dunia lain pasti dia masih bisa sadarkan diri dengan luka ini." kata Tom.
"Kau ... Osvald! apa yang kau lakukan disini?! apa kau bersama mereka?!" tanya Demelza setelah mulai memperhatikan sekitar.
"Aku sama denganmu, aku sudah disini selama tujuh malam ...." jawab Osvald.
***
Sebelumnya, Tan dan Demelza ....
Wahana permainan tidak henti-hentinya terus mengejar Tan dan Demelza. Hingga tidak ada jalan lain selain harus melawan karena tidak bisa terus menerus lari. Karena bersembunyi sudah tidak akan bisa dilakukan lagi. Semua tempat terus saja meledak.
Awalnya, Tan bisa dengan mudah melawan karena lawan hanya ada dari satu arah tapi setelah datang dari segala arah Tan jadi kerepotan. Bagaimanapun juga ada Demelza yang harus dilindungi dan bertarung sambil melindungi seseorang adalah pertarungan yang sangat sulit.
"Hahh?! apa yang kau lakukan?!" teriak Demelza melihat Tan membunuh orang-orang yang mendekat.
"Mereka tidaklah nyata ... tapi kalau mereka melukai kita, itu nyata terjadi. Jadi, kau pilih yang mana?!" kata Tan sudah hampir kehabisan napas dan terus mengeluarkan keringat dingin dan juga pusing karena kekurangan oksigen.
Kini Tan dan Demelza dikelilingi oleh orang-orang yang ada di taman hiburan yang selama ini Demelza selalu lihat dan mulai hafal wajahnya.
"Bukankah dia tadi sudah mati?!" tanya Demelza.
"Memang ... mereka akan kembali hidup, ini tidak akan ada habisnya!" kata Tan membuat Demelza gemetaran.
"Jadi, bagaimana?! kau kesini katanya untuk menolongku tapi kau tidaklah seberguna itu ...." kata Demelza membuat Tan tercengang.
"Sudah bagus aku ada disini, kalau tidak ...." Tan mulai kehabisan kesabaran tapi kembali sadar dan menenangkan dirinya. Karena orang-orang yang datang menyerangnya semakin bertambah banyak dengan wajah yang hampir sama semua.
Tan menghirup napas panjang dan menutup matanya kemudian membuka matanya dan memanjangkan Telloper seperti lingkaran untuk sekaligus menyerang.
"Wah ...." Demelza takjub melihat pemandangan itu. Hampir semuanya langsung terbelah dua tapi yang sudah diserang oleh Tan itu mulai tergabung dengan orang lainnya. Tubuh yang sudah terpisah mulai bersatu dengan yang lainnya sampai terus menumpuk menjadi tinggi, "Menjijikkan ...." kata Demelza.
"Hahh ...." Tan mengehal napas melihat perbuatannya menjadi bencana, "Lari!" teriak Tan.
"Lalu, kau bagaimana?!" tanya Demelza.
"Katanya tadi aku tidaklah terlalu membantu, jadi pergilah dulu!" kata Tan.
"Kau tipe yang suka menyimpan dendam, ya?!" kata Demelza.
"Aku bilang, cepat ... hahh?!" Tan tidak sengaja menoleh dan mendapati ternyata yang dihadapannya itu hanya pengalihan. Di belakang Demelza sudah ada banyak dart steel tip, "Gawat!" Tan mendorong Demelza dan menghadang dart steel tip itu tapi karena terlalu banyak Tan tidak bisa menghalau semuanya dan akhirnya ada 12 mengenai perutnya, "Setelah ini, aku tidak akan bermain dart board lagi ...." kata Tan merasakan sakit yang luar biasa.
Suara pecahan kaca terdengar dan semua gangguan tiba-tiba mundur semua. Tan langsung berlutut dan menghilangkan Tellopper nya.
"Kau berdarah ...." Demelza panik, "Toloooooong!" teriak Demelza yang sudah tahu tidak ada yang bisa menolong disana tapi tetap berteriak karena hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. 12 dart steel tip mengenai satu target dan menumpuk di perut Tan.
"Demelza? apa yang ...." Tom mendekat kemudian melihat Tan yang terhalang oleh Demelza, "Tan?!" Tom menjatuhkan tas nya setelah melihat keadaan Tan.
...-BERSAMBUNG-...