UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.144 - Tidak Ada Pilihan Lain!



Dikatakan kembar karena wajah mereka yang sama tapi kepribadian mereka berbeda. Tan pribadinya dewasa, Teo berhati lembut sedangkan Tom realistis.


"Kalian sudah pernah melakukan ini sebelumnya kan?" tanya Cain.


"Ya, kau tidak perlu khawatir! kami akan mengambil keputusan paling bijak!" kata Zeki.


Tom ingin ikut serta dalam permainan itu tapi tetap menurut ikut dengan kedua saudaranya untuk kembali ke Rumah Daisy. Cain ingin menuruti Felix untuk ikut memantau jalannya permainan tapi Cain tidak bisa meninggalkan Tiga Kembar jauh dari pengawasannya. Jika Tan dan Teo memilih untuk tidak ikut campur dan pergi dari sana maka Cain akan menghormati keputusan itu.


"Aku jadi ingat bagaimana kau dulu!" kata Verlin melihat para Alvauden baru itu pergi.


"Aku?!" Zeki menunjuk dirinya sendiri, tidak mengerti apa yang dimaksud Verlin.


"Kau dan Alvauden yang lain juga sama seperti mereka yang terus bertentangan dalam mengambil keputusan. Awalnya seperti mereka yang hanya diam seperti itu ... tapi lama kelamaan jadi bertengkar dan malah adu pedang dulu baru bisa akur!" kata Verlin.


"Hem, mereka juga nanti begitu! mungkin sekarang masih malu-malu begitu tapi lihat saja nanti ...." kata Zeki.


Cain dan Tiga Kembar kembali ke Rumah Daisy hanya untuk mengganti baju dengan seragam sekolah karena sudah jam lima subuh. Sudah tidak bisa beristirahat lagi seperti hari sebelumnya yang kembali ke Mundclariss setidaknya punya waktu untuk tidur.


"Kalau tidur sekarang, kita pasti akan terlambat ke sekolah kan ya?" tanya Teo sangat mengantuk.


"Sudah pasti! jangan ditanyakan lagi!" sahut Tom.


"Sudah pasti kita akan ketiduran ... kalau saja ada Bu Daisy yang membangunkan mungkin bisa jadi ...." kata Cain.


"Apa Ibu baik-baik saja ya?" tanya Tan.


"Jika ada sesuatu pasti Felix akan tahu ... jangan khawatir!" jawab Cain.


***


Felix turun ke ruang bawah tanah menggunakan perosotan. Disaat Felix berteriak karena tidak tahu akan meluncur turun secara tiba-tiba, para anjing penjaga terlihat sangat senang melewati terowongan perosotan itu.


"Apa ini satu-satunya jalan untuk ke bawah?" tanya Felix mencoba menjaga keseimbangannya saat tiba karena pusing dengan perosotan yang berputar-putar.


"Ada!" kata anjing itu menunjuk ke atas.


"Apa? dimana? pakai apa?" tanya Felix.


"Tidak ada! hanya melompat langsung dari atas turun kesini!" kata anjing penjaga.


"Hahh?!" Felix tercengang, "Kalau Cain pasti sangat suka hal menantang seperti ini!" kata Felix dalam hati.


"Apa Aluias memang penyuka ketinggian?" tanya Felix ketika berjalan menuju ruang sistem.


"Lebih tepatnya penyuka tantangan, Tuan Muda! semua hal yang bisa memicu adrenalin disukai oleh Aluias ... memang sudah terlahir seperti itu!"


"Memang seharusnya begitu jika mau menangkap penjahat ... tidak boleh ada ketakutan dan ada keraguan sama sekali!" kata Felix dalam hati.


"Disini Tuan Muda!"


Felix tertawa geli karena dihadapkan dengan banyak benda asing yang baru pertama kali dilihatnya, "Aku mulai dari mana?!" Felix jadi tidak percaya diri lagi bisa melakukannya.


"Kalau kami sih sudah angkat tangan Tuan Muda!"


"Mungkin aku juga, tidak akan lama lagi ...." kata Felix mulai memeriksa alat yang ada disana.


Tidak seperti dibayangan Felix yang akan ditemui adalah mesin seperti di Mundclariss tapi semuanya hanyalah benda yang terbuat dari berlian dan tidak ada sama sekali petunjuk, huruf, angka atau warna lain. Polos hanya warna asalnya yakni berlian.


"Kalau salah tekan, bisa jadi aku malah menghancurkan tempat ini!" kata Felix.


"Tidak apa-apa Tuan Muda! malah seru pastinya kalau meledak!"


"Dasar! pecinta adrenalin!" decak kesal Felix dalam hati, lupa kalau para anjing penjaga itu juga adalah Aluias.


Akhirnya Felix menyerah dan hanya menyarankan jika ada Alvauden selain Alvaudennya yang datang langsung diserang dan secepat mungkin untuk mengabarinya.


"Jangan khawatir, Duarte juga akan selalu kesini mengecek!" kata Felix.


Felix tidak mengerti sama sekali dengan perkataan Duarte karena yang dilihatnya adalah anjing lucu yang menggemaskan.


***


Kelas sudah mau dimulai barulah Felix datang, "Kukira kau tidak akan masuk sekolah!" kata Teo.


"Apa maksudnya! Felix itu tidak suka bolos tahu!" kata Dea.


"Ah, yang bener?" kata Teo usil.


"Kalian sahabatnya masa tidak tahu!" kata Dea.


"Kami sahabatnya makanya kami tahu betul!" kata Tom.


Mertie yang jatuh dari kursinya karena tertidur langsung menghentikan debat antara Dea dan Dua Kembar.


"Kau ini punya berapa pekerjaan sih?!" tanya Felix dalam hati membantu Mertie berdiri sambil membaca pikiran Mertie yang langsung memikirkan pekerjaan paruh waktunya.


Disaat Felix dan kawan-kawan sibuk melakukan aktivitas di Mundebris, Mertie rupanya sibuk melakukan banyak pekerjaan paruh waktu.


"Jangan akting deh!" kata Dea, "Sini biar aku yang bantu!" Dea tidak ingin Felix membantu Mertie.


Mertie hanya kembali tidur lagi setelah terjatuh karena masih ada waktu beberapa menit sampai guru masuk.


Cain, Tan, Teo dan Tom mulai menceritakan apa yang terjadi dan menyerahkan pada Verlin dan Zeki untuk mengambil alih keputusan. Baik itu dengan hanya diam atau ikut dalam permainan pasti mereka bisa memilih yang paling baik karena sudah pernah melakukannya sebelumnya.


"Tidak ada yang namanya baik dalam permainan ini! memang seharusnya Caelvita tidak terlibat dalam permainan ini seperti yang dianjurkan Caelvita-47!" kata Felix.


"Kau sudah tahu kan dengan permainan ini tapi tetap membiarkan kami ikut?!" kata Cain.


"Kalian ini Alvauden, sudah seharusnya kalian ikut setidaknya memantau jika tidak ingin terlibat karena nanti kalian yang akan mengatasi masalah seperti ini di masa depan!" kata Felix yang sudah tahu jika permainan ini akan membuat hati dan pikiran mereka tidak tenang tapi bagaimanapun mereka harus memiliki pengalaman. Tidak selamanya, Verlin dan Zeki yang melaksanakan terus tugas yang seharusnya dilakukan oleh mereka. Di masa depan akan banyak kejadian yang mengharuskan mereka turun tangan dan mengharuskan mereka mengambil keputusan sendiri. Felix hanya ingin agar mereka bisa terbiasa.


Pulang sekolah mereka pulang ke panti bukan ke Rumah Daisy. Cain daritadi mengatakan ingin pulang ke panti. Baru kali ini Cain rewel begitu jadi yang lainnya hanya mengikuti kemauan Cain. Walau harus melalui banyak lika-liku cerita perjalanan untuk bisa ke sekolah jika menginap di panti.


"Pulang ke Rumah memang beda rasanya!" seru Teo dan Tom.


"Benang itu!" Cain menunjuk benang merah yang seharusnya adalah pemilik dari salah satu korban Permainan Tukar Kematian itu, "Kenapa bisa ada disini?!"


Mereka langsung berlari masuk mencari siapa pemilik benang merah itu. Mengikuti benang merah yang mengambang diatas atap panti dan sampai ke kamar seseorang.


"Kiana!" teriak Felix.


"Iya kak!" sahut Kiana yang sedang asyik bermain dengan anak-anak yang lain.


Cain berusaha menarik benang merah yang tertanam pada jantung Kiana tapi tidak bisa ditarik sama sekali malah ditertawai oleh teman-teman Kiana karena mengira Cain sedang melucu.


"Kapan kau keluar dari panti?" tanya Tan.


"Kemalin sama Ibu jalan-jalan di kota!" sahut Kiana.


"Apa Ibu membelikanmu sesuatu saat keluar?!" tanya Tom.


"Itu!" tunjuk Kiana pada boneka.


Segera Tom mengambil boneka yang jelas-jelas karakternya tidak ada di dunia manusia dan merupakan hewan yang baru-baru ini melakukan kontrak dengannya di Mundebris


"Tidak! Kiana sudah menjadi salah satu korban!" kata Cain.


"Apa yang harus kita lakukan?!" kata Teo mulai memeluk Kiana.


"Aku akan menukar kematiannya dengan orang lain!" Felix mulai berlari keluar dari kamar.


...-BERSAMBUNG-...