
Sesampainya di dekat sekolah, mereka semua langsung masuk ke Bemfapirav dan tetap terus berlari menuju ruangan kesehatan untuk segera bersih-bersih. Untung saja struktur sekolah yang ada di Mundclariss dan Bemfapirav sama persis jadi mereka tidak perlu mengira-ngira.
Mereka mulai kembali ke Mundclariss di saat sudah berada di dalam gudang tempat alat kebersihan berada. Takut jika bertemu dengan seseorang jika langsung kembali di tempat yang ramai. Saat kembali mereka langsung dijatuhi barang-barang yang ada di dalam gudang. Berbeda dengan barang yang ada di Bemfapirav hanya sedikit sedangkan di gudang di Mundclariss lebih banyak barang.
"Harusnya barangnya juga di upgrade dong!" keluh Teo.
"Kebanyakan alat kebersihan baru ... sepertinya seseorang yang mengatur ingatan sekolah bukanlah seseorang yang berada di gedung kesehatan!" kata Tom.
"Memangnya sekarang waktu yang tepat untuk menganalisa?!" kata Teo sebal.
"Iya, benar! cepat ambil alat kebersihan dan kita keluar membersihkan ...." kata Tan membagi-bagikan alat kebersihan pada mereka masing-masing.
Seakan mereka menjadi mesin pembersih! dengan cepat mereka membersihkan dari ujung paling dalam sampai hampir setengah dari gedung kesehatan dibersihkan. Tapi dengan waktu dua jam tetaplah itu masih dikatakan kurang. Walau begitu para petugas kesehatan tetap memuji mereka, "Kalian ini padahal tidak mendapat hukuman sama sekali tapi mengajukan diri sebagai relawan ...." kata perawat membawakan mereka minuman dingin.
"Terimakasih banyak kakak perawat cantik ...." kata Teo langsung meneguk habis minuman dinginnya dan memandang minuman lainnya yang masih belum diminum.
Menyadari hal itu Felix, Cain, Tan dan Tom langsung mengambil jatah minumannya juga sebelum dihabiskan oleh Teo.
Teo hanya bisa meneguk air ludahnya karena masih ingin tambah minuman.
"Siapa?" tanya Tan mendengar handphone bersama mereka berbunyi begitupun dengan handphone bersama Felix dan Cain.
"Bu Sissy! katanya sudah keluar rumah sakit dan kembali bekerja ...." kata Cain membaca pesan masuk.
"Padahal sebenarnya aku ingin membaca pikirannya dulu ...." kata Felix, "Walaupun aku sudah tahu bagaimana kebakaran terjadi tapi rasanya masih ada saja yang janggal ...." kata Felix dalam hati.
"Kenapa dia berlari begitu?" tanya Tom melihat Wyatt berlari di koridor sekolah yang gelap.
"Dia takut kegelapan!" sahut Mertie yang muncul dibelakang mereka.
"Hahh?!" FCT3 tidak percaya apa yang didengarnya.
"Kalian tidak lihat saja bagaimana saat aku mengerjainya ... tapi setidaknya tidaklah sepenakut seperti kakak kelas yang jatuh dari tangga itu ...." kata Mertie.
"Entah kenapa aku jadi kesal ...." kata Cain meremas botol minuman mengingat dia pernah dikerjai juga.
"Jadi sebelum mendapat 9 kandidat, banyak yang kau gagalkan menjadi kandidat?" tanya Tan.
"Itu tidak menandakan bahwa peniruku itu tidak ada ...." sahut Mertie mengerti apa yang Tan pikirkan, "Jadi bagaimana bisa batu bergerak dengan sendirinya?" tanya Mertie tertawa.
"Kau sudah menghapusnya kan?" tanya Felix.
"Sudah!" sahut Mertie.
"Setelah pulang sekolah nanti, kamera pengawas harus sudah dibereskan pada rumah 19 pasangan pemain ...." kata Felix.
"Kau tidak ikut lagi?" tanya Mertie.
"Aku harus menyembuhkan Dallas!" sahut Felix.
"Jadi kau akan menemui Banks?" tanya Cain.
"Ya, kalian ... jangan lupa untuk menyelesaikannya malam ini! terutama di rumah Casimira yang bisa saja ada detektif yang teliti datang memeriksa tempat kejadian dan menemukan kamera yang kita pasang ...." jawab Felix.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Mertie, "Maksudku hari ini pasti berat bagi kalian ...."
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Mertie untuk berbohong bahwa mereka baik-baik saja padahal sama sekali tidak baik-baik saja. Terlebih lagi Felix, bersamaan mereka memandangi Felix yang tidak sadar sedang diperhatikan.
"Oh ia, asrama sudah membuka pendaftaran ... cepat daftarkan diri kalian supaya tidak mendapat lantai kamar paling tertinggi nantinya ...." kata Mertie mengalihkan pembicaraan.
***
Cain dan Tiga Kembar bergerak cepat melepas semua kamera pengawas pada rumah 19 pasang pemain hari ini yang sudah lepas dari permainan. Sedangkan Mertie memberi aba-aba lewat radio karena Cain, Tan, Teo dan Tom ingin lebih berhati-hati lagi dengan menggunakan Bemfapirav untuk melepas kamera.
"Aku tidak menyangka bekerjasama dengan dukun seperti kalian ...." kata Mertie membuat mereka semua kesal.
"Sudah kubilang, kami ini bukan dukun!" kata Teo, "Bukan juga peramal!" sambungnya ketika Mertie seperti ingin berbicara.
"Kita ini ibaratkan Dr. Strange!" kata Tom.
"Apa-apaan?!" Mertie berteriak membuat mereka semua melepas earphone karena seperti telinga akan pecah mendengar teriakan Mertie.
"Sepertinya besok ada satu pasang pemain lagi yang harus ditukar kematiannya ...." kata Tom.
"Kapan Felix memberitahumu?" tanya Cain tidak percaya ia tidak diberitahu.
"Tidak diberitahu tapi aku tidak sengaja melihatnya sedang mencoret sebuah nama dengan tanggal besok ...." jawab Tom.
"Apa-apaan dia?! dia ingin mengerjakannya sendiri lagi?!" tanya Cain emosi.
"Bukan begitu Cain, dia pasti akan memberitahu kita hanya saja tidak ingin menambah beban saja ... nanti pasti diberitahu kalau kita sudah mengabari bahwa kamera sudah dilepas ...." kata Tan.
"Atau bisa saja Felix hanya mulai memilih kandidat lebih awal ... masa langsung besok ada yang harus ditukar kematiannya lagi ...." kata Teo.
"Tapi jumlah pasangan pemain memang ada 30 sama dengan sisa jumlah hari permainan ... bisa saja mulai besok dan seterusnya tiap hari kita harus menukar kematian ...." kata Cain.
"Jujur aku merasa malu pada diriku sendiri, disisi lain aku sangat ingin membantu Felix menukar kematian ... tapi disisi lain aku bersyukur tidak punya keahlian untuk menukar kematian ..." kata Teo.
"Ya, seandainya kita punya cara untuk menukar kematian juga agar Felix tidak terlalu merasa bersalah sendirian ...." kata Tom.
"Aku tidak percaya harus mendengar pembicaraan sentimental kalian ...." kata Mertie, "Teo! kamera yang kau cari ada di ranting pohon!" kata Mertie melihat Teo muncul dan menghilang di kamera pengawas karena bolak-balik masuk Bemfapirav takut ketahuan ada yang melihat dan tidak tahu dimana letak kamera jadi berputar-putar mencari.
"Oh, ia ... thankyou!" kata Teo mengedipkan mata di depan kamera untuk dilihat Mertie di monitor.
"Karena kameranya kecil, jadi susah dilihat apalagi malam begini ...." keluh Tan.
"Siapa ini? benar Tan yang mengeluh?" Mertie tidak percaya kalau Tan bisa juga mengeluh.
Sementara itu, Felix mencari keberadaan Banks di pohonnya tapi tidak ada, "Dimana dia? eh?" ada catatan tertempel di pohon dan menghilang setelah dibaca Felix masuk Bemfapirav, "Baru pertama kali aku masuk Bemfapirav disisi lain Istana Besar Emerald ... tapi tetap terasa damai, seakan bukan di Bemfapirav yang biasanya penuh aura dendam dimana-mana ...."
"Disini, Yang Mulia!" Banks keluar dari pintu transparan.
"Dimana ini?" tanya Felix langsung disambut bau aneh setelah memasuki bangunan yang tidak terlihat jika dari luar.
"Rumah saya, Yang Mulia!" sahut Banks.
"Jadi ini kenapa kau memilih menjaga pohon di Mundclariss dan berat hati saat disuruh pindah menjaga pohon karena disisi lain Bemfapirav ada rumahmu disini?" kata Felix.
"Iblis tidak seharusnya membangun rumah di Bemfapirav karena dunia iblis di Mundebris tapi hanya disinilah mantra transparan bisa dengan sempurna terpasang ...." kata Banks.
"Jadi kau sudah mengetahui apa yang menyebabkan Dallas begitu?" tanya Felix langsung ke inti permasalahan.
"Ada Veneormi yang masuk ke dalam tubuhnya!" jawab Banks.
...-BERSAMBUNG-...