UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.327 - Suara Batu Permata



"Korban pengganti Anaevivindote tidak boleh melukai diri sendiri, harus dilukai oleh Quiris supaya bisa bekerja. Jadi kami sudah menunggu kedatangan Tuan Muda." kata Anaevivindote lain.


Cairo memalingkan wajahnya karena tidak tega melihat hewan Mundebris yang sudah siap untuk mengorbankan dirinya itu.


"Tidak perlu ... biar aku saja." kata Felix yang baru saja datang.


"Tidak, darah Tuan Muda sangat berharga. Biarkan kami yang melakukannya ...." kata salah satu Anaevivindote lainnya.


"Aku tidak akan mati, tapi kalian akan. Jadi ... menurut kalian mana pilihan yang paling bagus?!" kata Felix.


"Tapi jika darah Caelvita maka akan mengakibatkan perang dengan iblis. Tuan Muda bicara dulu dengan Efrain, dia pasti akan membantu mencari siapa yang menanam ini." kata Anaevivindote lainnya.


"Kalian belum tahu ya?! kalau Efrain lah yang melakukan ini." kata Tom membuat Anaevivindote yang disana memasang ekspresi tidak percaya.


"Tidak mungkin ...." kata salah satu Anaevivindote.


"Begitulah yang terjadi ... Efrain yang kalian kenal sudah berubah." kata Tom.


"Apapun yang terjadi aku tetap akan berperang dengan iblis, jadi biarkan aku saja yang melakukan ini. Seperti yang kalian katakan darah Caelvita berharga makanya bisa menggantikan lima korban manusia atau 10 Anaevivindote." kata Felix mulai mengiris tangannya.


Satu tetes darah Felix mulai jatuh di atas batu permata jingga itu. Kemudian datanglah dua iblis yang sudah tidak asing lagi itu. Ditte dan juga ada Iblis Biawak yang mengagalkan misi pertama Cain dulu.


"Caelvita tidak boleh memihak Yang Mulia ...." kata Ditte menyeringai.


Felix memerintahkan Anaevivindote untuk pergi darisana sambil memutar dirinya untuk menghadap kedua iblis itu dengan masih meneteskan darahnya di atas batu permata itu.


"Memangnya kalau kami menanam batu permata kami, sudah menandakan kalau itu untuk menciptakan gerbang neraka?! Yang Mulia terlalu sensitif ...." kata Iblis Biawak tertawa menyebalkan.


"Kau mengakuinya sendiri sekarang ...." kata Tom sudah bersiap dengan Sesemaxnya.


Cairo yang melihat itu juga mengeluarkan senjatanya. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok iblis seperti apa dengan matanya sendiri. Jantungnya berdebar begitu cepat, sudah diberitahu bahwa iblis hanya bisa dikalahkan jika berada di dalam tubuh manusia. Jika tidak, maka tidak ada peluang untuk membunuhnya. Begitulah yang diajarkan di klan pemburu iblis.


"Setengah Aluias? tidak ... tidak sampai." kata Ditte melihat Cairo.


"Iblis juga adalah Quiris Mundebris, rakyat Yang Mulia. Dengan memperlakukan kami seperti ini menandakan bahwa Yang Mulia pilih kasih. Kami menanam batu permata kami semata-mata hanya untuk dijadikan bahan percobaan saja ...." kata Ditte.


"Ohya kalau begitu kenapa batu permata ini memintaku untuk mencabutnya secepatnya ... katanya dia akan menjadi bencana untuk kaum manusia jika tetap berada disini." kata Felix.


"Yang Mulia bisa mendengar suara batu permata?!" Iblis Biawak dan Ditte tidak percaya.


"Sangat jelas ...." kata Felix.


"Tunggu sebentar lagi Yang Mulia ... masih butuh beberapa tetes lagi untuk bisa menarikku darisini." kata Batu Permata itu dengan jelas masuk ke dalam telinga Felix yang hanya bisa didengar oleh Felix sendiri.


Ditte dan Iblis Biawak itu langsung ingin menyerang Felix tapi Tom menghadang. Cairo masih di tempat yang sama karena masih merasa gugup. Mengira kalau efek tanaman obat yang diberikan oleh Felix sudah tidak bekerja lagi. Sehingga untuk bernapas begitu berat. Tapi Felix sudah memberitahu bahwa setelah ini, efek itu tidak akan terasa lagi. Kegugupan Cairo sajalah yang membuat napasnya menjadi tak beraturan saat ini.


"Bukankah senjata itu lebih berat dari Tuan Muda sendiri ...." kata Iblis Biawak mengejek Tom.


"Bahkan lebih berat darimu!" Tom melemparkan Sesemaxnya membuat Iblis Biawak ikut terlempar.


Tom yang sedang dengan tangan kosong akan diserang oleh Ditte tapi dihadiahi oleh sebuah tendangan dari Cairo.


"Maaf ... lama!" kata Cairo sudah menyelesaikan perdebatannya dengan dirinya sendiri.


"Bagaimana bisa seseorang yang bahkan bukan Setengah Aluias menendangku?!" Ditte merasa dipermalukan.


Tom menggiggit tangannya sehingga mengeluarkan darah untuk memanggil Sesemaxnya yang masih berada di atas perut Iblis Biawak yang tidak bisa bergerak karena berat Sesemax itu. Mustahil jika mendekati Iblis Biawak itu untuk mengambil Sesemax. Sama saja dengan bunuh diri menurut Tom.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Tom melihat darah Felix sudah banyak yang keluar.


"Makanya kalau aku duduk jangan tertawai aku! itu karena aku pusing ...." kata Felix tertawa.


"Dia bisa bercanda juga ...." kata Cairo dalam hati tidak menyangka Felix yang biasanya terlihat cuek itu bercanda.


"Memangnya ini saat yang tepat untuk bercanda?!" teriak Tom jengkel.


Ditte dan Iblis Biawak menyerang Tom dan Cairo lagi yang sedang melindungi Felix. Tapi kini Tom dan Cairo terlempar. Ditte sudah bersiap dengan pedangnya untuk menebas Felix, "Ini bukan masalah pribadi, Yang Mulia harus ingat itu." kata Ditte.


Cairo merasa punggungnya remuk karena terbentur di sebuah batang pohon, "Jadi sekuat inikah iblis ..." kata Cairo yang kali ini benar-benar sudah kesulitan bernapas.


Tom berusaha berlari menghentikan Ditte tapi Tom tahu jika dirinya akan terlambat, "Tidak! Felix ...." teriak Tom.


Ditte mengayunkan pedangnya, Tom masih terus berlari dengan rasa sakit disekujur tubuhnya tapi tidak diperdulikan, "Hahh?!" Tom berhenti ketika melihat pedang Ditte itu saat ini terhadang oleh pedang Felix.


"Kau pikir aku ini semudah itu dibunuh?!" kata Felix menyerang dengan tangan kirinya, "Aku ini pengguna tangan kiri ... makanya tangan kananku yang kulukai."


"Hahh ...." Tom menghela napas lega, "Bikin kaget saja!"


Iblis Biawak hendak menebas tangan kanan Felix untuk dipotong agar berhenti menteskan darahnya pada batu permata itu tapi kini Tom sudah siap sedia melindungi Felix.


"Kau tahu, memotong anggota tubuh Caelvita hukumannya adalah mati dengan cara paling menyakitkan dan generasi keluargamu sebanyak 119 turun temurun akan dicap sebagai pengkhianat." kata Tom.


Cairo berusaha berdiri untuk membantu tapi tubuhnya menolak, "Apa yang aku lakukan di depan anak 13 tahun?! bikin malu saja!" Cairo memaki dirinya sendiri.


Kali ini Ditte menyerang dengan membabi buta. Felix yang terbatas dalam bergerak dengan pasrah menerima luka goresan pada tangan kirinya yang membuat pedangnya terjatuh.


"Felix?!" untuk kedua kalinya jantung Tom rasanya mau copot.


Tapi batu permata itu tiba-tiba mulai bersinar terang menyilaukan semua mata. Darah Felix tertarik masuk ke dalam batu permata itu kemudian batu permata itu tercabut dari tanah dan melayang naik ke atas tangan Felix menyembuhkan luka Felix dan menghilang bersama dengan sembuhnya tangan Felix.


Ditte hanya bisa menahan amarahnya sedangkan Iblis Biawak itu menghantamkan pedangnya ke tanah karena emosi. Karena serangan itu, tanah yang ada disana terbelah dan menimbulkan getaran seperti gempa.


"Yang Mulia tahu jika ini adalah tanda dimulainya perang?!" kata Ditte dengan suara yang terdengar jelas bergetar karena menahan marah.


"Bukankah tanpa ini kalian sudah memulainya duluan?! apa hanya anggapanku saja atau kalian pikir serangan besar-besaran di panti saat itu hanyalah main keroyokan saja?! dari awal kalianlah yang memulainya ... jadi jangan menjadikanku alasan untuk pelampiasan amarahmu." kata Felix.


"Lucu sekali ... perasaan dari awal kita memang sudah berperang dan saat itu kalian kalah." kata Tom mengejek.


Iblis Biawak tersinggung mendengar itu tapi ditahan oleh Ditte, "Yang Mulia ... akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh Caelvita-46." kata Ditte.


"Jadi begitu yang dikatakan Efrain?! kalian pikir yang dilakukan Efrain saat ini sama dengan Raja Iblis saat itu?!" Felix menyeringai.


Ditte tidak mendengarkan dan mulai membawa Iblis Biawak itu pergi dengan paksa.


"Tunggu aku Alvauden, urusanku denganmu masih belum selesai." teriak Iblis Biawak.


"Maaf ya, tapi aku sudah selesai!" kata Tom menambah amarah Iblis Biawak.


"Ck! Kau juga ...." kata Felix menatap Tom yang tidak kapok membuat jengkel Iblis Biawak itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tom menahan Felix yang akan terjatuh.


...-BERSAMBUNG-...