
"Hentikan! Ayo kita pulang!" kata Ratu Sanguiber pada Viviandem Sanguiber.
"Biar, aku membawanya ke istana." kata Raja Aluias.
"Apa maksudmu?! Biar aku yang membawanya." kata Ratu Sanguiber.
Memang belum bisa dipercaya kalau Caelvita memiliki ayah dan ibu. Terlebih lagi dengan fakta bahwa Raja Aluias dan Ratu Sanguiber adalah orangtua Caelvita saat ini lebih tidak masuk akal lagi untuk dipercaya.
Tapi tetap saja, tidak mempercayai hal itu tetap membuat mereka bersitegang. Orangtua atau bukan, yang akan membawa Caelvita lah yang dipermasalahkan. Viviandem Sanguiber mengatakan kalau ada yang ingin membawa Caelvita, itu adalah ibu dari Caelvita. Padahal mereka sendiri tidak percaya hal itu tapi tetap dikatakan juga dengan lantang. Begitu juga dengan Aluias juga membantah dan mengatakan kalau ayahnya lah yang harus membawanya. Sama juga masih tidak percaya tapi tetap memperdebatkan dan menggunakan alasan itu untuk memenangkan Caelvita harus dibawa kemana.
Ratu Sanguiber dan Raja Aluias kelihatan menggenggam erat tangannya menahan emosi.
"Aku yang akan membawanya!" kata Cain datang menghentikan pertengkaran kekanak-kanakan itu, "Ck ... ck ... kau ini sangat tidak bisa diandalkan, malah lebih pulas tidurnya daripada Felix." Cain membuka paksa mata Goldwin, "Sudah lihat kalau Felix sedang tidak sehat, tapi kau melakukan ini?! Dasar! Sangat tidak berguna!"
"Kau sedang mengatai kami?!" Raja Aluias dan Ratu Sanguiber merasa tersinggung seakan Cain mengatakan itu untuk menyinggung mereka secara tidak langsung.
"Aku berbicara pada Goldwin ...." kata Cain polos.
"Persiapkan diri kalian semua! Pemimpin Alvauden sangat menyebalkan!" kata Goldwin memperburuk lagi keadaan dengan mengigau saat masih setengah sadar.
"Ayo kita pergi ...." Cain memanggil Gerbang Leaure nya dan menggendong Felix dipunggung nya untuk cepat-cepat kabur darisana.
Satu per satu Quiris disana mulai terlihat meninggalkan zona bekas peperangan besar pertama Caelvita-119. Kebanyakan memang tadi masih terus tinggal karena masih ingin melihat Felix tapi karena sudah dibawa pergi. Mereka sudah tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal.
"Poin kalian akan masuk kalau Felix sudah sadar. Aku akan memberitahunya secepatnya begitu dia sadar ...." begitulah Cain meyakinkan Viviandem yang melihat bagaiamana Quiris dengan darah campuran diberi penghargaan tapi Viviandem tidak langsung diberi karena terlambat datang. Cain juga sudah mencapai batas pemberian poin sebagai Alvauden.
Lagipula kedatangan mereka memang hanyalah sebagai sebuah kewajiban untuk melakukan penyambutan dan penghormatan pada Caelvita baru. Tidak menyangka kalau langsung harus ikut berperang.
Raja Aluias dan Ratu Sanguiber juga pergi terlebih dahulu. Setelah itu baru diikuti kaum masing-masing, tapi mereka masih sedang beradu pedang dengan menggunakan tatapan mata mereka. Bahkan tidak ada yang berkedip untuk saling memelototi.
"Hahh ... aku rindu suasana ini ...." kata Verlin juga ikut masuk ke dalam gerbang milik Cain melihat pemandangan Sanguiber dan Aluias yang sudah sangat familiar di Mundebris.
"Kau rindukan?! nanti kau juga jadi muak!" teriak Goldwin yang sepertinya sudah jauh didepan.
"Kenapa juga kita harus memakai gerbang gembel ini?!" keluh Goldwin tidak suka karena gerbang itu tidak terlalu cocok untuk tubuhnya yang besar dan sangat membutuhkan waktu lama.
"Makanya buat dirimu jadi kecil, apa susahnya?! Diet! Olahraga yang banyak dan kurangi makanmu!" kata Cain.
"Lucu sekali, sedangkan sekarang aku sedang menggendong Tuan Muda karena kau lelah ... jadi aku ubah ukuranku sekarang, huh?!" Goldwin mengancam.
"Lakukan saja! toh mungkin itu lebih baik, Felix bisa tersadar kalau jatuh." kata Cain merasa tidak akan rugi sedikitpun.
Akhirnya Goldwin yang kalah karena tidak mungkin tega menjatuhkan Felix yang sedang kelelahan menggunakan kekuatan Caelvita dan sedang tidak sadarkan diri itu.
"Bagaiamana dengan Alex?!" tanya Cain berbalik kebelakang.
"Jangan khawatirkan dia, pasti sudah tiba ditempat tujuan lebih dulu dari kita. Lagipula, menurutmu dia bisa ikut masuk kedalam gerbang ini?!" kata Goldwin.
"Aku juga punya kekuatan teleportasi tahu! hanya saja sedang sangat kelelahan ...." Goldwin kesal.
Mereka berdua selalu saja mengeluh kalau menggunakan Gerbang Leaure. Tapi karena terus bertengkar, maka tidak disadari juga kalau sudah sampai.
"Cepat ... cepat ...." Verlin meminta untuk diberi jalan karena ingin segera keluar. Verlin langsung melemparkan dirinya untuk berbaring.
"Kalian sudah datang ...." kata Banks menyambut dan mengambil tubuh Felix yang berada diatas Goldwin. Segera dibawa untuk dirawat dengan baik agar bisa pulih secepatnya.
"Alex tidak ada!" kata Cain melihat kesana-kemari disekitar Rumah Banks.
"Tadi datang, tapi pergi lagi. Karena bosan terlalu lama menunggu katanya." kata Banks.
Cain tercengang, "Memangnya kita selama itu?! memangnya secepat apa dia sampai?!"
"Aku lebih penasaran dengan hal lain, apa yang terjadi di Mundclariss sekarang?! pasti sedang heboh dengan kejadian semalam." kata Verlin.
"Memang pasti heboh, tapi tidak akan ada yang curiga dengan apa yang terjadi." kata Cain.
Pusat Kota Pippa saat ini hancur tak bersisa. Bahkan tidak ada jejak kalau pernah ada kota sebelumnya disana. Lubang Misterius juga tidak nampak lagi ada dimana karena tertimbun reruntuhan.
...****************...
Masih belum ada yang mendekati Kota Pippa karena rumor yang beredar kalau sedang ada ratusan ribu bom terpasang disana. Ada juga yang mempercayai kalau itu disebabkan oleh Lubang Misterius yang ada disana. Banyak spekulasi yang beredar di internet. Tapi karena itu juga orang-orang yang masih berada di Kota Pippa bisa melarikan diri darisana secepatnya.
Pelaku utama yang melakukan itu adalah Mertie, setelah melihat apa yang terjadi. Entah mengapa dia tahu kalau akan terjadi hal besar disana. Maka tujuan utamanya adalah untuk mengeluarkan semua orang yang masih berada di Kota Pippa. Lagi-lagi Hantu Merah Mudah berperan penting menyelamatkan banyak nyawa. Karena jika tidak, pasti mereka akan menjadi korban tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Perang skala besar yang melibatkan manusia yang tidak tahu apa-apa tidaklah adil menurut Mertie.
"Kau ...." Mertie tak sengaja berpapasan dengan seseorang saat ledakan besar berlangsung akibat dari Felix yang menghancurkan Dunia Pikiran. Tapi tidak ada waktu untuk saling menyapa karena Mertie panik kalau saja ledakan itu masih akan terus menyebar juga.
"Aku sudah melakukan sesuatu. Hanya Kota Pippa yang akan terkena dampak ledakan ini. Kerja bagus, kau sudah mengeluarkan semua sisa orang-orang yang ada di Kota Pippa." kata Cain.
"Aku tidak mau Felix nanti menyesali adanya korban karenanya, jadi aku sudah mempersiapkan hal ini untuk menahan serangan ledakan ini. Walau harus menguras tenagaku banyak sekali." kata Cain dalam hati merasa kesal karena sudah lelah padahal belum bergabung dengan Felix. Tapi juga lega karena kali ini Felix tidak akan terbebani rasa bersalah baru.
"Kau yakin ...." Mertie berhenti menunduk ketakutan dan melihat ledakan itu memang seperti terhalang oleh dinding.
"Sekarang, aku harus bergabung dengan Felix. Terus buat kehebohan di internet. Buat cerita seram tentang Kota Pippa sehingga tidak akan ada yang mendekat dan tidak ada yang berani untuk melihat. Sehingga semuanya hanya fokus untuk berkemas dan melarikan diri jauh darisini." kata Cain langsung menghilang setelah mengatakan itu.
Dan benar saja, Mertie melakukannya dengan baik. Biasanya orang-orang akan penasaran dan menonton dan mendekati hal seperti itu. Tapi Mertie yang menyebar rumor palsu di internet membuat pesta tahun baru kacau. Semua orang lebih memilih untuk pergi dan mengungsi jauh-jauh dari Kota Pippa.
Bahkan hingga sampai saat ini, setelah perang selesai. Kota Pippa dengan matahari pagi hari pertama di tahun baru. Dengan menerbangkan drone, pihak yang berwajib ingin memeriksa keadaan Kota Pippa dari jauh.Tapi yang terlihat hanyalah lapangan luas. Tidak ada juga jejak tanda dari para korban yang menghilang.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam disini?!" tanya Kayle melihat di monitor drone. Tidak ada yang berani mendekati langsung jadi saat ini hanya bisa menggunakan teknologi untuk memeriksa.
...-BERSAMBUNG-...