
Haera melompat turun dari meja dan perlahan melangkah ke tempat Cain berada yang masih terus menatap kosong karena belum bisa menerima dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Yang ditakutkan Felix pun terjadi, Cain menjadi pewaris papan permainan tukar kematian walau hanya sementara tapi tetap saja semua pengetahuan tentang permainan ini akan tersalurkan ke pikiran Cain. Semua kebenaran permainan dan kebohongan Felix akan bersamaan diketahui oleh Cain.
"Sementara, sampai kapan?" tanya Felix melihat Cain hanya diam saja daritadi.
"Sampai permainan ini selesai dan ada seseorang yang layak dipilih menjadi pewaris!" jawab Haera naik ke atas papan permainan yang ada di pangkuan Cain.
"Haera ...." kata Felix dengan mata memohon.
"Bagaimanapun juga sekarang ... tetap Lix yang bisa menukar kematian! walau dia menjadi pewaris tapi Kelin sudah memberi hak penuh pada Caelvita! mereka Alvauden jadi akan bangun setelah 9 jam kemudian sedangkan yang lainnya akan bangun setelah 90 jam!" kata Haera mulai menghilang membawa Cain bersamanya.
"Dia menghilang?!" kata Mertie kaget.
Felix masih sibuk memikirkan Cain tapi saat melihat keadaan Tan, Teo dan Tom ia juga jadi merasa bersalah.
"Maaf, hal ini terjadi di hari ulang tahun kalian ...." kata Felix melihat jam yang sudah lewat jam 1 berarti besok jam 10 lewat baru mereka bisa bangun.
Hal tak terduga terjadi membuat semuanya menjadi berantakan dan Felix juga tidak dalam kondisi yang sehat. Mertie membantu Felix membawa Tiga Kembar untuk kembali ke Rumah Daisy dengan menggunakan taksi. Setelah membantu Felix mengangkat mereka masuk ke dalam, Felix memberi ongkos taksi agar Mertie bisa pulang tanpa harus menggunakan bus.
"Aku juga punya uang!" kata Mertie menolak.
"Kau tidak tahu ya sistem dari give and take? aku memberimu ini karena aku sudah mendapatkan sesuatu darimu ...." kata Felix menarik tangan Mertie untuk diberi uang.
"Kau tidak tahu ya sistem ditolong itu bagaimana? disaat seperti ini kau tidak harus memberiku uang tapi seharusnya mengucapkan terimakasih!" Mertie mengembalikan uang Felix dan masuk ke dalam taksi.
"Terimakasih ...." kata Felix.
Karena terhalang oleh kaca mobil yang tidak tembus pandang, Mertie yang sedang tersenyum mendengar kata terimakasih Felix tidak bisa dilihat oleh Felix yang ada di luar.
Felix ingin pergi ke tempat Cain berada tapi tidak tahu dimana dan saat ini ada Tan, Teo dan Tom yang tidak sadarkan diri tidak bisa ditinggal sendiri juga. Felix merasa frustasi tidak bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Bukan hanya itu, tapi Felix juga mengkhawatirkan orang-orang yang dilihatnya di jalan. Tiba-tiba banyak yang hanya sekedar berjalan, mengendarai kendaraan atau melakukan aktivitas biasa langsung tidak sadarkan diri. Ambulance datang berjejeran saat Felix membawa Tiga Kembar bersama Mertie, "Sepertinya aku terlalu egois ...." kata Felix dalam hati.
***
"Felix ... apa yang terjadi? yang aku ingat hanya melihat kemunculan Haera dan aku tidak ingat apa-apa lagi!" kata Tan memegang kepalanya yang sakit.
"Kau sudah sadar?" tanya Felix melihat waktu baru 90 menit berlalu.
"Kenapa mereka tidak bangun?" tanya Tan panik melihat kedua saudaranya tidak bersamaan bangun dengan dirinya.
"Berarti semuanya bekerja seperti yang aku rencanakan ...." kata Felix dalam hati.
"Felix!" teriak Tan yang melihat Felix hanya tinggal melamun.
"Dia akan bangun besok ...." kata Felix.
"Kenapa aku sudah terbangun?" tanya Tan.
Felix hanya menjawab dengan gelengan kepala seakan tidak tahu apa penyebabnya.
"Mereka tidak apa-apa kan?" tanya Tan.
"Tidak apa-apa! malah lebih baiknya lagi mereka bisa beristirahat ...." jawab Felix membuat Tan kesal karena Felix melihat sisi positif dari kejadian ini.
"Cain dimana?" tanya Tan baru sadar melihat ketidakhadiran Cain disana.
Felix menceritakan apa yang terjadi pada Franklin dan bagaimana Cain menjadi pewaris sementara.
"Memang Cain lebih pantas menjadi pewaris dibanding kami ... Cain bisa menjaga dirinya sendiri dan bisa meringankan bebanmu! kau tidak perlu menanggung semua tanggung jawab dan menjadi pewaris sementara ... lagipula Cain hanya dijadikan sebagai pengganti Franklin untuk sementara kan? sampai ditemukan pewaris yang layak ... Cain hanya digunakan untuk tetap membuat permainan ini berlangsung, menukar kematian masih kau yang melakukan! sepertinya tidak ada perubahan besar, walau akupun berduka dengan kepergian Franklin ...." kata Tan.
"Kau juga ... Cain pasti baik-baik saja! kalau ada hal berbahaya yang terjadi pasti kau bisa mendatanginya langsung juga kan ...." kata Tan.
"Em ... kau duluan saja!" kata Felix.
Tan kembali membaringkan dirinya, tidak bisa berbohong bahwa saat ini dia sangat pusing. Felix tidak tidur dan terus menunggu kedatangan Cain tapi matahari terbit dan belum ada tanda-tanda kemunculan Cain. Andaikan Felix bisa mendeteksi keberadaan Cain tapi tidak bisa, "Apa Haera membawanya ke Vandi?"
"Bagaimana dengan mereka? apa bisa kita tinggal untuk ke sekolah?" tanya Tan.
"Aku sudah menghubungi Dokter Mari untuk kesini menjaga mereka sekalian membawakan surat keterangan sakit mereka berdua ...." jawab Felix.
"Apa yang akan terjadi dengan kedua pemain hari ini? apa sebaiknya kita periksa dan tidak perlu ke sekolah?" tanya Tan.
Felix terdiam beberapa saat, "Kita harus ke sekolah! Cain ada disana!" kata Felix bergegas untuk berangkat dan Dokter Mari juga sudah datang membuka pintu.
Setelah bisa mendeteksi keberadaan Cain, rasanya Felix ingin segera terbang menghampiri Cain untuk melihat keadaan Cain apa ada yang berubah setelah mengetahui semua kebenaran permainan ini. Tapi tidak seperti perkiraan Felix, Cain bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada yang berubah, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Felix.
"Jika aku mengatakan sesuatu apa ada yang berubah?!" sahut Cain.
"Dia tahu ...." kata Felix dalam hati.
Felix dan Cain saling membalas senyuman. Kedua sahabat yang saling mengetahui kebenaran dari permainan. Felix yang menutupi kebenaran untuk melindungi Kiana sedangkan Cain pura-pura tidak tahu untuk melindungi persahabatannya dengan Felix.
Dilihatnya jam tangan Felix yang menunjukkan sudah saatnya Teo dan Tom juga bangun sekarang, Felix menyerahkan sebuah kotak berwarna jingga pada Tan.
"Apa ini?" tanya Tan.
"Selamat ulang tahun!" kata Felix.
Tan membuka kotak yang bertuliskan Made by Banks dengan gambar semut emas dan melihat isinya yang berupa kacamata.
Di waktu yang sama Tan dan Teo juga melihat dua kotak yang menarik perhatiannya setelah bangun.
"Kacamata itu berfungsi untuk melihat keadaan dari dunia lain tanpa kita harus masuk dunia lain itu dulu. Sangat berguna untuk memeriksa keadaan sebelum dimasuki. Ada tiga pengaturan, tombol yang ada di samping gagang kacamata bersimbolkan bulan berarti untuk melihat Mundebris, simbol matahari berarti untuk melihat Mundclariss dan yang terakhir simbol awan berarti untuk melihat Bemfapirav!" kata Felix dan Dokter Mari menjelaskan bersamaan di tempat yang berbeda.
"Uwaaaaah!" seru Teo dan Tom kegirangan.
"Ini sangat berguna kalau kita melakukan misi!" kata Tom.
Teo sudah berulang-ulang menekan tombol untuk berpindah-pindah melihat keadaan dunia lain.
"Ini hadiah dariku!" kata Cain menyerahkan sekantong pasir emas.
"Ini yang bisa berubah bentuk sesuai apa yang kita butuhkan itu kan?" tanya Tan.
"Jangan dijual untuk diuangkan supaya kau bisa mentraktir makanan!" jawab Cain membuat Tan tertawa.
"Tapi berapa ya kalau dijual?!" kata Tan.
"Kau ini ...." Cain mengomel.
"Bercanda!" kata Tan.
...-BERSAMBUNG-...