
Saat permainan tukar kematian saja mereka sangatlah tersiksa secara fisik maupun mental. Menukar kematian seseorang sudah merupakan hal yang sangat buruk bagi mereka. Bermain-main pada kehidupan seseorang memilih siapa yang berhak hidup dan mati.
Wajar saja jika saat ini mereka begitu tersiksa. Membunuh secara langsung di jalanan yang dulunya adalah sebuah jalan paling padat di tengah kota kini menjadi lokasi pertarungan fisik dan batin disaat bersamaan.
Saat berdiskusi untuk menentukan siapa yang dipilih saja butuh waktu lama untuk memantapkan hati. Apalagi saat ini yang memaksa mereka untuk bertindak secara cepat dan langsung di lapangan. Ibaratkan mereka masih sedang dalam tahap pembelajaran teori tapi langsung praktek atau seperti masih belajar berjalan tapi sudah disuruh berlari. Siapa yang tidak terkejut dengan itu.
Tapi berbeda dengan Felix, dari suara yang tidak terdengar ada unsur keraguan ataupun takut, postur tubuhnya yang tegap tidak ada bagian tubuhnya yang kelihatan gemetaran. Felix berdiri kokoh tanpa ada yang bisa menjatuhkannya. Pedangnya yang besar dan panjang berbunyi saat diseret oleh Felix berlari. Suara dari gesekan pedang pada aspal itu membuat merinding. Bahkan untuk Tiga Kembar, Zeki dan Verlin. Tidak terbayangkan bagaimana lawan merasakan ketakutan dari lawan seperti Felix sekarang.
"Aku lupa ... dia bukan Iriana!" kata Zeki.
"Sepertinya kau harus mengatakan sesuatu!" kata Tom.
"Perkataanku tidak ada yang salah, Felix memang sial memiliki kalian yang berhati seperti kapas. Tapi kalian beruntung memiliki Felix yang berhati baja." kata Zeki.
Pemandangan selanjutnya hanyalah pembantaian. Bahkan yang dirasuki oleh iblis kelihatan mudah dihabisi oleh Felix. Tubuh Felix sudah dipenuhi darah manusia tapi masih terus bertarung.
"Kalian enak, saat Iriana dulu ... kamilah yang harus berhati baja untuk membunuh karena Iriana tidak mampu melakukan itu. Tapi Felix ... dia sangat berbeda!" kata Zeki.
"Baru kali ini aku melihat ada Caelvita seperti ini ...." kata Verlin yang sudah hidup cukup lama, bahkan lebih lama dari Zeki. Verlin tahu karena hidup di zaman sebelum Iriana memerintah. Jadi dia tahu betul bagaimana Caelvita selama ini, "Bukankah Caelvita tidak akan tega melakukan hal seperti ini ...."
"Dia ... sangat berbeda!" kata Zeki masih mengingat bagaimana dirinya dan Alvauden lainnya harus mengotori tangan sendiri karena Iriana yang berhati sangat lembut.
"Iblis yang sudah dibunuh ... rupa dan bentuknya yang mengerikan sekalipun terus membuat terbayang-bayang dalam mimpi buruk dengan perasaan bersalah menyertai. Tapi, manusia yang sama seperti kita ... yang rupa dan bentuk sama miripnya dengan kita. Bagaimana bisa Felix melakukan itu?!" kata Tan dalam hati hanya diam menonton karena Felix yang melawan semuanya atau lebih tepatnya Felix sedang membantai.
"Padahal dia dari latihan ... tapi bisa mengtasi ini semuanya sendiri." kata Teo.
"Iblis memang tidak bisa menggunakan kekuatan penuhnya kalau berada di dalam tubuh manusia." kata Verlin.
"Memang mereka hanya ingin menghabiskan energi kita saja ...." kata Zeki.
"Hanya untuk mengulur waktu dan membuat kita lelah, apa harus dengan menggunakan manusia tidak bersalah?! kejam sekali mereka!" kata Tom.
"Kau salah besar! kejam adalah nama tengah dari lawan kita, harus selalu kau ingat itu." kata Zeki.
"Dia sahabatmu ...." kata Teo menyindir.
"Dulu ...." kata Zeki, "Saat ini aku tidak yakin ...." sambungnya setelah beberapa detik berlalu.
"Status persahabatan bukan sesuatu yang bisa diputuskan secara sepihak." kata Tan.
"Jangan mengguruiku! disaat kau sendiri tidak bisa membantu sahabatmu yang di depan sana." kata Zeki menohok.
"Waw, kau ahlinya menyudutkan seseorang ya ...." kata Tan merasa terluka tapi itu adalah Zeki, jadi Tan maklum saja. Zeki memang terkenal akan ucapannya yang pedas.
Felix mengeluarkan tongkat Caelvitanya kemudian dibenturkan ke aspal dan menarik semua sisa lawan mendekat seakan seperti tertarik magnet. Dengan mudah Felix menebas mereka semua karena dalam keadaan tidak bisa berbuat apa-apa oleh kekuatan dari Tongkat Caelvita itu.
Hampir semua manusia yang dimanfaatkan oleh pasukan Efrain tergeletak dijalanan, kebanyakan tidak terlihat dalam keadaan utuh sehingga dengan penampilan yang sangat mengerikan dipandang oleh mata. Tan, Teo dan Tom tidak tahu harus melihat kemana untuk menghindarkan mata mereka tidak melihat itu.
"Ini tidak benar ... sangat-sangat tidak benar!" kata Teo.
"Lalu kau mau bagaimana? membiarkan mereka hidup dan dikendalikan oleh iblis sepenuhnya?! Seumur hidup?! Manusia yang dirasuki oleh iblis berpura-pura menjadi manusia dan hidup diantara manusia adalah ide yang sangat buruk." kata Zeki.
"Menurutmu ... Felix akan melakukan ini jika cara itu bisa dilakukan?!" kata Tom.
"Akhirnya kau mulai bergabung dalam tim." kata Verlin tersenyum.
"Bukannya aku membenarkan tindakan ini ...." kata Tom.
"Jadi, Felix masih punya hati nurani juga ... setelah melihat ini, kukira dia tidak punya hal seperti itu." kata Zeki.
"Felix tidak seperti yang kalian bayangkan ...." kata Tan.
"Dan harusnya kalian membantu kalau begitu ...." kata Zeki membuat Tiga Kembar terdiam.
Satu manusia yang tersisa kelihatan sangat tangguh untuk dikalahkan. Felix sudah menebak kalau yang didalam sana pasti Ditte, tangan kanan Efrain.
Bahkan dengan pedang Felix menancap dikepala orang itu, tetap saja bisa bergerak melawan.
"Bagaimana bisa itu terjadi?!" kata Teo.
"Bukan karena supernatural seperti yang kau bayangkan, tapi ini sains ... otot dan kulit sekitar otak tidak bisa merasakan sakit, makanya drama dokter yang kau nonton baru-baru ini menunjukkan kalau operasi otak bisa dilakukan sementara pasien dalam keadaan sadar. Tapi karena pendarahan, jantung terus memompa darah keluar untuk membuat darah tersalurkan keseluruh tubuh sehingga itu adalah berita buruk ...." kata Tan.
"Jadi, kenapa dia bergerak terburu-buru begitu ...." kata Zeki.
"Dia tidak punya banyak waktu." kata Tan.
"Okey, kalau begitu ...." Zeki dan Verlin maju untuk membantu Felix.
Tapi lagi-lagi bantuan Zeki dan Verlin tidak diperlukan. Karena Banks datang dengan mudah mengalahkan lawan terakhir itu. Ditte keluar dengan senyuman karena melihat bagaimana penampilan Felix yang sangat kacau. Menurut Ditte, dia sudah berhasil menguras banyak tenaga Felix dan kawan-kawan.
"Yang Mulia tidak apa-apa?!" tanya Banks.
"Ini bukan darahku ...." kata Felix mengelap darah yang ada di wajahnya.
Tan, Teo dan Tom bergabung maju dalam barisan kelompok. Hanya ada tujuh dari mereka melawan pasukan Efrain yang perlahan mulai terlihat keluar berjalan dari balik gedung besar.
Seperti ada suara genderang perang ditabuh keras saat satu per satu pasukan Efrain membariskan diri dan menghancurkan serta meruntuhkan gedung dengan tawa yang menyebalkan sehingga lokasi terlihat lebih luas dan lapang.
"Waw, dia mendekorasi tempat bertarung untuk kita ...." kata Teo.
Kemudian para Zewhit yang ditarik seperti hewan peliharaan ditendang dan diseret paksa untuk maju paling depan.
"Teman-teman ...." kata Tan tidak tega melihat teman seangkatannya diperlakukan seperti itu. Bukan hanya itu banyak sekali arwah lainnya termasuk diantaranya ada Idalina yang sempat dicari oleh Felix tapi tanpa dicari sekarang sudah ada di depan Felix. Bahkan hantu yang melindungi Luna juga ada disana. Beberapa hantu yang dikenal ataupun tidak dikenal berada ditangan Efrain sekarang.
"Tan, Teo, Tom!" teriak Kelsey meminta tolong.
"Inilah pertarungan sesungguhnya! persiapkan diri kalian!" kata Zeki.
...-BERSAMBUNG-...